Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
Maaf dari Inayah


__ADS_3

"Aya, apa kabar, aku kangen kamu Aya" Ibu jarinya mengusap pelan wajah si mantan istri yang sampai detik ini belum bisa Zidan lupakan.


"Aku kangen kamu sama anak-anak. Sekarang hidup kalian sudah jauh lebih baik, aku seneng, tapi apa boleh aku berharap bisa kembali seperti dulu, hahahaha nggak bisa ya sayang" Zidan tertawa hambar, ia menatap miris potonya dengan Inayah. Di foto itu keduanya nampak bahagia, Inayah yang masih sangat muda dengan pakaian putih abu-abunya, sedangkan Zidan depan wajah tampan dan senyum bahagia.


"Kamu lucu banget sayang, di foto ini kamu masih malu-malu, kamu bahkan nggak bisa menatap mataku. Ini foto pertama kali yang kita ambil setelah resmi, resmi menjadikan kamu sebagai pasangan ku. Aku memang sebodoh itu ya, bisa-bisanya aku menyia-nyiakan perempuan kaya kamu, aku menyesal Inayah, aku menyesal. Sampai detik ini pun aku masih berharap apa yang terjadi dengan kita, perpisahan kita, pernikahan kita yang kandas... hanyalah mimpi belaka, aku masih terus berharap dapat bangun lagi dari mimpi buruk ini, dan kamu tetap menjadi istri ku, menjadi orang yang pertama kali akan menenangkan aku. Sesakit ini aku kehilangan kamu Inayah, sesakit ini melihat kamu bersama dengannya, sesakit ini lihat kamu sudah jadi milik orang lain Inayah, sekarang aku bisa rasakan gimana rasanya jadi kamu yang tau aku selingkuh bertahun-tahun, belum lagi dengan sikap ku ke kamu, aku menyesal Inayah, aku menyesal" penyesalan demi penyesalan yang tidak berguna lagi. Apa yang di tanam, itu yang akan di tua, Zidan harus menerima buah hasil dari perilakunya sendiri, ia sendiri yang memulainya dengan menanam benih dengan menghadirkan Karina di tengah hubungan mereka, yang di awali dengan keterpaksaan tapi berakhir dengan kenyamanan dan sekarang hanyalah penyesalan.


Sudah bertahun-tahun berlalu, Zidan tidak bisa menghilangkan rasa itu di hatinya, rasa yang pertama kali ia berikan hanya untuk Inayah. Pertama kali cinta itu ia rasakan saat melihat Inayah yang berdiri di balik kerumunan dengan senyum manisnya, Zidan beranikan diri untuk memulai obrolan dengan Inayah, sampai terjalin lah hubungan di antara keduanya.


"Kamu semakin cantik Inayah, kamu sudah jauh lebih dewasa, bukan lagi Inayah lugu yang belasan tahun bertemu dengan ku dulu"


"Bahagia terus Inayah, aku titip anak-anak" Zidan mencium foto kecil itu.


"Zidan" Zidan segera mengembalikan pas Poto inayah dengan dirinya yang sempat menjadi pelampiasan emosi inayah saat Zidan ketahuan selingkuh selama bertahun-tahun.


"Iya mah ada apa" Dewi menyadari kedua mata putranya berkaca-kaca, Dewi melirik bingkai foto yang Zidan letakkan di atas Nakas samping tempat tidurnya.


"Nak" Zidan menyunggingkan senyum, Dewi mendudukkan diri di samping sang anak, ia usap punggung Zidan yang nampak tidak setegar dulu lagi. Sudah banyak sekali beban yang harus ia pikul semenjak perceraiannya dengan Inayah.


"Kamu merindukan mereka, Zidan?" Zidan mengangguk tanpa ragu.


"Sampai detik ini Zidan terus merindukan mereka nah, Zidan terus berharap ini hanyalah mimpi di rumah tangga Zidan, Zidan berharap Inayah masih ada di samping Zidan mah, anak-anak Zidan, istri Zidan, rumah kecil Zidan yang bahagia"


"Dulu Zidan katakan jika Zidan mencinta Karina, dan mulai melupakan Inayah, tapi sekarang Zidan sadar, jika cinta Zidan ke Karina hanyalah nafsu laki-laki Zidan saja, sedangkan cinta Zidan ke Inayah, tulus dari hati Zidan, perempuan sebaik Inayah... adalah anugrah dari Tuhan yang Zidan sia-siakan selama ini"


"kamu mencintai dia?"

