
Hamdan Sholeh mengucap syukur dalam hatinya, seusai kata sah dari para saksi terdengar dengan lantangnya. Satu tarikan nafas mengucap janji telah ia lalui, hatinya tenang tak lagi berdebar gelisah dan gugup. Semua telah mengalir sejalan dengan harapan.
Tiba saat ia menemui sang istri, yang mungkin saja lebih gelisah menunggu di dalam sana, wajah yang dua hari terakhir masih ia pandang sebagai orang lain kini telah resmi menjadi miliknya. Senyumnya yang terus saja membuatnya gelisah takut dosa kini berubah menjadi indah dalam hidupnya.
Hatinya masih berdegup namun tak sekencang saat akad tadi, ia perlahan mengikuti sang ibu dan ibu mertua menghampiri ruang dimana Ratunya bersembunyi selama ini.
" Kamu tunggu di sini, biar Ibu yang jemput" ucap bu Nur, menghentikan langkah kaki Sholeh yang sebenarnya sudah tidak bisa lagi bersabar.
Dia mengangguk patuh, berusaha menyadarkan dirinya agar tetap tenang dan bersabar.
Pintu terbuka, sedikit terhalang oleh sang ibu Sholeh belum bisa menemukan wajah ratunya, taukah wahai ibu, jujur saja aku bisa sendiri menjemputnya, mengapa kau halangi langkah ku ini, batin Sholeh.
Entah beberapa detik atau menit Sholeh tak ingat, pengantinnya muncul di hadapan dirinya, dengan anggun di gandeng oleh kedua ibunya.
Hatinya kembali berdesir, berdesir lagi lebih keras merasakan kebahagiaan yang tak berujung akhirnya. Senyuman yang sama, seperti senyum miliknya melekat erat di pahatan ayu rupa sang istri. Sholeh tak kuasa menahan air mata, meski setetes tetap mengalir menyebrangi pipi yang semakin dalam lesungnya.
Di usapnya ujung mata yang basah, ia melangkah maju mempercepat pertemuan dan segera menggenggam tangan Sholeha, kali ini matanya tak sedikitpun ingin berpaling dari wajah Sholeha. Wajah cantik yang selama ini ia dambakan ingin segera ia simpan dalam pelukan dan dekapan hangatnya.
" Jangan lupa bacakan doa, agar Allah memberkahi kalian!" seru seseorang yang entah Sholeh tak bisa melihat siapa orangnya.
Jemari lembut telah ia genggam, dia menunduk mencium punggung tangan kanannya, seperti yang telah di ingatkan dia melafalkan sekelumit doa, sebelum mencium kening istrinya.
Ada jeda di serangakaian cerita, tidak se-mengalir kata yang tersusun rapi ini, saling merasakan denyut bahagia di setiap saatnya. Sholeh masih saja tersenyum dengan sangat pelan dia berbisik.
" Hai istri ku",
Tidak ada balasan dari Sholeha, dia terus saja tersenyum tiada kata dan tanya.
" Kalian tanda tangan dulu, baru lanjut ngobrol dan yang lainnya" tegur Rizal yang ternyata mengikuti Sholeh sejak tadi.
Sholeh kemudian menggandeng Sholeha erat menuju tempat akad, menyelesaikan prosesi kenegaraan dengan baik.
Membubuhkan tanda tangan di buku kecil berwarna hijau dan merah, berfoto sebagai bentuk dokumentar dan berjabat tangan untuk meminta doa dan restu dari seluruh keluarga juga kerabat yang hadir.
Pasangan pengantin itu juga tak lupa saling menyematkan perhiasan sebagai simbol sederhana di hari pentingnya ini, cincin platinum melingkar indah di jari keduanya.
Serangakaian acara mulai mereka nikmati, terutama saat keduanya duduk sejenak di pelaminan berdua. Mengambil gambar bersama dan juga keluarga besar.
" Mas sudah lapar, apa masih lama ya duduk di sini nya ?" tanya Sholeh pada sang istri pelan.
Sholeha tersenyum, " Sama Mas, mungkin sebentar lagi"
Tangan yang sedari tadi saling mengait itu semakin erat menahan tawa, yang mereka timbulkan di tengah keramaian.
Padahal belum saat makan siang tiba, masih sekitar jam sebelas siang, apa karena mereka sarapan yang terlalu pagi, jadi kompak lapar setelah menikah.
