
Inayah Menyunggingkan senyum saat benda kecil di atas telapak tangannya menunjukan dua garis dua. Tangan putih kurus mengusap perut yang masih rata, pandangannya merendah.
"Kamu sungguh ada di dalam nak? Apa ini penghibur di tengah sakitnya Mamah? Ada adek di dalam perut mamah ya nak?" Setetes air mata kembali jatuh mengenai punggung tangannya.
"Kita bertahan sama-sama ya nak, mamah janji akan bahagiakan adek dengan Kaka Aska"
....
"PERGI!!!"
ARGGHHH
PYAR!!!!
Seluruh pajangan di atas Nakas di sapu bersih oleh Zidan. Pria itu nampak kacau setelah beberapa hari mencari kesana-kemari keberadaan anak dan istrinya tapi justru amplop coklat berisikan surat gugatan perceraian di atas meja kerjanya.
Zidan merobek surat dari pengadilan itu menjadi serpihan kecil tidak berbentuk lagi.
"Inayah... kamu dimana inayah.... pulanglah ku mohon Inayah...." kursi kebesarannya Zidan tendang hingga membentur dinding, sekertaris pribadinya yang sejak tadi berdiri memilih keluar, berbahaya jika dia terus berada di satu ruangan dengan Zidan yang mengamuk kesetanan, bisa-bisa ia terkena imbasnya juga.
ARGGHHH
"INAYAH....." Zidan duduk bersimpuh di lantai, ia hitamkan berkali-kali kepalan tangannya ke lantai.
"INAYAH...., PULANGLAH INAYAH..., AKU MOHON INAYAH... AKU MOHON PULANGLAH...." Zidan menunduk menatap punggung tangannya yang sudah mengeluarkan darah.
"aku minta maaf Aya, aku minta maaf. Aku salah, aku menyesal, aku mohon Aya... pulang, pulang Aya pulang" bahu pria itu bergetar, ia menangis pilu merindukan anak istrinya. Hampir satu minggu sudah kejadian itu terjadi, di mana ia tanpa sengaja bertemu dengan Inayah yang berujung dengan retaknya rumah tangga mereka. Sebenarnya rumah tangga mereka sudah hancur setelah Zidan putuskan untuk menikahi sahabatnya sendiri karena kesalahan satu malam yang ia perbuat.
Kesalahan yang terjadi karena rasa cemburu Zidan pada sang istri.
Hari itu setelah pertengkaran hebat dengan sang istri, Zidan menyeret dengan paksa Inayah yang sedang hamil pulang kerumah. Di rumah itupun Inayah terus meminta maaf karena ia tidak tau maslahah apapun yang terjadi dengan suami dan atasannya, di restoran itupun mereka tidak hanya berdua saja, banyak pengunjung lain yang juga sedang menikmati makan siang bersama. Inayah mengiyakan ajakan makan siang atasannya karena dia juga sedang lapar, sekalian ingin membahas mengenai pekerjaan. Inayah tidak tau jika ada Zidan di sana, Inayah pun tidak pernah sama sekali ada niat menyembunyikan apapun termasuk makan siang bersama dengan atasannya itu dengan sang suami.
"Zidan...." Zidan yang sudah memerah wajahnya menepis tangan Inayah dari lengannya.
__ADS_1
"Zi, aku minta maaf, aku lupa kasih kabar ke kamu, aku minta maaf. Aku tadi cuman makan siang sambil bahas kerjaan, Zi.."
"CUMAN KAMU BILANG!" Inayah menutup matanya saat bentakan itu ia denger.
"CUMAN KAMU BILANG INAYAH! DIA ITU MUSUH BESAR PERUSAHAAN KU, DIA ITU SAINGAN KU INAYAH!! APA KAMU NGGAK MIKIR DENGAN BEKERJA DENGANNYA BISA MEMBUAT NAMA BAIK SUAMI MU INI RUSAK" Inayah mendekat lagi, niat hati ingin memenangkan, tapi Zidan justru dengan tega mencengkram kuat pergelangan tangannya.
"Aku nggak tau, Zi. Aku nggak tau kalau dia saingan kamu, aku nggak ada niat untuk nggak kasih tau kamu Zi, aku rasa pun itu bukan hal yang penting bagi kamu, jadi aku nggak kasih tau kamu" Inayah meringis saat Zidan mengeratkan lagi cengkramannya tanpa sadar.
"Aww, Zi... Sakit...." Inayah mengenadah dengan tatapan melas, memohon agar Zidan melepaskan cengkraman tangannya.
"Sial!" Zidan mengumpat, ia berbalik membelakangi Inayah, Zidan merasa bersalah karena sudah menyakiti istrinya yang sedang hamil.
"Zidan..." Inayah memajukan sedikit langkahnya, ia tarik ujung jas yang pria itu gunakan dengan perasaan takut, ini kali pertama ia melihat Zidan semarah itu. Inayah menunduk, air matanya jatuh, ia pun merasa bersalah.
