
Inayah POV
Aku lelah sekali hari ini, di sekolah, Aska tidak ingin di tinggal, aku terpaksa menemaninya seharian di sekolah, kebetulan juga aku kembali kesiangan, pekerjaan rumah ku tinggalkan begitu saja tadi pagi.
Terpaksa setelah pulang sekolah dan memasak makan siang, aku lanjutkan membereskan rumah, mencuci pakaian dan lainnya.
Aku benar-benar lelah, punggung ku rasanya ingin lepas, aku ingin segera tidur, tapi lagi-lagi aku memaksakan diri untuk menunggu Zidan pulang, mungkin karena kelelahan, aku justru ketiduran.
"Astaghfirullah, aku ketiduran" aku terbangun karena merasa leher ku sakit, ku lirik jam yang sudah menunjukkan pukul 11 malam, tidak ada kemungkinan lagi Zidan pulang. Baiklah mungkin Zidan masih sibuk, aku kembali kekamar, terkejutnya kau melihat Zidan yang tidur dengan arah berlawanan.
"Zidan" gumam ku pelan, aku melangkah untuk memastikan, takut aku bermimpi dan cuma hayalan ku saja seperti kemarin. Di mana aku berkhayal Zidan pulang dan kembali tidur memeluk ku, tapi nyatanya itu semua tidak ada, Zidan tidak pernah pulang.
Ku sentuh lengannya, aku tidak bermimpi, ini sungguh Zidan ku, kedua sudut bibir ku terangkat membentuk senyum, aku senang sekali, nyatanya ini bukan hayalan ku saja, aku duduk di pinggir ranjang tepat di hadapan Zidan. Ku peluk Zidan karena sudah begitu rindu, sepertinya Zidan tidak suka, aku di dorong kencang hingga jatuh ke lantai.
"akkh" aku memekik saat punggung ku mendarat dengan kasar di lantai.
"Ganggu Banget sih, nggak liat aku tidur, hah!" bibir ku bergetar saat ingin mengucapkan kata maaf.
"ma--af, Zi, aku Senang sekali kamu pulang, aku kelewat senang sampai menganggu kamu tidur, maaf"
"lebay!!!" ketus sekali, Zidan kembali tidur dengan merubah posisinya, aku hanya bisa menatap punggung kokohnya. Aneh sekali sikap Zidan akhir-akhir ini, Zidan semakin kasar, tapi ia juga bisa berubah romantis dalam satu waktu bersamaan. Aku banar-benar tidak mengerti dengan sikapnya itu. Zidan katakan aku lebay, tidak taukah dia bagaimana aku setiap malam menunggunya pulang, menantikan dia dari balik pintu rumah kami.
Aku ingin melihat wajah lelahnya setelah seharian bekerja, dan aku di sebut lebay, tega sekali kamu Zidan.
Aku bangun dan ikut tidur di samping Zidan, aku tidak bermaksud tidur menghadapnya, takut Zidan ku risih karena masih marah, padahal aku ingin sekali tidur di peluk Zidan. Mungkin malam ini harus aku tahan dulu, besok setelah suasana hati Zidan mulai membaik, aku akan tidur lagi dengan di peluk Zidan.
.....
"Inayah" teriak Zidan menggelegar dari lantai dua, aku yang sibuk memasak di bawah bergegas naik ke atas menemuinya. Ku lihat Zidan yang duduk di pinggir ranjang dengan menatap lemari di depan.
"Kenapa Zi, aku lagi masak"
"dasi ku warna navi mana! kamu buang ya, kenapa nggak ada" Zidan bangkit dan melamar semua dasi nya ke sembarang arah.
__ADS_1
"sayang, jangan di hamburin gitu lah, tambah susah loh nyarinya" aku mendekat, memunguti lagi dasi-dasi yang berserakan itu, sedangkan Zidan kembali duduk dengan wajah tajamnya.
"aku sudah lipat ko, aku sudah taruh juga di laci kamu" Ucap ku sambil terus mencari-cari dasi Zidan.
"kalau ada terus di mana dasinya!"
"iya sabar ini aku lagi cari dasinya" syukurnya aku berhasil menemukan dasi itu, dasinya terlipat di tumpukan dasi yang mungkin tidak terlihat oleh Zidan, jadi tidak ketemu.
"ini" dengan kasar Zidan merampas dasi itu dari tangan ku, kemudian ia kembali berdiri di depan cermin tanpa mengatakan sepatah katapun. Aku keluar segera ingin menyelesaikan masakan ku, aku berhenti sebentar didepan pintu kamar Aska, memastikan anak ku sudah selesai berpakaian.
"Aska" Aska mengangkat kepalanya menatap ku
"sudah pakai bajunya?"Aska Mengangguk dengan satu ibu jarinya mengacung ke arahku.
"kalau sudah, turun ya nak, kita sarapan, ada papah juga Lo" ucap ku antusias, Aska awalnya antusias saat aku katakan papahnya pulang. Tapi senyum yang tadi mengambang hilang seketika, Aska menggeleng, aku mendekat, menyamakan tinggi ku dengan Aska, ku rapikan kerah baju Aska
"kenapa, hm? katanya mau ketemu papah, kemarin bukannya Aska nyariin papa terus, ya?"
"Aska takut papa marah, mah" Aska memeluk ku, melingkarkan tangan kecilnya di leher ku.
