Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
Sah


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kaminnya Inayah Permata sari binti Ali Rahmani dengan seperangkat Alat Sholat di bayar tunai"


"Sah para saksi?"


"sah" ucap mereka yang ada di sana. Kelegaan tergambar jelas di raut wajah Tama yang baru saja selesai mengucapakan Kabul atas Ijab dari orang tua Inayah. Begitu juga dengan Inayah yang ada di dalam kamar dengan di temani Farah, Khanza sahabatnya, sedangkan orang tua Tama tidak ada, mereka sudah berpulang ke sisi tuhan.


"setetes air mata dengan segera Farah usap di pipi Inayah.


"Mah..." ucap Inayah lirih, Farah menggangguk seraya mengusap punggung anaknya.


"Bismillah nak, bismillah"


"senyum Aya, Lo nikah ko malah nangis, kaya anak gadis umur dua puluhan aja Lo. Gue percaya dengan Tama ketimbang mantan laki Lo yang brengsek itu" Inayah memukul pelan Khansa yang mulutnya tidak bisa di rem itu.


"Khansa ih mulutnya" omel Inayah. Melihat kedekatan dan perdebatan Inayah dan khansa, Farah hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"kalian ini bertengkar aja terus" Inayah memanyunkan bibirnya.


"mamah cantik sekali, Ziya mau di dandanin seperti mamah juga" gadis cantik yang sudah di biasakan menggunakan hijab sedari kecil nampak kagum dengan sang mamah yang di hias cantik di hari pernikahannya. Inayah mengusap pucuk kepala sang putri.


"suatu hari nanti, Ziya juga akan di dandani cantik seperti mamah, nak" Farah yang berucap.


"Inayah" mereka yang ada di ruangan itu serentak mengangkat kepala, di depan pintu sudah ada Tama yang datang untuk menjemput Inayah yang sekarang sudah sah menjadi istrinya. Debaran hari Inayah tidak dapat di bendung lagi, wanita itu kembali menundukkan kepala menghindari bertatapan dengan Tama.


"iya nak, ini istrinya sudah sip" Tama berjalan mendekat, Inayah yang sudah gugup mencengkram lengan kecil Ziya tanpa sadar.


"aw mah, sakit" keluh Ziya, Inayah merasa bersalah, di usapnya lengan kecil itu.


"maafin mamah ya nak" Ziya mengerucutkan bibirnya kesal.


"Ayo Tam, cepat, sahabat gue bisa-bisa bikin nangis anaknya kalau Lo lebih lama datang membawanya keluar" mereka tertawa mendengar celetukan Inayah, kecuali Inayah dan kedua anaknya yang tidak mengerti maksud Khansa.


"Ayo" Inayah meletakkan tangannya di atas tangan Tama, Tama bisa rasakan dinginnya telapak tangan lembut Inayah.

__ADS_1


"kamu gugup, tangan kamu dingin banget"


"i--iya" Jawab Inayah jujur.


"Santai saja Inayah"


....


"Tambah lagi" Fakhri dan Rifqi saling tatap, tapi Rifqi tetap menuangkan minuman ke gelas Zidan, pria itu mulai kehilangan kesadarannya.


"Lagi" ucap Zidan dengan Kapala menunduk, kali ini Fakhri melarang Rifqi untuk menuangkan minuman ke gelas zidan, ini sudah hampir habis satu botol, zidan habiskan sendiri, mereka berdua tidak ada yang minumannya. Zidan pun tidak pernah minum, pertama kali dia minum ya saat cemburu buta dan berakibat fatal, dan ini yang kedua kalinya, saat ia harus merelakan Inayah menikah lagi dengan Pria lain, pria yang juga menjadi penyebab dirinya cemburu buta.


"Lagi Rif" kali ini Zidan mengangkat kepalanya menatap Rifqi yang belum juga menuangkan minuman ke gelasnya. Kedua matanya sudah memerah, nampak basah di bagian ujungnya


"LAGI!" bentak Zidan sambil menggebrak meja.


"LO GILA" Fakhri tidak kalah tinggi, ia juga menggebrak meja dan berdiri di depan Zidan


"LO MAU MATI! TOLOL YA TOLOL AJA, BEGO YA BEGO AJA, BANGSAT! JANGAN BUNUH DIRI!" Fakhri rebut secara paksa gelas kecil dari tangan Zidan, pria itu ingin berdiri tapi ia tak sanggup, Kepalanya berputar kesana-kemari, pria itu terduduk dengan mata terpejam.


"dasar bodoh, menyesal sudah nggak guna Zidan, Inayah sudah dapat pengganti yang lebih baik dari Lo" ucap Rifqi langsung ke intinya. Mereka dapat melihat kedua ujung mata sang sahabat yang terpejam mengeluarkan air matanya. Zidan letakkan lengan di atas wajahnya.


