Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
permintaan cerai


__ADS_3

Keesokan harinya, Zidan bergegas ke sekolah Aska untuk mencari tau di mana mereka berada, apa Aska turun sekolah setelah pulang dari rumah sakit. Zidan berharap bisa temukan kabar tentang keluarganya di sana.


Mobil mewah Zidan sudah terparkir di halaman parkir sekolah Aska, dengan langkah besar, Zidan memasuki ruang guru.


"iya pak, Bu Inayah ijin katanya pulang kampung sebentar, mungkin minggu depan juga sudah pulang, memang ibu Inayah ijin karena Aska masuk rumah sakit waktu itu, tapi beliau kembali meminta ijin untuk libur sekolah dulu karena ingin ke kampung halamannya" Zidan mengepalkan tangannya di bawah meja.


Ia geram setelah tau keberadaan Inayah dan Aska, mereka pergi tanpa pamit terlebih dahulu, dan sekarang Zidan tau alasan kenapa Inayah sulit di hubungi, ya karena di desa Inayah sulit sekali jaringan internet. Zidan sudah paham betul dengan situasi ini, saat masih pacaran ia harus rela menahan rindu setiap kali Inayah pulang kampung, tidak ada komunikasi yang terjadi, mereka terhalang jarak juga sambungan internet yang sulit.


Di dalam mobil, Zidan memukul-mukul setir mobilnya, ia geram dengan tingkah Inayah yang seenaknya, setidaknya ijin dulu sebelum pergi.


argghhhh


"sial"


"Inayah bangsat!" umpat Zidan tidak tahan, ia sudah sangat kawatir dengan Inayah yang pergi tanpa jejak, tidak ada sedikitpun pikiran jika Inayah pulang ke kampung halamannya, ya karena Inayah selama menikah memang sepertinya memberi jarak antara ia dengan keluarganya di kampung. Jadi Zidan tidak ada pikiran jika Inayah pulang ke sana.


Zidan melajukan mobilnya ke kantor, ia ingin menghilangkan emosinya dengan menyibukkan diri dengan bekerja. Zidan merasa rugi karena sudah mengkuatirkan bahkan membela Inayah saat ia tidak di ijinkan masuk berteduh sebentar di depan rumahnya.


"emang pantas lo di hina serendah-rendahnya sama keluarga gue, karena lo emang hina! Lo pergi tanpa pamit sama gue, lo anggap gue apa Inayah!" Zidan lampiaskan amarahnya pada setir mobil yang tidak bernyawa.


"awas aja lo Inayah, gue bakal kasih Lo pelajaran nanti" Zidan menyeringai.


"Lo bisa bersenang-senang di sana, gue tunggu Lo pulang, BANGSAT!!"

__ADS_1


....


Zidan memilih pulang kembali kerumah Karina Setelah seharian bekerja, sekarang ia sudah berada di rumah Karina, menikmati kopi panas yang juga bukan buatan Karina, tapi buatan BI Inah.


"jadi si perempuan itu pergi tanpa ngasih kabar ke kamu?" Zidan tidak menjawab, malas kalau harus terpancing lagi dengan ucapan Karina, ia lebih memilih berpindah duduk di bawah bersama Nesha.


Zidan mengangkat Nesha untuk duduk di pangkuannya. Karina sepertinya tidak menyerah untuk terus menyudutkan Inayah, ia juga berpindah duduk di samping Zidan. Karina memainkan boneka Barbie dengan gaun berwarna merah muda itu, Karina putar-putar kepala boneka itu sembari membayangkan jika kepala boneka itu adalah Inayah, Karina baru berhenti setelah Nesha menjerit marah tidak terima sang mamah merusak mainannya.


"maaf sayang" Karina berusaha untuk membujuk, tapi Nesha sudah menangis histeris di pelukan Zidan.


"kamu kenapa sih, Rin" kesal Zidan karena Karina mengacaukan perasaan hati putri tercinta.


"pa--papah, boneka Eca ucak gaya-gaya mamah, huaaaaa"


"nanti papah beliin boneka baru yang sayang, nanti papah belikan boneka Barbie yang banyak untuk Nesha"


"papah janji sayang" Zidan usap air mata yang tergenang di pelupuk mata sang putri.


