Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
Serangan jantung


__ADS_3

Inayah yang terbiasa bangun pagi pun tetap bangun meskipun rasanya tubuhnya ingin tidur lebih lama lagi. Ia netral kan dulu matanya yang berat. Inayah tersenyum simpul, ia usap punggung tangan Tama yang menindih pinggangnya.


"Sudah bangun?" suara serak membuat rasa geli di bagian belakang Inayah, wajah Tama menempel sempurna di bagian belakangnya. Inayah mengangguk singkat.


"Bapak terganggu?"


"Mas... Panggil saya mas Inayah" Inayah mengulum bibirnya, ia lupa, tadi malam saat melakukan hubungan dengan Tama, mereka sudah sepakat agar Inayah memanggilnya dengan sebutan mas


"Maaf, ma--mas, aku lupa" Tama mendaratkan ciumannya di pundak Inayah.


"jam berapa?"


"jam setengah lima lagi" jawab Inayah singkat. Tama tidak melepaskan pelukannya, ia semakin mengeratkan tangannya di pinggang ramping inayah.


"Mas, aku mau mandi, mau siap-siap sholat" Tama bergumam.


"mandi bareng" ajak Tama enteng.


"ISS, malu mas"


"apa yang di mulai in inayah, saya sudah lihat semuanya tadi malam" Inayah memukul punggung tangan Tama, Tama hanya tersenyum


"mulutnya iyh"


Inayah POV


Aku tidak menyangka jika akhirnya akan seperti ini, pria yang sekarang tidur bersamaku adalah pria yang belasan tahun lalu menjadi penyebab kecemburuan mantan suami ku, dan berakhir dengan penghianatan nya. Tama dulunya hanyalah atasan yang aku hormati kedudukannya, dan sekarang Tama adalah suami ku, suami yang harus aku hormati. Jujur aku tidak pernah menyimpan rasa pada Tama, selama bertahun-tahun hati ku kosong, sampai detik di mana Tama mengucap kalimat ijab Kabul di depan papah pun rasa itu tetap sama, tidak ada rasa cinta untuknya, tapi aku akan berusaha memberikan cinta ku untuknya.


....


"BRENGSEK!" Karina melempar amplop coklat yang baru saja ia terima entah dari siapa. Sebulan lebih Karina selalu menerima paket berisikan poto-poto sebagai ancaman untuknya. Karina mengacak rambutnya prustasi, ia gigit satu jarinya dengan satu tangan lagi berada di pinggangnya, wanita itu sudah seperti setrika yang maju mundur di dalam kamar.


Di dalam amplop coklat itu juga selalu berisi pesan yang sama, yang memintanya untuk bertemu di tempat biasa.


"Ini harus di selesaikan, si brengsek itu harus di hentikan. Sialan Lo Rangga!" dengan tergesa-gesa Karina memasang tas nya dan memunguti kembali foto-foto yang berserakan dari dalam amplop coklat tersebut. Ia percepat lagi langkahnya, saat ingin melewati ruang keluarga, suara Zidan menghentikan langkahnya.


"Mau kemana kamu?" berat dan mengintimidasi, Zidan tidak alihkan fokusnya dari kertas kertas milik Nesha, di depannya juga ada Nesha yang sibuk mewarnai tugas dari sekolahnya. Karina menoleh, ia menghela nafas berat, ia tidak peduli dengan ucapan Zidan dan melanjutkan langkahnya.


"Selangkah kamu berani keluar tanpa seijin aku, maka bersiaplah untuk angkat kaki dari sini" ucap Zidan tegas dengan nada tinggi.


"Argghhh" Karina melempar tasnya ke arah Zidan, tapi tas itu justru mengenai kepala anaknya. Zidan yang melihat itu pun murka dan berdiri mendekati Karina.

__ADS_1


Satu tamparan berhasil mendarat di pipi kiri Karina.


"KETERLALUAN KAMU KARINA!" Karina tidak ingin kalah, ia pun melakukan hal yang sama, tapi Zidan menahan pergelangan tangannya.


"Lepas!" Karina memberontak minta di lepaskan, Zidan memberikan tatapan tajam


"Lepas!" sesuai permintaannya, Zidan melepaskan Karina, ia tidak hanya melepaskan cengkramanya, tapi juga memberikan dorongan. Nesha yang berdiri tidak jauh dari mereka menarik-narik ujung baju Zidan.


"Pah, jangan pah, kesian mamah" ucap Nesha pilu, Zidan menetralkan lagi nafasnya, ia berbalik menghadap sang anak, Zidan tersenyum seraya mengusap rambut anakanya.


"Sekarang tidur ya nak, sudah malam" Nesha mengangguk dengan air mata yang berderai, Zidan tuntun tangan Nesha untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Argghhh" Karina menendang sofa untuk melampiaskan kekesalannya.


Karina terduduk di sofa, ia rogoh saku tasnya dan mengirim pesan pada nomor yang selalu menerornya itu.


