Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Satu Penyemangat


__ADS_3

Sholeha jauh lebih tenang, dia juga mau makan dan beberapa kali minum. Sholeh juga tak bergeser sedikitpun dari sebelahnya, dia benar-benar menemani istrinya sejak tadi. Mengajaknya berbincang dan menghiburnya sedikit demi sedikit.


Sholeh beranjak dari sana, saat Irma datang menemui istrinya. Sholeh tau Irma pasti sangat bisa menghibur istrinya, sedangkan ia memilih menemui suami Irma di luar.


Sholeha dan Irma saling menatap, dengan air mata Sholeha yang kembali terjatuh. Dia kembali teringat semuanya yang terjadi, dan sangat ingin bercerita pada sahabatnya.


Irma mendekat, memeluk Sholeha dengan erat, mengusap punggungnya dengan sangat lembut. " Sabar ya, ini semua pasti berlalu. Kita semua juga akan mengalaminya" kata Irma, melepas pelukannya.


Sholeha mengangguk dengan air matanya yang masih mengalir, " Ir, aku sedih. Ibu belum tau jika aku sedang hamil" ucapnya dengan terisak.


Irma menggenggam tangan sahabatnya, memberikan kekuatan yang mungkin saja tak seberapa. " Tidak apa-apa Ha, semua sudah terjadi, sekarang ini yang penting kamu sehat jangan nangis terus, kamu perlu sehat dan melahirkan cucu Ibu dengan selamat. Itu saja yang harus kamu lakukan "


Sholeha menghapus air matanya, dia tau sudah terlalu banyak menangis sejak semalam. Dia juga sudah terlalu lelah, perlahan ia menyandarkan tubuhnya.


" Jangan pergi dulu ya, temani aku. Ceritakan banyak hal tentang mu, aku ingin sedikit saja melupakan kepergian Ibu" kata Sholeha dengan pilu.


Irma mengangguk, meski dia sendiri bingung harus bercerita apa, tetapi melihat Sholeha yang seperti ini, ia harus bisa menghiburnya.


***


Sholeh keluar dari kamar istrinya, mendekati sang ayah yang tengah duduk di depan Televisi. Ia tampak termenung, wajahnya sangat terlihat tak bersemangat.


" Yah, Ayah lebih baik makan dulu. Sejak tadi pasti belum sempat ?" kata Sholeh.


" Sudah, Ayah sudah makan Le" jawabnya dengan singkat.


Setelahnya matanya terlihat kosong, mengabaikan menantunya. Sholeh memilih diam, tak memaksa sang ayah bercerita.


" Le, beberapa hari yang lalu Ibu mu mengeluh sakit kepala, tetapi Bapak tak segera membawanya periksa, Bapak tak menyangka ternyata Ibumu dalam keadaan bahaya saat itu. Dan, sekali terjatuh, dia langsung tak tertolong" ucapnya penuh dengan sesal.


Sholeh menyimak dengan sepi, apa yang di katakan mertuanya memang seolah terlalu singkat dan serasa tak bisa di pahami. Tetapi siapa yang tau jika semua akan seperti ini jadinya.

__ADS_1


" Sabar ya Pak, mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, " Kata Sholeh seadanya.


Sulaiman sempat terdiam, " Le, apa benar istri mu sedang hamil ?" tanya Sulaiman tiba-tiba.


" Iya Yah, Alhamdulillah, baru dua Minggu" jawab Sholeh, begitu tenang.


" Alhamdulillah, mungkin memang seperti ini, ada yang pergi dan pasti ada yang datang. Tolong bantu Ayah menghibur Sholeha, dia pasti merasa bersalah. Kamu juga harus mengingatkan tentang kehamilannya, jaga dia agar tetap sehat ya Le " kata Sulaiman menepuk pundak menantunya.


" InsyaAllah, Yah."


Siapa yang akan menyangka jika kemarin hari terakhir bertemu dengan istrinya. Siapa yang tau jika malam kemarin terakhir kali bisa mendekapnya. Sulaiman begitu tak menyangka. Dia kekasih hatinya yang begitu mencintai tanpa henti, sampai saat terakhir pun ia masih merasa cintanya itu tidak akan tega meninggalkannya.


Sungguh pilu hati Sulaiman, seolah di tinggal tanpa jejak dalam perjalanan yang begitu panjang. Selama puluhan tahun di temani istrinya dan tak pernah menduga jika hari ini batas akhir dari pertemuannya.


