Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
Suami atau anak


__ADS_3

"Aska main di sini, mamah mau jemur pakaian dulu"


Ternyata benar dugaan ku, Zidan tidak kekantor, bahkan kini pakaian kantornya sudah berganti dengan baju kaos dan celana pendek rumahan. Aku berjalan saja melewati dia yang duduk di tepian tempat tidur, aku juga ingin berganti baju.


"Inayah" panggilannya kembali ku abaikan, aku hanya ingin melihat kemarahannya lagi, siapa tau ia jujur di saat marah. Bukan cari penyakit sendiri, aku hanya butuh kejujurannya, aku ingin di mendengar alasan perubah sikapnya.


Zidan mencekal pergelangan tangan ku saat ingin masuk kedalam kamar mandi, aku berusaha melepasnya, tapi Zidan justru semakin mengeratkan genggamannya.


"lepas! sakit" aku memekik saat Zidan menarik ku yang membuat aku terjatuh di atas pangkuannya.


"kamu apa-apaan sih!" Zidan menahan tubuhku saat ingin menjauh, ia tidak biarkan aku lepas begitu saja, tatapan Zidan begitu dalam, tidak ada tatapan mengintimidasi seperti biasanya. Tatapan yang selalu aku lihat dulu saat ia mencoba membujuk ku, tatapan yang aku rindukan, karena aku bisa rasakan tatapan tulus dan menyesalnya. Segera ku palingkan wajah saat ia mencoba mendaratkan ciumannya. Kini kurasakan tangannya mengelus wajahku, menyebalkan sekali pria ini, apa sih maunya.


"sayang" suaranya terdengar berat, wajahku di paksa untuk menghadapnya.


"kenapa" jawab ku dengan ketus


"aku sudah minta maaf, apa yang kamu pikirkan itu nggak ada, nggak ada yang aku sembunyikan dari kamu, Aya" tangan ku terulur untuk menyentuh dadanya, mengusap secara perlahan tanpa menatap wajahnya.

__ADS_1


"Kamu lagi nggak main-main di belakang aku kan, Zi? ku angkat wajah untuk menatapnya, Zidan menggeleng, tangan ku di dadanya ia genggam. Tatapannya berubah sendu, apa tatapan itu bisa ku percaya, apa aku bisa pegang kata-katanya, apa dia sedang tidak berbohong, atau justru kebalikannya, arggh, aku benci sekali menyimpan kecurigaan seperti ini.


Kenapa pesan-pesan itu seolah mengatakan jika bukan suamiku yang mengiringinya, apa Zidan sungguh tidak berbohong, itu semua karena aku saja yang terlalu curiga dan takut di tinggalkan.


"Kamu harus kekantor, aku mau jemur pakaian" kembali aku di tahan untuk tidak menjauh, aku hanya butuh waktu sendiri, menenangkan pikiran untuk menghilangkan semua rasa curiga yang aku pendam. Aku takut jika semuanya salah, aku justru menyakiti Zidan, kecurigaan ku yang tidak berdasar bisa saja membuat rumah tangga kami hancur berantakan.


"aku harus apa agar kamu percaya, nggak ada yang aku sembunyikan dari kamu, aku sayang kamu sama Aska, Inayah" telapak tangan ku di ciumnya, lama tangan itu berada di sana, aku menatap kedua matanya yang begitu mirip dengan Aska, alisnya yang tebal juga dengan bulu mata yang panjang.


"kamu meragukan Aska sebagai darah daging kamu, Zi?" Zidan menggeleng.


"terus kenapa kamu setega itu dengannya. Kamu banting anak kamu Zi, kamu tendang hingga tubuhnya membiru!" aku tidak tahan untuk tidak meninggikan suara ku padanya. Jika mengingat lebam di tubuh Aska kembali membuat emosiku menyala.


"Kamu apa-apaan sih, Zidan!" aku membentak kesal. pinggang ku di tahannya yang membuat aku kesulitan untuk berdiri.


"Lepas!" sekali gerak kini aku berada di bawahnya. Tatapan Zidan begitu dalam. Mau sekeras apapun aku berusaha untuk meloloskan diri, Zidan tidak akan membiarkan aku lepas begitu saja.


"Aku sudah bilang kan, aku nggak menyembunyikan apapun dari kamu, Aya" ucapnya dengan lembut.

__ADS_1


"Aku menyayangi Aska, dia anak ku, darah daging ku. Aku tidak pernah menuduh mu berselingkuh di belakang aku hingga hadirnya Aska, Aska anak kita, buah cinta kita" ucapnya dengan begitu lirih. Zidan masih berada di atas ku, satu tangannya bertumpu agar tubuhnya tidak sepenuhnya menimpaku.


Aku menyunggingkan senyum remeh, ku palingkan wajah enggan menatapnya.


"aku sudah menahannya selama ini, Zi. Kamu selalu saja beralasan ingin mendidik Aska menjadi anak yang mandiri, kamu tidak pernah berikan apresiasi atas dia, kamu nggak pernah kasih hadiah kecil ke dia, kamu nggak pernah menghargai dia yang dengan sabar menunggu kamu pulang" Aku menjeda sebentar kalimatku untuk menarik nafas yang tiba-tiba saja terasa sesak.


"baiklah, aku bisa terima semua itu, tapi saat kamu membuatnya merintih kesakitan aku sungguh tidak terima. Satu hal yang kamu harus tau Zidan" aku beralih menatapnya, mungkin kini mataku sudah merah berair.


"Aku lebih memilih kehilangan suami dari pada kehilangan putra ku" ucap ku tanpa ragu. Sepertinya Zidan merasa terluka dengan ucapan ku barusan, atau perasaan ku saja, entahlah. Tapi kini Zidan sepenuhnya menimpaku, ia sedikit bergeser agar tidak terlalu membebaniku, ia menenggelamkan wajahnya di celuk leherku, aku bisa rasakan hembusan nafasnya di sana.


"Aku minta maaf, aku emosi dan sulit mengontrolnya, aku mengaku salah, aku melukai anak ku sendiri, aku minta maaf Aya, maafin Zi" suaranya terdengar begitu lirih, aku mengangkat tangan meskipun sedikit ragu juga, aku mengusap punggungnya perlahan.


"Kalau kamu nggak percaya, aku bersedia untuk melakukan tes DNA, jika hasilnya Aska adalah darah daging kamu, aku rela melepaskan kamu, karena sungguh tidak sanggup terus bersama dengan kamu yang selalu memberi luka di hati putraku" Aku tidak tau dapat keberadaan dari mana aku bisa mengatakan hal gila itu. Sebenarnya itu hanya ancaman, aku tidak ingin menjadi janda, demi apapun aku belum siap kehilangan Zidan. Tapi kata itu sudah aku lontarkan, karena aku sudah tidak tahan lagi, aku pasrahkan semuanya pada tuhan.


"Jangan ngomong gitu Aya, kita tidak akan berpisah, maafkan aku karena sikap kasar ku padamu dan Aska, aku harus apa agar kamu percaya, Aya" aku bisa bernafas lega, tidak seperti apa yang kau bayangkan.


"aku harus apa agar kamu percaya sama aku"

__ADS_1


"Buktikan pada ku kalau kamu memang nggak pernah main-main di belakang aku. Buktikan pada ku kalau kamu menyayangi Aska setulus hati kamu" aku menjeda sebentar kalimatku.


"Buat Aska kembali mau memanggil kamu dengan sebutan papah"


__ADS_2