
semangkuk samyang sudah tersaji di hadapan ku, asapnya mengepul menimpa wajahku, aku hanya memandangi mie itu, entah pergi kemana rasa lapar yang tadi aku rasakan, semunya hilang berganti kan dengan rasa sesak di dalam dada, tangan ku sedikit bergetar saat sumpit yang ku pegang mencoba mengaduk samyang.
aku tersentak saat tiba-tiba Seseorang sudah memelukku dari belakang, menenggelamkan wajahnya di celuk leherku kemudian berbisik serak.
"maafkan aku, Inayah, aku tidak bisa menahan emosi ku saat melihat mu datang, aku marah saat kamu pergi tanpa memberi kabar" aku menutup mata dengan rapat, genangan air mata keluar melalui celah mataku. sumpit yang ku genggam bahkan patah, anggap saja itu seperti hatiku yang di patahkan olehnya, di patahkan berkeping-keping tanpa sisa, di hempaskan tanpa ingin menetap lagi.
"Aya, maafkan aku Aya, maafkan zi" aku bergeming, ku hirup dalam udara dan ku hembuskan secara kasar, aku melepaskan pelukannya, aku tidak mengatakan apapun, aku beranjak mengambil sendok dan garpu, aku sedikitpun tidak menatap atau sekedar melirik kearahnya.
"Aya..." dia memanggilku dengan suara yang begitu lirih, aku kembali duduk dan dengan sangat amat berat berusaha mengunyah mie ku, kembali Zidan memeluk ku, tapi pria itu hanya diam, entah apa yang ada di dalam kepalanya setelah semua kemurkaannya yang gila beberapa jam yang lalu.
"aku nggak maksud kaya gitu, Aya. aku emosi, kamu nggak ada kabar satu minggu, aku takut kamu pergi" semakin dia bicara, semakin Sesak rasanya, semakin tercekat tenggorokanku, tak sanggup aku berucap sepatah katapun. mie yang ada di dalam mangkok tak bisa ku habiskan, aku berdiri tanpa menyingkirkan tangannya yang melingkar di pinggangnya ku, ia merasakan aku yang bergerak dan melepas tangannya. ku cuci mangkok itu secepat mungkin, aku ingin segera beristirahat dan mungkin akan membicarakan ini nanti, setelah hatiku siap.
Aku melangkah pergi meninggalkan dia yang terus memanggil namaku.
"Inayah" kali ini Zidan mencekal pergelangan tangan ku, aku berusaha menyingkirkan tangannya, tapi apalah daya, kekuatan ku mana sebanding dengan dia.
"aku lelah, kamu pasti juga lelah, kan? tidur lah, aku tidak ingin membahas ini dulu" sekali tarik aku berhasil melepaskan tangan ku dari cengkramanya, aku membuka pintu kamar Aska.
"kenapa tidur di sana, tidur di kamar kita Aya, aku rindu" aku tidak peduli, aku ingin istirahat dengan tenang malam ini, tanpa ada pembicaraan mengenai pertengkaran hebat tadi, pertengkaran yang bukan hanya menyakiti aku, tapi anak ku juga.
Pintu kamar ku tutup, meskipun kembali Zidan tahan.
"please, tidur di kamar Aya" ku singkirkan tangannya dan segera menutup pintu, ia kembali menahan, ku dengar Zidan mengerang prustasi di luar sana.
Saat pintu tertutup, aku merosot di balik pintu, ke-dua kakiku terlipat di depan dada, tangan ku membekap mulut ku agar suara tangisan ku yang menyiksa tidak mengganggu Aska.
__ADS_1
"ya Allah, sakit" ucap ku begitu lirih, ku tarik nafas yang tercekat di kerongkongan. Ku tenang kan dulu diriku sebelum bergabung dengan Aska di atas tempat tidur.
merasa jauh lebih baik, aku berusaha berdiri dengan menumpukan tangan di tembok kamar Aska, aku berjalan gontai menuju tempat tidurnya.
Selimut Aska yang bergambar Doraemon itu cukup besar, aku juga bisa menggunakannya, ku usap kening anakku dan menciumnya. Teringat lagi saat Zidan dengan teganya mengangkat Aska dan melempar Aska ke sofa, bahkan Zidan menendang Aska yang membuat anak ku menjerit ketakutan, ibu mana yang tidak sakit hati saat anaknya di sakiti, itupun dengan papahnya sendiri.
Aku yang mengandungnya Selama sembilan bulan, membawanya kemanapun aku pergi, mengasihinya hingga usia dua tahun, tak pernah sekalipun aku meninggikan suara ku di hadapan Aska, tapi Zidan dengan teganya menyakitkan anak ku, apa ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya waktu itu, ia meragukan anak ku, meragukan darah dagingnya sendiri, apa sikap kerasnya selama ini bukan karena Zidan ingin membuat Aska mandiri, tapi karena Zidan tidak menyayangi Aska.
"sayang, kamu lahir karena cinta, Aska hadir karena kasih, walaupun papah kamu meragukan cintanya, tidak mengurangi sedikitpun rasa cinta mamah padamu nak, mamah sayang Aska selamanya"
Aku masih berusaha untuk tidur, aku berharap apa yang terjadi tadi hanyalah mimpi buruk ku saja, tapi nyatanya saja itu sungguh terjadi, tangan Zidan pertama kali mendarat mulus di pipi ku, untuk pertama kali Zidan melampiaskan amarahnya dengan tangan bahkan kakinya, menghina ku begitu rendah, bahkan di hadapan anak kami Aska.
