
Lagi dan lagi, Rahma merasa tak enak hati pada Sholeh. Kali ini karena bulek nya yang sembarangan berbicara pada Sholeha. Pastilah Sholeh semakin membencinya, padahal kemarin jelas sekali jika dia tampak khawatir dan masih perduli dengan nya. Meski tak jadi istrinya, setidaknya menjadi teman saja dia sudah sangat bersyukur.
Di ruang sepi ini, ia kembali meratapi nasibnya yang malang, tak ada yang perduli setulus hati. Tetapi dia sedang berharap pada siapa, toh orang seperti dirinya memang pantas kesepian.
" Ibu mu tidak bisa kesini, bulek juga ndak tau mengapa", ucap bu Risma.
" Biarlah bulek, tak lama juga Rahma pulang. Dia sedang asik ke sana kesini mencari pinjaman."
Bu Risma tak terkejut, kakaknya memang begitu. Semakin lihai dalam bidangnya itu meski sering di caci maki orang.
" Butuh berapa kali ini ?"
" Entahlah, bulek. Katanya untuk melunasi hutangnya yang jatuh tempo. Oh ya, mungkin kedepannya Rahma tidak akan ke sini lagi. Rahma coba kerja di kampung saja, di sini rumah ku mungkin besok dah di sita bank", ucapnya dengan santai seperti tanpa beban.
" Ya sudah, ndak papa. Ikut bulek saja kalau ibu mu masih kayak gitu",
Rahma tersenyum " Makasih ya bulek, Rahma masih bisa kok tinggal sendiri".
Percakapan keduanya terus mengalir, membahas banyak hal masalah hidup keluarga Rahma yang begitu rumit dan tak karuan arahnya. Sedih tak lagi ia rasakan, terbiasa dan tak heran itu lah dia, Rahma yang menutupi segalanya dari Sholeh.
Andai saja jika ibunya dan hidupnya yang lebih baik dari sekarang, mungkin saja Sholeh telah menjadi suaminya. Ah sudah lah, benar apa kata Dito tadi, mungkin saja dia berjodoh dengannya. Mungkin saja.
" Bulek, seandainya aku pulang, apa mungkin aku akan jadi perawan tua?" pertanyaan iseng itu begitu menyedihkan.
" Maksud mu?"
" Orang pasti enggan menikahi ku, anak penipu seperti ini mana ada yang mau" Rahma memang tertawa, tetapi tidak lucu di mata bu Risma.
" Kata siapa, kamu ini cantik. Lebih cantik dari pada istrinya Sholeh jelas,-
" Bulek.... Jangan seperti itu. Meskipun bercanda dia pasti akan terluka jika mendengar ini dari bulek." Rahma memangkas perkataan bu Risma dengan tegas.
Risma terdiam, tak menyangka keponakannya ini bisa menegurnya.
***
Kesibukan kecil yang terasa manis di sore hari kembali terjadi, kali ini di dalam kamar pengantin baru yang sedang berdebat mesra masalah mandi. Lihatlah, mereka seperti tak punya masalah lain saja.
" Sudah dong mas, bentar lagi magrib nih" Sholeha berusaha melepaskan pelukan erat di pinggangnya, tangan besar itu tak mau melepaskan lilitannya.
" Mandi bareng aja sayang, ya....." Sholeh melepas Sholeha. Dia berdiri di depan Sholeha mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
Sholeha mencubit perut liat Sholeh, memukul pundaknya berkali-kali dengan kecil. " Jahil, ada udang di balik batu" .
Sholeha ngibrit ke dalam kamar mandi, menyembunyikan wajahnya yang panas dan tersipu oleh pikirannya sendiri. Pintu kamar mandi terkunci sangat rapat.
Sholeh terbahak, melihat istrinya yang begitu manis dengan bahasanya sedikit aneh tapi terasa paham maksudnya dan terdengar menggoda. Sholeh duduk, menunggu istrinya dengan sabar. Kali ini ia akan patuh mengantre, awas saja nanti jika lain hari, pikirnya sendiri dengan senyum liciknya.
Suara gemericik dari kamar mandi tak lagi terdengar, Sholeh bahkan bersiap untuk menggoda sang istri jika keluar. Pria dewasa satu ini terlihat konyol dengan tawanya sendiri. Siap memandangi nya lekat hingga salah tingkah lagi. Dia menyukainya.
Di tunggu tak kunjung keluar, Sholeh sampai menengok berkali-kali ke arah pintu. Dia ini sedang apa?.
Tok... Tok....
Malah pintu kamar yang berbunyi.
" Ibu, ada apa?" tanya Sholeh, melihat sang ibu yang tak biasa mengetuk pintu.
" Istrimu mana, ibu ada perlu sebentar."
Kemudian Sholeha ikut menghampiri mereka di pintu.
" Ada apa buk ?"
Sholeh tampak melihat sang istri.
" Ada apa buk, kok ndak sama Sholeh aja?" Sholeh penasaran.
Bu Nur tak menjawab, dia hanya meminta Sholeha segera bersiap. Sholeh semakin penasaran saja. Ibunya ini, dua hari punya mantu lupa sama anak kandung sendiri.
Sholeha bersiap, mengganti dasternya dengan baju yang lebih sopan mengenakan kerudung. Dia melirik sang suami yang terdiam bersandar sembari memandanginya.
