
Aku terbangun tengah malam karena kesulitan tidur, aku tidak tau apa yang salah dengan ku, sudah sejak tadi aku berusaha memejamkan mata tapi aku selalu saja terbangun, jika boleh jujur aku terus membayangkan wajah Zidan. Pria itu bukan lagi suami ku, tapi dia tetap lah orang tua anak-anak ku, waktu hamil Aska... aku masih menjadi istrinya, aku selalu tidur di samping Zidan, Zidan akan dengan setia mengusap-usap perutku jika aku kesulitan tidur, itu di saat awal-awal kehamilan ku, setelah kami bertengkar hebat, Zidan tidak pernah lagi mempedulikan aku karena masih marah, dan sepertinya anak di dalam kandungan ku ini juga ingin mendapatkan usapan dari papahnya.
"Ya Allah nak, tidur yang sayang, mamah mu ini ngantuk nak... udah ya... sekarang dede tidur ya sayang" ku usap lembut perut ku sambil bergumam. Kini usia kandungan ku telah masuk usia sembilan bulan, sebentar lagi aku akan melahirkan. Di saat awal-awal kehamilan, aku tidak terlalu di tempatkan dengan yang namanya mengidam, tapi setelah memasuki bulan-bulan kelahiran, kenapa justru anak ku ini seperti merindukan setiap belain papahnya, aku mati-matian melupakan papahnya itu, tapi dia justru meminta ku untuk menemuinya. Astaga aku tidak paham lagi.
Aku memilih duduk bersandar di atas tempat tidur, aku mengusap-usap perut ku yang besar ini. Aku teringat saat satu bulan yang lalu aku di kagetkan dengan kedatangan Zidan. Pria itu terlihat tidak terurus sama sekali, apa istrinya tidak mengurasnya dengan baik, terlihat sekali rahang tegasnya yang selalu memperlihatkan ketidak sukaan nya pada ku.
"Aya.... aku mohon maafkan aku Aya..."
"Mending anda pulang, anda dengan anak saya sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi" Itu papah ku yang bicara. Mungkin sekarang papahku ingin menonjok wajah Zidan, tapi mengingat usia yang sudah tidak muda lagi, jadi di urungkan.
"Pak, saya mohon ijinkan saya bertemu Aya dan anak saya, saya ingin bicarakan hal penting" Aku mendengar Zidan yang berada diruang tamu, Zidan datang untuk mengajak ku rujuk kembali. Enak aja main rujuk rujuk, tidak ada kata maaf untuk pengkhianat di hidup ku, dan dia masih memanggil ku dengan sebutan Aya, dasar pria keras kepala.
"Aska" aku berteriak saat Aska berlari melewati ku, sepertinya anak ku tidak sadar dengan kehadiran papahnya. Anak ku sudah siap dengan perlengkapan mancing nya, terpaksa aku mengekori Aska, sebenarnya malas banget betatap wajah dengannya lagi.
"Aska" Zidan menyadari suaraku, ia berhasil melewati papah yang sejak tadi melarangnya lewat, Zidan berpindah bersimpuh di hadapan ku.
"Aya... maaf, aku mohon maafkan aku Aya..."
"Bangun! ngapain coba di situ, jatuh harga diri anda kalau kaya gitu tuan Narendra" Zidan mengenadah dengan tampang memelas, dia kira aku akan luluh dengan wajahnya itu, kemarin-kemarin aja coba... aku terus saja di berikan tatapan dingin mengintimidasi, tatapan tajam yang menakutkan.
"Aya---"
__ADS_1
"Aku bilang berhenti memanggilku dengan sebutan itu! anda tidak memiliki hak lagi atas panggilan itu!" Kesal ku seraya menunjuk wajahnya, ku rasakan tangan mungil Aska memeluk ku dari belakang.
"Ma--maah" Anak ku saja terdengar ketakutan dengan papahnya, apa yang sebenarnya pria ini harapkan lagi. Aska sudah tidak pernah menayangkan kabar atau apapun lagi tentang dia.
"Aska..." aku menghalanginya yang ingin menyentuh putraku.
