
Inayah POV.
Udara segar kota Kalimantan yang menenangkan, ya Allah, aku rindu sekali. Kami baru saja kembali menapakkan kaki di tanah Kalimantan setelah bertahun-tahun menetap di Jakarta.
Hiruk pikuk kota Jakarta, kemacetan, suara bising kendaraan dengan klakson yang saling bersautan, kini terganti dengan pemandangan alam desa yang masih begitu arsi. Sawah-sawah yang menghijau berjejer rapi di sepanjang jalan yang ku lalui, kicauan burung di atas sana pun seperti menyambut kedatangan anak kampung yang telah lama menetap di kota.
Aska yang baru pertama kali ke desa pun terlihat begitu takjub, ia tidak pernah melihat sawah hijau yang membentang di sepanjang jalan, ia tak pernah melihat kendaraan dengan roda tiga yang sering di sebut becak itu.
"mamah mamah, itu namanya apa?" aku tersenyum simpul, ku usap ubun-ubun anak ku, matanya berbinar kagum, becak yang lewat dengan seorang penumpang dan pengemudi tak lepas dari pandangan matanya.
"itu namanya becak sayang ku"
"becak?" Aska mencoba mengulang, takut salah dengar, aku cukup mengangguk mengiyakan ucapannya.
"Aska mau naik itu, mah" Aska menggoyang-goyangkan tangan ku yang ada di atas paha.
"iya, nanti kita naik becak, kita keliling desa sama nenek dan kakek" Aska bersorak dengan gembira, aku mungkin tidak pernah memperkenalkan Aska dengan kendaraan bernama becak itu, jadi ia begitu antusias ingin menungganginya.
....
Mobil yang aku tumpangi terparkir di depan rumah beton yang tidak terlalu besar, namun terlihat nyaman, pagarnya masih sama dengan yang terakhir kali aku lihat, hanya warnanya saja yang di perbaiki.
__ADS_1
Ada dua pohon mangga di setiap sudut bagian depan rumah orang tuaku, di halaman depannya ada beberapa tanaman hias kesayangan mamah. Ada burung cantik kesayangan papah juga, burung itu bersiul seakan menyambut kedatangan ku dengan Aska.
Tidak lama pintu depan terbuka, menampilkan sosok wanita dan pria yang begitu aku rindukan, tak mampu ku tahan air mata untuk tidak tumpah, rasa rindu dan bersalah menjadi satu memberi sesak memenuhi jiwa.
"mamah, papah" aku berjalan cepat dengan Aska yang ada di gendongan, begitu juga dengan orang tuaku. Kami bertemu di bagian tengah halaman yang rumputnya selalu di jaga papah dengan penuh kasih sayang.
"putri ku" kami berempat berpelukan melepas rindu, bukan hanya aku yang menangis, tapi mamah juga. Sedangkan papah terlihat tegar, berusaha menahan gejolak di dalam dada. Papah melepaskan pelukannya, papah ambil alih Aska dari gendongan ku, Aska tidak menolak.
"cucu ku" aku mendengar gumaman papah yang menciumi pipi yang mulai tirus itu. Aku tak bisa mengucapakan sepatah katapun, aku terlalu larut dalam rasa bahagia yang ku rindukan.
"masuk nak, kamu pasti lelah" aku mengangguk, kami berjalan dengan saling merangkul pinggang hingga pintu rumah tertutup rapat.
Lima tahun aku tidak pulang, lima tahun aku menetap di Jakarta bersama suamiku, jauh dari orang tua yang menyayangi ku, namun akhirnya di anggap asing oleh keluarga baruku.
Di sinilah bahagia ku selain bersama Zidan dan Aska, kedua orang tua yang selalu menunggu anak perempuannya pulang ke rumah.
"bersih-bersih nak, kita makan sama-sama" aku mengangguk, menggeret koper ku yang berisi pakaian ku dan Aska menuju lantai dua ke kamar ku. Sedangkan Aska sudah nempel aja dengan kakek neneknya, aku memang sering memperkenalkan orangtuaku pada Aska, aku tidak ingin Aska menganggap mereka orang asing yang baru dia temui.
Di dalam kamar yang tidak terlalu luas ini, pandangan ku beredar ke seluruh ruangan, semuanya masih tertata begitu rapi, meja belajar, buku-buku dan lemari, semunya masih ada di tempatnya masing-masing. Aku sudah bisa menebak, mama dan papa selalu membersihkan kamar ku, tidak mereka biarkan kamar anak-anaknya kotor, mereka tidak ingin anaknya mengeluh saat pulang merantau dengan kamar yang tidak enak untuk di tempati.