Di kursi pelaminan yang begitu membahagiakan dan penuh canda tawa itu, terlihat senyum masam yang terus saja menatap tanpa henti. Wanita yang sama usianya dengan sang ibu, tak hentinya meneliti wajah pengantin yang ia anggap tidak pantas itu.
Dia bu Rani, yang tak berpaling sedikitpun menatap sang pengantin yang tengah bergembira, matanya menyorotkan kebencian di tengah kerumunan banyak orang. " Masih bocah, berani mengusik rencana ku" umpatnya pelan.
***
Setelah berkali-kali bertanya pada panitia, akhirnya kedua insan berbahagia itu di perbolehkan turun dari singgasananya. Sebelumnya ia juga telah berbagi momen dengan saling berfoto bersama keluarga dan juga kerabat.
Saat keduanya hendak beranjak dari sana, terlihat Rahma dan ibunya mendekat. Sholeh menatap sang istri seolah berusaha mendiskusikan sikap apa yang harus ia suguhkan pada mereka. Sholeha mengangguk kecil, dengan isyarat sederhana mereka mengurungkan meninggalkan pelaminan.
" Selamat menempuh hidup baru," ucap Rahma, pertama kali ia menjabat tangan Sholeh. Seolah mengabarkan jika di antara keduanya Sholeh lah yang paling dekat dengannya.
" Terima kasih," Ragu membalas ucapan itu.
Terjadi jeda di keduanya, Sholeha bahkan sempat geram ingin melepas tangan Rahma dari Sholeh secepatnya. Dia sangat mengganggu.
Sholeh menarik tangannya terlebih dahulu, dia tau Sholeha tak suka melihatnya.
Tanpa kata, Rahma menjabat tangan Sholeha singkat. Sholeha pun sangat enggan tersenyum saat ini.
Bu Rani tak banyak kata pada Sholeh, justru ia tertuju pada Sholeha yang terlihat tak nyaman padanya.
" Selamat ya Nak, ah dan izinkan saja jika suamimu ini berpoligami. Dia masih menyimpan nama lain dalam hatinya" ucapnya tanpa ragu, Sholeh juga bisa mendengar itu.
Tangan kiri Sholeha mencengkeram erat pegangannya pada pinggang Sholeh. Dia menyalurkan rasa kesal yang di timbulkan oleh ibu-ibu tak berhati ini.
" Jangan sok tau Bu, tidak ada nama lain selain Sholeha di hati ku, jangan sodorkan putrimu seperti itu, dia akan sangat malu" jawab Sholeh tegas tak mau di bantah.
Rahma dan ibunya meninggalkan pelaminan, jika di lihat dari bahasa tubuhnya Rahma sempat memaki ibunya, tapi tak perduli, Sholeh hanya ingin memastikan istrinya baik-baik saja.
__ADS_1
" Kita istirahat sekarang ya", Sholeh tetap menggandeng Sholeha dengan lembut.
Si cantik yang beberapa saat terlihat riang itu berubah murung seketika. Dia terdiam menyelami pikirannya sendiri.
***
Masih dengan pernak pernik pengantin, Sholeha duduk menyandarkan tubuhnya di sisi ranjang. Setelah mendengar ucapan wanita tua itu hatinya merasa tak nyaman, terusik dan gelisah. Apapun alasannya bercanda kah, sungguhan kah Sholeha tetap tidak menyetujuinya.
Sholeha tak lagi memperhatikan gerak sang suami yang mulai sibuk mencari baju ganti dan sebagainya. Dia melamun entah sedalam apa?.
" Kita bisa melepas gaun nya sekarang Mbak?" suara ramah membuyarkan lamunan Sholeha.
" Ah, iya Mbak. " Sholeha beranjak, melepas segala pernak pernik itu.
Masih dengan lamunannya Sholeha, ia mulai bergerak mengganti gaun dengan dres panjang berwarna bata, tersadar lah ia jika tidak ada sang suami yang tadi menggandeng nya masuk.
" Mas kemana?" dia celingukan.
Tak lama, saat Sholeha mengenakan kerudung nya masuk lah Sholeh secara tiba-tiba.
" Loh sudah beres,?" tanya Sholeh melihat Sholeha.
" Iya, Mas dari mana, kok belum ganti?"