" Kenapa... ?"
" Cepat pulang ya" ucapnya sendu.
Sholeha tertawa " Apa sih mas, ya iya lah. Ndak mungkinkan aku sama ibu nginap disana. Kalau iya ya tinggal nyusul" jawabnya sebelum keluar dari kamar.
Sholeha tersenyum. Tingkah suaminya ini sangat mirip dengan Fatih jika kepadanya. Sayang yang ini tidak imut dan kadang menjengkelkan.
***
Tak ingin di tinggal sendiri di rumah, Sholeh bergegas mandi. Dia juga akan pergi, mungkin ke rumah Agus setelah magrib nanti. Istinya itu pasti lama berada di sana, belum lagi ibunya yang akan membicarakan banyak hal dengan besannya. Sekalian memberitahu kondisi Rahma secara langsung pada Agus.
__ADS_1
Disini lah, Sholeh di rumah Agus yang cukup tenang dan menyenangkan. Tenang karena rumahnya yang jauh dari keramaian jalan besar, tentu saja tingkah si kecil putra Agus yang menyenangkan aktif dan lucu.
Secangkir kopi telah di minumnya beberapa kali, Sholeh juga sudah menyampaikan bagaimana keadaan Rahma sekarang. Agus sudah menduga, jika tidak akan terjadi sesuatu yang serius. Bahkan Agus juga sempat menyalahkan dirinya yang bersikap berlebihan sampai berselisih paham pada istrinya. Agus memang mengetahuinya.
Sholeh hanya diam saja, membenarkan semua perkataan Agus yang jauh berpengalaman darinya. " Kok masih ada kepedulian yang seperti itu toh bos, terlalu berlebihan loh. Untung istrimu baik hati",
Sholeh menatap Agus, seniornya kali ini memang mengatakan sesuatu yang harus ia jawab terang-terangan.
" Iya, ini lah yang ku sebut kesalahan ku, aku tak bisa mengendalikan diri. Dan ini sangat menyedihkan Gus, ya jujur saja aku ini hanya kasihan jika dia sampai kenapa-kenapa. Kamu tau ibunya seperti itu, dia juga tidak ada disana waktu itu. Itu saja, iya aku jujur. "
" Iya bos, aku juga paham. Tapi jangan di ulang. Bahaya, nanti hatimu bisa bercabang",
" Tidak Gus. Ini juga karena Dito yang memaksa, oh iya sepertinya mereka siap berlayar. " Sholeh tiba-tiba mengubah pembicaraan.
Agus terkejut, " Berlayar, maksudmu Dito dan Rahma. Aku pikir itu baik".
Sholeh mulai menceritakan detail-detail hubungan Dito dan Rahma yang terlihat telah kembali berkembang. Agus juga masih saja menggoda Sholeh yang belum saja menerima jatahnya di hari ketiga pernikahannya ini.
Sholeh tak menyangkal, di ledek Agus yang lebih senior masalah hal ini dia tak punya alasan untuk membela. Obrolan sepulang dari masjid ini cukup menyenangkan, terutama Agus yang merasa puas mengguruinya.
Semakin bertambah saja rasa rindu pada sang istri, sedikit memikirkan hal-hal yang telah ia dengar dari teman yang satu ini. Apa katanya tadi, menyenangkan sebelum pelepasan ah sejelas itu dia mengatakannya. Sholeh jadi banyak berpikir. Duduk di depan Agus, pikirannya kemana-mana, itulah Sholeh saat ini.
" Jangan buru-buru bos, ndak enak rasanya ha ha ha", Agus menambahkan tips tips yang di ajarkan.
" Gus, kamu ini dari tadi frontal sekali ngomongnya, cari masalah lain. Aku juga bisa meski tanpa kamu ajarkan" ucap Sholeh sedikit kesal karena di terasa sedang di olok.
" Bos, iya itu urusan kamu. Saya hanya sedang mengingatkan ok. Ingat saya sudah berhasil tuh, sukses di tahun pertama pernikahan kita. Sekarang lagi proses lagi" ucapnya, dia bahkan menunjuk anaknya yang sedang asik berlarian, istrinya bahkan ikut tertawa dengan ucapan gila suaminya itu.
Betapa pamernya Agus kali ini, Sholeh juga tak bisa menyangkal dan hanya menyumbang tawa saja seperti biasa. Ternyata posisi bos-nya sekarang tak berguna di duduk masalah ini. Sholeh menggeleng tak percaya.
" Oh ya satu lagi bos, jangan lupa berdoa. Biar tambah nikmat, kalau kita sambil merayu jadi seru juga ha ha ha"
Kesabaran Sholeh telah habis, tanpa sengaja ia menendang tulang kering Agus. Sangat puas mengajari ini dan itu seperti dia sedang bekerja di perusahaannya sendiri.
Tak mau terus di sana, Sholeh pamit pulang. Lama-lama akan habis di olok saja dia. " Ya sudah aku tak pulang, kelamaan disini kasian istriku, rindu"
Agus tertawa lebar" Langsung praktek ya bos" ucapnya di ambang pintu.
Sholeh tak menyahut lagi, dia segera pergi meninggalkan pelataran rumah teman gilanya itu.
***
__ADS_1