
Kebetulan sekali, tak lama dari itu Rizal datang berkunjung. Tak merasa malu dengan wajah sembabnya, Sholeha memaksa di antar ke rumah suaminya. Kakaknya yang tentu sudah memaklumi sifat adiknya yang ngeyel, ia bersedia melakukannya.
Sholeha tak lagi menghiraukan perintah suaminya, lebih memilih menyusul, ia juga sangat kepikiran dengan ibu mertuanya.
Sepanjang perjalanan, Sholeha terus berpikir apa saja yang akan di katakan pada suaminya jika bertemu. Dia juga mencoba memilih alasan jika di tanya mengapa tidak mematuhi perintahnya.
" Dah sana masuk, bicarakan baik-baik, ndak usah nangis " seru Rizal, saat sampai di depan rumah.
" Iya , " kata Sholeha sangat pelan.
Sholeha menatap motor Rizal yang melaju ke rumahnya, ia berbalik menatap pintu rumah yang tertutup rapat. Jika di ingat, memang sudah sangat jarang ia datang kesini, wajar saja jika ia sampai tak tau mertuanya sakit.
Sholeha mondar mandir, setelah salam nya tak kunjung mendapat jawaban. Ia juga memeriksa pintu yang teryata terkunci, ia juga berlari ke ruko yang sepertinya bersiap tutup.
" Loh Ibu, kenapa ?" tanya seorang gadis yang ia kenal kasir di Ruko.
Dengan wajah kebingungannya, Sholeha menghampirinya lebih dekat, " Ibu sama Mas Sholeh ndak di rumah?" katanya sedikit ragu.
Belum sampai ia menjawab terdengar deru mobil berhenti di depan rumah. Sholeha tau itu suami dan ibunya, ia segera berlari meninggalkan Ruko. Meski ada rasa takut pada suaminya, Sholeha memberanikan diri, mengabaikan semua yang terjadi.
" Ibu, !" Sholeha tergopoh menemuinya.
Sholeh memutar tubuhnya, memastikan suara istrinya yang sedikit samar.
Bu Nur meraih tangan Sholeha, tersenyum seolah melupakan kondisinya, " Kamu di sini ? jangan lari-lari. " katanya pada sang menantu.
Keduanya berjalan dengan Sholeha yang merangkul Bu Nur, mengikuti Sholeh yang sedang membuka pintu.
" Maaf, Sholeha baru datang " ucap Sholeha begitu menyesal.
" Ibu ndak papa, sama seperti biasa. Bulek mu saja yang terlalu panik, buat orang khawatir" Bu Nur mengusap pucuk kepala Sholeha dengan lembut.
__ADS_1
Sholeh berhasil membuka pintu, dia tetap diam tak mengikuti obrolan dua wanita itu. Dia hanya sedikit penasaran, istrinya datang bersama siapa.
Sholeha meneruskan langkanya, mengantar ibunya ke dalam kamar. Ia juga melihat keresek putih berisi beberapa obat dan vitamin. Hati Sholeha kembali berdenyut nyeri, tiba-tiba ia teringat ibu nya lagi.
" Nduk, ada apa?" kata Bu Nur, saat melihat Sholeha tiba-tiba terdiam.
Dia hanya menggeleng, dan memberikan senyuman. Sholeha merasa lega karena ibu mertuanya tak sedang sakit parah. Sembari memijit kakinya, Sholeha juga mendengarkan sedikit cerita dari ibu mertuanya.
Dia tidak bertanya mengapa wajahnya sembab, dia juga tidak menyinggung suaminya. Ibu mertuanya ini malah mengajaknya berbincang masalah kehamilan, menceritakan pengalamannya dulu saat mengandung Sholeh.
" Kamu masih suka Soto ?" tanya Bu Nur.
Sholeha tersenyum, ternyata suaminya sempat menceritakan hal ini padanya. " Masih, "
Ada banyak hal yang Bu Nur sampaikan masalah kesukaan saat hamil, keluhan dan menceritakan juga memang selalu ada gejolak emosi yang tak terkontrol. Sholeha mendengar semuanya, dia tetap di sana sampai ibu nya tertidur.
Sholeha sempat memandang lekat wajah tenang Bu Nur, ia tertidur dengan begitu damai, entah dari mana asalnya air mata kembali menetes. Kali ini, entahlah dia juga tak mengerti apa sebabnya.