"Jangan malam ini brengsek! besok di tempat biasa"


....


"Papah!" jerit Zidan, Dewi dan Biru secara bersamaan saat Narendra terjatuh


....


"Mas, nanti di lihat anak-anak, di lihat bi Inah, malu ih mas" Inayah merotasikan matanya, takut ada yang datang ke dapur, tama menurut dan melepaskan pelukannya.


"Iya iya. masak apa?"


"lagi pengen makan bubur kacang, kamu suka nggak sama bubur kacang, kalau aku sama anak-anak ini favorit banget, apa lagi di makan pas hujan kaya gini" Tama mengambil alih sendok dari tangan Inayah.


"aku makan apapun yang kamu masak, sayang, asal yang bisa di makan aja" Inayah tersenyum malu di panggil sayang, di ambilnya satu mangkuk kecil di samping rak pencucian piring


"Kayaknya sudah mateng, coba sendok ke sini, biar dingin " Tama menyendok bubur ke mangkuk.


"Ayo mas cobain, pasti kamu suka deh, kompornya jangan di matiin, biarin aja mas"


"sini mas cobain " Inayah dinginkan satu sendok sebelum di suapkan pada Tama.


"Aa" Tama membuka mulutnya tanpa ragu, Inayah menatap serius.


"enak nggak mas" Tama menaikkan dua jempolnya

__ADS_1


"Masyaallah enak banget sayang, kamu memang pinter banget masak "


"Inayah gitu loh" Tama mengusap-usap pipi Inayah dengan ibu jarinya.


"Mamah, papah"


Kedua orang yang sedang asik suap suapan itu menengok kebelakang, di sana sudah ada Aska sambil menggandeng tangan Ziya, mereka sudah siap dengan seragam sekolahnya.


"eyh ganteng sama cantiknya mamah sudah selesai, ayo sarapan "


"Bi Inah Minta tolong dinginkan buburnya ya"


"iya Bu"


....


"Pelan-pelan aja mas bawa mobilnya, biar aku aja yang jemput anak-anak " Inayah serahkan tas kerja Tama, dan meraih tangan Tama untuk di salimi.


"Aku aja yang jemput anak-anak, kamu di rumah aja, katanya tadi ada rapat kan" Inayah mengangguk, ia benarkan sedikit dasi Tama yang nampak miring.


"kamu nggak kerepotan mas, biar suruh supir aja deh yang jemput" Nampak Tama tersenyum, diraihnya satu tangan Inayah.


"kenapa aku harus kerepotan mengurus anak-anak ku Inayah. Aku papahnya, mereka tanggung jawab ku. lagian, Ziya kan nggak mau di antar jemput selain kamu atau aku" Inayah mengangguk, ia mendekat dan memeluk Tama


"makasih ya mas, makasih sudah menyayangi aku dan anak-anak, aku bersyukur sekali"


"aku juga sangat amat bersyukur bisa menjadi bagian di hidup kalian"


 pernikahan mereka sudah masuk usia ke tiga bulan, hari-hari Inayah berubah total, sekarang dia memiliki suami yang begitu menyayanginya.


...


"nak, kesian papah kalau harus di bawa pulang" Zidan menoleh ke arah Dewi yang dengan setia menggenggam tangan Narendra yang sudah satu bulan di rawat di rumah sakit.


"Biyaya perawatan papah terlalu mahal di sini mah, Zidan nggak sanggup. Kita nggak bawa papah pulang ko mah, kita pindahkan perawatan papah aja" Setetes air mata Dewi turun mengenai punggung tangan Narendra.


"Kita sudah miskin nak, perusahaan hancur, aset kita habis, papah kamu sakit, dan kita nggak sanggup untuk membiayai rumah sakitnya" Zidan tak tega melihat kondisi orang tuanya yang kesusahan, sampai Narendra terkena serangan jantung setelah perusahaan terkahir nya di sita bang. Semua asetnya habis tanpa sisa, rumah mewah mereka pun di lelang, mereka tinggal di rumah tempat Inayah dan Zidan dulu. Rumah penuh kenangan yang Zidan pertahankan. Zidan tidak ingin rumah itu ikut di sita bang, rumah itu sebenarnya sudah beralih atas nama Inayah, makannya bangk tidak bisa menyitanya, tapi Inayah menolak mengambil rumah itu.


"Habis semuanya nak, Kaka kamu bahkan nggak ada kasih kabar, mereka menghilang, adik kamu terpaksa kerja banting tulang di perusahan orang lain untuk mengumpulkan biaya pernikahannya " Zidan memeluk Dewi.


"Zidan janji akan mengembalikan semunya nah, Zidan janji mah" hanya itu yang bisa pria tiga puluh tujuh tahun itu ucapkan, emang apa lagi, ia saja tidak yakin bisa mendirikan kembali perusahaannya yang hancur total.

__ADS_1


__ADS_2