" Lupa ndak bawa ganti, habis cari Agus minta tolong ambilkan baju di rumah" jelasnya kemudian duduk di ranjang Sholeha.
Sholeha tak menyahuti, dia sibuk memasang kerudung yang belum sempurna.
" Leha siapin makan dulu ya" ia bersiap keluar, namun Sholeh mencegahnya.
" Kita ngobrol sebentar ya, lima menit aja " Sholeh menarik pelan Sholeha duduk di ranjang.
Sholeha mengangguk, kedua tangannya di genggam erat oleh sang suami. Dengan mata yang masih lesu tak berbinar suka, Sholeha berusaha menatap Sholeh.
" Kenapa?" tanya Sholeh.
" Masih mikir yang tadi?" tanya Sholeh lagi.
Sholeha sempat terdiam sebentar.
" Ndak mungkinkan kalau mas poligami?" ucapnya tiba-tiba.
" Kamu ini, istri satu aja belum di nikmati, masa iya mau cari lagi ", tawanya tertahan ketika melihat Sholeha yang kontan melepas tangan dari genggamannya.
Dia tampak salah tingkah dengan jawaban santai Sholeh, " Mau kemana?" tanya Sholeh lagi.
" Kita perlu makan mas, kamu sudah ngawur kalau ngomong", jawabnya dengan sebal.
Sholeha berlari kecil menjauh dari sang suami.
***
Suasana hajatan di rumah pak Sulaiman belum juga usai, setelah magrib mereka mengadakan pengajian sebagai acara terakhir hari ini. Sholeha dan juga sang suami juga bersiap, mengikuti pengajian.
" Mas pakai baju yang mana ya?" tanya Sholeh ketika membongkar tas, yang tadi di antar oleh Agus.
Sholeha mendekat, melihat tumpukan baju yang tak seberapa banyak.
" Yang pas aja untuk dengerin pak ustadz ceramah, " ucap Sholeha sambil memilih.
" Pas yang gimana, perasaan baju nya mas ya emang pas untuk apa aja" jawab Sholeh tetap duduk memperhatikan istri nya dengan serius.
Sholeha menatap suaminya, " Setidaknya yang spesial. Ini masih acara pernikahan kita, lagian kok bisa lupa siapin baju"
" Owalah, ya sudah samakan saja dengan bajumu, biar kelihatan pasangan" sahut Sholeh sekenanya.
" Mas ih, mas ndak bawa. Lagian kenapa bisa lupa ndak siapin baju sendiri, ya udah ini aja yang warnanya sama" Sholeha mengambil kemeja yang senada dengan gamisnya.
" Ya kan tadi gugup, ndak kepikiran. Lagian dekat juga rumahnya, mas ndak bawa ganti bisa pulang dulu"
" Ya tapikan jadi repot Mas, suka heran deh"
Sholeh diam mendengarkan istrinya mengomel, dia juga baru sadar jika wanita di hadapannya ini terlihat begitu berbeda. Dia tampak santai dan tidak malu-malu.
Sholeh tersenyum, " Kamu cerewet ya, perasaan baru sah tadi pagi udah pinter ngomelin mas seperti ini" dia menyentuh ubun-ubun Sholeha yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
Sholeha sedikit terkejut, dia kemudian menatap sang suami dengan wajah yang sedikit sulit di artikan.
" Aku ini emang gini suami ku, yang kemarin-kemarin itu hanya cover, luarnya aja. Karena masih takut di tolak"
Sholeh menyemburkan tawanya, kemudian memeluk erat sang istri.
" Gitu banget usahanya, emang kelihatan mas bisa nolak kamu?" ucap Sholeh dalam dekapan sang istri.
Sholeha tersenyum, mengeratkan pelukan yang pertama kalinya ia rasakan dari laki-laki halal yang selama ini ia dambakan.
" Kan aku takut kembali terluka, bagai mana pun Mas adalah pilihan terakhir yang sedang aku perjuangkan."
Sholeh melepas pelukannya, ia berganti menatap wajah sang istri, di cium lah kening yang begitu menarik perhatiannya saat ini. " Mas tidak mendapatkan mu dengan mudah Sholeha, walau bagaimanapun kamu juga mimpi ku sejak dulu" tuturnya dengan kesungguhan.
" Sejak dulu?" Sholeha terheran.
