
Aku terbangun seperti biasa, aku tidur dengan terus memeluk Zidan, aku merubah posisi menghadapnya, ku tatap wajah tenangnya di dalam tidur, aku sempat marah saat malam itu aku menunggunya dan tidur di sofa. Aku ingin tanyakan kenapa dia tidak menggendong ku masuk kedalam kamar atau setidaknya membangunkan aku tapi justru melewati ku begitu saja, tapi semua itu sirna saat aku tau Zidan sakit.
Ku usap rahang nya yang tegas, terkadang aku takut melihat tatapan mata Zidan yang mengintimidasi, tapi tatapan mata itu juga yang sudah membuat ku terpikat pada Zidan. Aku dulu siswa baru di salah satu sekolah menengah akhir, sedangkan Zidan mahasiswa akhir, Zidan saat itu datang bersama teman-temannya untuk mensosialisasikan kampusnya, aku yang masih duduk di kelas satu hanya memandanginya dari jauh bersama teman-teman ku.
Zidan Benar-benar berkarisma, wajahnya, tatapannya, cara bicaranya, memikat para siswa termasuk aku, sesekali aku mencuri pandang dengannya dan ketahuan. Lucunya saat ingin pulang dan kembali ke kampusnya, Zidan menemui aku dan mengajak berkenalan, wajah Zidan benar-benar datar sekali waktu itu. Usia kami terpaut empat tahun, dia lebih tua dari pada aku, sebisa mungkin aku menjaga sopan santun di depannya, aku hanya iyakan saja semua pertanyaan Zidan.
Meskipun pertanyaannya menurutku sudah melenceng dari ranah sekolah. Karena buru-buru Zidan meminta nomor ponsel ku, alasannya sih biar enak kalau ada yang ingin di tanyakan dari situlah hubungan kamu di mulai.
Tidak ingin mengganggu Zidan yang masih terlelap, aku bergegas bangun untuk mandi, mencuci dan beres-beres rumah sambil menunggu adzan subuh berkumandang.
....
"nggak usah ke kantor dulu ya, kamu masih panas sayang, nggak papa kan kamu nggak ke kantor sehari" aku masih berusaha membujuk Zidan yang juga masih kekeh ingin ke kantor, padahal kan tidak masuk satu minggu pun tidak papa, toh Kantor itu punya dia.
"Zi" Zidan berjalan menjauhi aku, suami ku sibuk mengancing bajunya.
"Zidan, please deh ah, kamu itu masih sakit, istirahat dulu sehari" tangan ku yang berusaha menyudahi aktifitas Zidan mengancing baju di tepisnya begitu kasar, aku sampai terkejut tidak menyangka Zidan akan melakukannya.
"Aku bukan anak kecil yang sakit sedikit nggak turun kerja, jangan lebay kamu" setelah berucap itu Zidan pergi meninggalkan aku turun ke lantai bawah. Aku menyerah untuk membujuknya, dari pada nanti Zidan jadi bad mood dan berakhir tidak menyentuh sarapannya lagi.
Di meja makan, Zidan hanya minum teh hangat yang aku buatkan untuknya, sedikit pun tidak di sentuh sarapan yang sudah susah payah aku masak, katanya Zidan tidak nafsu makan.
"sedikit aja ya, Zi" aku menyendok nasi ke piring Zidan, tapi respon Zidan justru menggebrak meja, Aska yang tadi sibuk makan sampai ikut terkejut , menatap Papahnya ketakutan.
"Bisa nggak sih jangan maksa! bisa nggak sih jangan selalu ingin di turuti!" bentak Zidan di hadapan anakku, aku menoleh ke arah Aska yang sudah berkaca-kaca matanya, padahal yang di bentak aku, bukan dia.
__ADS_1
"Zi, kenapa harus semarah ini sih, kan aku sudah pernah bilang jangan marah di depan anak kita, kesian dia jadi takut " Zidan melirik Aska dengan tatapan tajam, anak ku hanya bisa menunduk takut, tanpa mengatakan sepatah katapun, Zidan pergi setelah memasang jasnya.
"Zidan " aku berusaha mengejar dan memanggilnya, tapi sayang, mobil Zidan sudah berlalu meninggalkan pekarangan rumah.