Dengan sangat berhati-hati, Sholeha keluar dan menutup pintu. Setelahnya, ada rasa bingung yang kembali melandanya, harus kemana ia setelah ini. Ia mengedarkan pandangan, mencari sosok yang sangat ingin ia temui, tetapi rasa takut juga menyelimuti.
Sholeha terkejut, saat lampu kamar masih begitu terang menyala, suaminya tak ada di sana. Sholeha melihat suasana kamar yang terasa begitu aneh, tak hangat seperti biasanya. Sholeha melihat ranjang yang entah mengapa membuatnya semakin merindukan suaminya.
Sholeha memeriksa kamar mandi, di sana juga tidak ada. Dengan menghela nafas beberapa kali, Sholeha memilih mematikan lampu, dia bersiap tidur. Matanya begitu berat setelah banyak menangis sejak tadi, ia berpikir jika suaminya sedang di ruko seperti biasa.
Tak perlu lama, Sholeha sudah berpindah ke alam mimpinya. Ia tertidur dengan posisi kesukaannya, miring menghadap sang suami di sebelah kiri. Dia bahkan melupakan kerudungnya yang masih terpasang sempurna.
***
Sholeh membiarkan istrinya masuk, dia teringat masih ada sesuatu yang belum ia selesaikan mengenai pekerjaannya. Karena tas nya tertinggal di rumah mertuanya tadi, akhirnya ia harus kembali kesana.
Saat tiba di sana, Sulaiman tampak kebingungan melihatnya. Mungkin karena putrinya tidak sedang di sana.
__ADS_1
"Saya cuma ambil tas Pak, Sholeha sedang bersama Ibu, di rumah " Kata Sholeh tanpa di tanya.
Sulaiman mengangguk, " He, Le. Kita makan saja dulu, Bapak ndak mungkin menghabiskan semua. Sholeha masak begitu banyak tadi" ajaknya pada Sholeh yang terlihat akan langsung pergi.
Meskipun tidak memaksa, Sholeh tak enak hati jika menolak ajakan mertua nya. Dia juga melihat memang banyak sekali lauk, tampak belum tersentuh sama sekali.
Sholeh segera ikut duduk, tak enak membuat mertua nya menunggu.
" Le, Bapak tau kamu tak enak hati, Bapak memaklumi. Apapun masalah kalian, tolong maaf kan anak Bapak. Dia itu terlalu manja selama ini, ndak tau apa-apa" katanya, setelah Sholeh menyelesaikan makan.
Sholeh menyimak dengan begitu tenang, dia tau jika pembicaraan ini mengarah pada sang istri. Apa lagi Sholeha tampak sembab matanya tadi.
" Dia tidak bercerita apa pun pada ku, tetapi Bapak tau yang terjadi di antara kalian. Mohon maaf kan ya Le, " tambah Sulaiman.
" Kami akan membicarakan ini nanti Pak, InsyaAllah kami bisa saling mengerti dan memaafkan. Bapak jangan kuatir" Jawab Sholeh begitu tenang.
Sulaiman mempercayai menantunya, dia tak lagi membicarakan masalah apa pun pada Sholeh, ia hanya bertanya keadaan Bu Nur. Karena Sholeh sedang terburu-buru, ia segera pamit pulang.
Sholeh harus menyelesaikan urusan pekerjaannya, dalam hal keuangan yang sedang terjepit hutang. Dia juga sedang di tunggu oleh Agus di ruko.
Sedikit tergesa, Sholeh menemui Agus. Dia tampak sudah menunggunya.
" Bagaimana Gus ?" tanya Sholeh saat baru saja sampai.
Agus yang sudah mondar-mandir, seperti tak sabar menunggu Sholeh. Dia tak mau duduk meski sejenak.
" Bos, kayaknya kita ketipu "
Sholeh terdiam di tempatnya, ia bergegas mengobrak-abrik banyak kertas dari tasnya. " Aku ingat ada nota nya Gus, jangan langsung putuskan begitu, sebentar " katanya, berusaha tenang.
Agus terpaksa duduk, membantu Sholeh mencari sesuatu, " Gimana kalau kita tanya Mas Rizal juga ?" usul nya tiba-tiba.
__ADS_1
Sholeh menggeleng, tak setuju dengan perkataan Agus. " Bahaya jika dia salah kira " kata Sholeh.
***