"tapi papa marahin Aska terus kalau Aska deket-deket papah, mah" Sebegitu takutnya Aska dengan papahnya sendiri. Aku tau dan mengerti betul kenapa Aska bisa seperti itu, dari kecil Aska tidak dekat sama sekali dengan papahnya. Zidan sengaja memberikan pola asuh yang keras untuk Aska, katanya biar Aska terbiasa dengan hidup keras.
Aku sudah sering katakan pada zidan untuk tidak terlalu keras, aku bisa lihat tingginya tembok yang Zidan dirikan di antara ia dan Aska anaknya sendiri. Tapi Zidan malah marah, setelah hari itu aku tidak berani lagi mencoba mengingatkan Zidan, walaupun hatiku takut sekali, suatu hari nanti, justru timbul rasa tidak suka di hati Aska jika mengingat betapa takutnya dulu ia dengan Zidan.
Pada akhirnya aku hanya tersenyum, berusaha menenangkan Aska.
"ma--mah pa--pah" tiba-tiba suara Aska terbata-bata, ada rasa takut yang aku rasakan, aku ingin melepaskan lengan Aska, tapi Aska justru mengeratkan pelukannya. Aska benamkan wajahnya di pundak ku, aku menoleh ke arah pintu kamar Aska, ternyata di sana ada Zidan yang berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Tatapannya begitu dingin, ya Allah, bagaimana Aska mau minta peluk ke papahnya, papahnya saja seperti itu.
"Zidan kenapa?"
"mau pelukan atau mau sarapan, kalau nggak mau sarapan bareng aku bisa berangkat sekarang ke kantor" Astaghfirullah, aku buru-buru lepaskan pelukan Aska, sedangkan Zidan sudah lebih dulu pergi setelah mengatakan itu dengan wajah dinginnya.
"ayo nak, kita sarapan"
__ADS_1
Di meja makan, Zidan sarapan dengan tenang, Aska juga begitu, tidak berani anak itu mengangkat kepalanya apalagi suaranya untuk menyapa sang papah yang begitu ia rindukan. Aku juga tidak berani memulai obrolan karena kejadian tadi malam, aku rasa Zidan masih Kesal, terlihat sekali dari wajahnya. Detak jam dinding saja yang terus terdengar di sertai suara sendok dan piring yang saling beradu di atas meja makan.
Selesai menghabiskan makannya, Zidan bergegas berangkat ke kantor, aku turunkan Aska dari kursinya seperti biasa, aku pegangi tangan mungil Aska bersama-sama mengekor di belakang Papahnya menuju ruang depan.
Zidan sudah rapi dengan jasnya, aku beranikan diri mendekat untuk mencium tangannya, Zidan balas dengan mencium kening ku, Aska berdiri di belakang kira-kira dengan jarak satu meter, ujung baju yang ku kenakan tidak sama sekali Aska lepas.
"Maaf ya, tadi malam aku dorong kamu" aku tersenyum menatapnya.
"nggak papa sayang, aku yang harusnya minta maaf ke kamu, aku terlalu senang kamu pulang sampai ganggu tidur kamu" akhirnya aku bisa kembali melihat senyuman Zidan.
"aku berangkat dulu, ya. kalian hati-hati di jalan" aku mengangguk, ku rasakan tarikan baju ku semakin kencang.
"Zi" Zidan tidak jadi membuka pintu mobil, ia Kembali fokuskan atensinya pada ku.
"hm, Aska kangen banget sama kamu, dia takut sapa kamu duluan, boleh nggak kamu peluk dia, kesian Zi" aduh, kenapa rasanya sesak dadaku, aku memohon pada Zidan untuk memeluk Aska, padahal kan Aska anaknya. Kulihat Zidan melirik Aska yang berdiri di belakang ku, kepalanya menyembul keluar sedikit, bersembunyi di balik tubuhku. Wajah Zidan melunak.
"Aska" tapi suaranya masih terdengar berat, semoga saja Aska paham maksud ayahnya.
"sini" bukannya mendekati Zidan, Aska justru semakin menyembunyikan wajahnya.
"Aska, itu di panggil papah nak, katanya kangen kan?"
"mau kesini, atau papah yang ke sana" aku menarik tangan Aska, Aska menatap ku, aku mengangguk sebagai isyarat pada Aska. Akhirnya Aska beranikan diri mendekati Papahnya. Zidan menjulurkan tangannya untuk di salimi Aska, Aska meraih tangan besar Zidan dan menciumnya dengan hormat.
Aku sedikit kaget, saat Zidan menundukkan sedikit badannya dan mengangkat Aska ke dalam gendongannya, Aska terus menatap Zidan, mungkin ia juga sama kagetnya dengan aku, aku terharu, perasaan ku menghangat, ingin menangis rasanya
Aku tidak ingat kapan terakhir kali Zidan menggendong putranya seperti sekarang, yang pasti sudah lama sekali.
"sekolah yang pinter, jangan rewel, nurut apa kata mamah" Aska diam saja, ia hanya terus menatap papahnya yang sekarang wajahnya tepat di depan matanya.
"denger nggak papah ngomong" Zidan sedikit meninggikan suaranya.
"ii--iya pah, Aska denger" Zidan mencium singkat ubun-ubun Aska, kemudian ia turunan Aska dari gendongannya, singkat, tapi sangat bermakna untuk hubungan mereka.
__ADS_1
"papah berangkat, Assalamualaikum"
"Waalaikumsallam"