Seprei yang terpasang adalah seprai terbaru, aku tidak mengenali seprai ini, sepertinya mama sengaja membeli nya setelah tau aku akan pulang ke rumah.
__ADS_1
Tubuhku yang lelah ku baringkan ke atas kasur, berjam-jam lamanya perjalanan yang aku tempuh bersama Aska hanya berdua. Aku begitu bahagia, sampai lupa mengecek ponsel ku, aku takut Zidan menghubungi ku.
""Astaga, sinyalnya nggak ada" ini lah susahnya jika sudah ada di kampung ku, aku sulit menemukan sinyal, aku tidak bisa menelpon atau mengirim pesan pada Zidan, begitu juga aku tidak bisa tau Jika zidan ada mengirim pesan atau menelepon ku. Baiklah, besok aku akan membeli Sim Cart baru untuk sementara. Sekarang aku ingin beristirahat sebentar, pinggang ku sepertinya ingin pecah, Aska mungkin sudah bersih-bersih di bawah dengan orang tuaku.
....
Aska duduk di pangkuan papah, kami sedang menikmati makan malam, semua mamah yang buat sendiri. Masakan yang tertata di atas meja, semuanya adalah makanan kesukaan ku. Gangan waluh di padukan dengan ikan bakar laut, aku benar-benar menikmati makan malam yang kembali bisa kurasakan setelah lima tahun terakhir. Makan malam di tutup dengan es Kopyor buatan mamah juga.
Setelah makan, kami duduk santai di ruang tengah. Aska asik main sendiri di karpet penuh kenangan itu, sedangkan aku mamah dan papah duduk di sofa tepat di belakang Aska. Kami sesekali tertawa mendengar ocehan lucu Aska, atau menanggapi ucapan Aska yang bisa tiba-tiba menyambar seperti ikan.
"jadi suami mu nggak ikut ke sini karena kerja"
"iya mah, Zidan sudah dua minggu di luar kota, aku pergi berdua aja dengan Aska, karena sudah kangen banget sama kalian" aku tidak katakan seluruh kebenaran tentang Zidan yang pergi dan tidak ada kabar selama seminggu. Aska yang sakit dan kehujanan karena mertuaku menolak kami untuk berteduh di halaman rumah mewahnya. Zidan yang tidak ada sama sekali menayangkan kabar anaknya yang sakit, dan pada akhirnya aku memilih pulang sendiri karena sudah lelah dan butuh tempat untuk pulang.
"sesibuk itu sampai anaknya sakit pun dia nggak jenguk?" papah ku melirik sedikit tajam padaku, sedangkan mamah hanya fokus dengan layar televisi yang menyala, menampilkan siaran berita kesukaan mereka. Ku ucap beribu kata maaf sebelum kembali mengutarakan kebohongan tentang Zidan yang tidak sama sekali aku ketahui dia kenapa. Aku hanya takut orang tuaku sedih dan berpikir yang macam-macam, aku hanya ingin mereka tau jika anaknya begitu bahagia, hidup dengan suami dan anaknya di kampung orang.
"Zidan sibuk mah, Aya juga sempat kirimkan pesan untuk dia tidak usah khawatir, Aska hanya demam saja" padahal saat itu aku memohon pada Zidan untuk pulang sebentar. Aku begitu membutuhkannya, aku pun juga begitu merindukannya, berhari-hari aku dan Aska menunggu ia mengirim kabar, namun tak ada niat untuknya sekedar menelpon sesaat saja.
Terdengar hembusan nafas papah, semoga papah dan mamah percaya dengan omong kosong ku, papah berpindah duduk di samping Aska, menemani putra ku bermain robot-robotan. Aska tidak pernah merasakan kasih sayang dari nenek dan kakeknya di jakarta, padahal mereka begitu dekat, bahkan hadirnya anakku pun mereka pertanyakan, apakah benar Aska putra Zidan, darah daging Zidan, menyedihkan sekali hidup ku dan anak ku.
Aku tidak ingin memusingkan semunya, aku ingin habiskan waktu berharga ku, mungkin minggu depan aku pulang kembali ke Jakarta, Aska sekolah, Zidan pun mungkin sudah pulang, semoga saja.
__ADS_1