Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
kehangatan yang berbeda


__ADS_3

Kami bercerita panjang lebar, tentang pernikahan, keluarga, karir, dan banyak lagi. Kami berdua benar-benar melepaskan rindu yang bertahun-tahun tidak bertemu.


lucunya, Kansa malah menikah dengan musuh bebuyutannya waktu di sekolah, teman sekelas kita dulu, namanya Fakhri. Kansa benci sekali dengan Fakhri, Kansa menganggap Fakhri itu banyak omong, tapi sekarang mereka sebentar lagi akan di karuniai anak. Lucu juga kalau di ingat saat Kansa dan Fakhri berantem di kelas.


Kansa akan tinggal di Jakarta lagi katanya, soalnya Fakhri di pindah tugaskan, kami juga sudah bertukar nomor telepon, kami bisa sering bertemu nantinya, aku senang sekali, setidaknya aku punya teman dekat lagi sekarang.


Kami harus berpisah karena Kansa ada jadwal cek kandungan, Aska anak ku juga sudah lelah dan mengantuk, benar saja saat sampai di rumah, Aska langsung berlari masuk ke dalam kamar dan langsung tidur juga, sedangkan aku menyusun belanjaan yang tadi ku beli.


Aku ingin istirahat sebentar, cukup melelahkan hari ini, tapi Juga membahagiakan. Aku dan Aska bersenang-senang walaupun hanya berdua, dan aku kembali di pertemukan dengan Kansa teman SMA ku dulu.


Di dalam kamar aku mengecek ponsel ku lagi, berharap ada kabar dari Zidan, tapi tidak ada satupun panggilan masuk dari zidan, padahal aku begitu berharap Zidan menelpon walaupun untuk sekedar memberi kabar.


....


Satu minggu sudah berlalu, sampai detik ini, tidak sekalipun Zidan mengangkat panggilan ku, tidak ada juga Zidan menghubungi ku, baik itu menelpon atau pesan singkat dari nya.


"kamu sibuk banget ya, Zi, sampai nggak sempat kasih kabar, aku kawatir sama kamu Zi" aku tidak ada nomor yang bisa di hubungi sekarang, aku tidak ada tau satupun nomor orang yang kerja di kantor Zidan.


Aku sudah putuskan jika sampai besok Zidan tidak ada kabar, aku akan kerumah mertuaku untuk sekedar bertanya, pasti papahnya Zidan tau kabar mengenai Zidan.


Aku tau aku akan di usir seperti sebelumnya, tapi papahnya Zidan tidak terlalu mempermasalahkan hubungan ku dengan anaknya, walaupun dia juga tidak merestui, tapi setidaknya, papah nya Zidan tidak sekeras mamahnya Zidan.


Aku akan tunggu sampai besok, dan semoga saja Zidan ada kabar.


Istri mana sih yang tidak kawatir dengan suaminya yang pamit pergi kerja tapi sampai sekarang tidak ada kabar yang ia dapatkan, aku takut terjadi sesuatu, atau Zidan sakit misalnya.


.....

__ADS_1


Author POV


Di tempat lain, Zidan yang begitu di khawatirkan Inayah justru bersenang-senang dengan Karina dan putri mereka.


Mereka bertiga sedang menikmati waktu satu minggu yang tersisa dengan berjalan-jalan, membeli oleh-oleh, menikmati pemandangan alam di Lombok yang menenangkan.


Mereka baru saja pulang ke villa Setelah lelah seharian bermain di pantai. Nesha yang kelewat bahagia tidak ingin di ajak pulang, ini pun tadi Karina harus marah dulu baru Nesha menurut.


Zidan mengeringkan rambutnya dengan handuk, ia pandangi Karina yang sedang melakukan perawatan wajah dari jauh, sudut bibir Zidan terangkat membentuk senyum, tangannya terlipat di depan dada.


"kenapa sayang, sudah cantik gitu nggak usah dilihatin terus Napa" Zidan melempar handuk yang ia pegang tadi ke atas sofa, Zidan melangkah mendekat sang istri yang nampak murung semenjak mereka memasuki villa.


Zidan menarik satu kursi dan ia letakkan di belakang Karina, Zidan duduk di kursi itu, Zidan lingkarkan tangannya ke pinggang ramping Karina, Zidan tumpukkan kepalanya di celuk leher sang istri.


