Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
Kapal pecah


__ADS_3

Kami berdua sama-sama duduk diam di pinggiran tempat tidur, keadaan Kamar masih berantakan, tidak tau harus mulai dari mana, bayangan tidur nyenyak saat di pesawat tadi sirna sudah, semuanya hanya semu belaka, karena kenyataannya, aku harus menghadapi amukan Zidan.


Rumah kotor yang ditinggal kosong hampir satu bulan, entah kemana Zidan setelah pulang bekerja dan aku di kampung, yang pasti Zidan tidak ada di rumah, rumah ini kosong, kotor, barang-barang yang aku tinggalkan masih ada di posisinya, aku ingat betul keadaan rumah ku sebelum aku tinggalkan.


"Zi"


"hm"


"kamu kemana selama aku nggak ada?" aku sedikit memiringkan kepala agar lebih mudah menatap Zidan, Zidan duduk menunduk dan diam.


"Zidan" Panggil ku karena Zidan masih terus diam. Ku sentuh punggung tangannya.


"kamu nginep di mana? kamu nggak di rumah? iya kan?"


"aku di rumah mamah" sudah aku duga, kemana lagi Zidan pergi kalau bukan ke rumah orang tuanya. Tidak ada seorangpun di rumah, tidak ada yang menyiapkan makan untuknya, jadi Zidan memilih tidur di rumah orang tuanya selama aku tidak ada.


"kamu ke rumah mamah? ngapain?" aku tidak terkejut, pasti mamahnya sudah ceritakan tentang aku yang datang ke sana, pertanyaan Zidan itu hanya basa basi saja.


"aku cari kamu, kamu nggak ada kabar, pesan-pesan yang aku kirim kamu baca aja, tapi nggak ada satupun pesan yang kamu balas, aku kawatir sama kamu"


"kamu bawa Aska dengan keadaan sakit, terus kalian kehujanan di luar, kamu sudah tau kan gimana mamah ku ke kamu, kenapa kamu masih nekat buat datang ke sana" pasti Zidan kesal sekali, terdengar jelas dari nada bicaranya. Zidan selalu melarang aku mendatangi rumahnya, mengingat sikap keluarganya yang belum bisa menerima aku dan Aska.


"aku nggak punya pilihan lain, baru kali ini kamu pergi kaya gitu nggak ada kabar sama sekali" Zidan mengangkat kepalanya, pandangan kami bertemu, Zidan bergeser mengikis jarak kami.


"maaf ya" Zidan kembali memeluk ku, aku bersandar di dadanya yang semakin bidang itu.

__ADS_1


"maaf sudah buat kamu kawatir, maaf sudah buat kamu takut, maaf sudah buat kamu nangis, maaf"


"maaf itu juga untuk Aska, kan?" aku mendongak, ternyata dia juga menunduk.


"maaf karena sudah menyakiti kalian, maaf" kembali aku rapatkan wajah di dadanya, aku begitu merindukan pelukan ini. Aku menunggunya setiap hari, sekarang aku bisa kembali merasakan detak jantung Zidan yang begitu beratur dan menenangkan itu.


"Zi"


"hm"


"aku sungguh sudah ngirim pesan ke kamu, aku minta ijin ke kamu, kalau kamu nggak percaya, aku bisa buktikan, aku masih menyimpan pesan-pesan yang aku kirim ke kamu" Zidan diam, tapi aku rasakan elusan di kepala ku begitu nyaman.


"Zidan..."


"iya, mungkin aku yang lupa, aku gegabah karena panik kamu nggak ada di rumah" aku tidak tau, apakah ia sungguh sungguh mengatakan hal itu, atau sekedar untuk menghentikan topik pembicaraan yang mungkin arahnya Kemana-mana ini, aku hanya ingin memperjelas, tapi Zidan seakan menolak, mungkin lelah juga dan ingin istirahat.


"kamu sih, ngapain juga coba ngamuk-ngamuk nggak jelas kaya gitu, sudah jam dua ini, bentar lagi juga sudah subuh, mau di beresin sekarang juga nggak akan beres"


"kita tidur di kamar Aska aja" lanjut ku


"bukan ide yang buruk" dan mendapatkan anggukan darinya.


