Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
Siapa Karina?


__ADS_3

"Kita nggak bisa kaya gini terus Zidan, perusahaan akan hancur" Zidan mengacak rambutnya prustasi, ia longgarkan dasi yang menejrit lehernya.


"Sial" umpat Zidan menutup layar ponselnya yang menampilkan grafik perusahaannya yang kian menurun semenjak salah satu orang kepercayaannya melakukan penghianatan.


"Kita bisa jatuh miskin Zidan, hutang di bank semakin menumpuk untuk menutupi kerugian kita"


"Ini semua gara-gara kamu, kinerja kamu menurun! apa yang sebenernya ada d kepala kamu itu! sampai kamu nggak sadar kalau kamu memelihara seorang penghianat" Zidan menggebrak meja, ia tinggalkan Narendra di dalam ruangannya


"Zidan! papah belum selesai bi--" Narenda menyentuh dadanya yang tiba-tiba saja terasa sakit, ia mendudukkan diri di sofa untuk menenangkan dirinya. Satu tahun belakangan kondisi perusahaan Narendra sedang tidak baik-baik saja, banyak masalah yang berdatangan mulai dari orang kepercayaan mereka yang membawa kabur uang perusahaan, beberapa tender penting yang tidak berhasil mereka menangkan, hingga investor yang membatalkan kerja sama dengan perusahaannya. hal itu diperparah dengan beradarnya kabar jika produk yang mereka produksi menggunakan bahan kimia berbahaya, banyak produk mereka yang di tarik dari pemasaran.


.....


"JADI SELAMA INI KAMU MENIPU KELUARGA SAYA KARINA?" Karina menghembuskan nafas kemudian berdiri, ia berpindah duduk di samping Zidan yang fokus pada ponsel di tangannya. Karina mengapit lengan Zidan dan menyandarkan kepalanya di bahu Zidan.


"Saya tidak pernah berniat untuk menipu keluarga kalian, saya memang tidak memiliki orangtua pengusaha, saya anak yatim-piatu yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup saya sendiri, sampai akhirnya anak anda merusak kehidupan saya, jadilah saya harus berpura-pura menjadi anak dari orang kaya raya agar bisa di terima di keluarga anda, kalau nggak kaya gitu mah saya akan bernasib sama dengan Inayah, di lempar jauh dari keluarga Narendra" Zidan melepaskan tangan Inayah dari lengannya.


"sayang" protes Karina


"aku lelah" ucap Zidan ketus


"keterlaluan kamu Karina!"


"sudah lah mah, mau gimanapun juga kan sekarang Karina menantu mamah, setidaknya orang-orang tau kalau kalian memiliki menantu kaya raya" Dewi benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang terjadi. Satu fakta menyakitkan kembali ia rasakan setelah kabar perusahaan yang ia bangun bersama suaminya berada di ambang kehancuran, dan sekarang satu fakta mengenai menantu yang selama ini ia agung-agungkan ternyata telah menipunya.


*"Inayah permata sari, seorang penulis yang di kenal dengan tulisan-tulisannya uang Sarat akan makna kini menjadi salah satu pengusaha wanita tersukses ditahan ini"*


keempat orang yang tadi berdebat kini fokus pada tayangan berita yang menyiarkan mengenai pengusaha wanita sekaligus penulis buku yang berhasil dengan karya-karyanya yang luar biasa. Zidan kembali merasakan kerinduan mendalam pada sosok wanita di dalam layar yang menggandeng anak-anaknya di depan media. Ini pertama kalinya Inayah memperkenalkan anak-anaknya di depan media juga.


"ini anak-anak ibu?" Inayah mengangguk di pandanginya anak-anaknya secara bergantian.

__ADS_1


"cantik dan ganteng, siapa namanya?" tanya salah satu wartawan.


"ini anak pertama saya, namanya Aska permata, dan si cantik ini putri kedua saya, namanya Ziya Melisa"


"namanya cantik dan ganteng seperti orangnya"


"makasih mbak"


"anak-anak ku" gumam Zidan tak kuasa menahan gejolak di dalam dada, ia hapus segera air matanya.


"Zidan..." Zidan menoleh ke arah Dewi.


"itu Inayah dan anak-anaknya"


"Inayah sudah menikah? kali ini Narenda yang bertanya.


"wah hebat juga ya Inayah, kayanya putri keduanya itu umumnya sekitar tujuh tahunan, itu berarti--"


"Wanita itu hamil saat kalian bercerai?" Dewi mendekati Zidan, ia perlu tau semuanya. Zidan mengangguk singkat, ia memilih mendudukkan diri lagi ke sofa. Dewi merasakan sesuatu yang sakit di dalam hatinya, ia tersentuh melihat cucu cucunya yang sekarang sudah tubuh menjadi anak-anak yang lucu cantik dan pintar.


