
Inayah POV
"Maafin mamah ya nak, kamu pasti takut ya sayang" Ku rapikan rambut anak ku yang berantakan, wajah anak ku sembab, matanya bengkak, aku tak kuasa menahan air mataku di depan putraku, pengkhianatan yang Zidan lakukan bukan hanya mulukai aku sebagai istrinya, tapi melukai putra semata wayang kami juga.
Ku dorong kasar tangan Zidan saat ingin menyentuh anak ku, tidak ku biarkan ia menyentuh anak ku.
"SUDAH KU KATAKAN JANGAN SENTUH ANAK KU!!" ku tatap nyalang Zidan, air mata yang keluar di matanya hanyalah air mata buaya, semuanya palsu, semunya bohong.
"Inayah... aku mohon tenang dulu, dengerin penjelasan ku"
"penjelasan apa yang kurang jelas, Zidan! Penjelasan apa yang ingin kamu perjelas! semuanya sudah jelas, kamu selingkuh! kamu selingkuh dengan sahabat kamu sendiri, kamu MENGKHIANATI AKU! kamu rusak kepercayaan ku, kalian menjadi keluarga bahagia di bawah penderitaan ku!! penjelasan apa yang ingin kamu perjelas Zidan! Apa Zidan!" Aska menangis histeris lagi, ia memelukku dengan begitu erat, aku sebenarnya tidak ingin berteriak di depan anak ku, tapi sungguh aku tak kuasa menahan emosi dan suara ku di depan Zidan, pria brengsek sialan ini.
"Aku akan menggugat cerai, kita akan berpisah, bagiku tidak ada kata maaf untuk pengkhianatan, dan kamu tau betul aku paling tidak suka di khianati" ucap ku tegas seraya menunjuk Zidan dengan tatapan nyalang, ku harap dia mengerti ucapakan ku.
"Aku nggak mau kita bercerai!! Aku nggak mau kita pisah Inayah! Aku nggak mau" Aku tertawa sumbang, menertawakan ucapan Zidan yang seakan takut kehilang aku tapi nyatanya ia sudah melepaskan aku semenjak ia putuskan untuk menikahi sahabatnya sendiri. Ku sibak rambut ku yang sudah tidak beraturan itu kebelakang karena aku kesulitan melihat wajah pria tukang selingkuh di depan ku.
"Jangan katakan hal yang tidak pernah kamu Inginkan Zidan " aku berucap datar, tangan ku terus mengusap punggung anak ku yang masih bergetar.
"Aku bersungguh-sungguh dengan ucapan ku Inayah, aku nggak mau kita pisah, aku nggak bisa tanpa kamu dan Aska"
"KALAU KAMU NGGAK BISA KENAPA KAMU MENIKAH DENGANNYA " ku tunjuk Karina di ambang pintu bersama orang tua Zidan dan adik ipar ku Al Birru.
"KENAPA KAMU MENGHAMILI DIA!!! KENAPA KAMU TIDUR DENGANNYA, KENAPA KAMU MENEMANINYA BELANJA! KENAPA KAMU BERTAHAN DENGANNYA SEJAUH INI ZIDAN!! Kenapa Zi kenapa? " aku terisak di depan orang-orang jahat ini, satu keluarga yang telah memberi luka teramat dalam di hati, ku pukuli dada Zidan berulang kali, hingga ia tahan pergelangan tangan ku dan memeluk ku kembali dengan posisi Aska di tengah, suara ku tertahan karena wajah ku tepat berada di depan dadanya.
"Maaf Aya maaf.."
"kena Zi... kenapa kamu tega sama aku Zi?"
"maaf maaf Aya maaf"
Hening, tidak ada yang terdengar lagi, hanya suara tarikan nafas Zidan yang aku dengar, beserta suara lirihan ku. Tapi keheningan itu hanya bertahan beberapa menit saja sebelum terdengar suara dari mamahnya Zidan.
