
Tidak terasa hari ini aku harus pulang ke jakarta, waktu satu Minggu kenapa terasa singkat sekali, aku sekarang menuju rumah Abang ku yang ada di Banjarmasin, hanya berdua dengan Aska, tadi mamah papah mau mengantar tapi aku melarang mereka, takut kecapean, toh aku cuman mau mampir aja, pesawat yang akan aku tumpangi untuk tiba di Jakarta berangkat malam ini.
Mungkin aku akan tiba di rumah sekitar jam 10 malam, perjalanan yang melelahkan, tidak papa melelahkan, semoga Zidan sudah pulang, jadi lelahku sirna, dasar Inayah bucin, tidak papa bucin, toh sama suami sendiri, bukan suami orang hahaha.
"Abang" aku memeluk Abang ku erat, aku rindu sekali dengannya, Aska langsung saja akrab dengan sepupunya yang usianya hanya berjarak tiga tahun, anak ku ini sungguh sangat sosial butterfly. aku juga memeluk kaka ipar ku, kami seumuran, tapi tetap saja dia Kaka ipar ku, karena menikah dengan Shaka.
"berapa bulan han?" aku mengelus perutnya yang mulai membesar itu.
"lima bulan " ucap Hana sumringah sekali.
"kamu kapan nyusul nih, Aska sudah empat tahun kan?" aku tersenyum malu, ku lirik Aska yang sudah berlari masuk dengan sepupunya itu
"iya Han, sudah empat tahun, tapi nanti dulu deh, aku takut Aska ngerasa kasih sayang ku berkurang untuk dia, tunggu agak besaran lagi"
"keburu tua kamu" ejek Abang ku yang sudah menarik koper ku.
"iiyhh, nyebelin" Hana tertawa melihat tingkah Suaminya yang menyebalkan itu, Hana mempersilahkan aku untuk masuk ke rumahnya, rumah yang tidak terlalu besar tapi nyaman, ada dua lantai juga, gaya rumahnya moderen sekali, tapi klasik, benar-benar tipe Abang ku. mereka baru pindah sekitar dua tahun yang lalu, jadi ini juga pertama aku berkunjung ke rumah mereka.
"mau minum apa, aya?"
__ADS_1
"nggak usah han, sebentar lagi juga aku mau berangkat ke bandara" Abang Shaka yang asik main dengan para bocah langsung ikut bergabung duduk di sofa. di tatapnya aku tidak percaya.
"kamu mau pulang malam ini" aku mengangguk, Hana membawakan segelas air dan langsung ku minum hingga tersisa setengah, aku letakkan lagi gelas itu di atas meja.
"kenapa buru-buru banget sih, nginap dulu di sini seminggu" ucap Abang ku sedikit ketus, tatapannya tajam sekali, aku tertawa juga mendengar ucapannya, apa katanya? menginap lagi seminggu, yang benar saja, aku bukan wanita lajang lagi, jika dulu semasa kuliah aku sering menginap di rumah Abang, kalau sekarang mana bisa, aku sudah menikah, ada suami yang sudah menunggu ku. saat aku membuka hp tadi, langsung saja notifikasi dari pesan masuk semua, termasuk panggilan dari zidan, sepertinya zidan marah karena aku tidak menghubunginya selama seminggu ini, aku lupa karena terlalu asik berlibur di rumah mamah, sampai tidak membeli sim cart untuk menghubungi zidan, ada sepuluh pesan yang zidan kirimkan. aku dibuat bingung dengan Zidan, bukannya aku sudah mengirim pesan akan menginap di rumah mamah selama seminggu, tapi kenapa Zidan justru mengirim pesan menanyakan keberadaan ku, pesan berikutnya berisi dengan permintaan zidan untuk aku pulang, astaga, aku di buat sakit kepala selama perjalanan menuju rumah abangku, sepertinya aku akan mendapat Omelan zidan lagi saat tiba di rumah, baiklah, aku juga sudah siap ko.
