Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Terlalu berat hari ini


__ADS_3

Hari terakhir Sholeha bekerja, suasana riuh para wali murid telah menerima raport anak-anak mereka. Sholeha semakin bahagia karena hari libur telah tiba, berbagai kesibukan telah ia selesaikan dengan semangat hari ini. Berlibur sekolah juga ia rasakan, sebagai pegawai di lingkungan sekolah. Hadiah yang di bagi sama rata, anak-anak berlarian dengan riang gembira saling bercerita. Begitupun para ibu yang mendampingi anaknya turut bahagia sembari saling memuji hasil belajar anak-anaknya.


Sholeha mengemasi semua benda - benda kecil dan menyusun meja dan kursi dengan rapi. Walau hanya dua minggu tidak akan digunakan, semua harus tetap rapi dan bersih. Sholeha kompak bersama Irma menyelesaikan pekerjaannya ketika hari menjelang siang.


Jam sebelas lebih lima menit. Sholeha menyandarkan kepalanya pada tiang di teras kelas. " Huh, lelahnya ya... Allah hari ini" desahnya sembari menunggu Irma mengunci pintu.


"Ir kita makan dulu atau langsung pulang?"tanya Sholeha, sembari mengikuti langkah Irma. Irma berhenti, kemudian menatap Sholeha.


" Kita mampir di warung bakso aja yuk"


" Boleh." Sholeha tersenyum melihat perubahan sikap Irma yang jauh membaik.


" Kita udah lama ndak ke sana" jawabnya antusias.


Mereka bergegas menuju lokasi tujuan dengan perasaan bahagia. Sudah lebih dari seminggu sejak mereka saling diam, hari ini Irma menunjukan ekspresi wajah yang sangat Sholeha rindukan. Meskipun keduanya saling menyimpan prasangka yang belum bisa diungkapkan.


Sholeha tidak perduli dengan hal lain, yang terpenting dia tidak bisa membenci sahabatnya itu apapun alasannya. Memilih abai memang bukan hal yang baik, tapi ini adalah prinsip dalam pertemanan, katanya.


Dengan berkendara masing-masing, Irma telah memarkirkan motornya terlebih dahulu. Suasana warung bakso yang menunya bukan hanya bakso saja itu ramai pengunjung. Namun diantarnya sedang berkemas pulang. Mereka memilih duduk di dekat jendela, jendela kaca yang sangat luas tanpa penghalang. Sehingga lalu lalang jalanan desa itu jelas dapat di pandang. Kendaraan yang didominasi dengan roda dua memadati jalanan di jam setengah hari seperti sekarang ini.


Dua mangkok bakso sudah di hidangkan, dari bentuknya yang bundar sempurna semakin lezat ter-rendam kuah yang masih mengepul. Begitu dengan dua cangkir es teh manis yang begitu menyegarkan. Sholeha mulai menikmati bakso tanpa mie-nya dengan perlahan. Sesekali ia melirik Irma yang masih terdiam canggung tak seperti biasanya. Sholeha menebak semua isi dalam kepala Irma.


Dia kenapa, dia mau apa, apa dia mau mengatakan sesuatu atau dia akan meminta sesuatu darinya?


Semua pertanyaan yang terus bermunculan seolah dari dalam mangkok baksonya.


"Aku ada penting" kata Irma tiba-tiba.


Bahkan Sholeha sudah bersiap mendengar kelanjutan ucapan darinya. Sholeha berhenti mengunyah, ia memusatkan kedua matanya pada Irma.


"Pertama, aku minta maaf " Irma tampak menarik nafas lebih dalam lagi.


" Untuk hal apa?"


" Banyak hal Ha, aku tau ini terlalu jahat untuk aku mengakui"


" Setidaknya aku tau sebabnya"


" Selama ini aku mencintai Mas Arman"


Deg ...


Sholeha hanya terdiam bingung hendak berbuat apa.


" Aku tau Ir," Sholeha menjawab dengan tegar.


" Tapi kami berdua menyadarinya, "


" Lalu?"


" Maaf...... "


" Sejak kapan?"


" Aku tidak tau pasti, Mas Arman selalu mengeluhkan kamu yang terlalu cuek padanya, terlalu simpel dalam berhubungan, kamu tidak pernah mengikuti apa keinginannya dan...


cukup!


Sholeha tak ingin mendengar.


" Dan dia merasa kamu tak pernah memahaminya " sambung Irma.


