
"Aska" Aku terbangun saat mendengar suara rintihan tangisan dari putraku, bukannya anak ku di titipkan sama papahnya, tapi kenapa anak ku malah ada disini dengan ku, di mana Zidan. Aku mencari-cari Zidan tapi tidak ketemukan dia di mana pun, apa dia di kamar mandi.
"Ma--mah" wajah Aska sudah sembab, anak ku ini pasti banyak menangis seharian, ingin ku gendong tapi aku tidak sekuat itu, belum lagi tangan ku yang terinfus.
"Papah mu mana nak" Aska menggeleng, ingus anak ku sudah kemana-mana karena Aska mengusapnya.
"ya Allah, sini nak" ku bersihkan wajah anak ku yang sudah benar-benar kacau, entah kemana Zidan dan meninggalkan anaknya begitu saja, apa dia membeli makanan, apa Aska sudah makan, Astaga! Aku baru mengingatnya.
"Aska sudah makan sama papah nak?" ke kerut kan kening kala gelengan yang aku dapat. Ini sudah malam, dan anak ku belum ada makan apapun.
"Aska nggak makan sama papah, nak?" aku Masih berusaha berpikir baik, tidak mungkin Zidan mengabaikan anaknya begitu saja, pasti Zidan sedang membeli makanan untuk mereka.
"Aska nggak mau dititipin ya nak?" Aska menggeleng.
"papah pergi mah sama nene jahat, Aska di suruh papah temenin mamah. Kata papah ada banyak kerjaan"
"Astaghfirullah, Zidan...." aku benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang Zidan lakukan, ia meninggalkan aku yang sedang sakit hanya karena pekerjaan penting. Apa aku setidak penting itu bagi Zidan, apa aku benar-benar tidak ada artinya untuk Zidan, bahkan Zidan dengan teganya meninggalkan Aska dengan perut kosong, Astaghfirullah.
Tombol yang ada di kepala tempat tidurku, ku pencet, tidak lama seorang perawat datang.
"Mbak, saya mau pulang malam ini juga, saya minta tolong uruskan kepulangan saya mbak"
"Mbak maaf, tapi kondisi mbaknya belum stabil, dua hari lagi mbak juga harus melakukan pemeriksaan Biopsi, agar kita tau tumor apa yang sedang bersarang di kepala mbak " aku menggeleng
"mbak, anak saya kelaparan mbak, anak saya belum ada makan apapun sejak tadi siang, nggak ada satupun orang yang bisa saya mintai tolong untuk membawanya makan, saya harus pulang Mbak" ku lihat perawat wanita itu menoleh menatap Aska, di usapnya kepala anak ku begitu lembut.
"Mau makan sama Kaka?" perawat itu berucap begitu lembut, Aska menggeleng.
"Mbak, biar saya yang ajak anak mbak makan di kantin rumah sakit" Aska semakin menggeleng
"Nggak mau, Aska nggak mau, Aska mau sama mamah! Aska nggak mau sama tante, nggak mau!" Pria kecil yang semakin hari semakin mirip papahnya itu memeluk perut ku meskipun kesulitan.
__ADS_1
"Aska mau sama mamah"
"mbak, anak saya nggak mau. Apa boleh saya minta tolong beliin makan untuk anak saya" perawat yang nampak masih sangat muda itu mengangguk tanpa ragu, mungkin ia juga merasa kasihan dengan ku dan Aska, wanita yang baru saja di vonis mengidap tumor otak terbaring lemah di ranjang pesakitan, sedangkan sang suami pergi entah kemana.
"makasih ya mbak"
....
"Alhamdulillah" ucap ku setelah membantu Aska minum. Baru saja anak ku menyelesaikan makan malamnya yang tadi di bawakan si perawat yang menjaga ku. Aska menguap seraya mengucek matanya.
"mamah Aska ngantuk" aku sungguh tidak tega jika harus meminta anak ku tidur di sofa, walaupun ukuran sofa itu lumayan besar untuk tubuh kecilnya, tapi tetap saja aku tidak rela.
"sini tidur di samping mamah" Aska merentangkan tangannya minta di gendong, walaupun aku kesulitan, aku tetap berusaha mengangkat tubuh anak ku ke atas ranjang.
