Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
sahabat lama


__ADS_3

Persediaan dapur sudah habis semua, aku hari ini ke supermarket dengan Aska, kebetulan hari libur, aku mau mengajak Aska jalan-jalan juga. Sebelum ke supermarket, aku ajak Aska ke taman dulu, Aska sudah membawa bola untuk ia mainkan di taman nanti, aku juga sudah siapkan bekal untuk Aska makan di sana, beberapa cemilan yang aku buat sendiri.


"jangan lari Aska" Aska sudah tidak lagi mendengar teriakan ku, anak itu sudah berlari kencang menghampiri anak-anak lain yang juga berada di taman, aku menggelar tikar di bawah pohon yang lumayan rimbun, menyusun bawaan ku di sana.


Setelah selesai, aku duduk menyadarkan punggung ku di pohon, memperhatikan Aska yang tertawa riang dengan teman-teman yang baru saja ia kenal.


Melihat tawa dari putraku membuat aku sedikit bisa melupakan tentang masalah kemarin, aku tidak ingin terus menangis hanya karena pikiran otak ku sendiri. Mungkin aku yang terlalu terbawa perasaan jadi sensitif, mencurigai Zidan yang tidak-tidak, aku percaya Zidan tidak akan pernah mengkhianati cinta kami.


Aku merogoh tas bawaan ku mencari ponsel, aku tidak ingin melihat sendiri bagaimana riangnya Aska bermain, aku ingin berbagi dengan zidan juga, dan aku ingin menyimpan semua yang Aska lakukan sebagai kenang-kenangan. Setiap hari Aska semakin besar, aku tidak ingin lewatkan sehari saja pertumbuhan anak ku itu.


Aska selalu merasa kesepian saat di rumah, Aska anak tunggal, aku juga tidak selalu bisa menemaninya bermain setiap saat, sebenarnya aku sangat ingin hamil lagi, berharap bisa mendapatkan anak perempuan yang cantik dan lucu, tapi Zidan pernah bilang tidak ingin punya anak lagi. Zidan bilang cukup Aska saja, pupus sudah harapan ku untuk memberikan adik untuk Aska. Pasti Ramai kalau di rumah ada anak perempuan yang cerewet seperti aku, lucu juga jika di bayangkan.


Tidak terasa matahari mulai terik, aku dan Aska baru saja menyelesaikan makan siang di bawah pohon yang teduh, aku bereskan bawaan karena kami harus segera pulang.


"mamah, Minggu depan kita main ke sini lagi ya, sama papah juga" antusias sekali anak ku mengucapkan hal itu, Aska masih belum tau kalau papahnya kerja di luar kota dan akan pulang dua minggu yang akan datang.


Aku tidak ingat, kapan terkahir kali aku, Aska dan Zidan jalan-jalan, yang pasti sudah lama sekali. Zidan terlalu sibuk dengan pekerjaannya, aku tidak ingin mengganggu Zidan dengan meminta berlibur bersama, atau sekedar menghabiskan waktu di taman, terkadang... Zidan juga pergi di hari Minggu, padahal ia tidak ada kerjaan di kantor.


Aku mengusap keringat yang bercucuran di wajah Aska dengan tisu, tatapan Aska menyorotkan tatapan penuh harap, ia berharap seperti anak-anak Lain, yang bisa bermain dengan papah nya juga.


"iya, nanti kita bilang sama papah ya nak" Aska mengangguk, Aska membantu ku membawa tas bawaan yang tidak terlalu berat, satu tangannya aku genggam erat.


"mamah, Aska mau beli itu" Aska menunjuk makanan ringan yang di balut coklat di antara makanan ringan lain, aku ambilkan satu untuk Aska.


"yang ini"


"iya mah, Aska mau dua" aku sebenarnya tidak terlalu suka jika Aska makan makanan ringan seperti ini, aku lebih suka buatkan untuk anak ku sendiri, yang pasti jauh lebih sehat. Tapi tidak papa lah sekali-kali, Aska juga selalu menurut apa kataku kalau aku bilang tidak boleh, tapi untuk hari ini aku akan turuti mau nya.


Aku dorong troli belanjaan menyusuri rak-rak mencari apa yang aku butuhkan, dari segala macam bumbu dapur, buah-buahan, sayur-sayuran, beras, telur, tidak lupa juga kebutuhan mandi, dan susu Aska.


