Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
di usir


__ADS_3

Inayah POV


Setelah menyakinkan diri, aku putuskan hari ini untuk kerumah mertuaku. Semoga saja aku masih ingat dengan jalannya, aku bahkan sudah lupa, kapan terakhir kali aku ke sana, tidak pernah sekalipun Zidan mengajak ku kerumah orang tuanya, jika ada acara besar pun, aku di Minta untuk tidak ikut saja.


Aku begitu asing di keluarga suamiku, begitu juga dengan Zidan yang asing di keluargaku, kami memiliki konteks asing yang berbeda, sulit untuk di jelaskan, yang pasti itu hanya lah hubungan kami yang cuman menyangkut dua orang, aku dan Zidan saja, sedangkan keluarga ku dan keluarga Zidan tidak pernah bersatu.


Terkadang terbersit penyesalan di dalam hatiku karena sudah menikahi pria yang statusnya jauh lebih tinggi dari pada keluarga. Aku yang sering di hina, di rendahkan, di caci maki karena derajat kami yang Berbeda. Tapi semua itu bisa aku tepis dengan rasa cinta ku dan Zidan yang sama besarnya, ketulusan kami dalam menjalankan rumah tangga tanpa restu ini membuat ku merasa beruntung dan bersyukur, karena memiliki suami seperti Zidan, pria tulus yang aku temui dua belas tahun silam.


Aska tidak ingin sekolah, anak ku sedikit demam juga sebenarnya tagi malam, jadi aku ijinkan Aska untuk tidak sekolah dulu hari ini.


Aku membawa Aska ikut pergi ke rumah mertuaku, aku tidak tega meninggalkannya di rumah sendirian atau menitipkannya nya sebentar.


"mamah, kita mau kemana?"


"kita ke rumah nenek Dewi" Aska menggeleng ketakutan, mata bulatnya mulai berkaca-kaca, aku angkat Aska ke dalam gendongan, badan anak ku panas.


"kita ke rumah nenek sebentar ya Sayang"


"Aska nggak mau mamah, Aska takut '


"itu neneknya Aska" Aska tetap menggeleng, air matanya tumpah sudah, ku raih dua helai tisu yang kebetulan ada di atas meja dekat ku berdiri.


"ya udah, Aska di rumah tante Siska, gimana " Aska bukannya mengangguk, malah memeluk erat leherku, tangisannya kembali pecah, taksi pesanan ku juga sudah datang.


"Aska nggak mau di tinggal, Aska mau mamah" beginilah Aska kalau demam, jadi cerewet sekali. Padahal Aska anak yang pintar, mudah di kasih tau.


"kita kerumah nenek, ya. Aska kangen papah kan?" kali ini Aska mengangguk, sebenarnya aku ingin membatalkan, tapi tidak bisa juga, kalau tidak pergi sekarang kapan lagi, aku akan terus memikirkan Zidan jika belum mendapatkan kabarnya sama sekali.


"ikut mamah atau tinggal?" aku memberikan pilihan

__ADS_1


"ikut mamah" itulah pilihan akhir Aska. Aku bergegas masuk ke dalam taksi. Sebenarnya bukan hanya Aska yang takut, aku pun takut, padahal aku bukan ingin bertemu orang lain, mereka keluarga suami ku, berarti keluarga ku juga, aku tidak seharusnya takut begini.


Dari masuk taksi sampai hampir tiba di rumah mertuaku, aku terus berucap dzikir untuk menenangkan hati, ada perasaan ragu juga sebenarnya, ada perasaan tidak nyaman yang mengganjal hatiku, semoga saja semuanya berjalan baik, tidak masalah jika aku dapat bentakan, hinaan atau bahkan amukan mereka, terutama ibu mertuaku, asalkan aku mendapat kabar baik dari suami ku, itu saja yang aku harapkan sekarang.


Hatiku semakin berdetak tidak karuan saat mobil taksi kini berhenti di depan gerbang rumah ibu mertuaku, gerbang yang menjulang tinggi menutupi kemewahan dari hunian bak istana, milik keluarga Narendra.


Ku tarik nafas dalam sebelum memencet bel, jangan tanyakan bagaimana Aska sekarang, putraku tertidur di gendongan ku.


Tidak ada sedikitpun celah yang bisa membuat orang mengintip masuk walaupun hanya di halaman nya saja. Berkali-kali aku memencet bel, sampai seorang pria yang menggunakan baju keamanan keluar menemui ku.


"cari siapa ya, Bu" pria itu berucap tidak ada ramah-ramahnya sama sekali, ia menatap ku dari atas kepala hingga ujung kaki.


"saya ingin ketemu bapak Narendra ada pak?"


"sudah buat janji sebelumnya?" bagaimana aku bisa membuat janji dengan mertuaku sendiri, tapi tidak heran sih, mereka tidak akan ada yang mengenaliku, aku kan tidak pernah di kenalkan Zidan sama sekali, apa kah aku ini istri yang di sembunyikan? itu pertanyaan yang sempat terbesit di kepala ku, tapi sekarang bukan waktunya mempermasalahkan itu.