Ketukan pintu yang cukup kasar sedikit membuat ku tersentak, begitu juga dengan Aska, tapi Aska segera tidur lagi setelah ketepuk- tepuk bokongnya.
"Inayah!!" gedoran pintu semakin keras, Aska juga mulai terusik, aku segara membuka pintu, saat aku berada tepat di depan Zidan, tangan ku langsung ditarik masuk kedalam pelukannya, pelukannya begitu erat, Zidan bergumam kata'maaf' secara berulang, aku tidak membalas pelukannya, tangan ku terkepal erat.
"maafkan aku, maaf"
"sudah jam satu malam Zi, kenapa belum tidur, besok kamu harus kerja" Zidan melonggarkan pelukannya, pandangan kami beradu, ke-dua telapak tangannya menangkup wajahku, ibu jarinya mengarah dan mengusap sudut bibirku, aku meringis saat Zidan menekannya.
"akkh, sakit Zi" wajahnya memelas, tangan ku di genggamnya, aku di tuntun untuk masuk kedalam kamar, betapa terkejutnya aku melihat kamar yang sudah seperti kapal pecah, berantakan, baju baju yang ada di dalam lemari berserakan kemana-mana, barang-barang ku dan barang miliknya yang ada di atas meja bertebaran entah kemana, gorden penutup jendela lepas semua, yang membuat aku lebih terkejut saat melihat cermin meja riasku pecah.
"Zidan!" Ku raih tangannya, punggung tangan Zidan di penuhi beling-beling kecil yang menancap, darah dari punggung tangannya mulai ada sebagian yang mengering.
"Ada apa dengan Kamu Zidan, kamu melukai diri kamu sendiri " Zidan menggeleng dengan tatapan sendu, penuh dengan rasa bersalah.
__ADS_1
"tangan ini" Zidan menatap tangannya, kemudian menatap aku.
"tangan ini yang sudah nyakitin kamu, Aya. Tangan ini yang sudah buat bibir kamu luka, tangan ini pantas untuk sakit juga" aku menggeleng, ku genggam erat tangan kanan zidan yang luka karena kebodohannya itu.
"jangan Zi, jangan kaya gini, aku nggak mau lihat kamu terluka lagi, Zidan" air mata ku yang menetes segera Zidan usap dengan ibu jarinya.
"jangan menangis lagi, maafkan aku, maaf" aku tidak kuasa menahan tangis, aku mendekat dan memeluknya, Zidan menumpukan dagunya di atas kepalaku, menciumnya berkali-kali dengan terus bergumam kata maaf.
"maaf"
"maafkan aku, maafkan aku Aya" aku mengangguk tanpa ragu, baju bagian belakang Zidan ku cengkram dengan kuat, seakan aku sedang menyalurkan rasa sakitnya di sana.
"aku--- aku takut kamu pergi, aku takut kamu menghilang, aku nggak ada dapat kabar kamu, sayang, rasa kawatir itu berubah menjadi marah, maafkan aku"
"aku sudah maafkan kamu Zi, nggak ada yang perlu di sesali, semuanya juga sudah terjadi, aku nggak mau lihat kamu terluka lagi, aku sayang kamu, aku sayang Aska, aku nggak mau kalian terluka" zidan mengeratkan pelukannya. Walaupun samar, aku bisa mendengar suami ku menangis, ia begitu menyesali perbuatannya.
"aku janji nggak akan gini lagi, aku janji" aku hanya bisa mengangguk di dalam pelukan Zidan.
Sepertinya ada yang perlu di luruskan dalam permasalahan kami berdua, ada yang salah di sini, kenapa Zidan selalu mengatakan kalau aku tidak memberi kabar, aku sudah dengan jelas meminta ijinnya, pesan ku itupun sudah di baca Zidan, aku mengira zidan mengabaikan pesan ku karena kesibukannya, tapi kenapa pesan itu seakan tidak pernah sampai di tangan Zidan. ada yang salah di sini.
Akan aku tanya besok saat kondisi kami bertiga sudah jauh lebih baik, sekarang aku dan Zidan perlu menenangkan diri dulu, juga merapikan kekacauan kamar yang sudah seperti kapal pecah.
hey ges mau curhat, sebenarnya aku tadi tu mau hapus cerita ini secara permanen dan berhenti menulis di aplikasi ini sementara, karena mood ku hilang setelah melihat bagaimana peraturan baru Novel toon. di mana peraturannya sangat amat memberatkan aku sebagai penulis kelas rendah, tapi setelah ku pikir kan lagi, aku tidak jadi menghapusnya di karenakan tulisan ini sudah di kontrak, dan aku bertanggung jawab untuk menyelesaikan tulisanku ini.
jadi aku mohon banget sama kalian untuk kasih vote dan dukungan kalian di ceritaku Jika memang kalian Suka dan menunggu kelanjutannya, hanya itu harapan ku sebagai penulis kecil ini.
__ADS_1