
Hari ini aku mendapat kabar dari Fakhri kalau Khansa sudah melahirkan, Khansa melahirkan seorang putri. Aku tidak sabar ingin segera menemui bayi mungil sahabat ku itu, pasti dia cantik seperti ibunya, semoga saja kecerewetan ibunya tidak menurun ke bayi mungil itu.
"Zi, aku mau jengukin Khansa di rumah sakit hari ini, kamu mau ikut nggak?" ku rapikan simpulan dasi zidan, sedangkan dia mengancing lengan bajunya.
"Khansa sahabat kamu yang pecicilan itu?" Astaga, dia masih ingat sama kelakuan Khansa di masa SMA. Zidan itu sering sekali di buat kesal dengan tingkah Khansa, tapi Zidan juga berterimakasih katanya sama Khansa, karena sudah menjadi jalan hubungan dia dengan ku.
"iya sayang, Khansa sahabat ku di SMA, yang pecicilan banget, tapi sekarang sudah nggak pecicilan ko" Zidan mengusap pipiku dan menciumnya singkat, ia kemudian duduk di pinggiran ranjang memeriksa tas kerjanya.
"Alhamdulillah kalau sudah sadar" aku ikut mendudukkan diri di samping Zidan. Zidan menoleh ke arah ku.
"di di Jakarta?" aku mengangguk, aku lupa ceritakan tentang pertemuan ku dengan Khansa satu bulan lalu.
"iya sayang, suaminya.... Fakhri, di pindah tugaskan ke Jakarta" Zidan menggangguk paham.
"jadi gimana, mau ikut nggak?" Tas yang sudah siap Zidan letakkan lagi ke atas tempat tidur, ia atensi kan seluruh perhatiannya pada ku.
"hari ini aku ada rapat penting, padahal aku pengen banget ikut jengukin dia, mungkin lain kali aja deh, aku titip salam aja sama Khansa, ya" aku mengangguk, aku juga tidak memaksa Zidan.
"ok deyh, kita bisa jengukin Khansa barengan sama Aska juga nanti" Zidan kembali mengusap kepala ku.
"ayo sarapan, aku harus kekantor"
....
Zidan hanya mengantar aku sampai sekolah Aska saja, sebenernya dia ingin mengantar sampai rumah sakit tempat Khansa di rawat, tapi arahnya berlawanan dengan arah kantor zidan zidan, aku tidak ingin dia terlambat bekerja dan memintanya berangkat saja, toh aku masih bisa memesan taksi online.
Aku mampir sebentar membelikan hadiah untuk bayi Khansa. Melihat perlengkapan bayi yang tersusun di dalam etalase membuat jiwa keibuan ku meronta-ronta, rasanya aku ingin membeli semua yang ada di sana. Aku ingat dulu saat membeli persiapan kelahiran Aska, entah berapa banyak uang Zidan yang kuhabiskan dalam satu hari belanja, padahal kan anak ku laki-laki yang tidak terlalu banyak keperluan, tapi apa yang aku beli benar-benar banyak saat itu, baju lucu yang menggemaskan paling banyak aku beli, padahal baju bayi baru lahir kan hanya di gunakan sebentar, itulah jiwa perempuan ku juga meronta-ronta saat belanja.
Baju-baju anak perempuan ternyata lebih menggemaskan, ya Allah lucu sekali. Aku sudah mendapat sekitar lima pasang baju menggemaskan, dan aku belum puas juga, aku membeli tiga pasang sepatu yang super lucu, aku jadi membayangkan betapa imutnya kaki bayi Khansa saat menggunakan sepatu imut itu.
'Ya Allah, jadi pengen punya anak perempuan juga" Aku merengek di depan lemari kaca yang berisikan perlengkapan bayi mulai dari bandu dan banyak lagi.
"pasti Aska seneng deh punya adik perempuan" aku tidak bisa lebih lama lagi di dalam toko bayi ini, aku bisa-bisa tidak jadi kerumah sakit karena terlalu asik memilih dan mengangumi. Semua barang yang aku beli aku bawa kemeja kasir.
"Inayah" Aku menoleh saat nama ku di panggil.
