
"Kamu ko nggak bilang kalau kamu sering sakit kepala, Aya" Ku palingkan wajah menghindari kontak mata dengan Zidan, aku baru saja sadar dari pingsan dan ternyata aku sudah ada di rumah sakit. Aku lupa apa yang terjadi dengan ku, yang aku ingat hanyalah kepala ku sakit dan tidak ingat apapun lagi.
Zidan mengusap tanganku sesekali menciumnya.
"Aya, besok kita lakukan pemeriksaan Biopsi ya, agar kita tau tumor yang ada di kepala kamu itu termasuk tumor ganas atau jinak" Ya, Zidan sudah jelaskan mengenai kondisiku, di kepala ku terdapat tumor yang menjadi penyebab sakit kepala ku selama ini. Sebenarnya aku pun sudah menduganya jauh-jauh hari, jika ada yang salah dengan ku dan benar saja, aku mengidap tumor otak. Aku tidak tau apa yang akan terjadi dengan ku setelah ini, penyakit yang ku derita bisa saja merenggut nyawaku, aku tidak ingin pergi secepat ini, aku tidak ingin meninggalkan anak ku yang masih sangat kecil itu, anak ku masih butuh sosok ibu. Ku usap air mataku dengan kasar, air mata yang menggambarkan betapa runtuhnya pertahanan ku sekarang, Vonis dokter tentang diriku membuat ku menjadi semakin lemah saja.
"Aya...."ku potong langsung ucapan Zidan.
"Aku nggak mau Zidan, aku nggak mau ninggalin Aska, aku nggak mau...." Zidan mengusap air mataku, mengelus pipi ku dan menatapku dengan sorot mata begitu dalam.
"jangan ngomong gitu, kamu akan sembuh, kita berobat ya sayang. Aku akan bawa kamu berobat di rumah sakit terbaik.... samai tumor itu menghilang dari kepala kamu, kamu akan kembali sehat lagi, dan kita bisa mengurus Aska bersama" aku tidak tau harus memberikan respon seperti apa, aku tidak tau apakah aku bisa sembuh dan melihat anak ku tumbuh besar, yang aku tau setelah mengetahui mengenai kondisi ku, aku menjadi begitu lemah. Ku pandangi anak ku yang tidur di sofa, wajah mungilnya begitu terlihat lelah sekali. Zidan terpaksa membawa Aska kerumah sakit karena tidak ada yang menjaganya di rumah.
"Maaf ya, maaf karena aku nggak ada buat lindungi kamu. Kamu di pukul orang tua ku di dalam rumah kita sendiri, maafkan aku" Zidan berucap lirih, aku enggan menatap wajahnya, masih ada perasaan sakit hati saat melihat Zidan yang pergi begitu saja saat aku memohon untuk tetap tinggal.
"Sepenting itu pekerjaan kamu Zi? sampai aku mohon-mohon kamu tetap memilih pergi. Kamu tinggalin aku dengan Aska di rumah, padahal kamu tau di rumah ada orang tua kamu yang begitu benci dengan ku, Zi" ku tahan mati-matian agar suara ku tidak bergetar karena rasa sesak yang ku rasakan di bagian dada.
"apa mereka tidak semakin murka setelah tau aku penyakitan" aku tersenyum miris.
"sayang... sudah ya, kamu harus istirahat" ku tarik tangan ku yang Zidan genggam.
"Ema bener Zi, seharusnya kita nggak pernah ketemu dan menikah" Zidan kembali menggenggam tangan ku, ia usap punggung tangan ku dengan ibu jarinya.
"Sekarang kamu istirahat, aku mau pulang dulu sekalian nitipin Aska sama temenku, kesian dia kalau harus ikut jaga kamu di rumah sakit"
__ADS_1
"aku mau pulang, aku nggak papa, jangan titipkan Aska dengan orang asing" aku sedikit meninggikan suara ku, apa-apaan Zidan, dia seenaknya ingin menitipkan Aska ke orang lain walaupun dia bilang itu temannya.
