
Sudah dua hari Aska di rawat di rumah sakit, aku tidak lagi berusaha menghubungi Zidan, aku hanya ingin memakinya saat bertemu nanti, aku ingin putraku kembali ceria.
Aska ku yang banyak bicara sudah dua hari terbaring lemah di ranjang pesakitan, aku masih ingat betul saat tubuh mungilnya mengigil kedinginan, aku memohon untuk di bukakan pintu, meminta ijin untuk masuk sekedar berteduh di depan rumah mewah ibunya Zidan. Sakit sekaki hatiku sebagai seorang ibu yang tidak becus menjaga putranya.
Petir yang menyambar menjadikan suasana semakin mencekam mengerikan, aku hanya bisa melindungi Aska, dengan menjadikan tubuh ku sebagai tameng untuknya.
Dering ponsel di atas nakas membuyarkan lamunanku, ku lepaskan satu tangan yang terus menggenggam tangan Aska untuk meraih ponsel. Mata ku seketika berkaca-kaca melihat si penelpon yang begitu aku inginkan kehadirannya di saat aku rapuh seorang diri seperti sekarang.
"mamah" lirih ku pilu, ku tarik napas dalam untuk mengontrol rasa sesak agar tidak membuat orang tuaku yang berada di kampung khawatir.
*"Assalamualaikum mamah"
"Waalaikumsallam, nak" ya Allah, aku begitu merindukan mamah ku, juga papah ku. Aku jarang sekali menghubungi mereka karena rasa bersalah yang masih menghantui ku.
Aku yang dulu membantah mereka karena tidak merestui hubunganku dengan Zidan. Mereka tidak merestui karena perbedaan kasta keluarga kami, bahkan papah ku langsung pulang setelah menjadi wali nikah ku, sedangkan mamah dan abang ku bahkan tidak datang sama sekali, sungguh besar rasa bersalah pada mereka.
"mamah apa kabar, Inayah kangen mamah, papah mana mah?" semoga mamah ku tidak tau jika putrinya kini sedang menahan tangisnya.
"mamah papah Alhamdulillah sehat nak, mamah telpon kamu karena akhir-akhir ini, mamah terus mikirin kamu, kamu sehat di sana nak?" runtuh sudah pertahankan ku, semua tumpah, aku menangis tapi tidak meraung-raung di depan mamahku, terdengar panggilan panik dari sembarang sana.
"Aya, Aya kenapa sayang, cerita sama mama Aya kenapa"
__ADS_1
"ma--mah, Aya kangen mamah, Aya kangen papah, Aya mau ketemu" dari sembarang sana pun terdengar suara tangisan yang sama.
"mamah papa juga kangen Aya"
"mah, Aya mau jenguk mama papah, mungkin lusa, do'akan ya mah"
"iya sayang iya, datanglah nak, bawakan cucu kami, mama papah kangen anak mu yang ganteng itu" aku tersenyum, sesaat aku berpaling menatap sekilas wajah Aska yang masih pucat. Aku tak menceritakan sedetail apa kejadian yang aku alami beberapa hari terakhir ini, aku tidak ingin membuat mereka kawatir, aku Hanya janjikan pada mereka jika aku dan Aska akan datang berkunjung ke sana. Melepaskan rindu yang selama bertahun-tahun tidak pernah bertemu sapa.
Aku kangen masakan mamah ku, aku kangen omelan papah ku, dari SMA hingga kuliah aku sudah merantau jauh dari mereka. Aku jarang pulang ke kampung halaman karena jarak nya yang jauh, sampai aku menikah dan menetap di Jakarta. Aku belum pernah lagi pulang untuk bertemu dan memeluk kedua orang yang sangat aku cinta.
Perasaan lega kini sedikit ku rasakan, aku merasa beban ku sedikit berkurang, mendengar suara mamah saja membuat perasaan ku tenang. Tiba-tiba saja terucap dari mulutku janji akan pulang dengan Aska, sepertinya itu memang aku inginkan atau justru aku butuhkan.
Aku bisa tersenyum sedikit, tak kuharap lagi lelaki yang berstatus suami menelpon, aku juga sudah tidak mengirim lagi puluhan atau bahkan ratusan pesan untuk memintanya pulang, karena semua pesan-pesan itu hanya di bacanya. Semua pesan ku terkirim ke ponselnya, tapi Zidan memang tidak ada niat untuk sekedar membalasnya.
....