"kenapa sih, hm?"


"muka ku gosong nih, ayyhh"


"mana sih gosongnya, nggak ada tuh, masih cantik tuh"


"gara-gara anak kamu nih, nggak mau pulang" Zidan tertawa, ia sibak rambutnya yang masih sedikit basah ke belakang, satu kecupan mendarat di pipi kiri Karina.


"kenapa jadi nyalahin anak ku?"


"anak mu itu nggak mau di ajak pulang, muka ku jadi gosong gini" Karina berusaha melepaskan pelukan Zidan, tapi pria itu justru semakin mengeratkan pelukannya.


"kan kamu yang ngajak aku sama Nesha main ke pantai, jadi jangan salahkan Nesha yang akhirnya nggak mau pulang karena anak kita nggak pernah main ke pantai, sayang" ucap Zidan begitu lembut.

__ADS_1


"bela aja terus anak kamu itu, bela aja terus" Karina berhasil melepaskan diri dari Zidan, dengan wajah yang masih di tekuk, Karina menuju meja yang tidak jauh dari jendela, di sana Karina menyalakan lilin aroma terapi yang menenangkan. Sedangkan Zidan naik ke atas ranjang, Zidan melihat banyaknya panggilan masuk dari Inayah yang ia tolak, bukan hanya panggilan, tapi pesan masuk juga, itu semua atas perintah Karina. Karina yang sudah selesai dengan urusannya pun ikut bergabung dengan Zidan, di liriknya tajam Zidan yang fokus dengan ponselnya.


"awas aja kamu ya berani-berani nelpon dia" Zidan langsung letakkan ponselnya ke atas Nakas, ia beralih memeluk Karina, wanita yang sudah berhasil merebut tempat Inayah di hatinya.


"nggak sayang, nggak. Sekarang waktu aku untuk kalian, nggak akan aku rusak waktu berharga kita dengan menghubungi Inayah" Karina tersenyum bangga, ia usap wajah Zidan.


"makasih Sayang"


"iya" hening sesaat, ke-dua pasangan itu hanya saling memeluk saja, Zidan sebenarnya sangat ingin menghubungi Inayah, Zidan tau Inayah pasti sudah sangat menunggu kabarnya, tapi ia pun tidak ingin liburannya yang berharga dengan Karina dan Nesha justru rusak jika Karina tau Zidan melanggar janjinya.


"sayang, panggil Karina dengan kepala mendongak.


"Hem, kenapa?"


"besok kita belanja oleh-oleh yang banyak ya" Zidan mengangguk.


"aku nggak mau ya kamu beliin sesuatu untuk perempuan itu ataupun untuk anak itu" ucap Karina tegas.


"loh kenapa sayang, aku beliin oleh-oleh untuk mereka pun nggak boleh?"


"pokonya nggak boleh! ini liburan kita bertiga, aku, kamu, Nesha. Aku nggak mau mengingat-ingat dua orang kampungan itu, aku nggak mau di merusak liburan kita, aku nggak mau!" Karina menekankan kalimat terakhirnya. Zidan benar-benar tidak habis pikir dengan wanita di depannya ini, tapi jika tidak di turuti, Karina akan terus membahasnya sampai mereka pulang nanti, bahkan ke-dua orang tua mereka pun bisa ikut campur karena Karina yang mengadu dan berakhir dengan pertengkaran yang tidak di inginkan Zidan.


"janji, jangan ada satupun hal yang menyangkut dua orang itu di liburan kita" pada akhirnya Zidan hanya bisa mengangguk patuh, mengiyakan semua ucapan istri keduanya.


"makasih" Inayah kemudian mengecup bibir Zidan, tanda terima kasih dan kemenangannya.


Dua keadaan yang berbeda dari kedua istri dan anak-ana Zidan, yang satu tidur dengan nyenyak di dalam pelukan Zidan, sedangkan yang satu lagi harus terus merasakan kegelisahan karena sampai sekarang belum mendapatkan kabar apapun dari sang suami tercinta.

__ADS_1


Inayah tidak tau jika saat ini, pria yang begitu ia percaya sedang menikmati kehangatan dengan perempuan lain di tempat yang berbeda.


__ADS_2