__ADS_1
"Zidan, pulang!, Nesha menangis mencari mu" mata ku yang sempat tertutup karena terlalu lelah mengamuk seketika terbukti mendengar suara itu. Perlahan ku jauhkan wajah ku dari dada Zidan, ku lirik sesaat mereka berempat yang memasang wajah berbeda-beda dari ambang pintu kamar yang sudah seperti kapal pecah ini.
Ku singkirkan tangan Zidan dari tubuhku, ku cari hijab yang entah ada di mana untuk menutupi kepala ku, di depan sana ada Birru adik ipar ku, dia bukan mahram ku, aku tidak ingin dia melihat sesuatu yang tidak seharusnya nampak dari tubuh ku. Zidan di pengkhianat ini sepertinya sadar dengan gerak gerik ku, dia berusaha menutupi ku agar tidak terlihat, sedangkan aku masih mencari-cari di tumpukan baju yang sebelumnya aku hamburkan, untungnya ada hijab instan panjang yang bisa aku gunakan.
"Pergi lah Zi, temui putri tersayang mu itu, aku akan segera mengurus surat perceraian kita" tangan ku di genggamnya lagi, Zidan menggeleng.
"Jangan Aya, aku mohon jangan, aku nggak mau kita pisah"
"maaf, aku pun tidak bisa terus bersama dengan pria yang sudah menghianati aku Zidan, pria yang bahkan tidak memiliki pendirian dalam hidupnya" Aku berusaha berdiri dengan pertumpu pada pinggiran tempat tidur, meskipun sulit aku tetap berusaha menggendong Aska yang badannya sudah tidak seringan dulu lagi.
"Astaghfirullah" Aku beristigfar saat kurasakan nyeri di bagian perut bawahku, ada apa dengan perut ku kenapa sakit sekali, apa aku? aku menggeleng menyingkirkan kemungkinan itu.
"Aya kamu kenapa?" ku tepis tangan Zidan yang ingin kembali menyentuh ku.
"Jangan menyentuh ku lagi Zidan, kamu sudah tidak memiliki hak menyentuh ku semenjak kamu memilih untuk menikahi perempuan gatal itu" aku berucap datar tapi terdengar menantang, aku menunjuk ke arah Karina.
"Tutup mulut mu Inayah" ternyata Karina di terima baik oleh keluarga Zidan, tidak heran sih , Karina anak orang kaya, sedang aku tidak, terlihat sekali mamah nya Zidan tidak suka saat aku menyebut menantunya itu perempuan gatal yang minta digaruk oleh suamiku
"kenapa? Anda tidak suka menantu anda itu saya sebut wanita gatal, wanita gatal yang minta di garuk oleh putra anda yang begitu ramah ini. Mereka berdua sangat cocok nyonya" ku tatap secara bergantian wajah Zidan dengan Karina sebelum melanjutkan ucapannya ku.
"Sayang, ayo pulang, Nesha mencari kamu sayang" ku buang pandangan ku ke arah samping dan ingin melangkah pergi, tapi kembali pergelangan tangan k ku di tahan Zidan, aku menoleh melihat Zidan melepaskan tangannya dari istri gatalnya itu.
"Jangan pergi aku mohon" Zidan berucap lirih.
"Zidan! biarkan perempuan itu pergi, itu lebih baik untuk hubungan kamu dengan Karina, nak" Ku lirik Zidan yang hanya diam saja menetap ku.
"Mamah benar sayang, biarin perempuan ini pergi, toh bukan kamu juga kan yang minta... dia juga kan yang ingin pergi yaudah silahkan" Zidan menoleh menatap Karina dengan tajam.
"Aku selesaikan permasalahan ku dengan istri ku, baru aku selesaikan hubungan kita" Zidan berucap tegas, terlihat jelas wanita dengan baju teramat terbuka di depannya itu shok, begitu juga dengan mamahnya.