"nggak bisa lah bang, aku harus pulang, ada Zidan juga sudah di rumah"
"alah, suami mu itu, sesibuk apa sih, sampai nggak bisa nganter kamu ke sini" abang sepertinya geram sekali dengan zidan, mungkin karena zidan yang tidak terlalu ingin dekat dengan keluarga ku, jadi mereka kurang akrab.
"ayo lah mas, jangan gitu" Hana membela ku. Aku menyenderkan sesaat punggung ku yang terasa lelah sekali, perjalanan dari desa ku ke Banjarmasin, harus menempuh perjalanan sekitar kurang lebih enam jam perjalanan, nanti harus di tambah naik pesawat kurang lebih dua jam lagi.
"Kenapa nak?" Aska mengangkat tangan minta di gendong, aku dudukan Aska ke atas pangkuan ku, Aska berkeringat sekali, karena berlarian kesana Kemari dengan sepupunya.
"kenapa sayang, hm?" wajah Aska tiba-tiba murung, di pelukannya aku begitu erat, wajahnya menempel di dadaku.
"kenapa ini? ko anak mamah jadi manja gini sih?"
"Aska nggak mau pulang mah, Aska mau di sini aja, Aska mau tidur sama nenek dan kakek, Aska mau main ke kebun, Aska mau main sama Abang Fadhil, mah"
__ADS_1
"tuh, dengerin kata anaknya, nggak mau pulang" aku menatap Shaka, menjengkelkan sekali pria anak satu otw dua ini, bukannya membantu untuk memenangkan, ini malah membuat ku semakin pusing saja.
"di sini aja ya nak, biarin mamah mu pulang sendiri" Astaga, apa-apaan si Shaka ini, Aska bisa-bisa benar berpikir seperti itu nanti. ku berikan tatapan tajam pada Shaka.
"iya mah, Aska di sini aja ya, Aska nggak mau pulang ke rumah, Aska di sini aja, Aska mau sama nenek kakek aja" ini gara-gara Shaka juga ni, anak ku jadi tambah merengek seperti ini, pria itu justru tertawa puas melihat adiknya kebingungan ingin menjawab apa.
"sayang, nanti kita ke sini lagi ya, papah sudah pulang nak, kesian loh papah sendiri di rumah" bukannya senang waktu aku bilang Papahnya sudah pulang, Aska justru menggeleng dengan wajah di tekuk, tanda-tanda sebentar lagi akan mulai tantrum, tunggu saja.
"Aska nggak mau pulang mah, Aska nggak mau ketemu papah, papah nggak sayang Aska" Astaga, aku tidak menyangka justru kalimat itu yang akan di lontarkan Aska, kini abangku menatap dengan tatapan mengintimidasi ke arah ku, semoga Abang tidak berpikir yang macam-macam deh.
"nak, nggak boleh ah ngomong gitu"
"emang bener ko, papah nggak sayang Aska, papah nggak tengokin Aska waktu sakit" ya Allah, matilah aku.
"papah kan kerja nak" nggak mau, Aska nggak mau ketemu papah, papah jahat, papah nggak sayang Aska, Aska nggak mau ketemu papah" aku tidak bisa berucap apa-apa lagi, aku menahan tubuh Aska yang memberontak di atas pangkuan Ku, aku kesulitan bahkan hampir terjatuh dari dudukku.
"Aska tenang nak"
"nggak mau, Aska nggak mau pulang, Aska mau di sini aja" abangku berdiri dan mengambil alih tubuh Aska, Aska masih membrotak di dalam gendongan Abang Shaka, tapi setidaknya, Abang Shaka bisa menahan pergerakan Aska ketimbang aku yang lemah gemulai ini. Abang Shaka menatap tajam ke arah ku, kemudian dia berucap sebelum membawa Aska keluar untuk di tenangkan.
__ADS_1
"kamu, berhutang banyak penjelasan sama Abang" bahu ku merosot duduk kembali sofa, aku harus persiapkan jawaban yang masuk akal yang pasti ingin di dengar Shaka. semoga saja, apa yang aku ucapkan tidak membuat Shaka hilang kepercayaan pada zidan.