"maaf... aku salah... aku minta maaf Zi.." Zidan butuh waktu untuk menenangkan dirinya, ia lepas kan tangan Inayah dari jas yang ia kenakan dan melangakah pergi.
"Zidan, Zidan, jangan pergi, aku mohon ka...."
BRAK!!!
Pria itu duduk menunduk, ia sangat merasa bersalah karena membuat sang istri menangis, Zidan benar-benar tidak bisa mengontrol emosi saat ia lihat wanita yang begitu ia cintai berbagai tawa dengan manusia yang paling ia benci, musuh besar dalam dunia bisnisnya.
"Lo apa apaan si Zidan, Lo buat istri Lo nangis, Lo tega sakitin tangannya, gila lo zidan" Zidan bergumam sendiri, ia rutuki kebodohannya itu.. Zidan mengusap wajahnya prustasi.
"SIAL!"
"ini gara-gara Tama, semua gara-gara Tama, pria itu yang sudah buat Inayah gue menagis, sialan Lo Tama, Sialan"
"Zidan" Zidan mengangkat kepalanya, ia alihkan lagi pandangannya setelah tau siapa wanita yang menyapanya itu.
"Lo ngapain disini, muka lo kusut banget kaya kain pel" Zidan diam tidak menanggapi apapun.
"Ada masalah Lo?"Wanita itu ikut mendudukkan diri di samping Zidan.
__ADS_1
"Masalah rumah tangga Rin" Karina mengangguk pelan.
"Lo keliatan kacau banget Dan" Zidan menyibak rambutnya, Karina terus menatap kagum sahabatnya itu"
"Masalah apa sih kalau boleh tau, Kali aja gue bisa bantu" Zidan menoleh menatap Karina sesaat.
"Lo sendiri ngapain disini?" tanya Zidan lagi.
"Gue ada kerjaan di kafe sebrang sana, gue suntikan yaudah jalan-jalan ke taman sini cari angin" jelas Karina.
Mengalir lah cerita Zidan tanpa sadar, Mereka sebenarnya bukan sahabat yang termata dekat, cuman Karina saja yang selalu menyebut mereka sahabat , mereka juga baru ketemu saat di bangku kuliah. Karina ini tergila-gila dengan sosok Zidan, ketampanan dan kepintaran Zidan berhasil memikatnya. Sampai akhirnya Zidan bertemu dengan Inayah. Karina merasa Inayah menjadi penghalang hubungan mereka, Karena Zidan sepertinya mulai memberi jarak di antara mereka untuk menjaga perasaan Inayah. Jadilah Karina minta agar zidan menjadi sahabatnya saja agar bisa terus bersama.
mereka sudah tidak berada di taman lagi, mereka sudah ada di salah satu Bar
"gue nggak minum Rin, Lo tau kan"
"sedikit aja, ini enak Zidan, cobain deh" Zidan tak kuasa menahan bujuk rayu dari wanita berbaju teramat terbuka di depannya. Zidan pria yang tidak pernah menyentuh minuman haram seperti itu, tapi karena emosinya yang sedang tidak baik-baik saja, Zidan mencoba sedikit minum haram itu, awalnya Zidan merasa tidak enak, tapi Karina terus memintanya minum sampai zidan zidan menghabiskan satu botol minuman sendiri.
Zidan sudah kehilangan kesadarannya, pria itu mabuk berat, wajah Inayah terbayang di dalam kepalanya.
"Aya maaf, Zi nggak maksud sakitin Aya... Aya, Zi minta maaf" Karina merotasikan matanya jengah.
"Saat mabuk pun kamu masih bisa memikirkan perempuan itu Zidan" monolog Karina. Zidan mengangkat kepalanya, wajah Karina berubah menjadi Inayah.
"Aya... " Zidan mendekati Karina, ia peluk wanita yang ia anggap istrinya itu. Karina jelas kaget, apalagi Zidan memeluknya dengan begitu erat, Zidan menenggelamkan wajahnya di pundak Karina yang terekspos, karena wanita itu menggunakan baju yang teramat terbuka.
"Zi minta maaf Aya... maafin Zi..." Zidan melepaskan pelukannya, ia raih tergesa tangan Karina.
"pasti sakit ya sayang.... maaf ya..." Zidan mencium punggung tangan dan telapak tangan Karina secara bergantian.
Zidan tak kuasa menahan kepalanya yang semakin berat, ia letakan kepalanya di atas meja. Ponsel di sakunya yang berdering Karina ambil.
"Istri ku Aya" gumam Karina membaca nama yang tertera di panggilan masuk Zidan. Karina menoleh kearah Zidan.
__ADS_1
"Kamu secinta itu sama dia Zidan, apa nggak ada sedikitpun aja tempat untuk aku di hati kamu" Zidan mengangkat lagi kepalanya, di tatapnya Karina dalam, wajah mereka teramat dekat, Zidan perlahan mengarahkan telapak tangannya ke wajah Karina.
"sayang... Zi minta maaf" Elusan tangan Zidan membuat bulu kuduk Karina meremang.