"Aska tidur ya nak" Tanpa menunggu lagi, Aska langsung menutup matanya, aku hanya mengusap usap kepala anakku, biasanya Aska minta di bacakan cerita Nabi atau kisah Islami kesukaannya, tapi untuk hari ini ia tidak merengek sepertinya anak ku pun mengerti kesulitan mamahnya.
Aku ingin menghubungi Zidan, tapi ponsel ku tertinggal di rumah. Kemana pria itu sampai selarut ini belum datang menemui ku, aku benar-benar kecewa dengan Zidan, sungguh tega ia meninggalkan aku seorang diri dalam keadaan sakit seperti ini, sepertinya setiap kata cinta yang ia ucapakan untuk ku hanya kepalsuan semata, tidak ada cinta untuk ku darinya, perhatian yang ia tujukan padaku seakan kepalsuan saja, atau cintanya padaku sungguh telah pudar, tidak seperti dulu. Jika benar pun... apa penyebab dari hilangnya rasa itu di hati Zidan, apa dugaan ku benar, Zidan memiliki cinta lain selain aku.
.....
Pagi sekali aku sudah merasakan mual yang begitu menyiksa, sarapan yang tadi ku makan kini terpaksa keluar semua. Aska ketakutan saat aku muntah berkali-kali di dalam kamar mandi. Aku tidak tau ada apa dengan ku, rasanya semua isi perut ku di paksa untuk di muntah kan.
"Mamah nggak papa nak" Hari ini aku akan pulang, aku tidak bisa terus berada di rumah sakit, kesian anak ku, Aska jadi tidak terurus, sedangkan suami ku tak pernah sekalipun datang menjenguk.
Infus ku sudah di lepas, administrasi pun sudah dibayar lunas okeh Zidan. Dengan kaki lemas aku berusaha berdiri dengan bertumpu pada tembok.
"Kita pulang ya nak, Aska pasti bosan kan di rumah sakit" Aska Mengangguk seraya mengusap air matanya dengan lengan, ingusnya sudah kemana-mana.
....
Aska berlari masuk kedalam rumah setelah pintu ku buka, ku sangka Zidan ada dirumah nyatanya tidak ada siapapun, kemana Zidan sebenarnya.
__ADS_1
Aku berjalan lemah menuju lantai dua, sebelum masuk kedalam kamar ku sendiri, aku lihat dulu Aska Di dalam kamarnya.
"Aska mandi ya nak, nanti mama masakin Aska"
"iya mah" teriak Aska
Bergegas ku cari ponsel ku yang entah ada di mana, sudah tidak sabar ingin menghubungi Zidan yang pergi entah kemana. Satupun tidak ada pesan yang masuk darinya, saat ku lakukan panggilan, Zidan menolaknya mentah-mentah.
"Sesibuk itu, Zi?" Aku mengenadah menatap langit-langit kamar, mataku tiba-tiba saja memanas.
"Aska ku lapar, aku harus memasak sesuatu untuknya" aku tidak ingin larut dalam kesedihan, aku segera turun kelantai dasar untuk membuat sesuatu.
"nggak ada yang bisa di masak, aku harus belanja dulu" aku bergumam sendiri, bahan-bahan di dalam kulkas ku kurang lengkap, jadi aku putuskan untuk berbelanja bersama Aska, sekalian menghibur diri juga.
....
"mamah mau eskrim"
"Aska minta tolong kakanya ambilkan ya nak" aku tengah memilih segala macam bumbu dapur ke troli belanjaan ku. Semuanya semuanya habis, jadi aku harus beli banyak untuk persediaan.
"Inayah" aku menoleh ke sumber suara, di belakang ku ternyata ada Karina yang juga sedang belanja. Aku tersenyum membalas senyumannya.
"heh Karina, Lo belanja juga" Karina mengangguk
"Lo sendiri?"
"berdua sama anak ku, Lo sendiri?"
"gue sama suami dan anak gue" sepertinya Karina hidup dengan baik, suaminya bahkan menemaninya berbelanja, tidak seperti aku, saat sakit saja suami ku pergi entah kemana.
"Mamah" Suara teriakan dari anak perempuan.
__ADS_1
"Itu Nesha putri gue bareng papahnya" Karina melangkah menghampiri suami dan anaknya, aku menoleh juga penasaran siapa pria yang menikah dengan Karina.