
"DARI MANA GUE BILANG!!" bentakan kedua setelah sekian lama kembali terdengar, ku lihat sorot mata Zidan yang begitu tajam, Aska yang ada di gendongan ku bangun karena terkejut dengan suara Zidan, ku rasakan Aska mengeratkan pelukannya di leherku, Aska juga sembunyikan wajahnya di celuk leher ku.
"zi, a--aku---"
"BERANI LO PERGI TANPA IZIN DARI GUE, INAYAH" debar jantungku sudah tidak bisa lagi terkontrol, bentakan yang Zidan keluarkan membuat kepalaku berdenyut, anak ku yang ketakutan pun menangis.
"a--aku sudah bilang sama kamu zi, aku sudah ijin, tapi kamu---" lagi lagi ucapan ku di potongnya, aku seakan tidak di ijinkan untuk membeli diri.
"DASAR PEMBOHONG"
"aku nggak bohong, zi" aku mencoba menyentuh lengannya, tapi Zidan langsung saja menepis.
"JANGAN SENTUH GUE, BANGSAT!!" Kini aku pun ikut menangis, zidan keterlaluan sekali, Kalimatnya begitu kasar dan menusuk hati, kenapa dia Setega itu.
"aku Minta maaf, zi, kayaknya kamu lelah, istirahat zi, aku juga mau istirahat" demi tuhan, kepala ku sakit, aku tidak bohong, aku tidak ingin berdebat lagi dengan zidan, aku geret koperku berniat pergi dari sana, tapi sepertinya keputusan ku itu salah, Zidan semakin Murka kerena merasa aku abaikan, koperku di tendangnya, aku yang sudah lelah hampir saja terjatuh jika tidak berpegangan pada tembok.
"Zidan!!" aku reflek membentak, bukan hanya aku yang hampir jatuh, tapi Aska juga, ada apa dengan Suami ku ini, ya tuhan. Zidan melangkah mendekat, secara paksa zidan mengambil alih Aska dari gendongan ku, Aska semakin menjerit-jerit ketakutan, akupun berusaha mempertahankan Aska, tapi apalah daya, kekuatan ku tidak seberapa di bandingkan dengan zidan, aku menjerit saat dengan tidak punya hatinya, zidan melempar anakku ke sofa
"ZIDAN!!!" satu tamparan ku mendarat di wajah Zidan, dadaku naik turun, setan apa yang sudah merasukinya, Sampai tega berbuat kasar pada darah dagingnya sendiri. Zidan tidak terima dengan apa yang aku lakukan, ia Juga melakukan hal yang sama, kini aku merasakan amis di bagian sudut bibirku sebelah kiri, darah segar ikut menetes keluar dari rongga hidungku. secara berantakan aku tidak tau bagaimana bentuk wajah ku sekarang, aku dengan segera mengusap darah itu dengan punggung tangan ku.
"ma--maaah!!" Aska mendekat dan memeluk kedua betis ku, wajah anak ku sudah sembab, aku ingin mengendong Aska, kembali zidan menarik kasar tubuh kecil yang baru saja sembuh itu dengan kasarnya,
__ADS_1
"ZIDAAAAN!!!" aku menarik lengan Zidan untuk melepaskan putraku, tapi kembali dengan tenaga yang ia punya, Zidan dengan gampangnya membuat aku tersungkur ke belakang, begitu juga dengan Aska.
aku berusaha untuk bangun, sakit sekali rasanya melihat anak ku di perlakukan dengan begitu kasar, kepalaku berdenyut hebat, belum lagi sudut bibirku yang berdarah mulai terasa perih.
"DASAR ISTRI NGGAK GUNA!!! SUAMI PULANG DARI KERJA BUKANNYA ADA DI RUMAH, INI MALAH PERGI TANPA IJIN DARI GUE" aku yang ingin bangun tadi tersungkur kembali karena Zidan menendang betis ku, Aska memekik keras, ia merangkak menghampiri aku, memeluk ku begitu erat, seakan ia jadikan tubuh Kecilnya itu sebagai tameng untuk ku.
"berhenti, jangan pukul mama Aska, berhenti!!!" jerit Aska.
"pukul Aska saja, mamah sakit, hidungnya berdarah, berhenti memukuli Mamah, Aska Mohon " ku peluk erat tubuh anak ku yang bergetar hebat itu.