"Kamu yakin Aska anak kamu zidan?" Dewi dan Zidan saling pandang.


"Zidan tidak pernah meragukan Aska mah, Zidan juga tau Inayah begitu setia dengan Zidan, Zidan katakan hal gila itu karena Zidan marah dan cemburu, tapi kalian justru membenar kan semuanya" Zidan berucap dengan nada datar.


"Aska anak Zidan, putra Zidan yang Zidan sia-siakan selama ini mah, Zidan lukai hatinya dengan sikap Zidan, Zidan menyesal mah, Zidan menyesal" Karina memutar matanya Jengah, ia memilih pergi dari ruang tamu yang sekarang justru fokus pada Inayah dan anak-anaknya itu. Mereka bahkan melupakan masalah Karina yang sudah menipunya.


"Aska...Ziya..." gumam Dewi menatap miris layar tv yang masih menayangkan berita kesuksesan Inayah. Narendra pun tak bisa menyembunyikan kesedihannya.


"mamah ingin ketemu cucu mamah Zidan..." Zidan tersenyum miris

__ADS_1


"sejak kapan mamah mengakui anak-anak Zidan sebagai cucu? Zidan mengangkat kepalanya, ia sibak rambutnya yang mulai memanjang ke belakang.


"mamah jangan bermimpi bisa bertemu dengan mereka, Inayah tidak akan memberi izin, Zidan saja harus sakit-sakitan karena merindukan mereka, Inayah tidak ingin berhubungan lagi dengan orang-orang yang sudah menyakitinya" Zidan menghela nafas panjang.


"Kenapa? mereka cucu mamah" Zidan tertawa terbahak-bahak, kedua orang tuanya menatap bingung kearahnya.


"Mamah bercanda, mamah lupa waktu Inayah datang dengan Aska yang lagi sakit mencari Zidan, mamah nggak ngizinin mereka masuk untuk sekedar berteduh, mamah lupa itu?" Dewi terdiam, begitu jahatnya ia pada cucunya sendiri, sat itu Inayah memohon untuk di ijinkan masuk ke halaman ruamnya untuk berteduh, tapi dengan tidak punya hatinya, Dewi mengusir Inayah yang menggendong Aska yang sudah menggigil kedinginan.


"kita ini brengsek mah, apa nggak malu mamah nunjukin wajah di depan mereka lag? Inayah sekarang bukan lagi inayah yang dulu. Inayah sudah sukses, Inayah sudah menjadi wanita hebat, sedangkan kita sekarang justru berada di titik terendah? Zidan malu banget kalau harus menampakkan wajah di depan mereka lagi. Mereka sudah bahagia, dan sebaiknya kita jangan mengganggu mereka lagi, sudah cukup rasa sakit yang kita berikan pada mereka, Inayah orang baik, dia berhak bahagia " Zidan berdiri dan melenggang pergi, pria itu tidak masuk kedalam kamar untuk beristirahat, ia memang jarang menginap di rumahnya dengan Karina, Zidan lebih memilih tidur di rumahnya dengan Inayah, setidaknya ia bisa membayangkan betapa bahagianya dia jika ia tidak pernah melakukan hal bodoh dimasa lalunya.


.....


"Karina " Karina terperanjat kaget saat seseorang menepuk pundaknya.


"Lo--li" wanita dengan dress hitam begitu terbuka itu mengembangkan senyum ke arahnya.


"iya Karina, ini gue... loli, teman kerja lo dulu" wanita yang mengaku sebagai Loli itu memandangi Inayah dari atas hingga ujung kakinya.


"wah Karina, wah wah wah" loli bertepuk tangan kagum.


"gue akuin Lo hebat Karina. Lo bisa hidup enak tanpa harus bekerja keras lagi, wahh keren Lo Karina, keren" Karina nampak gugup, ia benarkan rambutnya yang tidak berantakan sama sekali ke belakang telinga.


"gu--gue duluan loli" loli menahan lengan Karina.


"tunggu dulu dong, gue belum selesai ngomong" loli mendekatkan bibirnya di belakang telinga Karina dan berbisik.


"Lo di cariin om Jordan, kangen katanya sama Lo, kangen di belai" Karina mendorong loli menjauh darinya, loli hanya tersenyum miring dan kembali bersuara


"om Sadewa sama mas Erga juga nyariin Lo terus"

__ADS_1


"Apaan sih, Nggak jelas" loli semakin melebarkan senyum, ia terlihat puas sekali melihat wajah ketakutan Karina.


"Karina Karina, bangkai akan tetap menjadi bangkai, jangan pernah bermimpi berubah menjadi berlian, walaupun Lo berada di sekitar mereka " gumam loli dengan terus menatap lurus ke arah Karina pergi.


__ADS_2