
"pokonya aku nggak mau tau, orang yang nabrak Nesha harus di penjara" Zidan rapikan rambut sang putri yang sedikit berantakan.
"Nesha yang salah Karina, Nesha yang asal nyebrang, cctv juga sudah di periksa" Karina berdiri, ia tepuk punggung Zidan tidak terima.
"anak kamu itu hampir saja meregang nyawa Zidan, dan kamu nggak ada bela-belain dia sama sekali, kamu itu orang tua kaya gimana sih!" Ucap Karina dengan nada tinggi, ia tidak lagi peduli dimana mereka berada.
"Ya udah kamu aja yang ngurus, aku sibuk banyak kerjaan" Zidan di tahan punggungnya saat ingin beranjak.
"Gila ya kamu, nggak ada peduli - pedulinya sama anak sendiri"
"Argghh" Zidan meraung tepat di hadapan Karina, Nesha yang tadi tertidur karena efek obat pun ikut terbangun.
"BISA DIAM NGGAK SIH KAMU, AKU TUH CAPEK NGURUS INI NGURUS ITU, BISA NGERTIIN DIKIT NGGAK SIH! ANAK KAMU ITU NGGA KENAPA-KENAPA, DIA CUMAN LUKA DI MATA KAKINYA, BISA JANGAN DI PERPANJANG NGGAK SIH MASALAHNYA, JELAS-JELAS NESHA YANG SALAH, NESHA YANG ASAL NYEBRANG, KAMU YANG SEHARUSNYA DI SALAHKAN KARENA NGGAK BECUS MENJAGA ANAK KAMU, KAMU JUGA HARUS DISALAHKAN KARENA NGGAK BECUS MENDIDIK ANAK AKMU, NESHA ITU BARU BERUSIA 10 TAHUN, DAN LIHAT BAGAIMANA TINGKAHNYA, NESHA BERTINGKAH LAYAKNYA ANAK DEWASA, LIHAT PAKAIANNYA, DIA MENCONTOH KAMU SEBAGAI IBUNYA, KAMU ITU SUDAH TIGA PULIH TUJUH TAHUN KARINA, SADAR DIRI SEDIKIT DALAM BERPAKAIAN, LIHAT BAJU YANG KAMU GUNAKAN, TERBUKA ATAS BAWAH, KAMU ITU UDAH KAYA PEREMPUAN NGGAK BENER, KARINA!"
"ZIDAN"!!! Suara Karina tidak kalah tinggi, tangannya bahkan melayang ke wajah Zidan, Nesha yang terbaring lemah karena efek obat pun menangis ketakutan.
"KURANG AJAR!" Kini Zidan yang melayang kan tamparan ke wajah sang istri, sampai kedua orang tuanya datang untuk melerai.
"KARINA, ZIDAN"
"Mah..pah.." lirih Nesha ketakutan.
"Kalian berdua ini kenapa, lihat tepat jika ingin bertengkar, anak kalian menyaksikan drama pertengkaran kalian" ucap Narendra tegas, Dewi memilih menenangkan Nesha yang sudah sesenggukan.
"Zidan mau kemana kamu?" Zidan tidak peduli, ia melenggang pergi, begitu juga dengan Karina.
"papa, mamah"
.....
Inayah POV
__ADS_1
Apa yang harus ku lakukan, bagaimana caranya aku bertatap wajah dengan Tama lagi, pria itu ada-ada saja, bisa-bisanya dia menanyakan hal gila itu padaku. Tapi jujur aku tidak ingin menikah lagi, sudah kukatakan aku masih menyimpan rasa trauma yang mendalam dengan pernikahan, menyembuhkan traumanya itu yang sulit ku lakukan, bayangkan saja sakitnya jadi aku, aku di khianati suami ku selama bertahun-tahun, di duakan, akan sangat sulit untuk ku menyembuhkan lukanya.
"mamah" Aku mengangkat kepala yang sejak tadi ku tekuk di atas meja. Ziya terlihat lucu dengan kaca mata bulat tanpa kaca yang ku belikan satu bulan lalu, belum lagi baju piyama berwarna merah muda dengan gambar kartun favoritnya itu.
"Sini nak" Ku dudukkan Ziya Di atas pangkuan ku, rambut lurusnya ku rapikan dengan tangan.
"Kenapa belum tidur sayang?"