"Inayah" suara seorang perempuan yang tidak asing.


"Khansa" itu sahabatku Kansa, sahabatku saat duduk di bangku SMA. Kami putus kontak saat lulus karena Kansa melanjutkan kuliahnya di luar kota, aku bergegas menghampiri Kansa yang sepertinya sedang hamil besar.

__ADS_1


"astaga Kansa, gue kangen banget sama lo, Sa" aku peluk Kansa walaupun terhalang perutnya yang besar.


"gue juga ya. Aya, lo kemana aja sih ya Allah, lo kaya di telan bumi tau nggak" kami menguraikan pelukan, aku tidak fokus dengan pertanyaan Kansa, aku fokus pada perutnya yang besar, ku usap perut itu.


"sudah berapa bulan, Sa?" Kansa tersenyum


"delapan bulan, Aya"


"anak pertama lo?" Kansa mengangguk lagi.


"dan Lo?" aku berbalik memanggil Aska.


"Aska sini nak"


"ini Aska anak gue"


"bapanya itu?"


"ya Allah Aya, ganteng Banget, mirip lo, tapi matanya itu loh, ka Zidan Banget" aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Kansa.


"kita perlu ngobrolin banyak hal, Aya"


"bener banget, gue juga banyak yang mau di tanya"


"Lo sudah selesai belanja?"


"sudah "


"Kiya cari kafe buat ngobrol, gue juga nggak tahan berdiri lama, bisa-bisa anak gue keluar dari sangkarnya" aku tertawa terbahak-bahak, Kansa memang suka sekali bercanda, dia paling bisa membuat ku tertawa.


....


Sekarang kami sudah berada di salah satu kafe yang sering kami tempati dulu untuk menghabiskan waktu, Aska duduk dengan tenang memakan kue pesanannya.

__ADS_1


"jadi-jadi, lo nikah sama zidan"


"iya, gue langsung nikah selesai kuliah, ka Zidan langsung datang melamar, takut di rebut orang katanya" Kami pun tertawa, Kansa memukul punggung tangan ku yang ada di atas meja.


"yang bener napa" kesal Kansa.


"gue yang takut dia dinikahi sama perempuan lain" Ucap ku pada akhirnya.


"Lo tau sendiri lah gimana orang tua Zidan yang nggak suka sama gue. Orang tua Zidan ingin menjodohkan ka Zidan sama teman bisnisnya" aku menjada sebentar kalimatku, sebenarnya aku tidak pernah menceritakan hal ini dengan orang lain, tapi dengan Kansa berbeda, Kansa bahkan tau bagaimana hubungan ku yang rumit dengan Zidan dulu, aku selalu menceritakan apapun dengannya.


"Zidan datang nemuin gue di kosan, Zidan bilang kalau gue nggak nikah sama dia, ka Zidan bakal di paksa nikah sama perempuan yang ibunya mau" kenapa suasananya jadi sedih begini sih, tatapan Kansa itu loh.


"ko jadi sedih gini sih" aku memaksakan senyum, teringat lagi bagaimana sampai sekarang keluarga suamiku belum merestui hubungan kami.


"nggak usah bahas itu Aya, yang penting Lo bahagia sekarang" aku mengangguk.


"kabar orang tua Lo sama Abang Shaka Gimana" aku berdecak kesal, padahal sekarang ni perempuan sedang hamil besar, tapi masih sempat-sempatnya menanyakan kaka ku. Dulu ka Shaka sama Kansa sempat dekat, tapi yang namanya bukan jodoh, mereka bisa apa.


"Alhamdulillah bapa ibu gue sehat, mereka sudah pensiun, papah punya kebun sama sawah yang di urus di desa, sedangkan mamah punya toko kaya supermarket gitu"


"Abang Shaka?"


"Iis, Lo ini, lihat no perut buncit gitu masih aja kecentilan"


"gue cuman mau denger kabar nya aja, Aya"


"Abang Shaka sehat, Abang Shaka juga sudah nikah, sudah ada anaknya juga, hampir seumuran sama Aska.


"pasti ganteng kaya Abang Shaka" benar-benar ya si Kansa ini, tidak berubah sama sekali.


"tau ah gelap soalnya"


kami tertawa terbahak-bahak

__ADS_1


__ADS_2