"udah ya sayang, jangan nangis lagi" dengan masih sesenggukan, Nesha mengangguk. Zidan dan Karina saling pandang.


Mereka bertiga bermain di depan televisi yang menyala. Tawa ke tiganya bergema di ruang tengah mewah itu, Zidan memeluk erat Karina dan menggelitik nya bersama Nesha, Karina tidak tahan lagi dan memberontak untuk di lepaskan, Nesha tertawa puas, sampai gadis mungil berumur tiga tahun itu berlari naik ke arah tangga meninggalkan orang tuanya yang masih dengan posisi sama, Karina duduk di pangkuan Zidan yang memeluknya erat.


"Puas banget ketawanya kalau ngerjain aku" omel Karina, membuat Zidan tersenyum puas. Karina berpindah duduk di depan Zidan, ia atur nafasnya yang mulai tidak teratur itu karena kebanyakan tertawa. Zidan tidak alihkan pandangannya dari Karina barang sejenak, tangannya terulur mengusap wajah Karina yang berkeringat.

__ADS_1


"Zidan"


"kenapa?" Karina tiduran dengan paha Zidan di jadikan bantal, ia pandangi Zidan dari atas.


"kenapa sayang, hm?" tanya Zidan lagi


"kita nggak bisa gini terus, sayang" Zidan mengerutkan keningnya, ia paham kemana arah ucapan Karina. Bukan kali pertama Karina berucap hal seperti itu, sudah sering setelah satu tahun terkahir di mana hubungan mereka semakin membaik.


"Aku sudah bilang kan, aku nggak bisa ninggalin Inayah gitu aja, mau bagaimanapun Inayah itu perempuan yang menemani aku selama dua belas tahun " Zidan berucap selembut mungkin, tidak ingin ia membuat istri yang tertidur di pangkuannya itu tersinggung.


"kamu mah gitu terus alasannya, malas aku" Karina melipat tangannya di depan dada, wajahnya berubah murung seketika.


"apa sih yang kurang sayang, hem. kamu menantu yang di akui, sedangkan Inayah enggak, kamu yang orang tau istri Zidan Narenda, kamu dan Nesha yang di kenal dunia sebagai istri aku, Inayah enggak, sayang" Zidan merendahkan wajahnya, ingin mencium Karina, tapi wanita itu menghindar, ia merubah posisinya. Zidan menyibak rambutnya kebelakang, ia pusing juga jika terus dihadapkan dengan keinginan Karina yang terus memintanya menceraikan Inayah, meninggalkan cintanya dengan Inayah yang sudah dua belas tahun bersama.


"aku maunya kamu milik aku seorang, milik Nesha dan Karina, aku nggak mau berbagi dengan Inayah dan anaknya" bentak Karina, tapi suaranya mulai terdengar bergetar, Zidan menyadari perubahan hati sang istri. Ia balik tubuh Karina menghadapnya, air mata Karina sudah mengalir, Zidan bangunkan Karina untuk duduk di depannya, tatapan mata Zidan begitu dalam, baru saja ia menenangkan balita umur tiga tahun, sekarang ia harus menenangkan wanita dewasa berumur dua puluh lima tahun ini.


Zidan menyunggingkan senyum, ia usap air mata yang turun di pipi tirus Karina.


"kasih aku waktu, aku nggak punya alasan untuk menceraikan Inayah, mau bagaimana pun Inayah pernah mengisi hatiku, kasih aku waktu sebentar lagi" kalimat penenang yang berhasil membuat Karina berhenti menangis, Karina memeluk Zidan begitu erat, tanpa Zidan tau wanita itu tersenyum puas.


"kamu tenang aja sayang, aku akan bantu kamu mendapatkan alasan untuk menceraikan Inayah " gumam Karina di dalam hati seraya menghapus air matanya.


"Aku sayang kamu"

__ADS_1


"aku juga sayang banget sama kamu, Rin"


Keduanya berakhir dengan malam panjang yang melelahkan, seakan waktu seminggu yang mereka habiskan bersama belum cukup untuk bersenang-senang.


__ADS_2