
Author POV beberapa jam yang lalu di kediaman Zidan dan Karina
"Kamu hamil?" Karina mengangguk
"iya sayang, aku hamil" Zidan yang tadi terus diam karena masih marah dengan kebohongan Karina tentang Nesha yang ternyata tidak sakit kini luluh setelah Karina memperlihatkan tes kehamilan bergaris dua di depannya, kembali ia peluk sang istri begitu erat.
"makasih sayang makasih" ucap Zidan begitu senang.
"maaf ya, tadi aku emosi sampai kelepasan"
"aku juga minta maaf, nggak seharusnya aku bohong sama kamu, maaf ya" Zidan mengangguk di dalam pelukan Karina. Perlahan Zidan lepaskan Karina, ia duduk bersimpuh di hadapan sang istri, di peluknya perut Karina dan menciumnya berulang kali.
"Ada anak papah di dalam sana ya nak" Karina tersenyum seraya mengusap kepala Zidan
"iya pah, ada dede di dalam perut mamah" ucap Karina dengan suara dibuat buat. Zidan mengangkat kepalanya menatap Karina
"berapa usianya?"
"dua minggu" jawab Karina jujur
"kenapa nggak bilang dari awal " wajah Karina kini berubah kesal, ia pukul pelan kepala Zidan.
"kamu yang pergi nggak ada kabar karena sibuk sama perempuan itu dan anaknya, sampai lupa aku dan Nesha di rumah" Karina memutar matanya jengah, Zidan Menyunggingkan senyum, ia kembali duduk di samping sang istri, memeluk Karina lagi.
"maaf ya nggak ada kasih kabar, aku hanya ingin memperbaiki hubungan ku dengan Inayah, dia curiga sama aku, aku nggak mau kita ketahuan sayang" Karina mengepal tangannya begitu kuat, sungguh ia ingin layangkan protes tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat.
"Aku pastikan kamu akan berpisah dengan wanita itu Zidan" gumam Karina di dalam hati.
Karina menjauh dari pelukan Zidan.
"Sayang, temenin belanja yu, mau beli cemilan" Zidan mengusap kepala Karina.
"ayo, sekalian kita jalan-jalan mau?" Karina mengangguk dengan begitu antusias.
__ADS_1
"makasih papah" Karina menunduk menatap perutnya yang masih rata.
"iya sayang"
....
Beberapa bumbu dapur yang tadi Inayah ingin masukkan kedalam troli belanjaannya kini terlepas dari genggaman, tangannya bergetar begitu juga dengan kedua sendi lututnya, Inayah seakan kehilangan tulang untuk menopang tubuhnya, jantungnya berdetak kencang di dalam sana, tatapannya saling beradu dengan pria yang berdiri dua meter tepat di hadapannya, dengan seorang anak kecil perempuan di gendongan nya.
"Mamah" suara teriakan riang dari sang anak tidak lagi Inayah sadari, ia terpaku di tempat. Begitu halnya dengan pria di depannya, anak kecil dengan mainan Barbie di tangan ia turunkan, perlahan ia melangkah walaupun begitu terasa berat pijakannya.
"Aa--aya" Inayah memundurkan langkah, hampir saja ia menabrak Aska yang belum menyadari jika sang papah ada di depannya.
"Inayah, ini suami gue, Zidan Narendra, papahnya Vanesha Angela Narendra" Jelas Karina memperkenalkan suaminya di depan Inayah, tangan Karina di lepaskan Zidan dari lengannya.
"Aa--aya... I--ini nggak seperti yang kamu duga, sayang, dengerin dulu aku ngomong ya...." Inayah berusaha mengatur nafas yang tiba-tiba saja sesak, seakan oksigen menghilang di permukaan.
"Papah" kini Aska menyadari kehadiran sang papah, Inayah menarik kasar pergelangan tangan Aska saat pria kecil bermata bulat itu ingin mendekati sang papah.
"Di--dia bukan papah nak" Inayah menunduk menggendong Aska, eskrim di tangan Aska ia lempar tepat mengenai dada Zidan. Aska yang tidak mengerti apapun dengan kondisi yang terjadi ketakutan, karena ini pertama kalinya Inayah bersikap kasar padanya, Aska pandangi secara bergantian ke-tiga orang dewasa di depannya, tidak lupa Aska juga menatap anak perempuan yang tak henti-hentinya memanggil papahnya dengan sebutan yang sama dengannya.