"saya Inayah pak, istrinya Zidan Narendra" Aku pikir dia akan terkejut atau setidaknya sedikit memberi rasa hormat, tapi pria yang aku perkirakan usianya hampir sama dengan papah ku itu bersikap biasa saja.


Saat aku pergi tadi, langit bagus-bagus saja, tapi sekarang kenapa tiba-tiba cuacanya berubah, langit menggelap, belum turun hujan sih, tapi petir petir kecil mulai menyambar.


Pinggang ku rasanya mulai pegal, sejak turun tadi aku terus menggendong Aska, gumaman kecil terdengar dari mulut anakku, nafasnya pun terdengar hangat, ku sentuh lagi keningnya yang semakin panas saja, aku ingin segera pergi dan membawa Aska dari sini, ada sekitar tiga puluh menit aku menunggu, akhirnya pintu pagar kembali terbuka, terbukanya pun masih sama seperti tadi, hanya sedikit. Ku lirik ibu mertuaku yang ada di belakang satpam itu, ya Allah, kenapa harus ibu mertuaku, kenapa bukan ayah mertua saja, setidaknya beliau bisa lebih ramah jika berbicara, walaupun sorot matanya memperlihatkan ketidak sukaan pada ku.


"Mau apa kamu ke rumah saya?" Astaga, kenapa mulutku jadi kaku seperti ini sih kalau sudah di hadapkan dengan ibu mertuaku.


"kenapa!" bentakan itu bukan hanya mengagetkan aku, tapi Aska juga.


"maaf mah, Ina---"


"JANGAN PANGGIL SAYA MAMAH, SAYA TIDAK PERNAH SEKALIPUN MERESTUI HUBUNGAN PUTRAKU DENGAN PEREMPUAN MISKIN SEPERTI KAMU!!" Ku gigit kuat-kuat bibir ku yang bagian bawah, ku tahan sekuat mungkin air mataku yang ingin mengalir, seketika aku menunduk tak berani menatap wajahnya.

__ADS_1


"ma--af, sa--saya ingin tanya, Zidan aa--ada tugas di mana, sa--saya khawatir, dari pergi kemarin, Zidan sulit di hubungi" mungkin sekarang suara ku terdengar bergetar, aku beranikan menatap wajah ibu mertuaku, beliau tersenyum, bukan senyuman yang tulus, tapi senyum yang merendahkan aku, terlihat sekali bentuk senyumnya.


"Kamu itu harusnya sadar diri Inayah, kamu itu derajatnya di bawah kaki keluarga saya, jangan pernah bermimpi ingin menjadi ratu di keluarga Narendra, cinta anak saya dengan wanita kampung seperti kamu itu sudah sirna, hilang semuanya, jadi bersiaplah untuk meninggalkan anak saya!" petir menyambar memekikkan telinga, sama dengan ucapan ibu mertuaku yang melukai hatiku, hujan mulai turun perlahan. Aska di gendongan menyembunyikan wajahnya di celuk leherku.


"tutup gerbangnya pak" aku berusaha menahan lengan satpam itu, aku ingin ikut berteduh sebentar, kesian Aska kehujanan.


"mah, tolong ijinkan Inayah sama Aska berteduh, Aska sakit mah, sebentar saja, Inayah mohon " aku memohon dengan air mata yang sudah mengalir turun, berharap ibu mertuaku iba pada cucunya sekali saja.


"bukan urusan saya, lagi pula saya tidak pernah mengakui anak itu sebagai cucu saya" ya Allah teganya.


"tutup gerbangnya pak!" bentak ibu mertua ku.


"pak saya mohon pak, ijinkan saya berteduh sebentar, di depan sana saja pak, kesian anak saya pak, anak saya sakit pak, saya mohon ijinkan sebentar "


Dengan teganya satpam rumah zidan mendorong tubuh ku menjauh dari gerbang, hampir saja aku jatuh tersungkur dengan Aska di gendongan.


Aku berusaha berdiri dan memukul-mukul besi pagar, memohon sehina-hinanya di hadapan mereka para orang kaya.


Aku runtuh bersimpuh di hadapan pagar yang mulai tertutup, tidak ada satupun dari mereka yang mendengar tangisan permohonan ku, mereka tidak mengijinkan aku dan anak ku berteduh walau hanya di depan pintu saja.


"ma--mah, Aska dingin mah" air hujan mulai mengguyur membasahi tubuh ku, ku peluk erat Aska yang mulai mengigil kedinginan.


"di--dingin, di--ngin mah"


"iya sayang iya" ya Allah, kemana hamba harus berteduh, rumah-rumah mewah ini tidak ada yang


bisa di mintai tolong, aku tetap duduk meringkuk memeluk anak ku sambil menunggu taksi yang sudah ku hubungi, aku tidak ada tempat berteduh.


"Zi, demi kamu aku sama anak kita

__ADS_1


kehujanan kaya gini, demi kamu aku rela mengetuk pagar rumah mewah milik orang tuamu yang tidak sekalipun mengijinkan aku dan Aska masuk"


"kamu di mana Zi"


__ADS_2