" Dia tidak mengatakannya padaku?" Sholeha menahan tangisnya dengan sekuat mungkin.


" Apa harus dengan perkataan dan ungkapan cara untuk menyadarkan mu?


Dia bertahan menunggumu berubah Ha."


Mengapa dirinya masih saja disalahkan di posisi terkhianati seperti ini?


Mengapa Sholeha yang seolah bersalah dengan masa lalu buruk ini?


Irma terlalu terang-terangan mengatai dirinya bodoh dan tak bisa apa-apa waktu itu. Sholeha terdiam meresapi segala arus penyesalan dan penghianatan yang menuju hatinya secara bersamaan. Dia hanya ingin tau mengapa masih saja di ungkit jika ujungnya masih melukainya.


Persiapan atas kenyataan yang pernah ia pikirkan dulu tentang ini, benar terjadi. Meskipun dia tidak lagi tersakiti setidaknya jangan tega mengkhianati. Ini bukan suatu keharusan dalam hidup, tapi ini prinsip di setiap manusia.


" Sebegitu salah kah diriku?" tanya Sholeha parau.


" Kamu terlalu tak perduli waktu itu Ha, Mas Arman hanya menyerah itu saja."


" Aku seburuk itu ya.. dulu?"


" Maaf Sholeha, kami juga salah tidak mengatakannya dengan jujur dari dahulu.


Jangan salahkan Mas Arman ya, dia tidak pernah membencimu, dia juga tidak menyalahkan mu, maaf Sholeha, maaf"


Tangan Sholeha di genggam erat oleh Irma, demi menyalurkan kesungguhan dan penyesalan yang ia perbuat.


Sholeha menunduk, kemudian melepaskan tangannya perlahan.

__ADS_1


" Kamu juga mengatakan aku salah kan Ir, aku hanya bingung apa arti diriku di hati kalian, bahkan aku merasa sangat asing di antara kalian waktu dulu. Aku harus bagaimana, aku juga manusia biasa yang tidak tau banyak hal dalam hati dan pikiran kalian, aku .... "


Sholeha tak bisa lagi menahan air matanya.


" Aku harap kita bisa melewati dan melupakan masa lalu ini, kamu yang lebih dulu melangkah pergi Ha, aku sangat mencintai Mas Arman, aku ingin kamu bisa menerima semua ini dengan hati yang luas, kamu juga harus mencintai Mas Sholeh sekarang dan seterusnya "


Irma mengatakan dengan air mata yang mengalir, oh tuhan....


Wanita memang mudah saling menangis seperti ini. Ramai para pembeli bakso di sana tak sedikitpun mengganggu fokus keduanya. Entahlah ada yang ikut mendengar atau tidak mereka hanya sibuk menahan emosi dan tangisnya masing-masing.


" Aku pikir, percuma jika kita saling membenci. Memaafkan bukan perkara yang sulit, tapi jangan paksa aku untuk melupakan semua ini Ir, aku.... Juga terluka saat ini, maaf ini terlalu sakit."


Sholeha mengusap air matanya kasar, dia beranjak hendak pergi meninggalkan Irma.


Namun dia teringat baksonya yang belum ia bayar, dia menghampiri kasir terlebih dahulu, dia tidak ingin meninggalkan hutang karena patah hati dan di khianati.


Teriknya matahari semakin membakar hatinya yang terasa pilu, dia tau jika berlama-lama mendengarkan Irma berbicara akan semakin membuatnya terluka. Jika ia bisa memilih, Sholeha tidak akan mau merasakan kekacauwan asmara ini dalam hidupnya. Bahkan terlalu buruk untuk dikenang, yah inilah yang katanya hidup. Tidak ada yang sempurna sesuai keinginan kita.


Dengan perasaan yang pontang panting Sholeha menuju ruang ternyaman dalam hidupnya, entah akan berapa lama dia mengurung dan menyepi di dalam sana.


Bercerita pada semut pun ia begitu malu dengan kisah cintanya ini. Jangan sampai orang lain bertanya kembali kenapa ia menangis, dia tak bisa menceritakan kembali. Terlalu menyedihkan, biarlah semua mengalir kemanapun ujung hilangnya nanti, dia tidak akan perduli.


******


Sesuai dengan permintaan Fatih saat itu, akhirnya sepulang dari bagi raport tadi di sudah di khitan. Ya secepat itu.