"SIALAN!!" meja yang ada di sebelah kiri Zidan pun menjadi pelapisan emosinya, meja itu di tendang hingga pecah.
"brak!!" suara pintu yang di banting oleh Zidan, tanpa mengatakan apapun, Zidan pergi dari rumah, Aku bangun dan duduk bersila, Aska masih memeluk ku. ini pertengkaran kami yang terhebat, setelah lima tahun menikah. Zidan tidak pernah marah separah ini, ia tidak pernah melayangkan tangan padaku, tapi malam ini, aku seakan menyaksikan seseorang yang berbeda, Zidan yang asing, bukan Zidan yang ku kenal.
wajahku di tampar, betis ku di tendang, itu bukan masalah, mungkin aku yang memang salah karena tidak ada di rumah saat dia pulang, tapi saat anak ku di lemper secara kasar di hadapan kedua mataku, aku sungguh tidak akan pernah melupakannya.
"ma--mah"
"iya nak, mamah nggak papa sayang" aku longgarkan pelukan Aska, ke-dua tanganku mengatup pipi nya yang Mulai terlihat berisi itu.
"ada yang sakit? punggung Aska, kepala Aska, nggak papa nak" Aska menggeleng, air matanya masih mengalir, dengan sekuat tenaga, aku mengangkat tubuh Aska dalam gendongan, aku sekuat mungkin menahan sakit kepala yang begitu menyiksa.
__ADS_1
sesampainya di dalam kamar, aku meminta Aska untuk mandi, sedangkan aku menyiapkan tempat tidurnya.
selesai mandi, aku pakaikan baju yang lebih nyaman untuk Aska, ku baringkan anak ku ke tempat tidurnya, Aska tidak palingkan wajahnya dari memandangiku. tangan mungil itu terangkat menyentuh pipiku.
"pasti sakit ya mah?" ucap Aska dengan sedikit terbata-bata. Ku genggam tangan mungil itu dan menciumnya.
"nggak sayang, nggak sakit ko. sekarang Aska tidur ya, mamah temani Aska sampai tidur" Aska mengangguk dan langsung saja menutup matanya, kembali air mata ku yang sempat berhenti menetes itu kembali turun, aku cepat-cepat menghapusnya, tak ingin Aska melihat keadaan ku yang memilukan ini.
"tidur lah sayang ku, tidur lah anak ku, tidur lah buahhati ku, kesayangan ku" aku bersenandung dengan tenggorokan yang tercekat menahan sesak.
"heemm, tidur lah sayang ku, buah hati ku" ku gigit bibir ku, aku tak kuasa terus menahan Sesak sendiri, aku matikan lampu utama di kamar Aska dan memilih masuk ke dalam kamar ku, aku ingin berteriak sekencang-kencangnya, aku ingin bebaskan kerongkongan ku yang tercekat hebat, aku ingin tumpahkan segala rasa sakit hatiku seorang diri, aku ingin berteriak di hadapan Zidan, aku ingin memakinya, katakan Kalau aku begitu kecewa padanya.
....
keadaan ku sekarang jauh lebih baik, aku sudah mandi dan berendam cukup lama juga, rasa perih di pipi tidak terasa lagi, hanya bagian ujungnya saja karena sobek, kepalaku pun tidak terlalu sakit menyiksa lagi, aku minum obat pereda rasa sakit, dan Alhamdulillah, dengan izin Allah, berangsur rasa sakitnya berkurang.
aku kembali turun, ruang tamu begitu berantakan, meja berbahan dasar kaca itu pecah tanpa sisa, aku singkirkan dulu koper dan tas ku. setelah meletakkan tasku ke atas, aku kembali turun untuk membersikan kekacauan itu, takut ada yang terluka kakinya jika di biarkan.
aku mengira, Zidan duduk di luar menghirup udara segar, tapi nyatanya, Zidan pergi, entah kemana, mobilnya tidak ada di halaman rumah, mungkin ke rumah orangtuanya.
aku kebagian dapur, perutku lapar, aku menyeduh satu bungkus mi instan buatan Korea kesukaan ku, rasa pedas yang ada di bumbu mie itu mampu membuat pikiranku sedikit tenang.
__ADS_1