"kamu masih sakit Aya, kamu butuh perawatan, dia teman ku, kamu nggak usah kawatir"
"Dia punya keluarga di sini, tapi mirisnya anak kita harus di titipkan ke orang lain karena nggak pernah mendapatkan pengakuan dari keluarganya" aku bergumam tapi Zidan masih jelas mendengar apa yang aku ucapkan.
...
Author POV
"Papah, Aska nggak mau, Aska mau sama mamah" Zidan duduk menyamakan tingginya dengan sang anak, Zidan merapikan rambut Aska yang sedikit berantakan.
"Nurut ya nak, Aska di sini dulu, Aska nggak boleh ikut kerumah sakit, mamah papah nggak mau Aska ikut sakit"
"ZIDAN!" Zidan tersentak kaget saat pundaknya di tepuk dari belakang.
"mamah nggak mau basa basi lagi, kamu pulang sekarang sama mamah... atau " Dewi menjeda kalimatnya dan menatap tajam ke arah Aska.
"mamah yang temui ibu anak itu dan katakan tentang kamu dan Karina" Zidan mengepal kuat satu tangannya.
"mah, please, Inayah sakit, Inayah butuh Zidan" Dewi tersenyum miring mendengar apa yang baru saja Zidan katakan.
"Bagus dong kalau gitu, mamah bisa langsung temui dia dan katakan semunya, apa nggak kejang-kejang tu Inayah"
__ADS_1
"papah..." Zidan benar-benar berada di keadaan yang sulit, ia tidak bisa meninggikan sang istri yang sedang terbaring di ranjang pesakitan nya, tapi ia juga tidak ingin Dewi membuat semuanya semakin rumit, Zidan tidak siap kehilangan cinta pertamanya , Zidan tidak ingin berpisah dengan Inayah yang pasti akan meraskaa kecewa setelah tau semuanya, Zidan tidak bisa.
"Jadi gimana, kamu mau ikut mamah pulang, atau mamah temui wanita itu?"
"Zidan ikut mamah" senyum kemenangan tergambar jelas di wajah Dewi. Dewi ingin merebut paksa Aska yang masih berada di gendongan Zidan.
"Jangan sakiti anak Zidan mah, dia darah daging Zidan, Zidan nggak akan tinggal diam kalau mamah kembali menyakitinya" kini ucapan zidan berubah tegas.
"Tinggalkan anak itu di sini, Zidan"
"mamah nggak punya hati, Aska ini baru empat tahun mah, Aska anak Zidan, apa Zidan segila itu meninggalkan Aska sendirian dirumah ini sedangkan Inayah nggak ada dirumah" Zidan menjeda ucapannya dan menarik nafas panjang.
"Zidan akan antarkan Aska dulu ke rumah sakit, Zidan akan menyusul, mamah pergi aja dulu"
"awas sampai kamu ingkar"
.....
"Aska temenin mamah ya nak, papah harus pergi, kalau mamah tanya Papah kemana... bilang papah ada kerjaan ya nak" Aska mengangguk dengan tas Pororo berisikan pakaian ganti untuknya dan untuk Inayah yang sudah Zidan siapkan. Anak lugu itupun sudah berganti baju dan mandi.
"Aska masuk sekarang ya nak, papah harus pergi" Zidan bukakan pintu ruangan, pria itu hanya mengintip dari luar, Aska sempat menoleh sebentar menatap sang papah, tapi kemudian Zidan menutup pintu ruang rawat Inayah.
Zidan duduk di kursi panjang di depan ruangan Inayah, ia tutup wajahnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Aku nggak mau kehilangan Inayah, aku juga nggak bisa begini terus, aku nggak bisa kaya gini terus" Zidan tegakkan lagi tubuhnya, wajahnya berubah serius.
"Aku akan pertahankan pernikahan ku dengan Inayah, gadis lugu yang 12 tahun lalu ku kejar cintanya. Perempuan dengan mata teduh dan senyum manis. Maafkan aku Karina"