Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
pelukan berdarah


__ADS_3

"Ibu anda harus di bawa ke rumah sakit yang lebih besar, pak" Zidan mengusap wajahnya kasar, Dewi tidak bisa di rawat di rumah sakit yang sama dengan Narendra, Dewi butuh perawatan yang lebih di rumah sakit besar, Zidan butuh banyak biyaya untuk memindahkan ibunya ke rumah sakit itu, sedangkan dia saja belum bekerja. Dewi belum sadarkan diri setelah satu minggu pingsan, ia shok berat saat tanpa sengaja mendengarkan pertengkaran di antara Zidan dan Karina, satu fakta baru yang ia tau, jika cucu yang selama ini ia sanjung bukanlah anak kandungnya dari putranya.


"Bang, bawa aja mamah, gue punya tabungan, insyaallah cukup bang" Zidan menoleh kearah Birru.


"Itu tabungan buat biyaya nikah Lo, nggak usah, entar gue yang cari pinjaman" Birru menggeleng.


"bang, kesembuhan mamah jauh lebih penting dari pada pernikahan gue, gue bisa ngumpulin duit lagi, Lo tenang aja" Birru berucap serius.


"Jangan ngaco Lo, gue nggak mau Lo bernasib sama seperti gue, gue nggak mau Lo juga kehilangan orang yang Lo sayang, Kalau Lo nggak berhasil mengumpulkan uang untuk menikahi cewe Lo itu, orang tuanya akan membatalkan pernikahan kalian" ke-dua Kaka beradik itu saling pandang, mereka berada di jalan yang buntu sekarang, Dewi harus segera di pindahkan kerumah sakit yang jauh lebih besar untuk mendapatkan perawatan medis yang cepat.


Dering ponsel di saku celananya membuat Zidan teralihkan pokusnya, nomor asing entah siapa.


"**Halo dengan siapa?" Terdengar deheman berat dari sebrang sana.**


**"Kayanya Lo Emang mau ngelihat kuburan perempuan Sialan itu beserta dua anaknya ya" Zidan seketika berdiri, wajahnya langsung berubah panik.**


**"Lo"**


**"iya, ini gue"**


**"brengsek, sialan Lo, berani Lo sentuh mereka, habis Lo ditangan gue" Birru yang tidak tau apa-apa pun ikut penasaran, ada apa? siapa orang yang menelpon kakanya itu.**


**"Bang..." panggil Birru pelan**


**"gue sudah berikan Lo peringatan, dan Lo melanggarnya, maka bersiaplah untuk kehilangan orang-orang yang Lo sayang... Zidan Narendra Fadillah" **


**titiit**


"Panggilan di putus secara sepihak, Zidan berdecak, sebuah pesan masuk di rom chat mereka.


Foto Inayah yang sedang berada di salah satu perbelanjaan. Seketika Zidan bergetar tangannya.


"Sialan! Umpat Zidan" Zidan segera masukkan ponselnya ke saku, Zidan berlari cepat entah kemana.

__ADS_1


"Zidan! " panggil Birru tidak lagi Zidan hiraukan.


....


"Mas Tama mana sih, ko lama banget, katanya lima menit lagi sampai, ini sudah hampir satu jam aku tunggu" Sampai rumah aku akan mengomelinya, aku sudah menunggu setengah jam, Tama belum juga datang menjemput ku"


"Apa ada meeting dadakan, di telpon juga nggak ada


Ngangkat" Aku sudah lelah menunggu, kuputuskan untuk pulang saja dari pada menunggunya lebih lama, bisa-bisa pinggang ku encok.


....


"Angkat Tama! sialan Lo Tama, sialan Lo, Bangsat, sampai Inayah Kenapa-kenapa? Lo habis di tangan gue bangsat!" Zidan tidak lagi memedulikan jalan sebelum menyebrang, bunyi klakson dari pengguna jalan lain tidak lagi Zidan hiraukan, di dalam kepalanya sekarang hanya ada Inayah.


"BRENGSEK Lo Raka, BRENGSEK! berani lo menyentuh Inayah sedikit aja, gue pastiin Lo nggak akan bisa melihat dunia lagi, Raka!"


Di tempat lain, Inayah yang sudah kelewat Kesal dengan sang suami yang tidak juga datang menjemputnya memutuskan untuk pulang. Wanita itu tidak sadar jika sekarang ia sedang di intai. Pria dengan pakaian serba hitam dengan masker menutupi wajah, tidak lupa juga dengan topinya.


"Ini kan yang Lo mau Zidan" Pria itu bergumam dengan memainkan pisau lipat di dalam satu tangannya.