Semua orang berkumpul di ruang tengah kediaman Rizal, keluarga inti bergantian melihat Fatih dan menghiburnya.


Membawakan berbagai hadiah dan uang saku kepadanya.


Fatih terlihat riang menikmati apa yang sedang di alaminya. Bocah kelas empat itu sudah mendapat kan apa yang ia inginkan di tahun ini. Tak jarang dari sebagian orang meledeknya dengan candaan ala orang dewasa.


Sholeha terharu melihat keberanian keponakan kesayangannya, bahkan ia datang ke rumah ini Fatih sudah selesai di khitan. Karena baru di khitan saja, belum mengadakan syukuran jadi orang terdekat saja yang datang menjenguk.


" Aduh aduh cucunya kakek udah bujang, ndak nangis kan tadi Le?" Sulaiman memuji Fatih yang rebahan di depan tv.


" Ngak lah Kek, Fatih dapet hadiah banyak tuh dari Bibi Leha, katanya apa aja ada disana" dia tertawa sambil menunjuk satu kantong kresek yang tergeletak di atas kursi.


Semua orang tertawa, melihat kepolosan putra Rizal yang sangat berbeda dengan raut wajahnya yang terlihat pucat dan tegang. Sholeha tersenyum, padahal dia hanya membelikan kebutuhan sekolah dan sedikit mainan saja untuk Fatih, dia berlebihan dalam berharap.


Dari hadapan Fatih Sholeha bergeser pada kakaknya, dia sengaja menyenggol tangannya yang terlihat tegang menopang badannya ketika duduk lesehan.


" Mas, kok tegang gitu?"


" Ndak Nduk, cuman sedikit was-was saja, Fatih kekeh banget mau di sunat " ia menarik nafas dengan perlahan.


"Sudah ndak papa kan, jangan terlalu berlebihan mikirnya ."


"Ternyata Fatih keren ya Mas" Sholeha tersenyum memuji .


Banyak saudara dari Ayu juga berdatangan menjenguk Fatih, Sholeha sedikit sibuk membantu Ayu memberikan jamuan untuk para tamu. Khitan memang peristiwa besar bagi anak laki-laki, wajar saja jika mereka di jadikan raja dan sangat di manjakan.


Sampai sore hari, Sholeha masih setia membantu Ayu di dapur kecilnya.


Hitung-hitung sembari melupakan kesedihannya di siang tadi. Mereka saling bercerita tentang khitan dan rencana tasyakuran Fatih setelah dia sembuh, mungkin tiga hari lagi.


" Ndak usah yang rame-rame banget lah Bu, yang terpenting ngumpul semua, bacain doa dan makan-makan itu saja" kata Rizal pada Bu Fatma.


" Nanti ndak keburu renovasi dapur ibu, Rizal banyak ini kerjaannya, " ucapnya menambahkan.


" Ya sudah terserah kamu saja, gimana baiknya. Yang penting Fatih nya sembuh dulu"


Mereka meneruskan obrolan ringannya, menemani sang raja yang sedang asik bermain game di ponsel ayahnya.


Sepertinya belum ada tanda-tanda sakit sedikitpun pada tubuhnya, dia terlihat sangat santai.


Melihat kehebatan Fatih dengan kecanggihan alat khitan masa kini membuat Sulaiman kembali menceritakan kisah Rizal yang berbanding terbalik dengan anaknya kini. Diceritakan oleh bapaknya itu, jika Rizal dulu menangis tanpa henti setelah di khitan dulu.


" Yah namanya juga jaman dulu Pak, motongnya aja pakai gunting kan, mana ada yang ngomong pakai golok juga kan jadi ngeri lah aku" elaknya membela diri.


semua orang tertawa, tak terkecuali Fatih .


" Halah emang sekarang pakai apa, apa ganti pakai silet alatnya kan ya ndak juga?" gelak tawa semua orang terdengar.


****


Tak terasa hari berganti malam, setelah magrib tadi Sholeha kembali datang bersama ibunya ke rumah Rizal. Kasian kalau Fatih kesepian, dia berbaring saja sendiri di depan tv, katanya tadi, saat merayu Sholeha agar mau mengantarnya.


Neneknya ini memang sangat mencintainya setulus hati, cinta untuk cucu pertama. Terkesan begitu dalam.


Sudah setengah jam sejak kedatangan Sholeha bersama ibunya tadi.


