
"Aku pulang cepat hari ini, mungkin jam duaan aku sudah pulang, nanti tunggu aku di sekolah Aska, kita pulang ke rumah bareng"
"beneran, Zi" Andai Zidan melihat betapa antusiasnya aku sekarang, mungkin dia sudah bilang aku lebay lagi.
"iya" suara Zidan terdengar lemah, apa dia sakit
"kenapa, Zi, kamu sakit ya?" aku mendengar bunyi kelihatan saja.
"kepala aku pusing banget, kayaknya demam deh, aku pulang setelah selesai rapat nanti"
"kamu nggak usah jemput aku sama Aska deh, Zi, kamu langsung pulang aja istirahat, nanti aku buatin sup ayam buat kamu makan siang, biar tenggorokannya hangat juga" aku jadi kasihan, terdengar lelah sekali suamiku.
"nggak papa, tunggu aja di sekolah, nanti aku jemput, sudah dulu, aku mau rapat"
"kamu hati-hati di jalan "
"Hem"
Pasti suami ku terlalu keras bekerja satu minggu terakhir ini, sampai berakhir sakit. Pantas saja Zidan tidak pernah menghubungiku. Aku sempat berpikir yang tidak-tidak tentang Zidan, istri macam apa aku ini, bisa-bisanya aku berpikir buruk tentang suamiku yang sibuk mencari nafkah sampai sakit begitu, ya Allah, maafkan hamba mu ini.
Zidan suka sekali dibuatkan sup ayam kalau demam, tenggorokannya sakit biasanya, dengan makan sup ayan hangat jadi membuat Zidan merasa lega ketimbang makan yang lain. Aku bergegas membuatkan Zidan sup ayam, syukurnya persediaan bahan yang aku perlukan masih lengkap.
Ku lirik jam di dinding, sudah pukul satu siang, sup buatan ku juga sudah selesai, aku bergegas bersiap untuk menjemput Aska.
Sesampainya di sekolah, Aska belum pulang, tapi sudah baca-baca doa bersiap pulang, dari jauh aku melihat Zidan berjalan gontai ke arahku.
"Zidan" ku hampiri Zidan, ku papah tubuhnya untuk duduk di kursi yang di siapkan pihak sekolah untuk para orang tua yang menunggu anaknya pulang.
__ADS_1
"pusing banget ya, Zi, kepalanya?" Zidan Mengangguk, ku letakkan punggung tangan ku di keningnya, astaga, panas sekali.
"sabar ya Zi, sebentar lagi Aska pulang" Zidan tidak mengatakan sepatah katapun. Kepalanya bersandar di bahuku, ku raih tangan zidan yang ukurannya jauh lebih besar dari tangan ku. Secara lembut, ku pijat jari-jari Zidan untuk memberikan rasa rileks, semoga bisa mengurangi sedikit rasa sakitnya.
Mendengar suara teriakan anak-anak aku menoleh, Aska sudah pulang, pelan-pelan ku bangunkan Zidan
"sayang, Zidan, Zi, bangun yuk, Aska sudah pulang, kita lanjut istirahat di rumah, nanti aku pijatin punggung kamu" terlihat sekali mata berat Zidan, aku masuk dulu menjemput Aska, setelahnya ikut masuk ke dalam mobil. Aku jadi kawatir melihat Zidan yang akan membawa mobil, tangannya bergetar, Aku sentuh punggung tangannya.
"kenapa?"
"kamu yakin bisa, Zi. Tangan kamu sampai bergetar gini" Zidan mengangguk, kemudian ia tancapkan gas, aku hanya terus berdoa untuk keselamatan kami bertiga.
....
Aska sudah berlari lebih dulu masuk kedalam rumah dengan membawa tasnya, sedangkan aku membantu Zidan untuk berjalan, badannya Zidan panas sekali, aku ingin cepat-cepat membaringkan badan zidan dan memberikannya obat.
Sesampainya di kamar, Zidan langsung merebahkan dirinya di tempat tidur tanpa melepaskan sepatu dan pakaiannya. Zidan memijat - pijat pelipis nya. mungkin karena pusing yang menyerang kepalanya.
"aku ambilkan sup dulu, ya" Zidan hanya mengangguk dengan mata terpejam.
Aku masuk dulu ke Kamar Aska, putraku itu sepertinya kecapean juga, Aska sudah tidur dengan pakaian yang juga sudah berganti.
"anak pintar" Aska sepertinya mengerti jika ayahnya sedang sakit, jadi ia tidak ingin merepotkan aku, Aska memang pengertian sekali.