"Jangan menyentuhnya, saya tidak Ridho anak saya terluka lagi di tangan anda, sudah cukup rasa sakit anak saya, bicarakan dia tenang dengan" waduh, kenapa aku bisa sekejam itu padanya, jujur aku tidak tega. Zidan menunduk seraya mengangguk lemah. Perlahan ia berdiri dan tetep berada di depan ku.
"Kamu sudah mau lahiran?" tatapan kami saling beradu, Zidan benar-benar terlihat berbeda, badannya kurus, tidak seperti terakhir kali aku lihat.
"Iya" jawab ku ketus.
"perempuan apa laki-laki?"
"Aku akan dapat anak yang cantik ternyata, aku menyesal Aya, sungguh aku menyesal"
"Bahaya sih kalau kamu nggak nyesel, sudah selingkuh, keras sama anak sendiri, dan lihat kan sekarang gimana Aska ke papahnya, ini yang aku takutkan, kita mungkin sudah menjadi mantan, tapi tidak ada yang namanya mantan anak, kita bisa saja putus komunikasi, putus hubungan, putus ikatan, tapi darah kamu masih mengalir di dalam darah anak anak. Kamu akan terus terhubung dengan mereka, tapi kamu bahkan dengan sengaja memutus sedikit demi sedikit hubungan kamu dengan anak kamu sendiri, dan lihat kan sekarang... gimana Aska menolak untuk sekedar kamu sentuh.
Aku menarik nafas panjang, aku jadi mudah begah sejak hamil besar seperti sekarang, ucapan ku terlalu panjang, Zidan saja hanya bisa menunduk seraya mengangguk pelan.
"Kamu bener, dan penyesalan ku tidak ada lagi gunanya"
__ADS_1
"Bagus lah kalau anda sadar" ucap ku seraya melipat kedua tangan ku di depan dada. Aku tidak ingin memperlihatkan wajah tidak tega ku di depannya.
"Boleh aku kasih nama?" dia menunduk lagi menatap perut ku. Dia ingin memberi nama anak kedua ku. Waktu Aska lahir pun dia yang memberinya nama.
"tidak perlu, saya bisa memberi sendiri anak saya nama" ku palingkan wajah ku ke arah lain, aku tidak ingin luluh jika terus menatap matanya, bukan luluh dan kembali rujuk dengannya, tapi luluh memberikannya izin untuk menamai anak kedua ku.
Aku kira dia akan memaksa lagi, tapi nyatanya ia hanya mengangguk pelan dan tersenyum begitu manis dan terlihat lelah sekali wajahnya.
"Aku ingin memeluk Aska boleh?" aku menoleh ke arah Aska, anak ku menggeleng, aku bisa rasakan gelengan nya.
"Aska nggak mau, dia takut sama papahnya"
"pulang sekarang Zidan, sebelum saya panggil aparat desa setempat untuk mengusir anda dari rumah saya"
"Aku pamit, aku titip anak-anak sama kamu, aku yakin kamu bisa menjaga anak-anak"
"rumah kita tetap menjadi rumah kamu dan anak-anak. Sejak awal kita menikah rumah itu sudah menjadi hak kamu dan anak kita"
"tidak perlu, saya tidak membutuhkan sepeserpun harta dari keluarga anda"
"please, terima ya... perasaan ku akan benar-benar hancur jika kamu menolak rumah itu, Aya" Aku diam tidak menerima tidak juga menolak, sungguh aku tidak tega melihat tampangnya Zidan. Pria itu melangkah mendekati Aska, ia duduk di hadapan Aska.
__ADS_1
"Nak, papah kangen Aska. Maafin papah ya nak, Aska pasti takut sama papahnya, nak. Satu hal yang Aska harus tau... kalau papah sangat menyayangi kalian. Papah nggak tau kapan kita akan bertemu lagi nak, mungkin kita tidak akan di pertemukan lagi. Jika Aska sudah dewasa nanti... papah titip mamah dan adek ya, jaga mereka dan jadilah anak yang baik, papah sayang Aska" Ku kepal kedua tangan ku menahan rasa sesak di dalam dada, ucapan Zidan terdengar menyayat hati. Apa aku terlalu jahat dengannya? Aku hanya tidak ingin anak ku merasakan sakit yang kedua kalinya.
"Ziya Melisa Fadillah" Nama yang aku siapkan untuk anak kita, nama yang cantik seperti kamu.