Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
bukan anak sial


__ADS_3

Inayah POV


Ku sentuh kepala ku yang masih terasa berat, aku juga merasakan perut ku yang seperti di timpa sesuatu, aku sedikit mengangkat kepala untuk memastikan ada apa.


"Aska" dengan bertumpu ke lantai, aku berusaha bangun dan mengangkat tubuh Aska ke pangkuan ku, terkejutnya aku melihat bercak merah di wajah Aska, bercampur dengan jejak air mata yang mulai mengering.


"ya Allah, anak ku" aku menggendong Aska yang masih terlelap masuk kedalam kamar, ku bersihkan wajahnya dengan tisu basah, aku tidak menemukan luka apapun di wajah Aska, tangan Aska pun penuh dengan noda merah.


"ini darah yang mulai mengering, tapi dari mana, nggak ada luka apapun" aku baru teringat dengan sesuatu, aku segera bangkit dan berdiri di depan cermin.


"Astaghfirullah" Astaga, ternyata wajah ku juga penuh dengan bercak merah, pasti Aska berusaha membersihkan dengan tangan mungilnya, ku bersihkan wajah ku sebelum ikut bergabung di samping Aska.


"pasti kamu takut banget ya, nak" ku bersihkan wajah dan tangan putraku, dengkuran halus yang terdengar dari Aska membuat ku tersenyum hangat. Tapi kemudian aku menangis lagi, mengingat betapa sakitnya ucapan yang keluarga Zidan katakan padaku, mereka datang hanya untuk memberikan rasa sakit saja.


Mendengar cacian yang mereka berikan, membuat kepalaku langsung terasa sakit, semua ucapan menyakitkan yang mereka lontarkan membuat sengatan di kepalaku tiba-tiba datang menyerang. Ku tepuk-tepuk bokong Aska yang tidur menghadap ku, sedangkan pikiran ku terbang melayang kemana-mana, aku tidak pernah adukan kelakuan mereka pada suamiku, ku pendam sendiri semuanya dan ku sembuhkan sendiri lukanya.


Cepat-cepat ku hapus air mata yang tergenang di pelupuk mata, ku paksakan senyum dan berusaha tetap berpura-pura jika semunya baik-baik saja, aku tidak ingin rasa sedih ini terus berkelanjutan dan berakhir justru mempengaruhi hidupku.


"Pasti Aska takut ya nak liat muka mama, pasti Aska kaget ya, muka Aska juga jadi kena darah mama. anak mama, kamu bukan anak sial nak, kamu anak mama anak papa, kamu kesayangan mama, kamu kebanggaan papa, kamu bukti cinta mama dan papa, sayang" ku kecup kening Aska setelah mengucapakan kalimat itu, ada rasa sesak yang kembali hadir jika mengingat ucapan yang menyakitkan dari mertua ku, aku tidak masalah jika di hina, tapi jika anak ku yang di hina, rasanya sesak sekali, ingin melawan pun aku tidak sanggup.


....


Seperti hari-hari sebelumnya, aku masih menunggu Zidan pulang, ku tunggu di ruang depan, aku berharap Zidan pulang malam ini, aku ingin memeluknya, aku ingin mendengar detak jantungnya yang menenangkan.


Malam semakin larut, tidak ada tanda-tanda Zidan pulang, ponselnya pun sulit untuk di hubungi.


Author POV


Di tempat yang berbeda, Zidan dan Inayah sedang menonton televisi bersama, mereka menonton drama Korea terbaru yang akhir-akhir ini tayang. Karina duduk dengan Zidan yang tidur menggunakan pahanya sebagai bantal, Karina usap-usap rambut Zidan, menyisir rambut hitam legam milik pria itu dengan jari-jari lentiknya.

__ADS_1


Zidan meraih tangan Karina dan mencium telapak tangan Karina, Zidan mendongak menatap wajah tenang Karina yang sedang serius menonton drama.


"sayang" panggil Zidan lembut.


"kenapa?"


"besok aku pulang, ya" mendengar kalimat itu, sontak membuat Karina mengarahkan tatapan tajam pada Zidan, ia tidak terima dengan keinginan Zidan itu.


"nggak, kamu harus tetap di sini!" dengan tegas Karina berucap, helaan nafas berat terdengar semakin gusar, Zidan bangun dan duduk dengan kaki bersila di depan Karina. Zidan usap sisi wajah sebelah kiri Karina dengan tangannya.


"sayang, aku janji akan ke sini lagi, aku sudah terlalu lama meninggalkan mereka, bahkan, sesuai dengan kemauan kamu... aku tidak pernah sekalipun menghubungi Inayah, aku abaikan setiap pesan dan panggil yang masuk darinya" berusaha Zidan untuk berusaha melunakkan hati Karina


"itu juga kalau aku nggak ngancam bakal ngirim foto kita yang lagi tidur bareng ke dia!" hardik Karina.