"Ziya Belum ngantuk mamah"
"mau mamah bacain cerita nabi" biasanya Ziya langsung mengangguk, tapi kali ini anak ku justru menggeleng dan beralih memeluk leherku. Sepertinya sifat manjanya lagi kambuh.
"Mamah..."
"iya nak" Ziya seperti anak koala yang duduk di atas pahaku, wajahnya Ziya tenggelamkan di celuk leherku.
"Mah, Kenapa ya Ziya nggak punya papah kaya teman-teman Ziya" aku ingin sekali katakan pada anak ku, mereka punya papah, papah yang brengsek. Aku tidak kaget lagi dengan pertanyaan anak ku yang satu ini, ini sudah kesekian kalinya dalam seminggu dia menanyakan hal yang sama. Ziya selalu menemui aku diam diam dan bertanya, ia takut ketahuan kakanya, Aska akan marah kalau Ziya membahas mengenai papahmya.
"papah sama mamah kan beda, Ziya mau di antar papah sekolah mah" sepertinya aku harus mencari jawaban yang lain untuk menjawab pertanyaan anak ku, dia sudah semakin besar, jawaban seperti itu sudah tidak mempan lagi untuk mendiamkan Ziya.
"kan mamah yang ngantar Ziya dan Kaka Aska"
"nggak mau mah, teman-teman Ziya banyak di antar jemput papahnya, ada juga yang di antar papahnya"
"nggak mau mah, Ziya mau punya papah" anak ku semakin merengek saja minta punya papah, apa aku harus menikah lagi? Apa aku harus carikan anak-anak ku sosok papah yang bisa menjaga mereka? apa aku terima saja tawaran Tama? Aku menggeleng, apa-apaan aku ini. Aku berdiri dan menggendong Ziya, aku berjalan ke arah balkon kamar.
"Sayang, coba lihat, di sana banyak bintangnya" Ziya menoleh ke arah yang aku tunjukkan.
"Bintangnya cantik seperti anak mamah ini" ku cium pipi Ziya sebelah kiri. Sepertinya aku berhasil mengalihkan perhatian Ziya, anak ku tidak lagi merengek meminta punya papah, dia kini fokus menatap bintang-bintang yang nampak lebih banyak dari biasanya.
"Mamah ada 10 bintang di dekat bulan" aku mengangguk.
__ADS_1
"Iya, bintangnya nemenin bulan biar nggak kesepian, kalau Ziya kan sudah punya banyak temen, sudah punya mamah, sudah punya kaka Aska, sudah punya nenek dan kakek, jadi Ziya nggak akan kesepian lagi deh, Ziya nggak harus punya papah biar nggak kesepian"
"Iya, mamah bener, Ziya nggak kesepian seperti Bulan, Ziya punya mamah , Ziya punya kaka Aska, kakek dan nenek, Ziya juga punya om Tama yang baik hati" Alhamdulillah, akhirnya anak ku riang lagi, setidaknya aku akan bebas sementara dari pertanyaan seperti ini.
"Ziya tidur ya nak" Ziya mendongak menatap ku.
"iya, tidur sama mamah tapi ya..."
"Hem baiklah" aku tidak akan menolak untuk hari ini, aku sudah membiasakan anak-anak ku tidur sendiri sejak kecil, aku ingin melatih kemandiriannya, tapi karena hari ini dia sedikit cerewet, jadilah aku izinkan dia tidur dengan ku, di kamar ku"
"ya udah ayo kita tidur"
"ayoo"
...
"**Apa kabar Karina?" **
"apa kamu sudah melupakan aku, sayang"
"Sial, siapa sih, nggak jelas banget, dari kemarin ada aja yang ngirim pesan gila kaya gini" Karina memblokir nomor baru itu lagi, nomor baru untuk kesekian kalinya.
Belum sempat Karina menyimpan ponselnya, benda pipih itu sudah berdering lagi. satu pesan berisikan fail fail yang tidak tau dari siapa.
"apa nih?" Karina melempar ponselnya ke atas tempat tidur saat lihat isi dari fail yang ia terima.
"sial!"
"BRENGSEK!" wajahnya menunjukkan kekwatiran bercampur dengan ketakutan, ke-dua kakinya kini kesulitan untuk berpijak, seakan sendi-sendi nya sudah tidak berfungsi dengan baik lagi. Wanita itu menggigit bibir bawahnya ketakutan.
"BRENGSEK" umpat Karina tidak henti-hentinya.
__ADS_1