Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
menjenguk mbak Naila


__ADS_3

Gelas di genggaman tangannya pecah, hancur tak tersisa. Kabar pernikahan Inayah dan Tama telah sampai di telinga Zidan. Serapat-rapatnya Inayah menutupi pernikahannya, tetap akan ketahuan jua.


Air mata kembali turun membasahi pipi yang semakin nampak jelas rahangnya itu. Zidan mendudukkan diri di pinggiran tempat tidur, pecahan kaca yang berserakan di lantai berhasil melukai telapak kakinya. Zidan tidak rasakan sakit apapun di area sana, tapi yang jauh lebih sakit adalah hatinya.


"Aya.. Aya.." ucapnya lirih, Zidan tak sanggup melanjutkan Kalimatnya lagi.


"Kamu akan menikah, Aya. Apa tidak ada lagi sedikit kesempatan untuk ku, apa sungguh tidak ada lagi kata kita untuk yang ke-dua kalinya, Aya..."


"apa boleh aku berharap kamu kembali Inayah, apa boleh aku berharap kita kembali seperti dulu, aku ingin memulai lagi dengan kamu dari awal, aku ingin memulainya lagi Inayah..." Zidan menyibak rambutnya kebelakang. Pernikahan Inayah baru tercium publik setelah satu minggu acara akan di mulai. Betapa terpukulnya Zidan setelah mendapat kabar pernikahan Inayah. Dunianya seakan semakin hancur tanpa sisa, sudah habis semuanya, satu persatu, perusahaan, cinta, keluarga, semuanya selesai.


"Inayah, anak-anak ku, hidupku, dunia ku... argghhh" Zidan menjerit sejadi-jadinya, amukan dan penyesalan pun tidak ada gunanya lagi, semuanya sudah selesai. Di tengah kekalutannya itu, Zidan teringat di saat hidupnya yang begitu bahagia setelah berhasil menikahi pujaan hatinya dulu. Senyum manis Inayah masih tergambar jelas di benaknya, Inayah yang malu-malu di malam pertama mereka berhasil membuat Zidan tertawa terpingkal-pingkal. Inayah bertindak konyol di depan Zidan yang baru saja sah menjadi suaminya.


"Kamu kenapa, sayang" ucap Zidan dengan nada menggoda.


"ak--aku nggak sengaja menumpahkan air, Zi..."Zidan meambil alih kain lap dari tangan Inayah.


"nggak usah di beresin dulu sayang, kita kekamar yo" Inayah berdiri saat Zidan menuntun lengannya, Inayah gugup bukan kepalang saat Zidan menuntunnya masuk ke dalam kamar.


"Zi, ma--mau ngapain ke dalam kamar" Zidan tersenyum dan menoleh ke belakang.


"mau bikin anak yang lucu kaya kamu" Inayah melotot, tanpa sadar ia mencubit lengan Zidan hingga pria itu meringis kesakitan.


"sakit Aya..." ucapnya lirih.


"Kamu sih, jahil" Inayah mengelus bagian lengan Zidan yang tadi ia berikan cubitan.

__ADS_1


"Kan emang iya sayang, apa yang salah dari ucapan aku, kita kan baru menikah nih, jadi sekarang sudah halal dong mau ngapain aja. Bikin anak yang lucu, yang cantik seperti kamu, yang ganteng seperti aku" Zidan meringis tanpa dosa, pipi Inayah kini bersemu merah karena malu.


"kamu nggak mau ya bikin anak lucu sama aku Aya?" Zidan membuat-buat suaranya menjadi lemah, Inayah menggeleng dan langsung memeluk Zidan.


"Kaka sekarang suami Aya, kaka mau lakukan apapun dengan Aya itu sudah halal, Aya mau ko bikin anak yang lucu sama Kaka" Zidan membalas pelukan sang istri, ia cium singkat ubun-ubun Inayah, Zidan mengusap lembut punggung Inayah, Inayah mendongak.


"Aya sayang banget sama Kaka"


"aku juga sayang banget sama kamu Aya"


cup


satu ciuman mendarat di bibir kecil ranum Inayah. Zidan secara tiba-tiba mengangkat tubuh Inayah ala bridal style, membuat Inayah memekik karena kaget.


"Kakak!"


"Ayo"


Sekilas ingatan bahagia itu membuat Zidan tersenyum di tengah rasa sakit yang sekarang ia rasakan.