Inayah menghentikan langkahnya, ia merasa ada yang aneh, ada seseorang yang terus saja mengikutinya. Inayah berpaling, ia lihat Pria dengan pakaian serba hitam berdiri tidak jauh darinya.


"apa perasaan ku saja, pria itu sejak tadi mengikuti ku" gumam Inayah, ia lirik sekitarnya, cukup ramai, Inayah tidak perlu takut jika Pria itu sungguh ingin mencelakakannya.


Inayah kembali melanjutkan langkahnya, walaupun di sekitarnya banyak orang, ia juga tetap was-was, kembali Inayah mencoba menghubungi Tama, namun hasilnya pun tetap sama, pria itu tidak mengangkat panggilannya.


"Ya Allah mas... kamu kemana sih, aku butuh kamu sekarang mas" Inayah masih tetap terus menghubungi sang suami, meskipun hasilnya masih tetap sama.


Inayah sesekali melirik kebelakang, pria dengan pakaian tertutup itu masih tetap terus berada di belakang.


"Ya Allah, laki-laki itu..."


"Inayah"

__ADS_1


"Zidan " gumam Inayah. Seketika air Matanya menetes saat pria yang bertahun-tahun tidak pernah bertemu sekarang berdiri di depannya. Debaran jantungnya pun berpacu lebih cepat sekarang, bukan lagi karena pria berbaju hitam menyeramkan itu, melainkan karena pria yang nampak berantakan di depannya.


"Inayah awas!" pekik Zidan seraya menarik Inayah masuk kedalam dekapannya, ia dengan sigap memutar tubuh mereka, Zidan yang berada di belakang. Pria dengan pakaian hitam itu berdecak, ia segera menjauh dari sana. Kini Inayah berada di dalam dekapan Zidan, kantong belanjaannya terlepas dari genggaman, keduanya sama-sama kembali berada di dalam dekap kerinduan, entah inayah merasakan hal yang serupa dengan Zidan atau tidak, yang pasti sekarang wanita itu tidak bisa mengontrol irama jantungnya lagi. Bahkan perlahan tangannya yang bergantung terangkat membalas pelukan Zidan. Zidan yang merasakan sentuhan tangan lembut itu seketika meneteskan air Matanya.


"Inayah" gumam Zidan pelan tepat di belakang telinga Inayah, hal itu berhasil membuat Inayah tersadarkan dengan apa yang ia lakukan sekarang. Inayah mendorong tubuh Zidan menjauh darinya.


"kurang ajar!" teriak Inayah saat tersadar.


"beraninya anda menyentuh saya! Tuan Narendra yang terhormat" Inayah menunjuk wajahnya Zidan dengan tatapan mata tajam berair. Zidan menutup matanya sesaat, pria itu tidak lagi berdiri tegak.


"ii--inayah, a--aku antar kamu pulang ya" Inayah mengerutkan dahinya bingung apa dia tidak salah dengar.


"Anda masih waras kan tuan Narendra yang terhormat? anda menawarkan diri untuk mengantar saya pulang?" Inayah tertawa sumbang, ia punguti kantong belanjaannya, Zidan dengan langkah tertatih-tatih mendekat, ia ingin membantu Inayah, tapi wanita itu segera merebut kantong belanjaannya.


"Saya tidak butuh bantuan Anda!" bentak Inayah.


"Inayah" keduanya berpaling ke sumber suara.


"mas Tama, kamu ko lama banget sih mas, aku nungguin kamu dari tadi" Zidan menatap Tama tajam, sedangkan pria itu nampak mengigit bibirnya. Tama merangkul Inayah, ia ambil alih kantung belanjaan sang istri.


"ayo pulang " Inayah mengangguk, ia segera masuk kedalam mobil tanpa menunggu lagi. Zidan mendekat ke arah Tama.


"Sialan Lo Tama! Sampai Inayah Kenapa-kenapa, Lo yang lebih dulu mati di tangan gue" ancam Zidan.


"Mas ayo" teriak Inayah, Tama menyusul masuk kedalam mobil.


"kamu kemana sih mas! aku nungguin kamu sampai sakit pinggang tau nggak! tadi itu ada orang aneh yang ngikutin aku---


"Inayah " Tama segera menggenggam kedua tangan Inayah, telapak tangan wanita itu di hiasi noda merah.


"tangan kamu berdarah sayang" Tama menatap penuh kawatir Inayah.


"m--mas, aku nggak papa, tapi Zi--Zidan" ke-duanya kembali memutar ke arah belakang, ia lihat tempat Zidan berdiri tadi sudah di penuhi banyak orang.

__ADS_1


"Zidan!" pekik Inayah


__ADS_2