
"Sial, kenapa bisa ketemu loli sih, sial sila sial" Karina tak henti-hentinya merutuki kesialannya yang kembali bertemu dengan loli, teman kerjanya dulu.
"mamah, minta uang dong, Nesha mau belanja sama teman-teman" Karina berdecak dan mengeluarkan kartu dari dalam tasnya.
"jangan di habiskan" Nesha tersenyum puas, anak berusia 10 tahun itu benar-benar bertingkah layaknya orang dewasa, bukan seperti anak-anak seusianya.
"nggak janji" ucap Nesha dan melenggang pergi begitu saja, Karina dudukkan dirinya di pinggiran ranjang.
"kenapa harus ketemu dia lagi sih, argghh" Sling bag ia lepas dan Karina lemparkan ke sembarang arah. Karina menutup wajahnya prustasi dengan kedua tangan, ke-dua kakinya bergerak kesembarang menandakan kegugupan. Pintu kamar terbuka menampakkan Zidan yang terlihat tidak kalah kacau dari Karina, wajah pria itu kusut, lengan kemejanya terguling hingga ke siku. Zidan letakkan tas kerjaannya ke atas meja dan mendudukkan diri di samping sang istri.
"kamu bisa nggak sih, jangan kasih uang dulu ke Nesha, kamu tau kan perekonomian kita lagi nggak stabil" ucap Zidan datar, tatapannya lurus kedepan. Karina menghela nafas kasar.
"Kenapa kamu jadi pelit gini sih!" Karina nampak tidak suka dengan ucapan Zidan, Karina berdiri di depan sang suami.
"kamu itu kalau di kasih tau ngerti sedikit dong Karina, kamu selalu saja membantah ucapan ku, sesulit itu kah menghargai aku sebagai suami kamu, kamu emang nggak seperti Inayah ya---"
pyaar!!! pajangan berbahan dasar kaca yang ada di atas meja Karina lempar hingga pecah berkeping-keping tanpa sisa. Ia menatap nyalang ke arah Zidan.
"Inayah Inayah Inayah! Inayah aja yang ada di dalam kepala kamu Zidan, kamu selalu saja menyebut wanita sialan itu di depan ku!" Karina tanpa ragu mengarahkan telunjuknya pada sang suami. Zidan yang sudah lelah berdebat berniat pergi, tapi Karina menahan pergelangan tangan Zidan.
"aku belum selesai ngomong!" sekali hentak Zidan berhasil membuat tangan Karina terlepas dari pergelangan tangannya.
__ADS_1
"apa sih mau Kamu Karina?"
"Aku mau kamu berhenti menyebut nama wanita itu di rumah kita" tatapan mereka saling beradu ketajaman, Zidan menggeleng.
"aku nggak akan bisa, aku nggak akan bisa melupakan Inayah, aku nggak akan bisa berhenti. menyebutkan namanya, Inayah nggak akan pernah pergi dari sini" Zidan menyentuh dadanya.
"dari hatiku, karena sesungguhnya dialah pengisi hati ku" Karina merasakan gemuruh hebat di dalam dadanya, mereka memang sudah tidak se harmonis dulu lagi, mereka sering bertengkar perihal hal yang sama secara berulang-ulang. Zidan kembali asing untuk Karina, mereka pun tidak pernah lagi tidur bersama, Zidan lebih memilih tidur entah kemana, Karena setiap mereka bertemu, hanya pertengkaranlah yang akan terjadi setelahnya, seperti sekarang, mereka baru bertemu setelah satu minggu Zidan tidak pulang, dan berakhir dengan pertengkaran lagi.
"Aku sadar Karina, aku sadar sekarang, aku tidak bisa tanpa Inayah, aku mencinta dia Karina, aku lemah tanpa dia, aku merindukan inayah Karina, aku merindukan wanita yang selalu sabar dengan semua sikap ku padanya, aku merindukan sosok Inayah yang lemah lembut, Inayah tidak pernah membentak ku, Inayah tidak pernah meninggikan suaranya padaku, Inayah selalu menyiapkan makanan enak untuk ku, Inayah selalu dengan sabar menunggu kepulangan ku, padahal aku pergi menemui wanita lain... " Karina mengepalkan Kedua telapak tangannya, Sedangkan Zidan mati-matian menahan air matanya, pria itu jadi mudah menangis Jika sudah menyangkut mengenai Inayah dan anak-anaknya.