"Karina" aku mengingat-ingat, semoga saja aku tidak salah lihat. Aku tidak salah, dia sungguh Karina, teman baik Zidan saat kuliah. Aku tidak terlalu dekat dengannya, aku juga sedikit tidak suka dengan Karina yang terus menempel dengan Zidan. Aku memang pencemburu hebat kalau ada perempuan yang mendekati Zidan, apalagi perempuan itu Karina. Karina menjulurkan tangannya dan aku menyambutnya dengan baik.
"Lo apa kabar Inayah, lama banget kita nggak ketemu" aku tersenyum kikuk.
__ADS_1
"ah iya" fokusku teralihkan pada anak perempuan yang mungkin seumuran dengan putraku, apa itu anaknya?
"ini anak kamu, Karina" Karina tersenyum dan menoleh pada putri kecil yang ada di gendongan perempuan yang mungkin saja susternya
"iya, namanya Vanesha, anak ku" ku usap lembut kepalanya, gadis kecil itu sepertinya kelelahan sampai ketiduran seperti itu.
"masyaallah cantiknya"
"makasih Inayah, mirip papahnya" belanjaan ku selesai di kemas, ku berikan kartu dan ku ambil tas belanjaan ku.
"perpaduan sama kamu deh Karina"
"lebih mirip papahnya, Inayah"
"makasih ya mbak" aku berterima kasih kepada mbak kasir.
"Karina, aku jalan dulu ya, aku mau jenguk seseorang"
"oh iya, lain kali kita atur waktu buat jalan bareng, pasti seru kalau kita jalan bawa anak dan suami" aku tersenyum hangat.
"oh iya, kamu sudah nikah?"
"berpaa umurnya?" tanyanya lagi.
"empat tahun"
"beda setahu sama anak ku" aku mengangguk.
"ya udah karina, aku jalan dulu ya, lain kali kita atur waktu, aku duluan "
aku bergegas meninggalkan toko, aku sudah hampir terlambat menemui Khansa, padahal aku sudah janji bertemu di jam sembilan pagi, dan ini sudah hampir jam sebelas siang.
Setelah menemukan ruangan tempat Khansa di rawat, aku segera masuk tanpa mengetuk pintu dulu, tapi tidak aku temukan dia di dalam sana hanya ada bayi mungil di tempat tidurnya. Samar-samar aku mendengar suara dari dalam kamar mandi.
"Fakhri pegangin"
"iya ini sudah aku pegang"
"lebih tinggi Fakhri" ku putar mataku jengah, mereka berdua masih saja suka bertengkar, sudah ada anak juga. Ku lupakan dua orang itu dan lebih memilih mendekati bayi mereka.
__ADS_1
"masyaallah, lucunya kamu nak" ingin sekali aku menggendong, tapi bayi mungil itu masih tidur, aku takut mengganggunya.
"Inayah" aku mendongak, di depan pintu kamar mandi ada Khansa yang sedang di papah Fakhri.
"iya ini gue"
" dari tadi?"
"baru aja, tapi sempat denger perdebatan kalian, sudah punya anak juga, masih aja kaya anak SMA" ku bantu Khansa kembali ke tempat tidurnya,. sedangkan Fakhri meletakkan lagi infus keposisinya.
"Ini teman lo ni, cerewet" cibir Fakhri yang membuat Khansa melempar bantal nya.
"ngeselin ya kamu" astaga dua manusia ini ada aja tingkahnya. Bagaimana mereka bisa menikah sih.
Mereka baru berhenti bertengkar setelah perawat masuk mengecek keadaan Khansa dan bayinya.
"gila banyak banget, Aya"
"kalau gue lebih lama lagi dalam toko itu, gue bisa beli lebih banyak dari pada itu, Sha" Khansa meletakkan bawaanku ke atas meja.
"Suami gue titip salam aja katanya, dia nggak sempat datang jenguk kalian"
"salam balik bilangin kedia"
"Sha"
"Hem"
"gue tadi ketemu Karina di toko perlengkapan bayi" ku lihat kini alis Khansa bersatu bagian ujungnya.
"terus"
"dia juga sudah nikah, sudah ada anaknya juga, anak dia cewek"
"Karina itu kan, teman satu organisasi nya Zidan" aku mengangguk.
"sumpah ya kalau di ingat-ingat, si Karina itu gatel banget loh dulu, dia suka banget buntutin suami Lo"
"dulu Zidan belum jadi laki gue" aku mengingatkan.
__ADS_1