"mamah" suara panggilan Aska yang begitu lirih
"nggak papa sayang "
....
author POV
"Yang jagain Nesha siapa kalau kamu kesini?"
"aku titipkan ke penitipan anak dulu" Karina memijat punggung kokoh Zidan
"banyak kerjaan sayang, kemarin aku terpaksa pulang cepat karena nggak tahan, jadi hari ini harus selesain semuanya" Karina menghembuskan nafas berat, ia berpindah berdiri di hadapan Zidan dengan sebelum memutar kursi Zidan mengarah padanya.
"sudah makan?" Zidan menggeleng
"makan dulu ya, aku sudah bawakan kamu makan siang dari rumah" lagi-lagi Zidan mengangguk, Zidan mengekori Karina duduk di sofa yang ada di ruangannya.
"apa itu?"
"Opor ayam, kamu pasti suka"
__ADS_1
"buatan kamu?" Zidan berharap itu buatan istrinya, tapi Karina justru menggeleng.
"bukan lah sayang, sejak kapan aku bisa masak, ini buatan bi Inah" jelas Karina, tidak tau aja dia, Zidan begitu mengharapakan makanan yang di bawa Karina adalah hasil masakannya sendiri. Zidan membuka mulut membiarkan Karina menyuapinya.
"enak nggak?"
"enak sih, tapi lebih enak lagi kalau kamu yang masak" ucap Zidan jujur, Karina hanya tertawa menanggapinya.
"Jangan aneh-aneh kamu Zidan, aku paling malas yang namanya berurusan dengan dapur, nggak akan pernah aku masak" berbeda sekali dengan Inayah, Inayah yang selalu memasak apa pun yang Zidan minta.
Inayah akan terus belajar resep-resep baru agar menu masakannya tidak membosankan untuk anak dan suaminya. Inayah yang membersihkan rumah tanpa ada bantuan dari siapapun, sedangkan Karina yang terbiasa hidup mewah dari kecil tidak akan membiarkan tangannya menyentuh baju di mesin cuci. Ada sekitar 4 orang pekerja di rumah Karina yang tugasnya beda-beda.
"aku mau sekali-kali kamu masak buat aku, sayang. sudah empat tahun kita menikah nggak pernah sekalipun aku makan masakan buatan kamu, kaya Inayah yang setiap hari masakin aku" kotak bekal berwarna merah muda itu melayang ke dinding ruangan Zidan, Inayah bangkit dari duduknya menatap tajam ke arah Zidan.
"AKU PALING NGGAK SUKA DI BANDING-BANDINGIN! APA LAGI SAMA PEREMPUAN RENDAHAN ITU, AKU NGGAK SUDIH DI BANDINGIN SAMA ISTRI KAMU YANG SATU ITU, PEREMPUAN RENDAHAN, SEDANGKAN AKU TUMBUH DAN BESAR DI KELUARGA KAYA RAYA, NGGAK PERNAH SEKALIPUN AKU HIDUP SUSAH" suara Karina menggema di dalam ruangan Zidan, Zidan pun menatap Karina tidak kalah sengitnya, dia berucap baik-baik tapi respon Karina seperti ini, kantornya pun jadi berantakan karena ulah Karina yang kelewatan.
"KAMU APA-APAAN SIH, MENDING KAMU PULANG DARI PADA BUAT KEPALA KU PUSING" Karina ambil tasnya yang ada di atas meja Zidan dan keluar dari sana. Bantingan pintu ruangan Zidan membuat beberapa karyawan Zidan menoleh, tapi tetap berpura-pura tidak peduli saat ia lihat istri dari atasannya itu. Siapa yang berani mengangkat kepala menatap putri bungsu dari pengusaha ternama juga sekaligus istri dari pengusaha juga.
Di dalam ruangannya, Zidan memijat pelipisnya yang mulai berdenyut lagi, Zidan Benar-benar tidak habis pikir dengan kelakukan istri keduanya.
Dering ponsel di atas meja memecah keheningan di dalam ruangan, Zidan menarik nafas dalam sebelum mengangkat panggilannya.
*" waalaikumsallam, kenapa?"
"Zi, kamu sudah makan?
__ADS_1
"kamu mau nelpon cuman mau nanya itu? sumpah nggak penting banget " Zidan matikan Panggilan secara sepihak