"sayang, please, aku mohon, aku janji akan lebih sering menemui kalian, menginap di sini, aku janji" Karina menepis kasar tangan Zidan dari wajahnya.


"aku hanya ingin mendengar janji jika kamu akan menceraikan Inayah, selain itu aku nggak mau denger" Karina pergi setelah menekan tombol power di remote tv, ia berjalan dengan langkah besar masuk kedalam kamar.


Zidan tidak tau kenapa Karina lebih agresif sekarang, Karina lebih berusaha menekan setelah satu tahun terakhir ini Zidan mulai perlihatkan cinta yang tulus Padanya, padahal sebelumnya, Karina menurut saja tuh, tidak pernah mengancam, Karina tipe wanita yang menurut Zidan, juga baik awalnya, dan sabar dengan sikap Zidan tidak bisa menerimanya selamat bertahun-tahun.


Hal itu juga yang akhirnya membuat Zidan jatuh hati padanya, tapi nyatanya salah, apa yang Zidan lakukan itu justru membuat hubungannya dengan Inayah terancam, mau bagaimanapun, Inayah istrinya, wanita yang sudah menemaninya sejak 12 tahun terakhir. Walaupun Zidan tidak lagi rasakan cinta yang sama seperti sebelumnya pada Inayah, Zidan tetap berat jika harus melepaskan wanita yang 12 tahun sudah menghiasi hidupnya.


"arggh, kenapa jadi serumit ini sih" Zidan menyusul Karina, ia tetap akan pulang besok, Zidan takut Inayah menaruh curiga besar padanya, ini pun Zidan sudah harus siapkan jawaban yang pas untuk Inayah.


Zidan bergabung dengan Karina tidur di atas ranjang, Zidan masuk kedalam selimut yang sama dengan Karina, Zidan lingkarkan tangannya di pinggang ramping wanita itu. Punggung yang sedikit terekspos menampakkan kulit putih Karina, Zidan berikan ciuman di sana berharap Karina luluh dengan permintaanya.


"sayang" suara Zidan pelan sekali.


"boleh, ya" sekali lagi Zidan cium pundak Karina, Karina membalik tubuhnya, membuat wajah mereka sejajar, hanya berjarak satu jengkal saja.

__ADS_1


"jujur sama aku, kamu masih cinta sama dia?" kepala Karina terangkat menunggu jawaban Zidan, bukannya menjawab, Zidan justru mendaratkan satu ciuman di bibir sang istri kedua.


"yang pasti aku cinta kamu, sayang" pintar sekali memang mencari cara untuk terlepas dari pertanyaan mematikan.


"jangan mengalihkan pertanyaan, aku mau kamu jujur, kamu cinta nggak masih sama Inayah!" kali ini nada suara Karina berubah tinggi.


"kami mau aku jawab apa, Hem" Zidan masih berusaha tetap tenang menghadapi kerasnya watak Karina yang berubah drastis.


"Aku mau kamu bilang, Kalau kamu nggak cinta sama Inayah, baru aku kasih ijin kamu pulang"


Sesaat Zidan menatap dalam mata Karina, Kemudian terdengar helaan nafas berat.


"iya, aku nggak cinta lagi sama dia" senyum miring terlihat jelas di wajah Karina.


"terus, kenapa kamu nggak ceraikan dia"


"nggak semudah itu Karina, aku sama Inayah sudah bareng 12 tahun, 12 tahun aku sama dia terus, dan kamu meminta ku untuk melupakan dia, aku nggak bisa"


"itu ber---" Zidan membungkam mulut Karina dengan ciumannya, lama kelamaan Karina mulai terbuai, dan menutup mata, sampai akhirnya Zidan melepaskan tautan bibir mereka, membiarkan Karina menghirup udara lagi.


"percaya sama aku ya, aku cinta sama kamu, aku sayang banget sama kamu, tapi untuk melepaskan Inayah pun aku nggak bisa, terlalu lama waktu yang aku habiskan bersamanya, membuat ku pun jauh terikat dengannya" tatapan mata Karina melunak, ia mengangguk dah kembali memeluk Zidan.


"aku percaya sama kamu, sayang. Aku percaya cinta kamu hanya untuk ku"


"makasih sayang, makasih, jadi besok aku boleh pulang temui Inayah dan Aska"


"jangan sebut nama mereka di hadapan ku kalau kamu nggak mau lihat aku marah" Zidan terkekeh, ia mengusap punggung Karina untuk menenangkan.


"iya iya"

__ADS_1


"janji kamu lebih sering datang nemuin aku sama Nesha"


"iya sayang aku janji"


__ADS_2