Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
Pangadilan agama


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu, hari ini aku akan menghadiri sidang terakhir kasus perceraian ku dengan Zidan. Aku berdiri lama di depan cermin riasku, aku tidak tau apa yang terjadi, tiba-tiba saja aku mendapatkan panggilan untuk melakukan persidangan pertama, sepertinya Zidan sudah menandatangani surat perceraian itu, ah... Aku tidak ingin ambil pusing, sekarang aku hanya ingin fokus dengan hidup ku sendiri dan hidup anak-anak ku.


"Dua belas tahun kita di kalahkan oleh perempuan yang mengaku sebagai sahabat kamu Zi. Aku sungguh tidak percaya dengan takdir kita, aku kira kita akan hidup bahagia selamanya hingga surga, tapi nyatanya aku salah, kamu tega sekali menduakan cinta kita, kamu hadirkan dia di tengah kebahagiaan kita. Aku sudah pernah katakan jika kamu lelah dan merasa bosan jujurlah dengan ku, kita bisa bicarakan dan cari jalan keluarnya sama-sama, bukan seperti ini seharusnya, kamu sembunyikan dia selama bertahun-tahun di belakang aku" Aku menunduk dalam, kedua tangan ku semakin mencengkram erat meja rias di depan ku. Aku pun tidak pernah menginginkan hal ini, aku menyayangi suamiku, aku mencintainya setulus hatiku, tapi apa boleh buat, dia tidak pernah menginginkan hal yang serupa.


"Inayah" ku hapus cepat air mataku saat suara Khansa terdengar.


"Inayah ayo cepat, jangan sampai telat, Aska sudah geu titipkan sama orang tua gue dirumah" teriak Khansa dari luar.


"iya sebentar, ini tinggal pasang kerudung aja ko" bergegas ku pasang pasmina ku, ku samarkan mata yang bengkak dengan makeup, semalaman aku menangisi keputusan ini, menangisi rumah tangga impian ku yang sekarang sudah ada di ambang kehancuran.


"Ayo" ajak ku setelah keluar


"ayo"


.....


Saat ingin masuk kedalam, aku berpapasan dengan Zidan, ini kali pertama Zidan ikut menghadiri persidangan, pandangan kami bertemu, gemuruh di di dalam dada ku akui karena kerinduanku padanya, aku sedikit menunduk menatap tangan wanita lain yang mengapit lengannya.


"Aya.." ku tutup mata ku kala panggilan lembut itu terdengar.


"Ayo sayang, aku pengen cari susu, nanti anak kamu ngeces lagi" Wanita gatal di samping suami ku...eh larat, sebentar lagi akan menjadi mantan. Wanita itu sengaja melambaikan suaranya, sepertinya aku ingin sekali menjambak rambutnya.


Ku akui Zidan hebat, dia membuat ku hamil bersamaan dengan hamilnya wanita itu. Aku ngeri sendiri jika membayangkan setelah Zidan meniduri wanita itu lalu dia pulang dan meniduri ku, astaga... Zidan juga gatal ternyata.


"Inayah ayo masuk, malas gue di sini, nggak baik untuk kesehatan mata" ucap Khansa ketus dan menarik tangan ku masuk kedalam ruangan, bahuku sedikit menyenggol bahu Zidan.

__ADS_1


.....


Palu hakim terdengar, kini mereka berdua telah sah berpisah, Inayah terus menatap kosong kedepan, kepalan tangannya mengerat membuat urat-uratnya menonjol.


Zidan yang duduk di sampingnya menoleh menatap wanita itu, saat sidang di tutup, Karina dan Dewi segera menghampiri Zidan, membawa Zidan pergi dari sana.


"Ayo sayang kita pulang" ucap Karina. Fakhri dan khansa pun mendekati Inayah, Khansa bantu sahabatnya itu untuk berdiri.


"ayo Aya, kita pulang, Aska sudah menunggu di rumah" Inayah bergeming, tatapannya masih kosong, kedua mata sayu itu mulai berkaca-kaca.


"rumah tangga gue sungguh sudah berakhir?" gumam Inayah pelan menghentikan langkah mereka, Inayah menoleh pada Khansa.


