
"Aku mau makan siang di rumah"
"mau aku masakin apa?"
"apa aja deh, apapun yang kamu masak akan aku makan. Semua masakan kamu aku suka" mungkin sekarang gigiku kering karena keseringan tersenyum. Zidan menelpon sejak aku dan Aska masuk kedalam taksi, sudah hampir sampai rumah tapi Zidan belum juga memutuskan panggilannya. Zidan juga bilang ingin makan siang di rumah, momen yang langka sekali terjadi di kehidupan rumah tangga kami, tidak akan ku sia-siakan hal ini dan aku akan membuat menu masakan kesukaan Zidan.
"kamu lagi istirahat, Zi?"
"nggak, aku lagi memeriksa laporan aja. Aska ketiduran lagi?" aku menoleh, Aska tidak tidur tapi terlihat lelah sekali wajah anak ku, ku usap keringat yang masih tersisa di wajah anak ku.
"nggak ko, dia lagi duduk anteng, kayanya kecapean banget"
"pantas aku nggak denger nyanyiannya. Gimana tadi ketemu Khansa?"
"anaknya dia perempuan, masyaallah cantik banget, Zi. Aku gemes banget, tapi tadi di tidur terus, aku nggak bisa gendong" aku mengerucutkan bibir.
"mau buat satu yang lebih lucu dari punya Khansa?" aku terbatuk seketika, ucapan Zidan barusan membuat ku tersedak air liurku sendiri.
"sayang, kamu nggak papa" mungkin batuk yang tidak berhenti juga membuat Zidan kawatir. Ku raih air botol mineral Aska yang ada di saku tasnya, syukurnya masih ada sisanya.
"sayang minum dulu, kamu batuk gitu" ponsel ku masih ku letakkan di telinga, jadi aku masih bisa mendengar suara Zidan.
"gara-gara kamu nih" ku letakkan lagi botol minum Aska.
"ko aku sih"
"kamu ngomong gitu buat aku tersedak tau" Zidan justru tertawa tanpa dosa di sebrang sana, andai dia ada dihadapan ku saat ini, mungkin aku sudah menutup mulutnya dengan tangan ku, menyebalkan sekali tingkahnya.
"sayang... kenapa jadi ketawa sih"
"kamu lucu sayang, masa di ajakin bikin anak jadi batuk-batuk gitu, kaya pengantin baru aja kamu" taksi berhenti tepat di depan rumah ku. Tas Aska yang sudah terlepas ku pasang di bahuku.
__ADS_1
'aku sudah sampai, aku matiin dulu panggilannya Assalamualaikum"
"waalaikumsallam, siap-siap pulang nanti kita bikin bayi perempuan yang lebih cantik dari punya Khansa"
"terserah" jawab ku dengan ketus sebelum memutuskan panggilan.
Author POV
Zidan tersenyum menatap layar ponselnya yang sudah tidak terhubung lagi dengan sang istri di seberang sana. Laporan yang menumpuk zidan tutup.
"Aku sudah menyakiti perasaan istri dan anak ku, aku sudah menodai pernikahan ku dengan Inayah. Aku mengkhianati istiri ku dengan memberikan cinta untuk Karina. Apa yang aku perbuat di masa lalu membuat ku terjebak di antara Karina dan Inayah" Zidan longgarkan dasinya yang terasa semakin mencekik lehernya. Ia sandaran tubuh lelahnya di punggung kursi. Zidan mengusap wajahnya prustasi.
"apa yang harus aku lakukan sekarang ya tuhan, aku menyayangi anak dan istri ku, tapi aku juga memiliki tanggung jawab sebagai pria brengsek yang merusak hidup wanita di masa lalu, aku harus apa yang tuhan, aku tidak ingin kehilangan Inayah dan Aska, aku menyayangi mereka lebih dari apapun, aku mencinta istri ku, aku tidak akan pernah bisa hidup tanpa dia..." Zidan berucap lirih.
Kesalahan di masa lalu membuatnya terjebak di dalam pernikahan yang tidak pernah ia inginkan sama sekali, kecemburuan melihat istri tercinta berbagi tawa dengan pria lain justru membuatnya terjerat pada malam panjang dengan teman baiknya sediri.