" Iya, sejak Mas selalu meminta di berikan jodoh terbaik, dan tak disangka ternyata dia sudah di depan mata, bagi mas kamu adalah mimpi yang sangat perlu di gapai secepatnya." tangan Sholeh menggenggam lembutnya jemari Sholeha, dia merasakan kehangatan yang tak bisa ia utarakan.
" Jika ternyata Sholeha bukan sisi baik yang selalu mas pinta, gimana?"
" Jika tidak baik, belum tentu buruk, segi terbaik bagi mas adalah ketersediaan mu menerima pernikahan ini dengan sepenuh hati, suami mu ini juga banyak buruknya tetapi tidak mau menjadi yang terpuruk dari yang paling buruk, kita pahami banyak sisi dari kita perlahan, semoga menjadi sisi terbaik untuk bekal kita kedepannya."
" Mas terlalu banyak berbicara, aku lupa mengingatnya." keluh Sholeha.
" Ah iya, Mas juga tidak bisa mengulangnya, sudah lah anggap saja iya", Sholeh tersenyum kecil.
Sholeha masih menatap Sholeh dengan sangat lamat ada banyak kata yang ingin sekali ia sampaikan.
" Mas..."
" Ya?"
" Jangan katakan semua ini karena kita sedang bahagia saja, setidaknya ingat jika kita dalam keadaan saling tak percaya" ucap Sholeha begitu lembut.
Sholeh mengangguk dan tersenyum terus memandang lebih dalam menelusuri wajah Sholeha.
" Iya, tentu saja. Sebab aku telah memiliki mu dengan segenap cinta" Sholeh mendekatkan wajahnya pada Sholeha, dia tak tahan lagi dengan pembicaraan yang terus saja menggetarkan hatinya. Dia ingin membuktikan banyak kata-kata nya tadi dengan satu tindakan saja, agar jelas dan pasti.
Sholeha sedikit gugup merasakan tangan suaminya menangkup kedua sisi wajah nya, ada hal lain yang ingin di sampaikan tanpa kata dari suaminya ini, hatinya gelisah tak karuan saat dia semakin berdekatan. Kedua matanya tak berani melihat dengan jelas apa yang akan terjadi selanjutnya, ia memejamkan matanya.
Sholeh tersenyum, melihat sikap suka rela yang terlihat sangat kaku dari istrinya itu. Bersemangat lah ia, ingin segera menggapai apa kehendaknya.
Tiba-tiba ganggang pintu bergerak, kontan keduanya terkejut. Sholeh melepas tangan dan menarik wajahnya dari hadapan Sholeha, dia juga seketika membuka mata dan berpaling menghadap pintu yang terbuka. Dan berdiri sosok pemberani yang tak tau situasi, dia tersenyum tanpa ragu.
" Om, bibi, kalian di panggil nenek" ucapnya dengan tawa yang sangat mengembang, entah apa sebab nya.
Sholeh berdiri, mendekat pada Fatih.
" Oke, tunggu lima menit ya" ucapnya berusaha se-tenang mungkin.
" Jangan lama-lama, dosa bikin orang kesel menunggu" jawab pria kecil itu mengancam.
" Iya, " Sholeh kembali menutup pintu itu.
Dia menarik nafas, menatap Sholeha yang juga tersenyum pada nya.
" Ganti baju Mas, " Sholeha mengingatkan.
" Oh iya, lupa" dia tertawa.
Sholeha memberikan baju pada Sholeh yang mulai mengangkat ujung kaos oblong nya, Sholeha sedikit terkejut namun berusaha biasa saja.
" Sholeha tunggu di luar ya !" ia kembali meletakan baju di atas kasur.
" Tanggung, kita keluar bareng " ucap Sholeh sambil melepas kaosnya dengan sempurna. Dia menyadari Sholeha yang menundukkan pandangannya.
" Apa Mas perlu izin untuk melakukanya di sini?" tanya Sholeh lagi.
Sholeha mendongak dan terus menggeleng dengan cepat.
" Melakukan apa?" matanya tak sengaja melihat suaminya itu tanpa baju.
" Melepas baju,"
" Ah, itu. Em lakukan saja" kata Sholeha salah tingkah.
__ADS_1
" Kau tidak ingin melihat nya?" tawar Sholeh sebelum mengancingkan kemeja sepenuhnya.
***