Sholeh menoleh pada pintu kamarnya yang terbuka, Irma keluar dari sana. Dia mengatakan jika Sholeha tengah tertidur pulas, Sholeh tenang mendengarnya. Istrinya itu memang sangat di anjurkan untuk tidur. Menangis tak berkesudahan membuatnya sangat menghawatirkan janinnya.


" Terima kasih ya Ir, sudah mau datang. Sejak tadi dia hanya menangis, syukurlah jika ia bisa tertidur," ujar Sholeh.


Suami Irma yang sejak tadi berbincang dengan Rizal juga ikut pamit. Sholeh sampai tak enak hati pada suami Irma, karena harus menunggu lama.


" Hati-hati di jalan ya" kata Sulaiman ketika mereka pamit.


Satu persatu kerabat mulai berpamitan, hanya beberapa yang masih tinggal. Tak lama dari kepergian Irma, datang Rahma dan Dito. Sholeh menyambutnya dengan sapaan seadanya. Sedangkan Rahma di sambut Ayu, keduanya meneruskan berbincang di meja makan.


Masih dengan suasana duka yang begitu terasa, Rahma terlihat celingukan mencari seseorang. " Kamu cari Sholeha ?" tanya Ayu padanya.


" Iya, di mana dia. Apa dia tak apa-apa ?" kata Rahma dengan wajah cemasnya.


Sejak sepuluh menit duduk di sana, tak sekalipun ia melihatnya. Padahal sejak pertama berangkat tadi Rahma sangat kepikiran dengan istri Sholeh yang berhati lembut itu, dia pasti sangat sedih.


" Dia sedang istirahat, kamu tau ternyata ia sedang hamil dua Minggu. Dan Ibu belum mengetahuinya, dia sangat bersedih" Kata Ayu dengan wajah sendunya.

__ADS_1


" Kasihan sekali dia, apa dia tidak apa-apa ?"


" Kata bidan tidak apa-apa, hanya saja dia terlalu bersedih dan itu sangat tidak baik."


Rahma menatap Ayu dengan segala rasa duka dan kasihan pada Sholeha, dia ingin sekali menemuinya, tetapi dia sangat takut mengganggu.


Masih senyap dengan semua orang yang tak banyak bicara, dapur pun sedang sepi meski ada beberapa orang sedang menyiapkan beberapa jamuan. Walau sekedar air mineral dan seiris kue, untuk di berikan pada orang tahlilan nanti.


Tiba-tiba saja Sholeha keluar dari kamarnya, Ayu dengan sigap menyambutnya terlebih dahulu. Dia sangat khawatir adik iparnya itu terjatuh atau tak sadarkan diri lagi. Padahal dia juga sedang hamil muda, sampai berlari kecil pada Sholeha.


" Mbak, aku cuma mau pipis, " Sholeha tersenyum, " Padahal Mbak juga harus hati-hati, malah lari-lari gitu" ucapnya lagi.


Ayu tersenyum, mendengar adiknya berbicara panjang seperti itu, ia merasa lega. Artinya dia tak lagi bersedih seperti tadi, walau bagaimana pun sebisa mungkin hatinya harus tenang secepatnya.


" Mbak bantu, " Ayu tak memperdulikan ucapan adik iparnya itu.


Mereka berjalan sangat pelan saling merangkul, seolah sangat takut terjatuh. Wajah keduanya juga saling berbalas senyum, merasa lucu dengan dirinya sendiri.


" Dek, ada Rahma. Dia sejak tadi mencari mu" kata Ayu, saat Sholeha seolah bertanya siapa yang duduk membelakanginya.


Sholeha tersenyum, " Aku sampai ndak kenal Mbak Rahma, mata ku buram karena banyak nangis" ucap Sholeha sedikit tertawa.


Rahma mendengar perbincangan kecil mereka, dia juga kontan menoleh memastikan jika yang datang adalah Sholeha. " Sholeha, maaf sekali aku baru datang" kata Rahma, ia juga memeluk erat Sholeha, sembari beberapa kali mengusap punggungnya pelan.


" Iya Mbak, tidak apa-apa, terima kasih sudah datang, " Sholeha melepas pelukannya, menatap Rahma dengan wajah sembabnya, " Selamat atas pertunangannya" katanya lagi dengan senyuman.


Rahma sempat terkejut, tetapi segera ia tersenyum, " Kamu juga selamat, selamat telah hamil. Semoga sehat selalu ya" Rahma tersenyum begitu lebar, tangannya terulur begitu saja menyentuh perut Sholeha.


Sholeha melirik Ayu, dengan senyumnya Ayu juga mengangguk. Memberitahu jika Rahma juga sudah mengetahuinya.


Senyum Sholeha mengembang begitu saja.

__ADS_1


***


__ADS_2