Aku bergegas turun ke lantai, satu mangkuk sup yang sudah ku siapkan untuk Zidan aku panaskan sebentar agar lebih enak di makan, sembari menunggu supnya siap, aku mencari obat penurun panas dan kompres untuk Zidan.
Setelah semuanya siap, aku kembali naik ke lantai dua, aku duduk di samping Zidan yang bergumam dalam tidurnya, ku raih tangan Zidan untuk ku genggam.
__ADS_1
"sayang, makan dulu yu, aku sudah bawakan sup kesukaan kamu sama obat nya" Zidan tidak merespon, aku sentuh pipinya yang terasa panas itu, ibu jarinya perlahan mengusap kelopak matanya.
Zidan merasakan usapan tanganku dan menggenggamnya, telapak tangan ku di kecupnya singkat, kemudian Zidan berusaha bangun meskipun sulit, aku membantu Zidan untuk duduk
"makan dulu ya, baru minum obat, nanti aku pijatin kepalanya" Zidan mengangguk, perlahan-lahan aku suapi Zidan, meskipun berkali-kali juga di tolak zidan karena merasa sup ayam itu terasa hambar, mungkin karena tenggorokannya yang kurang nyaman, tapi Zidan tetap habiskan hingga tersisa sedikit, aku tidak memaksa Zidan untuk habiskan tanpa sisa, yang penting sekarang Zidan sudah makan dan bisa minum obat.
"minum dulu obatnya, sayang" sekali telan obat-obatan itu di minum Zidan.
"Aska mana?" Zidan bertanya dengan suara parau.
"Sudah tidur, kayanya Aska juga kecapean, biasnya aku kasih makan dulu, tapi tadi pas aku cek ke kamarnya, Aska ternyata sudah tidur " Zidan kembali merebahkan badannya di tempat tidur. Aku sedikit maju agar lebih muda menjangkau kepalanya, merasa kurang tepat posisi, aku berpindah naik juga ke atas tempat tidur, aku pindahkan kepala Zidan ke kepangkuan ku. Zidan terus menutup matanya, ia suka kepalanya di pijat kaya gini.
"Inayah" aku kira Zidan sudah tidur, ternyata tidak, aku menunduk menatap wajah lelahnya.
"kenapa, Zi"
"Aku kan sudah bilang, nggak usah tunggu aku, kenapa kamu masih ngeyel tunggu aku sih, sampai ketiduran di sofa kaya gitu" aku mencium kening Zidan singkat, dari suaranya tadi jelas sekali kalau suami ku marah.
"aku kangen kamu, Zi, aku selalu berharap kamu pulang, aku nggak akan pernah lelah menunggu kamu setiap malam sampai kamu ada di depan mata aku, sayang" Zidan membuka matanya, di tatapnya aku dari bawah, Zidan angkat tangan untuk mengusap wajah ku.
"maaf ya" entah maaf apa itu, aku mengangguk saja, aku tau Zidan bekerja, ia tidak perlu meminta maaf.
"kamu pasti sibuk, aku mengerti itu, Zi, aku hanya kawatir kamu nggak ada kasih kabar apapun, jadi aku takut" raut wajah Zidan berubah sendu, apa hanya pikiran ku saja atau memang ada yang di sembunyikan Zidan, aku mengenal betul suamiku, kami saling kenal bukan setelah pernikahan saja, tapi sejak aku pertama kali mengenakan seragam putih abu-abu ke sekolah.
"maaf karena sudah membuatmu menunggu ku" aku tersenyum, aku sudah katakan kalau suami ku ini bukan pria romantis, dia dingin, tapi di saat bersamaan Zidan juga bisa perlihatkan sisi romantisnya pada ku, lucu sekali suami ku ini.
"Nggak papa Zi, jangan meminta maaf dengan kesalahan yang nggak pernah kamu lakukan" setelah aku berucap hal itu, Zidan semakin terlihat merasa bersalah. Aduh, aku tidak mengerti ada apa Dengannya. Zidan bangun dan duduk bersila di depanku, Zidan menarik lengan ku masuk kedalam pelukannya. Usapan Zidan di belakang kepalaku benar-benar menenangkan, aku rasakan juga Zidan menenggelamkan wajahnya di pundak ku.
__ADS_1
"Aku sayang kamu, Inayah" kalau sakit begini pasti sifat Zidan berubah, lucu juga ya, seperti anak kecil saja, manja, aku suka, tapi aku tidak berharap ia terus sakit, aku mana tega melihatnya kesakitan seperti sekarang. Biarlah Zidan tetap menjadi dingin dari pada romantis seperti anak kecil tapi dalam keadaan sakit.
"aku juga sayang kamu, Zi. cepat sembuh, aku nggak tega lihat kamu kaya gini "