
Zidan sudah pergi sekitar 30 menit yang lalu, Aska juga sudah ada di sekolah, sekarang aku benar-benar kesepian, kesepian yang beda, karena aku tau suamiku tidak akan pulang ke rumah dalam waktu dekat.
Tidak ada yang bisa ku tunggu di ruang tamu lagi, rasanya berat sekali, andai aku bekerja, mungkin tidak terlalu menyedihkan seperti sekarang. Aku bisa menghibur diri dengan bekerja, menyibukkan diri dengan hal yang aku suka.
Baru saja Zidan pergi, aku sudah ingin meneleponnya saja, bisa-bisa aku kena marah Zidan.
Author POV
"ye ye liburan" Nesha berteriak kegirangan di gendongan Zidan, sedangkan Karina mengapit satu lengan Zidan.
"kamu bilang apa ke perempuan itu, sayang" Karina menoleh menatap Zidan, senyum yang tadi merekah seketika hilang. Zidan tidak suka jika saat mereka bersama, Karina justru membahas tentang Inayah dan anaknya.
"Zidan" panggil Karina karena Zidan tidak juga memberikan respon.
"bisa nggak sih jangan bahas Inayah dulu, jangan bawa-bawa Inayah dan Aska kalau kita lagi kaya gini, aku malas tau nggak sih"
"aku kan cuman nanya" Karina yang justru kesal dengan ucapan Zidan, di lepaskannya lengan Zidan dan melangkah lebih dulu.
"Karina... sayang, dengerin dulu aku ngomong dong" Karina tidak menghiraukan dengan langkah besar ia berjalan sendiri. Zidan juga tidak ingin masalah ini semakin berlarut lagi, Zidan tidak ingin liburan mereka terganggu hanya karena masalah kecil ini.
"sayang" kini Zidan sudah berada di samping Karina, Zidan satukan jari-jari mereka di bawah sana, Karina tidak menolak meskipun wajahnya terlihat masam sekali.
"aku bilang mau ke luar kota ada kerjaan" ucap Zidan pada akhirnya, Karina tidak ingin luluh begitu saja, ia masih marah walaupun Zidan sudah menjawab pertanyaannya.
"sudah dong marahnya, sayang" Zidan masih berusaha membujuk, Zidan serahkan dulu Nesha yang ada di gendongan pada pengasuhnya. Karina memang memboyong dua orang pekerjanya bersama mereka, Karina mana bisa mengurus Nesha atau keperluannya sendiri. Padahal Zidan ingin mereka pergi berlibur bertiga saja, benar-benar liburan keluarga, tanpa ada siapapun. Tapi Karina juga tetap kekeh membawa mereka.
"sayang, jangan marah gini dong, katanya mau liburan" bujuk Zidan, Nesha duduk di salah satu kursi tunggu, begitu juga dengan Zidan, Zidan rapikan jepitan rambut Karina yang sedikit berantakan, setelah itu Zidan kembali menyatukan jari-jari mereka.
"jelek Lo kalau ngambek gini" goda Zidan dengan mencubit pelan hidung mungil Karina.
__ADS_1
"Iis, apaan sih" Kesal Karina dan menepis tangan Zidan dari depan wajahnya.
"kamu pasti minta jatah tadi malam sama dia, kan?" tatapan sinis di layangkan Karina pada Zidan, Zidan hanya menghela nafas berat, bisa-bisanya Karina mempertanyakan hal privasinya dengan Inayah.
"pertanyaan kamu ko gitu"
"udah deh tinggal bilang iya atau nggak"
"iya" jawab Zidan pada akhirnya.
"berhenti tidur dengannya Zidan, kamu sudah dapatkan hal itu dari aku, kenapa kamu minta juga dengannya, apa aku nggak cukup buat memuaskan kamu" nada suara Karina mulai meninggi, walaupun Karina nasih berusaha untuk menahannya karena sekarang mereka masih berada di luar.
"sudah berapa kali aku bilang, jangan melakukan hubungan suami-istri lagi dengannya, berhubungan **** hanya bisa menumbuhkan rasa cinta kamu ke dia, Zidan! aku nggak mau itu" Karina memang wanita egois, ia yang merebut Zidan dari Inayah, ia juga yang memaksa Zidan melupakannya.
