
Author POV
Zidan kembali pulang ke rumah Inayah setelah enam hari tidak ada kabar dari sang istri, ia berharap hari ini Inayah dan Aska sudah ada di rumah, karena jujur, Zidan juga begitu merindukan mereka, istri dan anaknya. Ini adalah waktu terlama mereka berpisah selama belasan tahun. Zidan membawa paper bag berisikan kalung mutiara dan mainan mobil berbahan dasar kayu yang Zidan bawa dari lombok.
Saat pintu rumah di buka, Zidan kembali menemukan kesunyian di dalam rumah, tidak ada seorangpun di sana, keadaan rumah masih sama dengan waktu terakhir ia datang. Zidan masih berpikir mereka sedang beristirahat di dalam kamar, Zidan masuk terlebih dahulu ke dalam kamar Aska, tapi tidak ia temukan siapapun, kemudian Zidan berpindah ke kamar depan, kamarnya dengan Inayah namun hasilnya sama, kamar itu gelap gulita, tidak ada Inayah yang sedang beristirahat di sana.
"INAYAH!!"
"INAYAH!"
Pintu kamar mandi di buka secara kasar, tapi tetap sama, tidak ada Inayah di dalam sana. Zidan lemparkan paper bag berisikan oleh-oleh yang ia bawa untuk Inayah dan Aska ke sembarang arah, roda mobil dari mainan Aska menggelinding keluar dari paper bag.
Zidan tinggalkan rumah dengan perasaan marah, ia pulang ingin memastikan apakah Inayah dan Aska sudah pulang, sempat terbesit di hatinya rasa bersalah juga karena selama dua minggu mengabaikan anak dan istrinya itu, tapi ketidak hadiran Inayah membuat emosi dan amarah itu kembali membara.
"Sialan, sialan Lo Inayah, mati aja Lo berdua sama anak Lo itu, Inayah, nggak guna, istri nggak guna, awas aja Lo kalau kita ketemu, Lo nggak pernah dapat pukulan dari gue kan, Inayah? gue bakal kasih Lo, tunggu aja" monolog Zidan, pria itu sudah sungguh-sungguh sudah muak. Sebenarnya siapa sih yang salah di sini, Inayah atau zidan.
....
" ngopi yu"
"di mana"
"di kafe biasa"
"otw"
Segera Zidan lajukan mobilnya ke kafe yang sudah di sepakati dengan sahabat-sahabatnya, dua sahabat yang tau kebenaran rumah tangganya dengan Inayah dan Karina.
Zidan meletakkan gelas kopinya setelah menyesapnya, ia sandarkan punggungnya di kursi, menatap kedua sahabatnya yang sedang merokok.
"Jadi Inayah nggak pulang?" Zidan mengangguk.
__ADS_1
"Pasti ada alasan lah kenapa bini lo itu nggak pulang, nggak mungkin ah dia pergi gitu aja tanpa alasan" Zidan berdecak kesal, niat hati ingin mencurahkan kekesalannya pada mereka, karena dari sejak jaman pacaran, ke-dua sahabatnya ini ikut andil dalam hubungan mereka, sampai menikah pun kedua sahabatnya ini masih tetap setia mendengarkan keluh kesah Zidan.
"Ia gue salah, gue pergi dua minggu tanpa kasih kabar ke dia, tapi apa bedanya gue sama dia, dia juga nggak kasih kabar apapun ke gue" ucap Zidan berusaha membela diri, padahal jelas dia yang salah di sini.
"Lo pergi bareng Karina?" si baju putih menimpali, menatap penuh tanda tanya ke arah Zidan.
"iya, gue ada kerjaan seminggu di lombok, gue ajak Karina sekalian, Karina minta gue untuk jangan menghubungi Inayah, dua minggu lebih gue pergi nggak pernah kasih kabar ke dia, sampai gue pulang, rumah kosong nggak ada orang, istri apa an itu, nggak menghargai gue suaminya" pria dengan baju kaus hitam di samping Kanannya menyentuh dahi Zidan, wajahnya menunjukan kebingungan yang dibuat-buat. Zidan menepis tangan sahabatnya itu dari atas keningnya.
"apaan sih!" kesal Zidan.
"kayanya Lo butuh psikiater deh, bro"
"Rendy benar Zidan, Lo butuh dokter kejiwaan" Zidan menatap dua sahabatnya itu sinis.
"setres Lo pada"
"Lo yang setres" ucap Rendy dan Fahri bersamaan.