"Inayah yang sudah ku sakiti hatinya demi menyenangkan hati wanita lain, aku sempat berpikir akan memulai hidup ku dengan kamu, dengan Nesha, tapi nyatanya aku salah, aku tidak bisa tanpa dia, aku merindukan inayah setiap detiknya Karina...."
"aku merindukan Inayah... aku merindukan keluarga ku, aku merindukan mereka Karina..."pria itu jatuh terduduk di lantai dengan kepala menunduk bahunya bergetar, ia menagis tanpa suara.
"Di mana sopan santun kamu Leli! mau saya pecat!" Zidan berdiri dan kembali duduk di pinggiran ranjang.
"ma--afkan saya--bu, no--non, no--non Nesha Bu--"
"bicara yang jelas, ada apa dengan anak saya" bentak Karina
"non Nesha kecelakaan Bu" Zidan seketika berdiri,
__ADS_1
"kecelakaan" ucap Zidan dan Karina secara bersamaan.
"iya Bu, non Nesha kecelakaan, ada pihak rumah sakit yang menghubungi rumah" bagaikan pedang panjang menusuk jantungnya, kedua orang tua yang baru saja berdebat kini di kejutkan dengan kebar kecelakaan sang anak.
"Vanesha.." lirih Karina, Zidan tidak lagi memedulikan Karina, ka bergegas keluar meninggalkan Karina.
....
"Kamu nggak ada niat untuk menikah lagi nak" Inayah menyunggingkan senyum seraya menggeleng.
"Aya nggak mikirin hal itu dulu mah, Aya sudah cukup dengan Aska dan Ziya, Aya ingin membahagiakan mereka saja, Aya nggak mau terikat hubungan apapun lagi dengan siapapun mah. Farah mengalihkan pandangannya pada kedua cucunya yanga asik belajar di temani sang Keke tidak jauh dari mereka.
"kamu masih muda nak, kamu juga butuh pendamping sayang, mau bagaimanapun kamu butuh seseorang"
"Inayah takut mah, Inayah takut kecewa lagi" Inayah menggeleng dan menoleh ke arah anak-anaknya. Terdengar helaan nafas berat dari wanita yang sekarang berusia tiga puluh dua tahun itu, wanita yang tetap setia dengan status sendirinya.
"Inayah nggak mau sakit mah, sudah cukup Inayah dengan kecewa yang lalu, Inayah Nggak mau sakit yang kedua kalinya" Farah menggenggam tangan sang putri yang ada di atas meja.
"sayang... nggak semua laki-laki seperti mantan suami mu itu, nggak semua laki-laki berpikir sama seperti Zidan, nggak semua laki-laki akan tega menyakiti istri dan anaknya. Kamu perempuan baik nak, kamu berhak mendapatkan kebahagiaan juga "
Inayah menggangguk kecil seraya menyunggingkan senyum.
__ADS_1
Inayah POV
"rasa trauma itu masih ada di hati Inayah mah, tujuh tahun sudah berlalu... dan Inayah nggak bisa melupakan rasa sakitnya hingga sekarang. Dikhianati selama bertahun-tahun di saat Inayah selalu setia untuknya... meninggalkan bekas di hati Inayah mah, Inayah Nggak sanggup mah, Inayah nggak bisa" ini bukan kali pertama mamah meminta ku untuk menikah lagi, mencari sosok suami yang dapat aku percaya, mencari sosok ayah untuk anak-anakku, yang menyayangi aku dan anak-anak ku juga, aku tidak bisa, aku tidak bisa mempercayai seorangpun setelah penghianatan yang aku dapatkan sebelumnya, aku takut di kecewakan lagi. Mungkin mereka tulus pertama kali Nya, tapi di akhirnya bisa saja mereka mendua. Zidan pun pada awalnya mencinta ku dengan tulus, tapi apa yang terjadi, pria itu menghianati ku pada Akhirnya.