"Aya... aku sayang kamu Aya... Aku sayang kamu" ucapnya begitu pilu.


"Sampai detik inipun aku masih mencinta kamu, aku menyesal Inayah, aku menyesal"


....

__ADS_1


Sebenarnya aku sudah datang menemui Mbak Naila untuk meminta ijinnya menikah dengan Tama. Tapi hari ini aku kembali ingin datang menemuinya, sebelum kesana, aku mampir dulu membeli bunga mawar merah dan bunga mawar putih. Tama bilang, istrinya itu suka sekali dengan mawar, waktu aku menemuinya untuk pertama kali meminta ijin, Tama membelikan mawar merah, dan sekarang aku ingin membelikan keduanya.


"ini mbak"


"makasih mbak" ku hirup aroma wangi dari dua ikat bunga mawar untuk mbak Naila, mbak Naila pasti suka.


aku langsung saja melanjutkan perjalanan ku.


....


Di sinilah orang baik itu berada, aku yakin mbak Naila sudah jauh lebih tenang sekarang. Mbak Naila tidak lagi merasakan sakit, mbak Naila sudah bahagia di sana. Ku letakkan bunga yang tadi ku beli di atas pusarannya, ku siramkan air yang juga tadi ku bawa.


"Mbak... Ini Aya mbak, Aya datang lagi jenguk Mbak" ku usap batu nisan mbak Naila. Mbak Naila meninggal empat tahun yang lalu. Mbak Naila mengidap kanker rahim yang akhirnya merenggut nyawanya, Kanker itu juga yang menyebabkan Mbak Naila tidak bisa memiliki anak. Mbak Naila wanita hebat, aku salut dengan Mbak Naila, dia begitu tangguh dan tidak pernah sekalipun ku dengar dia mengeluh sakit. Mbak Naila begitu menyayangi anak-anak ku, aku tidak tau lagi bagiamana caraku menggambarkan betapa baiknya orang itu.


"mbak, Aya ijin menikah dengan suami mbak ya... Mbak juga pernah meyakinkan Aya untuk meyakinkan diri membuka hati Lagi, mbak selalu katakan tidak semua laki-laki seperti mantan suami Aya, dan Mbak juga pernah minta Aya untuk menikah dengan suami Mbak" iya, Naila sendiri yang pernah meminta ku menikah dengan suaminya, saat itu aku sempat marah padanya, aku bahkan mengabaikannya berhari-hari, aku bena-benar tidak suka saat Dia menyuruh ku menikah dengan suaminya, aku sudah pernah merasakan sakitnya di duakan, walaupun kasusnya sekarang berbeda, tapi tetap saja kan mendua. Masa ia aku ingin menjadi perebut suami orang, setelah suami ku direbut orang. Dia terus meminta maaf, aku jadi merasa bersalah, kenapa aku saat itu begitu marah saat dia meminta ku menikah dengan Tama? mungkin juga saat itu aku masih dalam proses pemulihan hati, jadi agak sensitif.


"mbak, Aya janji akan jadi istri yang baik untuk Tama, Aya tidak akan menggeser nama mbak di hatinya, mbak akan tetap berada di tempat mbak, Aya hanya akan mengisi kekosongannya saja"


"Mbak, mbak pasti lihat dari atas sana kan?" aku mendongak menatap langit yang begitu cerah. Aku tersenyum


"Aya sayang mbak, mbak sudah sepertinya kaka untuk Aya, makasih karena Mbak sudah percaya dengan Aya, Makasih karena mbak sudah menyayangi Aya dan anak-anak Aya"


"Aya pulang dulu ya mbak, nanti Aya kesini lagi bareng Tama buat jengukin mbak" aku berduri, ku rapikan sedikit bajuku yang kusut karena kelamaan duduk berjongkok. Setiap datang ke makam, aku selalu lupa waktu, aku bisa menceritakan apapun di depan makam Mbak Naila.


Aku bergegas pergi untuk menjemput anak ku Ziya yang sedang les.

__ADS_1


....


Pernikahan ku akan di laksanakan besok, tidak ada pesta meriah, ini pernikahan ke-dua ku, begitu juga dengan Tama, untuk kedua kalinya pernikahan ku tanpa adanya pesta, aku sendiri yang meminta, aku tidak ingin kemeriahan, cukup dengan akad dan makan makan saja.


__ADS_2