Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
Huru hara


__ADS_3

Author POV


"Maaf, aku nggak bisa"


....


"Aku sudah bilang, aku nggak bisa kehilangan Inayah, Inayah cinta pertama ku"


....


"terserah"


Zidan tidak pedulikan wanita yang sudah berhari-hari ia abaikan itu, Zidan tidak peduli dengan kemarahan dan macamnya, Zidan yakin Karina juga tidak akan senekat itu.


"sayang, ayo turun, kita makan malam" teriak Inayah dari luar.


"iya sebentar"


Ponsel di sakunya berdering lagi, tapi kali ini bukan panggilan masuk, melainkan pesan. Zidan buka isi pesan dari istri keduanya.


*Karina"


"Nesha sakit, kamu nggak pulang malam untuktemui dia maka kamu akan menyesal" Sebuah foto melengkapi pesan singkat yang Karina kirimkan, ada foto Nesha yang tertidur dengan kompres di keningnya. Zidan meraup wajahnya kasar, apa ia harus meninggalkan Inayah sendiri di antara orang tuanya yang sedang bertamu, tapi di sisi lain ia juga harus pulang menemui sang putri yang sedang sakit karena merindukannya.


Panggilan masuk dari Karina langsung Zidan angkat.


*"aku akan pulang"* langsung Zidan menyambar tanpa pikir panjang.


"Sayang" panggilan dari Inayah kembali terdengar, perlahan Zidan membuka pintu kamar mandi, di depan sudah ada Inayah yang berdiri dengan panik karena menunggu suaminya keluar dari kamar mandi.


"Zi, kamu nggak papa?" Zidan menggeleng.


"Aku ada urusan mendadak, aku nggak bisa ikut makan malam bareng kalian" bola mata Inayah langsung melebar, ia mendekat dan mencengkram pergelangan tangan Zidan, seraya menggeleng. Inayah tidak bisa sembunyikan rasa takutnya di depan Zidan.

__ADS_1


"Jangan pergi, aku mohon jangan pergi" Zidan yang sudah begitu khawatir dengan sang putri yang terbaring lemah di ranjangnya, melepaskan tangan Inayah dari pergelangan tangannya. Inayah kembali mencengkram dan menahan, tapi kali ini Zidan melepaskannya dengan sedikit kasar.


"Aku harus pergi, ada pekerjaan mendadak" Zidan tidak hiraukan permintaan Inayah untuk tetap menemaninya di rumah, Zidan menyambar kunci mobil dan jaketnya sebelum melangkah keluar.


"Zidan, jangan pergi aku mohon Zidan" Inayah terduduk di tepian tempat tidur. Kini rasa cemas mulai menghantuinya. Entah apa yang akan terjadi nanti jika Zidan tidak ada di rumah, saat ada pun Inayah di hina dan di sakiti hatinya tanpa belas kasih di depan mata Zidan sendiri, dan Inayah tidak bisa bayangkan apa yang akan terjadi padanya saat Zidan tidak ada.


Zidan menemui orang tuanya yang masih di dalam kamar untuk berpamitan.


"Mah pah, Zidan pergi dulu"


"kamu mau kemana?" tanya sang ibu penuh curiga. Zidan sebenarnya tidak ingin katakan tentang Nesha yang sakit, Nesha itu cucu kesayangan orang tuanya, pasti mereka akan murka setelah tau penyebab sakitnya Nesha karena di abaikan papahnya


"Nesha sakit mah, Zidan mau menemuinya" Sang ibu yang tadi duduk bersama Narendra suaminya langsung berdiri dan mendekati Zidan.


"Apa yang kamu katakan Zidan! cucu mamah sakit?" Zidan mengangguk.


"ini semua pasti gara-gara kamu yang mengabaikan mereka hampir satu minggu demi perempuan rendahan itu!" sang mamah benar-benar tidak terima mendengar kabar sakit dari cucu tercinta, ia tinggikan suara dan tanpa ragu menyebut nama Karina dan anaknya, Zidan sudah kepalang panik di buatnya.


"Mah! Sadar ini di rumah Zidan, ada Inayah mah!"


"Zidan pergilah, temui anak mu, mamah papah dan adikmu akan segera menyusul" Zidan mengangguk dan segera pergi dari sana.


"Zidan " panggil Inayah di abaikan saja olehnya.


"Zidan " Inayah yang berlari mengejar sang suami terjatuh karena tersandung kakinya sendiri, Zidan menoleh saat mendengar suara benturan lantai, pria itu juga melihat sang istri yang tersungkur karena mengejarnya, tapi Zidan tidak berniat untuk menolong dan justru pergi begitu saja meninggalkan Inayah yang berusaha bangun mengejarnya.