"kamu sudah janji untuk tidak menyentuhnya lagi kan, aku nggak mau dia hamil anak kamu, aku nggak mau!" Zidan sepertinya sudah tidak bisa berkutik lagi jika sudah di hadapkan dengan Karina, ia terus saja mengangguk dengan apa yang Karina ucapkan, seakan tidak ingin Karina terluka atau sakit hati, tapi Zidan tanpa sadar sudah menyakiti hati wanita setulus Inayah.
"awas aja kalau sampai Inayah hamil lagi, aku nggak rela, aku nggak akan maafin kamu" ancaman Karina terdengar bersungguh-sungguh.
.....
Mereka sudah berada di dalam pesawat, pesawat yang akan membawa mereka terbang ke lombok. Mereka tidak berlibur ke Korea, hanya ke lombok saja, itu juga karena Zidan ada pekerjaan di lombok, jadi Zidan tidak sepenuhnya berbohong pada Inayah. Zidan mengajak Karina sekalian untuk liburan, pekerjaan Zidan akan selesai satu minggu, sisanya mereka pakai untuk bersenang-senang.
"sayang"
"Hem kenapa" Zidan masih fokus dengan layar tablet di depannya, Karina sandarkan kepalanya di bahu Zidan.
"kita jadi kan liburan ke Korea?"
"iya sayang, pasti jadi ko, tapi nanti, tunggu aku ada waktu"
__ADS_1
"siap sayang, makasih ya sudah ajak aku sama Nesha liburan ke lombok"
"iya, biar kamu sama anak kita juga senang" Zidan menoleh mencium kening Karina singkat, ia kembali fokuskan atensinya pada layar tablet.
"kenapa kamu nggak ngajak Inayah aja, kenapa kamu ngajak aku" Karina memang suka sekali memancing perdebatan.
"kenapa? kamu nggak suka di ajak ke lombok" Zidan tidak ingin terpancing kali ni, Zidan tau ada maksud di balik ucapan Karina tadi.
"kamu nggak cinta kan sama dia, kamu males kan sama dia?" Zidan mengangguk tanpa ragu, malas saja kalau lagi dan lagi harus berurusan dengan marahnya Karina yang pasti akan berujung dengan perdebatan lagi. Zidan ia kan saja seperti biasanya.
....
Inayah POV
Aku duduk di tepian tempat tidur, menatap kosong dinding kamar yang terasa hampa, aku tiba-tiba teringat Zidan, ponsel di tangan menunjukan panggilan-panggilan ku yang Zidan abaikan, air mata ku tiba-tiba saja jatuh menetes, aku tidak tau ada apa dengan perasaan ku ini, kenapa mudah sekali menangis.
Seharusnya zidan sudah sampai di kota tujuannya, tapi di mana dia sekarang, kenapa Zidan tidak sekalipun mengangkat panggilan ku, aku putuskan untuk mengirim pesan singkat pada nya
*papahnya Aska*
*" Assalamualaikum, Zi"
"sudah sampai?"
"kabarin aku Kalau kamu sudah sampai ya, sayang"
Pesan itu langsung di baca oleh-nya, itu tandanya Zidan sedang memegang ponsel, tapi kenapa sulit sekali mengangkat panggilan ku, apa yang salah, sampai balasan pesan yang masuk membuat perasaan ku kembali terluka.
"Papahnya Aska*
__ADS_1
*" bisa nggak sih jangan ganggu untuk dua minggu ke depan, gue sibuk, jangan telepon dulu! Lo itu pengganggu* ku elus dada yang terasa kian sesak ini, air mata ku seka dengan punggung tangan, ini benar-benar bukan Zidan, ini bukan Zidan ku, ini bukan suamiku, entah siapa yang ada di balik ponsel itu, entah siapa yang menjawab pesan ku, tapi satu yang aku tau, itu bukan Zidan, aku kenal betul cara Zidan menulis pesan, sedangkan pesan yang masuk ini, sama dengan pesan yang waktu itu.
"kamu nggak akan khianati aku kan Zi, kamu setia Kan sama aku, bilang Kalau kamu nggak kaya gitu, bilang kalau kamu yang menulis pesan itu, aku nggak papa kena ketus sama kamu, asalkan itu pesan kamu sendiri yang nulis bukan orang lain" ucap ku lirih dengan air mata yang terus mengalir turun