Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
Boneka


__ADS_3

"Mas, orang yang menikam Zidan apa sudah di tangkap?" Tama menghentikan gerakan tangannya di benda pipih miliknya.


"Mas, orang itu juga mau mencelakai aku, dia bisa aja nyerang aku mas" Inayah meletakkan semangkuk tumis kangkung di atas meja.


"Zidan menolak memperpanjang kasusnya" ucap Tama mendapat tatapan sinis Inayah.


"mas, Zidan itu cuman korban salah sasaran, harusnya aku yang di serang, masa kasusnya di tutup gitu aja" Tama menutup laptopnya, ia masukan ponselnya kedalam saku celananya, seakan enggan meladeni Inayah membahas masalah penyerangan Yang tidak di lanjutkan ke pihak kepolisian karena Zidan tidak juga melapor sebagai korban.


"mas"


"mas Tama " panggil Inayah lagi.


"aku mau ke atas sebentar naroh kerjaan, sekalian ngajak anak-anak turun" Inayah berdecak kesal.


"Kenapa sih setiap kau ngebahas masalah Zidan dan penyerangan itu, Tama pasti aja menghindar, kenapa sih?"


...


"mas, aku aja yang jemput anak-anak, sekalian mau lihat perkembangan mereka di sekolah" Tama mengangguk, seraya membenarkan letak dasinya, sedangkan Inayah melakukan perawatan wajah.


"Mas, aku takut orang itu nyerang lagi" Inayah mendudukkan diri di pinggiran ranjang, sedangkan Tama masih dengan posisinya menghadap cermin, Tama bisa melihat ketakutan di wajah sang istri.


"aku tu was was selama tuh orang belum tertangkap mas" Tama mendudukkan diri di samping Inayah, ia genggam tangan istrinya dan mengusap punggung tangan Inayah dengan ibu jarinya.


"Dia nggak akan nyerang kamu lagi, mas yakin" Inayah menatap intens Tama.


"kamu Kenapa seyakin itu sih mas, kamu nggak ada kawatir kawatir nya sama aku"


"nggak gitu sayang" Inayah berdiri, ia menolak saat Tama ingin mengusap wajahnya. Tama menatap punggung Inayah yang mulai menghilang dari balik pintu.


"Aku juga nggak tau Inayah, semua ini harus di hentikan, akupun lelah terus seperti ini, aku lelah " gumam Tama dengan wajah prustasi.


....


"Sial!" umpat Zidan, tidak lagi ia pedulikan panggilan Narendra yang duduk di sampingnya.


"Zidan!"


"Tama angkat Tama, angkat, Sialan Lo Tama!"


Di tempat lain, Inayah yang kesal menyusuri jalan seorang diri, ia memarkirkan mobilnya di dekat sekolah Aska. Wanita itu tidak tau jika sekarang ia sedang dalam bahaya. Tatapan mata wanita itu kosong lurus ke depan.

__ADS_1


Inayah tersadarkan saat ia lihat anak kecil seumuran putrinya berlari ke tengah jalan, tapi kakinya tanpa sengaja menginjak batu yang membuatnya jatuh tersungkur.


"Astagfirullah nak" Dengan segera Inayah menghampiri gadis malang itu.


"Sudah-sudah nggak papa, jangan nangis ya sayang" Inayah bersihkan baju sekolahnya yang kotor, Inayah juga meniup bagian lutut gadis kecil itu yang luka.


"Nanti di obatin ya, sayang" Dengan mata berair gadis kecil itu mengangguk.


"ya udah ayo"


"INAYAH!" Inayah menoleh, ia melihat Zidan dengan wajah ketakutan berlari kearahnya.


"Inayah awas Inayah" pekik Zidan


"Tante mobil" Inayah menoleh ke arah yang berlawanan, sebuah mobil sedan melaju cepat ke arahnya. Inayah tarik gadis kecil di hadapannya itu untuk di peluk,


"Ya Allah, selamatkan gadis kecil ini, orang tuanya akan bersedih jika menemukan anaknya terluka, dan hamba titipkan anak-anak hamba" Doa Inayah begitu tulus, sampai ia rasakan tubuhnya terdorong kuat, bukan karena hantaman dari mobil sedan menyeramkan itu, melainkan ada tangan besar yang mendorongnya menjauh dari jalan. Perlahan ia buka matanya, ia lihat mobil hitam yang nyaris menabraknya itu menjauh dari pandangan mata, akibat dorongan yang begitu kuat tadi, Inayah dan gadis kecil itu terpental, perutnya terbentur aspal.