Zidan tidak pernah berniat mengkhianati Inayah, cintanya tulus untuk sang istri seorang, tapi entah bagaimana akhirnya ia yang hilang kendali melihat sang istri teramat bahagia dengan pria lain membuatnya menghabiskan malam panjang dengan Karina, dan berakhir dengan permintaan pertanggungjawaban dari Karina untuk anak yang ada di dalam kandungnya.
"maaf Aya maaf, selama ini aku terus merasa bersalah Karena sudah menikahi Karina, aku kira akan mengakhiri hubungan ku dengannya setelah anak ku dengan Karina sudah cukup besar, tanpa melibatkan perasaan di dalamnya. Tapi nyatanya aku salah Aya, aku kalah dengan nafsu ku sendiri, ku ingkari janji untuk tidak menghadirkan cinta pada Karina... maafkan aku Aya, maaf..." Pria itu sungguh prustasi dengan keadaan rumah tangganya sendiri, menghadirkan dua cinta tanpa sepengetahuan Inayah adalah hal yang paling salah di hidupnya.
"Zidan aku hamil!"
Zidan berdiri seketika dari duduknya, ponsel di tangan yang masih di genggam terhempas begitu saja "jangan gila kamu Karina!"
"AKU NGGAK GILA! AKU HAMIL ZIDAN, AKU HAMIL ANAK KAMU" Zidan mengusap wajahnya prustasi, satu tangannya bertumpu di sudut meja.
"gugurin" perintah Zidan tegas, Karina seketika ikut berdiri, di tariknya lengan Zidan secara paksa.
"KAMI GILA HAH! KAMU MINTA AKU MEMBUNUH ANAK KITA, INI ANAK KAMU ZIDAN!"
"TAPI AKU TIDAK PERNAH MENGINGINKAN ANAK ITU, KARINA! " satu tamparan mendarat di pipi kiri Zidan.
__ADS_1
Karina menunjuk wajah Zidan yang menatapnya dengan tajam.
"kamu yang membuat aku hamil Zidan, dan sekarang kamu meminta aku membunuh anak ku, APA KAMU GILA!"
"TERUS KSMU MAU APA HAH, APA YANG KSMU HARAPKAN DARI KU" bunga hias di atas meja melayang karena emosi, syukurnya ruangan itu sudah di modifikasi sedemikian rupa sehingga menjadi ruangan yang kedap suara.
"Nikahi aku" Zidan menggeleng dengan senyum remeh.
"jangan gila kamu Karina, aku sudah menikah dan istri ku sedang mengandung besar di rumah, aku tidak akan menikahi kamu" Zidan berpaling membelakangi Karina, Karina kembali berpindah berdiri di hadapan Zidan, menarik jas yang pria itu kenakan.
"kamu meniduri aku Zidan, kamu lampiaskan emosi kecemburuan itu padaku, kamu renggut masa depan ku, kamu hancurkan hidupku Zidan... kamu menghancurkan hidup ku..." Karina menangis dengan wajah menempel di dada Zidan, tangannya memukul-mukul dada bidang itu.
"hidup ku hancur Zidan, hidup ku berantakan, siapa yang akan menikahi wanita kotor seperti ku, nama baik orang tua ku akan hancur, nama besar mereka akan rusak...." Zidan memalingkan wajahnya, tidak ingin ia menatap wanita yang tidak lain teman baiknya itu menangis pilu.
"maaf Karina, aku tidak bisa menikahi kamu"
lamunan Zidan buyar seketika saat pintu ruangannya di ketuk.
"masuk" seorang wanita dengan berkas di tangan menjabat sebagai sekertaris pribadi Zidan.
"pak, saya perlu tanda tangan bapak di sini" Zidan bubuhkan tanda tangan di area yang sekertaris nya itu tunjukan
"ada lagi?"
"sudah habis pak"
"apa masih ada jadwal penting hari ini"
"sebentar pak, saya cek dulu" wanita dewasa itu membuka tablet untuk memeriksa jadwal atasannya.
"sudah tidak ada pak, cuman ada pemeriksaan lapangan saja yang harus bapak pimpin nanti sore"
__ADS_1
"batalkan jadwal itu, pindahkan di hati lain, saya ingin pulang cepat hari ini"
"baik pak, daya permisi"