"Zidan" lirih Inayah menatap pilu kepergian Zidan.


Inayah tersentak saat pergelangan tangannya di tarik dan membuatnya terhuyung kebelakang, Inayah menatap sang mertua yang sudah berdiri di depan matanya dengan pandangan begitu tajam.


Plak!!!!


"MAMAH!!!" Suara tamparan bersamaan dengan suara teriakan Narendra dari arah tangga. Sedangkan Inayah yang baru saja mendapatkan tamparan di pipinya masih dengan posisi menyamping wajahnya, Inayah sentuh pipinya yang terasa begitu perih

__ADS_1


"DASAR PEREMPUAN MISKIN! PEMBAWA SIAL! GARA-GARA KAMU CU---". Ucapan ibunya Zidan terhenti saat Narendra mencengkram pergelangan tangannya.


"Mah! Sadar" bentak Narendra memperingati sang istri yang bisa saja kelepasan. Biruu yang turun dengan Aska di Gendongannya mempercepat langkahnya setelah mendengar suara tinggi kedua orang tuanya.


"Mah pah" Ibunya Zidan yang sudah terbakar api emosi di tambah emosi lagi dengan melihat putra bungsunya menggendk Aska. Di tariknya Aska secara kasar dari gendongan Biruu


"Mah!" Inayah yang melihat anaknya di kasari segera mendekat, tapi Narendra menaha tangan Inayah yang ingin menyentuh sang istri.


"Jangan sentuh istri saya" ucap Narenda tegas. Sedangkan Aska sudah menangis histeris karena tubuh kecilnya di tarik tarik oleh neneknya sendiri, Biruu masih tetap berusaha menahan Aska di gendongannya.


"ANAK SAYA DI KASARI DI DEPAN MATA SAYA OLEH ISTRI ANDA, TUAN NARENDRA YANG TERHORMAT"


plak!!!!


"Papah" suara teriakan Biruu bersama dengan tamparan yang melayang di pipi tirus Inayah dari Narendra, kini Inayah bisa rasakan amisnya darah dari sudut bibirnya karena ulah Narendra, ibunya Zidan berhenti menarik Aska dari gendongan Biruu, ia fokuskan pada sang Suami yang wajahnya sudah merah padam.


"APA SEPERTI INI CARA KAMU BERSIKAP PADA ORANG TUA! APA SEPERTI INI CARA ORANG TUA MU MEND---"


"STOP!! BERHENTI!!!! JANGAN PERNAH MEMPERTANYAKAN CARA ORANG TUA SAYA MENDIDIK. TAPI BERCERMIN LAH TUAN NARENDRA YANG TERHORMAT, SADARLAH APA YANG SAYA LAKUKAN KARENA ULANG KALIAN, KALIAN MENGASARI PUTRA KU, CUCI KALIAN SENDIRI"


PLAK!!!! satu tamparan lagi mendarat di pipi Inayah, Aksa menjerit sejadi-jadinya melihat Inayah di tamparan di depan matanya, Aska berlari memeluk kaki Narendra, dengan air mata berderai Aska memohon untuk berhenti memukuli ibunya.


"Jangan pukul mamah Aska!! Jangan pukul...." Inayah yang ingin menarik sang anak kurang cepat dari pergerakan ibunya Zidan, ibu nya zidan lebih dulu menarik Aska menjauh dari kaki suaminya.


"ASKA!!" pekik Inayah saat Aska tersungkur ke lantai.


"Biruu menahan pergelangan tangan sang ibu yang ingin kembali memberi tamparan di wajah Inayah.


"mah pah kita pergi sekarang" Biruu berusaha membawa keluar orang tuanya dari rumah sang kakak. Sudah cukup huru hara yang terjadi hanya karena kabar sakit dari putri Vanessa.


"INGAT INI INAYAH! KAMU TIDAK PERNAH PANTAS UNTUK ANAK SAYA, KALIAN AKAN SEGERA BERPISAH, PEGANG KATA-KATA SAYA" Inayah mengangkat kepalanya tanpa ragu, wajah wanita itu sudah pucat, kedua sudut bibirnya berdarah, begitu juga dengan rongga hidungnya. Biruu yang ingin menghampiri sang Kaka ipar di tahan lagi tangannya.


"mah" lirih biru memohon.

__ADS_1


"kalau kamu berani mendekati wanita itu, maka kamu akan kehilangan mamah" ancam sang ibu membuat Biruu menurut .


Narendra menarik pergelangan tangan sang istri dan anaknya untuk pergi dari rumah Inayah.


__ADS_2