"argghhh" Inayah meringis kesakitan, ia rasakan kini sesuatu yang segar ikut mengalir kedua pahanya. Inayah belum sadar, Seseorang yang tadi mendorongnya itu kini terkapar tidak berdaya.


"Ta--nte, o--om itu" Ucap gadis kecil itu seraya menunjuk ke arah jalan tempat seorang pria yang kini berlumuran darah terbaring setelah menjadi korban tabrak lari.


"I--inayah" pria itu bergumam sebelum kesadarannya hilang total.


"Zidan " jerit Inayah. Inayah mengabaikan kesakitan nya, ia duduk dan meletakkan kepala Zidan ke atas pangkuannya


"zi--Zidan, Jangan tutup mata kamu Zidan... Buka mata kamu Zidan..."


"Tolong! Tolong!" Keadaan sekitar terlalu sepi karena kawasan sekolah, anak-anak pun masih dalam proses belajar mengajar.


"Siapapun tolong...." jerit Inayah, Zidan yang ternyata masih sadar kembali membuka matanya


"ii--inayah"


"Zidan, kamu denger aku Zidan, jangan tutup mata kamu, aku mohon Zidan" ucap Inayah terbata-bata


dengan Tangan berlumuran darah, Zidan mengarahkan tangannya ke arah wajah Inayah, ia usap air mata Inayah.


"ja--jangan menangis... Inayah, kamu jelek kalau nangis gini" Inayah menggenggam tangan Zidan yang ada di pipinya.


"Zi..." Kini sudut bibir Zidan terangkat membentuk senyum.

__ADS_1


"Ak--aku kangen banget kamu panggil kaya gitu, Aya"


"Aya..."panggil Zidan lagi.


"iya Zi..." ucap Inayah lirih.


"A--aku sayang kamu, cinta ku hanya untuk mu, tidak pernah ada wanita lain di hidup ku, Aya. Percayalah dengan ku, semua yang aku lakukan untuk kamu dan anak kita, aku mohon ja--jangan benci aku, Aya, ja--jangan" Zidan terbatuk-batuk, darah keluar dari mulutnya, semakin panik lah Inayah.


"zi--Zidan" Inayah mengelap darah yang keluar dari mulut Zidan.


"tolong!! tolong" Barulah beberapa orang berdatangan mendengar teriakan Inayah.


"Udah ya, jangan ngomong lagi, kita kerumah sakit ya" Zidan menggeleng.


"Aya..."


"iya Zi, iya..."


"Aku nggak pernah mencintai Karina, aku Menikahinya untuk kamu Inayah, ada pria yang begitu mencintai Karina hingga bisa lakukan apapun untuknya, termasuk melukai siapapun demi kebahagiaan Karina ---" Zidan kembali terbatuk-batuk.


"Zidan..."


"Namanya ra--raka, pria--- ke--jam yang tidak memiliki hati. A--aku mohon jaga diri kamu dan anak kita baik-baik, a--aku nggak bisa jaga kalian lagi, ta--tama, laki-laki itu---itu---pun boneka Raka, Sama seperti a--aku" bunyi ambulans kini terdengar, tenaga medis segera menurunkan tandu dan memindahkan tubuh Zidan ke atasnya. Inayah duduk mematung, ucapan Zidan tadi masih berusaha ia cerna.


"Bo--boneka?"


"argghhh"


"ibu nggak papa"


"astaghfirullah, ibu ini pendarahan, cepat bawa kerumah sakit" pekik seseorang yang ada di sana.


....


Keduanya di larikan ke rumah sakit.


banker Inayah, di dorong beriringan dengan Brankar Zidan, wanita itu tidak lepaskan tatapan dari pria yang sudah mempertaruhkan nyawanya untuk keselamatannya.


"zi--Zidan" Inayah pun tidak sanggup menahan sakit, ia kehilangan kesadarannya juga.


Setelah stau jam penangan, tenaga medis keluar dari IGD. Zidan di masukkan ke ruang ICU, sedangkan Inayah ke ruang rawat.

__ADS_1


Narendra dan biruu kini berada dirmah sakit, sedangkan orang tua Inayah masih dalam perjalanan, untuk Tama? Pria itu belum juga menunjukkan batang hidungnya. hanya ada Khansa dan Fakhri sahabatnya yang setia menunggunya.


__ADS_2