"Inayah, tunggu Inayah" teriak Zidan memanggil Inayah yang mulai menghilang dari pandangan. Karina menahan pergelangan tangan Zidan, Zidan hempaskan tangannya hingga cengkraman tangan Karina terlepas.
"APA YANG KAMU LAKUIN KARINA, KAMU SUDAH MENGHANCURKAN RUMAH TANGGA KU" teriak Zidan tidak terkendali dan mengundang beberapa orang yang juga sedang berbelanja menonton drama rumah tangga mereka.
"Aku yang ngundang dia ke supermarket ini?aku yang sengaja bilang ke dia, bukannya kamu ya yang datang sendiri menemui dia?" Inayah berucap tenang, tangannya terlipat di depan dada.
"Sudah saatnya kamu mengakhiri hubungan kamu Zidan, akhiri hubungan kalian" Sudut bibir Karina terangkat.
"Aku nggak akan berpisah dengan Inayah, aku akan mempertahankan rumah tangga ku dengan nya, dan ya.... Setelah urusan ku dengan inayah selesai, maka akan ku selesaikan juga hubungan kita" Karina mengerutkan keningnya, jelas ia paham betul apa yang Zidan maksutkan, beberapa penjaga keamanan mulai mendekati mereka, Zidan bergegas pergi menyusul inayah dan anaknya.
"ZIDAN..."
"ZIDAN"
__ADS_1
"ARGGHHH" Karina mengacak pinggangnya, Nesha yang sudah ketakutan meringkuk di belakang mamahnya.
"Kamu nggak akan pernah pergi dari aku Zidan, kamu akan tetap menjadi suami ku, aku nggak akan biarkan kamu kembali pada wanita itu.
"mamah " Karina melunak, ia paksaan senyum agar putrinya tidak ketakutan.
"pasti Nesha takut ya nak? Nggak papa sayang nggak papa"
....
Inayah masuk kedalam kamar setelah membanting pintu begitu kuat, ia abaikan tangisan Aska yang ketakutan di luar, menggedor gedor pintu kamar orang tuanya.
Inayah lempar tas kecil kesembarang arah, sudah dapat di pastikan Ponsel mahal di dalam sana hancur lebur sama seperti perasaannya, hancur tidak tersisa.
"ZIDAAAAN KENAPAAAA ZIDAAAAN, KENAPAAAA" jerit Inayah dengan air mata berderai.
pyaar!!!!
Karina sapu bersih benda-benda yang di atas meja riasnya. Kursi berbetuk segi empat ia angkat dan ia lempar ke arah kaca pembatas balkon kamar hingga pecah.
"ZIDAAAAN" bingkai kecil berisikan foto pernikahannya Inayah lempar membentur dinding.
"KENAPAAAAA ZIDAN, KENAPAAAA KAMU TEGA SAMA AKU ZIDAAAAN, KENAPA!!!" kerudung yang melilit kepalanya kini terlepas, jarum pentul tak sengaja melukai jarinya, sakit dari goresan jarum pentul itu tidak sebanding dengan rasa sakit pengkhianatan yang Zidan lakukan padanya.
"JAHAT KAMU ZIDAN!!!! JAHAAAAAAT" seprai terlepas dari kasur, lemari baju Inayah buka dan ia keluarkan isinya.
"ZIDAAAAN!!!!" pajangan menara Monas yang ada di atas nakas inayah lempar untuk mencahkan bingkai ukuran besar berisikan foto pernikahannya yang tergantung di dinding kamar. Merasa belum puas, Inayah gunakan meja kecil untuk membantunya meraih kerangka bingkai itu. Inayah robek menjadi serpihan sisa foto di dalamnya.
"mamah buka mamah, mamah" samar-samar Inayah dengan suara tangisan dan panggilan dari putra tercinta. Inayah menjerit sejadi-jadinya di dalam kamar yang sudah hancur berantakan seperti hatinya.
Entah dari mana Inayah mendapat kekuatan sampai bisa merobohkan lemari berbahan kayu itu sendiri, lemari kayu penuh kenangan dengan Zidan.
"AKU BENCI KAMU ZIDAN, AKU BENCI"
__ADS_1
"Inayah duduk bersimpuh dengan keadaan kacau setelah mendengar suara dari zidan di luar sana.