"kayanya gue salah deh ngajak Lo pada minum kopi, harusnya gue ngajak Lo pada minum bensin!" ucap Zidan ketus, ia seruput lagi kopinya hingga tandas, Zidan meninggalkan uang lembaran dua ratus ribu di atas meja.
"gue balik, gue makin pusing dengerin orang-orang nggak waras kaya Kalian" setelahnya Zidan melangkah pergi, meninggalkan sejuta keheranan di kepala ke-dua sahabat itu.
"sudah dapat Spek bidadari kaya Inayah ,malah cari modelan urakan kaya Karina" Rendy menepuk bahu Fakhri, tanda setuju ucapan Fakhri.
"bener banget Lo RI, gue tau betul si Karina itu cewek kaya apa, kalau di bandingin sama Inayah mah beda level, emang sih... si Karina kaya melintir, tapi akhlak nya, Allahuakbar, bikin istighfar" Rendy menyunggingkan senyum.
"gue mau dah nunggu Inayah janda, gue rela nafkahi dia lahir batin, cewek cantik gitu di sia-siain"
"bego" kali ini, satu tamparan melayang di kepala Fakhri.
"itu masih istri sahabat Lo, ingat wooy"
__ADS_1
"bentar lagi juga di lepas sih itu, gue yang bakal maju paling depan"
"terserah Lo deyh" sepertinya hanya Rendy yang waras di antara mereka bertiga.
.....
Inayah POV
"Kamu nggak susah bawa itu, nak?"
"nggak mah, Zidan suka banget keripik ikan ini, waktu itu Inayah bawakan Zidan habis di makan dia sendiri" aku sibuk memasukkan beberapa bungkus kerupuk ikan tengiri kesukaan Zidan, ada juga amplang Ikan tengiri, cemilan kerupuk ini kesukaan Zidan, aku tidak bisa bawa banyak, hanya bawa beberapa saja untuk Zidan, juga satu dua bungkus untuk Khansa.
"jadi pulang besok?"
"iya mah"
"nggak bisa satu minggu lagi di sini, mamah masih kangen kamu nak" aku lepaskan dulu sesaat kesibukan ku, aku fokuskan diri pada manah ku yang sekarang matanya mulai berkaca-kaca lagi, aku mendekat dan memeluknya begitu erat, ku usap punggung mamah ku tercinta.
"Insyaallah Allah Inayah kesini lagi, barang Aska bareng Zidan juga, mah. Sekarang Inayah harus pulang dulu, Aska juga sudah harus sekolah, Zidan pasti juga sudah pulang " Aku merasakan air mata mama ku menetes mengenai pundak ku, aku sebenarnya juga masih ingin berlama-lama di desa, tapi apa boleh buat, aku punya kewajiban juga.
Perlahan mamah mengurai pelukannya, aku masih bisa melihat mata mamah berair, aku mengusapnya secara perlahan.
"jangan nangis, Inayah janji akan datang lagi, mah" mamah tersenyum juga akhirnya, walaupun aku tau sulit bagi mamah, satu minggu terlalu singkat untuk kami yang lima tahun tidak pernah bertemu.
"nak"
"iya "
"mereka baik kan sama kamu? mereka nggak jahat kan sama anak mamah?" Ku gigit bibir bawahku, mamah menanyakan sesuatu yang sulit aku jawab, apa yang harus aku katakan lagi, berapa banyak lagi kebohongan yang harus aku lakukan untuk menutupi semuanya, namun pada akhirnya aku tersenyum dan mengangguk, tidak akan ku biarkan mamah atau papah mengkuatirkan putri mereka di kampung orang.
"iya mah, mereka baik sekali sama Inayah, Inayah di anggap seperti anak mereka juga" Ku lihat wajah mamahku berubah lega, maafkan Inayah mah, maaf karena harus berbohong lagi, Inayah takut mamah khawatir yang berlebihan jika tau yang sebenarnya, Inayah sayang mamah.
__ADS_1
"syukurlah, mamah takut sekali mereka nggak bisa menerima kamu nak, mereka orang kaya, sedangkan kita orang kampung" aku mengusap pundak mamah ku, semoga saja suatu hari nanti aku sungguh bisa diterima baik di keluarga Zidan, di sayang seperti putri mereka sendiri, di hargai dan di sayang setulus hati. Aku berharap semua nya menjadi nyata, entah kapan, suatu hari nanti, insyaallah.