Sholeha tengah menemani Al makan di meja makan. Al memang mandiri, dia seolah mengerti jika sang kakak sedang sakit dan harus ditemani mamanya. Sedikitpun dia tidak merengek.


Matanya memang memandang Al, tapi pikirannya melayang entah kemana.


Nampaknya ia kembali tenggelam pada masa lalu yang berkeliaran di otaknya.


" Bi, Ha.... Al mau minum"

__ADS_1


" Ha eh apa Al," Sholeha sedikit terkejut.


" Minum Bi !"


"Eh iya sebentar" Sholeha menuang air putih yang ada didekatnya.


Astagfirullah.... ucapnya sangat pelan.


Berniat kembali duduk, Sholeha mengurungkan ketika mendengar suara salam terucap dari pintu depan. Suara Ayu begitu nyaring menjawab salam itu, Sholeha mengurungkan niatnya untuk ikut menyambut tamu itu.


Dia kembali duduk bersama Al, yang terlihat sudah menyelesaikan makannya.


" Ya Allah , Rahma apa kabar?"


itu suara Ayu terdengar, hingga ke dapur.


Rumah yang tak begitu besar ini, wajar jika terdengar hingga ke belakang rumah sekalipun. Ditambah suara Ayu yang begitu terdengar bahagia dan terkejut.


Setelahnya Sholeha tidak mendengar lagi apa yang mereka obrolkan di ruang tamu.


Tanpa pamit Al meninggalkan Sholeha sendiri di dapur itu. Rizal masuk ke dapur, meminta Sholeha membuatkan minum untuk tamu itu.


"Siapa Mas?"


" Sobatnya Mbak mu" jawabnya singkat.


" Lama ndak ketemu ya?"


" Lumayan, sejak Mbak mu lahiran Al kayaknya"


" Oh "


Rizal meninggalkan Sholeha, tak menunggu lama teh manis hangat dengan irisan lemon sudah jadi.


Aromanya akan menghangatkan acara temu kangen dua sobat karib itu,


Sholeha mengantarkan ke ruang tamu,


ketika dia memandang wajah wanita di hadapannya senyumnya menular begitu saja padanya. Sangat cantik terlihat anggun dan dewasa. Pakaian yang begitu rapi dan wangi, memberikan kesan ideal di mata Sholeha. Darimana asal wanita ini, Jakarta, atau luar negri?


" Di minum Mbak tehnya !" ujar Sholeha


" Terimakasih, " senyum yang begitu bersahaja.


Tidak ingin menggangu Sholeha meninggalkan keduanya ke dalam rumah.


Kali ini dia memilih duduk bergabung dengan ibu dan juga Rizal di ruang tengah.


Entah mengapa Sholeh begitu ingin mendengar apa saja yang akan mereka bicarakan disana.


" Aku menjenguk Nenek yu, beliau sakit terus akhir-akhir ini" sayup-sayup terdengar oleh Sholeha, ah dia jadi penasaran sendiri kan.


" Sholeh tau kamu lagi di sini?" Ayu menanyakan padanya.


Mengapa ada nama Sholeh?


Oh ya, Sholeha mengingatnya sekarang.


Mereka adalah teman kecil, mungkin juga teman se-angkatan pas sekolah.


" Sepertinya tau, aku belum memastikan"


jawabnya di iringi tawa kecil, yang terdengar merdu, menurut Sholeha.


Ini Sholeha kenapa?


Sejak tadi dia terus memujinya tanpa henti, sangat menawan kah dia?.


Kembali terdengar dia menanyakan satu hal kepada Ayu, yang begitu jelas terdengar oleh Sholeha.


" Sholeh sebentar lagi menikah ya yu?"


suaranya mengapa terdengar mengandung unsur sendu dan kesedihan begitu, menurut Sholeha.


" Kamu sudah tau Rahma?" Ayu terdengar sedikit terkejut.


Sholeha semakin penasaran, bahkan dia mengubah posisi duduknya agar lebih bisa dengan jelas mendengarkan.


Kini Sholeha mencuri dengar .


" Aku kira dia benar-benar menunggu ku"


Dan ya, Sholeha merasa menyesal telah penasaran pada wanita cantik itu.


Dia benar-benar merasa menciut dan kerdil tanpa melihat lawan di hadapannya.


Seketika dadanya kembali sesak namun melebihi sesaknya mendengar kisah penghianatan tadi siang.


Mengapa begini?

__ADS_1


***


__ADS_2