"KAMU NGOMONG APA ZIDAN! JANGAN NGASAL KAMU NGOMONG"
__ADS_1
"Zidan serius mah! Zidan akan---"
"ZIDAN! INGAT AKU SEDANG HAMIL ANAK KAMU ZIDAN, TEGA KAMU MENINGGALKAN AKU" Aku tertawa sumbang, ternyata perempuan ini sedang hamil, ini yang katanya tidak Cinta, tapi mengahamili sampai dua kali, terpaksa apa doyan.
"Katanya tidak Cinta, katanya terpaksa, tapi nyatanya di buat hamil dua kali. Apa karena terlalu menikmati hubungan gelap itu sampai mampu menghamili wanita gatal ini Zidan?"
"INAYAH" Tangan Karina mengambang di udara saat ingin melayangkan tamparan di wajah ku, Zidan yang menahan tangannya
"Jangan pernah berani menyentuhnya, Karina" Aku sepertinya ingin sekali tertawa di depan Zidan ,tapi aku lelah, lelah sekali rasanya, lucukan Zidan ini.
"kenapa Zidan? Biarin aja kali, toh sakitnya juga tidak seberapa kan"
"kamu harus memilih Karina Zidan! biarkan wanita itu pergi, akhiri hubungan kalian" mamahnya Zidan berucap lagi.
"tidak perlu memilih, nyonya Dewi Narendra terhormat, karena saya bukan pilihan, saya juga tidak sudih bersaing dengan perempuan gatal perusak rumah tangga orang lain" ku tatap remeh Karina.
"kau menginginkannya sejak lama kan? ambil lah, ku sumbangkan suka rela untuk mu" satu sudut bibir ku terangkat, tidak sama sekali aku merendah diri di depan manusia-manusia angkuh ini.
"Ambil lah, miliki sepuas yang Lo mau, dan satu hal yang Lo harus ingat" ku lepaskan tangan ku dari cengkraman tangan Zidan, aku sedikit melangkah maju mengikis jarak dekat pelakor, ku arahkan jari telunjuk ku di depan wajahnya.
"Di dunia ini ada yang namanya karma, Lo sudah merusak rumah tangga wanita lain, lo renggut kasih sayang orang tua untuk anaknya, gue pastiin... Lo akan menerima ganjarannya, Karina" Tatapan kami beradu sengit, aku melengos pergi tidak peduli dengan pecahan kaca yang mengiris telapak kaki ku.
"Inayah tunggu Inayah" terik Zidan tegas. Aku berhenti lagi di depan kedua orang tua Zidan, di belakang mereka sudah ada adik ipar ku yang berkaca-kaca matanya.
Aska di gendongan ku arahkan wajahnya di depan mereka, di depan Kakek neneknya yang tidak pernah mengakuinya.
"lihat lah wajah cucu laki-laki kalian untuk terakhir kalinya, cucu yang tidak pernah kalian akui karena terlahir dari perempuan yang tidak setara dengan kalian. Lihat matanya yang begitu mirip dengan anak kalian yang BRENGSEK itu, lihatlah! Ku pastikan kalian tidak akan pernah bisa menemuinya suatu hari nanti, pegang ucapan ku dan ingat baik-baik... Ku pastikan kalian akan menyesali perbuatan kalian, ku pastikan itu!" aku sedikit menabrak bahu mamahnya Zidan dengan senagaja, tangan ku di tahan Birru, aku tidak berpaling menatapnya.
"Ka... jangan pergi, gue mohon "
"Lo orang baik Biruu, makasih atas semua cinta yang Lo kasih untuk Aska, dan maafin gue" aku berjalan menjauh, Zidan terus berteriak memanggil nama ku, aku tau dia di tahan oleh ketiga manusia di sana.
__ADS_1
Air mata yang kembali jatuh, ku hapus dengan kasar, aku berjalan dengan kepala terangkat , tidak ada satupun barang yang aku bawa dari rumah milik Zidan kecuali putra ku Aska.
Semuanya sudah selesai, hubungan ku dengan Zidan telah berkahir, dan akan ku resmikan segera di pengadilan agama.