"Sa, ini mimpi kan, gue mimpi kan, pukul gue Sa, pukul gue, gue mau bangun Sa, gue mau bangun, mimpi ini terlalu menyeramkan untuk gue, gue nggak sanggup Sa" Inayah terduduk bersimpuh di lantai, Khansa memeluk tubuh rapuh begitu erat.


"Aya..." lirih pria itu, lengannya di tarik Karina untuk melangkah lagi.


....


Selasai, semuanya berakhir, aku sudah tidak memiliki tempat pualang lagi selama di Jakarta, aku butuh orang tuaku, aku butuh pelukan hangat mamah, aku butuh bahu papah ku untuk bersandar.


Selama proses perceraian, aku sengaja tidak memberitahu mereka, aku tidak ingin membuat mereka kawatir, aku kira aku akan kuat sampai akhir, tapi nyatanya aku butuh mereka untuk mengadu


Dan sudah ku putuskan untuk pulang ke kampung halaman, akan ku ceritakan tentang aku dan zidan, bagiamana pun mereka berhak tau mengenai keadaan Ku, tentang anak mereka yang sekarang sudah menjadi janda.


Aku juga butuh menenangkan diri, aku tidak ingin terjadi hal buruk lagi pada kandungan ku, satu hari setelah sah bercerai, aku stress berat, yang berakibat dengan pendarahan hebat.

__ADS_1


Hari ini aku akan terbang ke Kalimantan, semua barang bawaan ku sudah selesai ku kemas, aku tidak ingin tinggal lebih lama di kota penuh kenangan ini, aku tidak ingin wajah Zidan terbayang lagi di kepalaku, aku ingin mengubur semuanya tentang dia, aku ingin memulai hidup baru, dan aku berjanji akan hidup lebih baik bersama kedua anak-anak ku.


"Mamah, kita mau kemana?" aku mengusap kepala anak ku.


"kita pulang kerumah Nenek Farah dan Kakek Ali" Ucap ku semangat, aku tidak ingin tunjukan kesedihan ku di depan anak ku. Aska berteriak girang.


"yeeyyyyy" aku tersenyum singkat.


"Aska senang?" Aska mengangguk dan berpindah duduk di pangkuan ku.


"Aska senang sekali mamah. Mah, papah nggak ikut?" Aku tertegun mendengar pertanyaan anak ku, Aska masih terlalu kecil untuk memahami apa yang terjadi dengan kedua orangtuanya.


"Papah nggak ikut, kita pergi berdua aja nak, oh iya sama adek bayi dalam perut mamah juga" aku arahkan tangan mungil anak ku ke atas perut ku yang mulai nampak menonjol.


"Aska seneng kan nak?"


"Aska seneng sekali mah, Aska juga nggak suka kalau papah ikut, nanti papah bikin mamah nangis lagi" ku peluk anak ku dan mencium pucuk kepalanya.


"Anak mama pintarnya. Sayang, mulai dari sekarang jangan pernah mencari papah lagi ya nak, kita akan tinggal jauh dari papah, kita akan hidup bahagia dengan adik bayi" Aska mengangguk tanpa ragu.


"iya mah, Aska janji"


Selasa sudah hubungan ku dengan Zidan, dua belas tahun penuh kenangan kini harus ku kubur dalam bersama kesedihan. Aku tak ingin lagi menangisi pria brengsek itu, aku harus berdiri tegak di atas kedua kakiku sendiri, akan ku buktikan pada mereka yang merendahkan ku, jika aku bisa hidup baik tanpa mereka, dan kuharap mereka tetap hidup bahagia di atas semua hal yang mereka lakukan padaku.


Hingga suatu hari nanti mereka akan menyesali semuanya. Ku harap kan semua pada sang maha kuasa. Aku tidak menuntut hak apapun untuk putra ku, mamahnya Zidan tetap bersi keras Jika anak ku bukan keluarga mereka, mereka tidak ingin Zidan menafkahi anaknya, aku tidak masalah, aku juga tidak menginginkan hal itu, aku tidak ingin berhubungan lagi dengan mereka.

__ADS_1


__ADS_2