Di hari ketiga, Aska mulai membaik, bahkan aku sudah mendengar lagi suaranya, walaupun belum mengoceh seperti biasanya. Tiga Sendok bubur berhasil aku masukkan ke mulutnya, itu pun dengan segala macam bujuk rayu. Aska sudah mulai dengan segala tingkahnya nya yang menggemaskan.
Setelah menelpon mamah ku kemarin, aku langsung pulang malamnya, aku siapkan beberapa baju untuk diriku sendiri dan Aska, aku akan pulang ke rumah orang tuaku beberapa hari, mungkin satu minggu, dua Minggu, aku tidak tau, anggap saja ini bentuk protes ku pada Zidan yang sama sekali tidak ada menanyakan kabar ku dan Aska.
Aku dan Aska akan langsung berangkat setelah Aska di perbolehkan pulang, aku juga sudah mengabari pihak sekolahnya.
__ADS_1
"mamah, papah ko nggak ke sini liat Aska" ku letakkan satu tangan kiri ku ke atas kepala Aska, mangkuk bubur yang mulai terlihat becek itu ku letakkan kembali di atas nakas.
"Papah lagi kerja nak" itu saja yang sanggup ku katakan, ada rasa malas juga jika terus membahas tentang Zidan.
"papah nggak sayang Aska, iyakan mah?" satu pertanyaan yang seperti pisau tajam yang mengenai tepat di dalam hatiku 'papah tidak sayang Aska ' ahh, kenapa sakit sekali kalimat itu, apa benar Zidan tidak menyayangi putranya. Tidak ada niat sebentar untuk meninggalkan pekerjaan nya dan menjenguk putranya. Apa benar Zidan tidak mempedulikan Aska yang terbaring lemah di ranjang pesakitan ini, apa benar zidan masih mempertanyakan kehadiran Aska.
Mengingat semua itu, mengingat Zidan yang bahkan tega menyeret ku yang sedang hamil besar keluar dari kafe karena marah melihat ku berdua dengan atasan ku membuat kepalaku berdenyut hebat.
Di saat emosinya yang membara, tiba-tiba saja Zidan mempertanyakan siapa ayah dari anak yang ku kandung. Ia meragukan anak yang ada di dalam kandungan ku itu, anak yang jelas-jelas hadir karena cinta orang tuanya. Saat itu aku bisa memaklumi jika Zidan marah, aku tidak papa, tapi nyatanya kalimat itu terus saja aku dengar secara berulang ketika Zidan marah, walaupun kemarahan itu bukan disebabkan karena ku.
"papah sayang Aska, sayang sekali" Aska menggeleng kecil, bibirnya mengerucut ke depan.
"kata Caca, Azzam, gala" Aska menyebut beberapa nama teman-temannya di sekolah, aku mendengarkan dengan seksama.
"mereka bilang, kalau papah sayang anaknya, mama papah akan menunggu di sekolah seperti papah mereka, mengendong Aska kesekolah, mencium kening Aska seperti ayah ayah mereka, mah" miris sekali aku mendengar ucapan anak ku, perbedaan sang papah sendiri dengan papah anak-anak lain membuat Aska menyimpulkan jika papahnya tidak sayang padanya.
Zidan jarang sekali memberikan sedikit waktu berharganya untuk bermain dengan Aska, atau sekedar menanyakan mainan terbaru apa yang Aska punya. Hal-hal seperti itu tidak pernah Zidan lakukan pada Aska, mengajak Aska bermain bersama atau belajar.
Zidan sepertinya sengaja membangun begitu kokoh tembok pembatas di antaranya dan Aska, tidak Zidan ijinkan Aska untuk masuk mendekat tanpa seijin nya. Zidan terus berdalih jika aku mulai mengeluhkan sikapnya yang dingin pada Aska, Zidan akan bilang, ' Aska itu harus mandiri, jangan di manja' ya Allah, putraku itu baru empat tahun usianya, ia masih butuh kasih sayang orang tuanya, bukan maksut ingin memanjakan, tapi di usianya itu Aska butuh perhatian sebagaimana anak seusianya.
"papah sibuk nak, papah nggak sempat antar Aska kesekolah"
__ADS_1
"papah nggak sayang Aska" Aska menutup matanya rapat-rapat, mungkin ia juga sakit hati karena selama sakit papahnya belum pernah datang menjenguk.
Aku benarkan lagi letak selimut Aska, ku pastikan infusnya masih menetes keluar, aku bacakan cerita Nabi favoritnya untuk pengantar tidur.