__ADS_1


"Mamah tanyakan hal yang sudah sangat pasti jawabannya?" Zidan menatap bingung ke arah sang mamah


"apa dengan nekat menikahinya tanpa restu kalian belum cukup sebagai bukti jika Zidan mencinta Inayah? Apa dengan menghadirkan Aska dan Ziya juga belum cukup mah?" Dewi dan Zidan saling tatap dalam waktu yang cukup lama. Zidan yang pertama kali mengalihkan pandangannya.


"Mamah ada perlu apa?" Zidan berusaha mengalihkan perhatian sang mamah.


"Mamah ingin ketemu anak-anak mu Zidan, mamah ingin minta maaf, mamah sadar sekarang... mamah terlalu banyak tinggal dengan mereka. Mamah nenek yang jahat, manah pernah biarkan cucu mamah kehujanan hingga demam, mamah nggak pernah mengakui mereka, mamah menyakiti mereka, manah ingin minta maaf Zidan... bantu mamah bertemu dengan mereka Zidan.. bantu mamah untuk mendapatkan permohonan maaf mereka..." lirih Dewi pilu, kini pipinya telah basah karena air matanya kini turun sudah.


"jahatnya Zidan, Zidan nggak ada waktu keluarga kecil Zidan di perlakukan sehina itu sama mamah, Zidan lebih milih bersenang-senang dengan Karina dan Nesha, Zidan abaikan Inayah dan Aska, dan sekarang Zidan harus menanggung akibatnya, mah" Zidan berdiri, ia berniat menyudahi obrolan menyakitkan itu. Tapi Dewi menahan langkahnya dengan mencengkram pergelangan tangan Zidan.


"Apa Nggak ada cara untuk ketemu mereka nak?" Zidan tidak menoleh, ia menggeleng, dan kembali melangkah.


"Zidan... mamah mau minta maaf Zidan" Nihil, Zidan menutup pintu kamar meninggalkan Dewi di dalam sendirian dengan rasa bersalah yang teramat dalam.


"maaf..." Dewi menatap miris bingkai kecil foto Inayah dan Zidan di atas Nakas. Semuanya tinggal penyesalan yang tidak berarti apapun lagi.


....


"Kangen banget" Inayah memeluk Tama. Mereka tidak terpisah jarak dan waktu, tanpa hanya pergi bekerja, mereka pun sering bertelepon, karena Inayah yang tidak bisa jauh dari sang suami.


"Aku belum bersih-bersih sayang" Tama letakkan tas kerjanya ke atas meja, ia balas pelukan inayah, meskipun ragu karena ia baru saja datang. Inayah menggeleng pelan.


"Nggak papa, aku suka bau mas kaya gini, aku kangen Banget"


"Manja banget sih perempuan hamil ini, aku kan jadi gemes" Inayah memajukan bibirnya seraya mengusap-usap wajahnya di depan dada Tama.

__ADS_1


"kamu yang hamilin, coba nggak di hamilin, aku nggak akan manja gini" Tama tertawa di buatnya.


"Ya Allah, lucu banget si kamu Inayah "


"mas.."


"iya sayang " ucap Tama lembut.


"mau Tidur ngantuk, nunggu kamu pulang lama banget "


"maaf ya, tadi ada kerjaan dadakan, ayo kita tidur " inayah menjauhkan tubuhnya, tas Tama di atas meja di ambilnya.


"ayoo"


"iya ayoo"


....


" Dede bayi lagi apa nak?" Tama letakkan telinganya di depan perut Inayah yang masih rata, Inayah menyisir rambut hitam legam Tama.


"Lagi nggak ngapa-ngapain pah, adek kesepian di dalam pah" ucap Inayah dengan suara dibuat buat.


"sabar ya nak, delapan bulan lagi sayang, delapan bulan lagi kamu nggak akan kesepian, ada Abang Aska sama Kaka Ziya"


"yeyeye" Inayah bersorak girang. Wanita itu benar-benar berubah menjadi manja saat hamil, berbeda dengan kehamilan pertama dan keduanya dulu, mungkin karena faktor dari pasangan juga, Tama yang memungkinkan untuknya bersikap manja.

__ADS_1


Tama kembali ke tempatnya, tidur di samping Inayah, Inayah merubah posisinya dan memeluk erat Tama.


"ayo tidur dah malam" Inayah mengangguk dengan mata terpejam.


__ADS_2