.....


Mau semalam apapun aku tidur, aku juga akan tetap bangun saat ayam-ayam mulai berkokok, istilahnya saja, sudah menjadi kebiasaan ku, dan akan terus seperti itu. Aku sudah bangun lagi, padahal mata masih mengantuk, ingin tidur lagi sebentar malah takut kesiangan jadinya. Aku melirik tangan kekar Zidan yang melingkar sempurna di pinggang ku, tadi malam kami putuskan untuk tidur di kamar Aska, tidur bertiga di atas ranjang, aku di tengah-tengah dua pria kesayangan ku.

__ADS_1


Perlahan aku singkirkan tangan Zidan dari atas perutku, aku singkap selimut yang menutupi tubuh kami bertiga, aku harus berhati-hati turun atau berbesar agar tidak menggangu mereka.


Mungkin karena merasakan pergerakan, Zidan jadi memutar arah tidurnya, aku berhasil turun dari kasur tanpa membangunkan mereka. Selimut aku benarkan lagi posisinya.


Bahu ku merosot saat menatap pintu kamar ku di depan. Di dalam kamar sana sudah ada gudang yang harus aku bersihkan, semua itu karena ulah Zidan, menambah kerjaan saja suami ku itu, huh.


"Astagfirullah" aku beristigfar saat membuka pintu kamar, tadi malam tidak terlalu nampak berantakannya, tapi sekarang, kenapa terlihat berantakan sekali, Bahkan ada bantal yang isinya keluar, ya Allah, Zidan....


Aku jelas harus cepat- cepat, jam lima aku sudah harus mandi dan membangunkan ke-dua jagoan ku yang manja.


Pertama aku harus menyingkirkan pecahan kaca yang berserakan, takut kaki ku menjadi korban, sepertinya penyangga untuk gorden harus di ganti juga, ada bagian yang patah, bukan cuman itu yang harus di ganti, cermin riasku pun juga harus di ganti.


Aku benarkan benda-benda yang berserakan di lantai, seprai dan sarung bantal aku buka sekalian ingin aku cuci juga.


Syukurnya waktu satu jam kurang lebih, aku berhasil merapikan lagi kamar ku, aku menghempas tubuh ku ke tempat tidur, nikmatnya menjadi ibu rumah tangga yang sulit untuk di jelaskan.


"ya Allah, ubahlah lelah ku menjadi lilah" aku merenggangkan dulu otot-otot ku yang keram, lima menit lagi aku akan mandi


Saat bengong seperti ini, aku langsung teringat lagi tentang pesan yang aku kirimkan ke ponsel Zidan.


Aku sangat penasaran, apa betul dia sudah membaca pesan yang aku kirim, dan hanya di lihat saja, terus kenapa dia bisa semarah ini, bahkan kemarahannya itu lebih menakutkan ketimbang saat kami bertengkar lima tahun yang lalu.


"apa ada yang aku nggak tau tengah Zidan, ya" aku bergumam sendiri, sampai suara masjid mulai terdengar, aku bergegas untuk mandi.


"apa ada sesuatu yang Zidan sembunyikan" mata ku tertuju pada foto pernikahan ku di atas Nakas, untung foto itu tidak Zidan lempar, bukan hanya foto pernikahan ku saja, di sana juga ada Aska waktu masih bayi, lucu sekali Aska, gembul waktu bayi. Saat itu aku kesulitan untuk menggendong anak ku, badan ku terlalu kurus, jika di ingat-ingat, waktu pertama kali jadi ibu, aku benar-benar merasakan kesusahan, aku merawat Aska seorang diri tanpa bantuan siapapun. Aku berharap sekali mamah ku ada, tapi apalah daya, waktu itu mamah kecewa berat dengan keputusan yang ku ambil.

__ADS_1


Aku terlalu lama melamun dan memikirkan hal bodoh sampai lupa membangunkan anak dan suami ku.


.....


__ADS_2