"Apa sih kurangnya Inayah Zidan, apa sih yang Lo cari dari perempuan lain, Sampai lo tega menghianati Inayah, wanita sebaik dan setulus Inayah" Zidan menggeleng lemah.


"Gue cinta sama Inayah, gue sayang sama dia, gue cemburu sampai melampiaskan kemarahan gue dengan meniduri perempuan lain..." ucapnya lirih.


"Gue nggak pernah ada niat untuk menghianati Inayah, gua sayang sama dia..." Rifqi dan Fakhri serempak tertawa, menertawakan ucapan Zidan barusan.


"kalau Lo sayang dan nggak ada niat... tapi kenapa Lo terusin Zidan, kenapa Lo terusin sampai bertahun-tahun, di mana letak Lo nggak ada niat, hm..di mana? Lo nggak niat sampai ke enakan" ucap Rifqi dengan nada mengejek.


"Gue juga nggak yakin anak yang menjadi penyebab Lo nikahin Karina itu anak Lo. Fakhri menatap Zidan serius, ia menyenderkan punggung dan melipat tangan di depan dada.


"Lihat aja kalau Lo mabuk kaya gini, Lo nggak berdaya Zidan, gimana caranya Lo bisa mengahamili Karina, yang ada Lo terbantai, gimana caranya Lo bisa nidurin tu cewek sampai bunting, ya ada elo yang di tiduri sama dia" Fakhri memainkan lidahnya.

__ADS_1


"Lo nggak curiga sama Karina Zidan, Lo nggak menyimpan rasa gitu kalau dia menjebak Lo buat nikahin dia, secara Karina ngejar-ngejar Lo terus" Mereka mengembuskan nafas panjang, sepertinya apa yang mereka bicarakan tidak akan di dengar Zidan, lihat saja sekarang, pria itu sudah jatuh membentur meja, kesadarannya hilang total. Ini yang Fakhri maksud, Zidan kalau mabuk mana bisa bangun lagi.


"Gini nih mau mengahamili Karina, baru satu botol habis dah terkapar"


"nih orang nggak bisa minum, satu botol aja sudah pingsan, gimana mau nidurin orang, keburu tidur duluan" ucap Fakhri terheran-heran dengan sahabatnya, mereka hanya bisa menggelengkan kepala.


.....


Inayah dan Tama tidak ikut pulang, mereka akan menghabiskan waktu tiga hari di hotel bintang lima tempat acara mereka di laksanakan. Anak-anaknya mereka titipkan dengan orang tua Inayah.


Inayah yang sudah selesai bersih-bersih duduk dengan gugup di pinggiran tempat tidur, ia gigit bibir bawahnya. Ia tidak tau apa yang akan dia lakukan saat Tama selesai membersihkan diri. Debaran jantungnya semakin tidak terkontrol saat mendengar bunyi yang mulai mendekat. Inayah rapikan pakaiannya yang sama sekali tidak berantakan, ia juga tetap menggunakan pakaian syar'i seperti biasanya.


"Kamu lapar?" Inayah menggeleng, ia tegak salivanya susah payah saat di lihatnya Tama dengan tangan yang sibuk menyibak rambutnya dan handuk yang melingkar menutup bagian bawah tubuhnya.


Tama memasang baju kaos di atas ranjang yang sudah Inayah siapkan untuknya, sedangkan bagian bawah ia tetap gunakan handuk.


Tama duduk di samping Inayah.


"Boleh aku buka kerudungnya?" Inayah sedikit menjauhkan tubuhnya saat merasa Tama terlalu dekat, ia sentuh bagian depan kerudungnya.


"Kamu mau tidur dengan kerudung itu Inayah?"


"ng--nggak" Jawa Inayah singkat.


"kamu malu" kali ini Inayah Mengangguk. Tama tersenyum singkat.


"Saya Suami kamu sekarang Inayah, kita sudah sah, apa yang akmu tutupi dulu telah halal untuk saya lihat" Semakin berdetak lah jantung Inayah.


Terkejutnya Inayah saat merasakan tangan kekar Tama melingkar di pinggang rampingnya, bulu bulu halus di tubuh Inayah meremang. Tama menggunakan satu tangannya lagi untuk membuka kerudung instan yang sejak tadi menutupi kepala Inayah. Tama pun merasakan debaran jantungnya yang tidak karuan saat pertama kali melihat rambu hitam legam Inayah.


"Cantik" gumam Tama pelan, jepit rambut yang menggulung rambut Inayah ia buka, kini rambut panjang itu tergerai indah. Tama memalingkan wajah Inayah menghadapnya. Ia angkat wajah Inayah yang sejak tadi menunduk tidak berani menatapnya.


"Inayah" panggilan itu terdengar berat di telinga Inayah, kini iris mata Inayah menatap lurus ke depan.

__ADS_1


"Kamu cantik Inayah" mungkin sekarang wajah itu sudah bersemu merah, Inayah mati-matian menahan senyumnya. Tama mendekati wajah, Inayah spontan menutup matanya dan...


__ADS_2