
"Setidaknya beri saya kepastian Inayah, jangan menggantung perasaan saya, kita berdua sudah cukup dewasa untuk tidak bermain-main dengan hubungan" ku beranikan diri mengangkat kepala menatap Tama. Hari ini Tama mengajak ku dan anak-anak beramian ke taman kota, kami seperti keluarga yang bahagia, mungkin orang-orang akan mengira aku dan Tama orang tua Aska dan Ziya, karena Ziya terus saja memanggil Tama dengan sebutan papah. Aku juga sudah menyiapkan diri untuk bertemu dengan Tama, sudah berminggu-minggu aku menghindari dia, aku merasa canggung saat bertemu dengannya setelah apa yang ia katakan tempo hari. Dan sekarang aku memberanikan diri untuk mengiyakan ajakannya setelah bercerita mengenai kegelisahan ku pada orang tuaku. Mereka menyerahkan segala keputusannya padaku, mereka juga tidak memaksa aku menerima Tama di dalam hidupku, mereka tau betapa traumanya aku dengan hubungan yang berakhir dengan kecurangan. Setelah resmi bercerai dengan Zidan, aku tidak pernah sekalipun menjalin hubungan lagi dengan siapapun, aku hanya fokus dengan karir dan anak-anak ku, setelah semuanya itu terwujud, tak jarang orang tuaku meminta untuk aku segera mencari pendamping hidup yang baru, memulai lagi cinta baru dengan orang yang lebih baik.
"Saya tidak memaksa kamu Inayah, saya akan terima apapun keputusan kamu, mau itu menolak ataupun menerima, yang penting saya sudah sampaikan semuanya padamu" tadi malam pun aku sudah melakukan sholat untuk meminta petunjuk pada tuhan.
"apa anda sudah meminta ijin istri anda sebelum menyampaikan niat baik anda pada saya, pak?" aku menoleh ke arahnya, ia menatap lurus ke depan, memperhatikan anak-anak ku yang sedang bermain dengan anak-anak lain.
"Naila sendiri yang meminta saya untuk menikahi kamu, Inayah " ucapnya dengan tenang. Jadi dia ingin menikahi ku karena permintaan istri pertamanya, aku kira dia menyimpan rasa padaku.
"jangan salah sangka dulu Inayah. Naila memang pernah meminta saya mencari perempuan lain yang bisa memberikan saya keturunan, saya selalu menolak, karena bagi saya anak adalah rejeki dari tuhan, jika saya tidak memiliki rejeki berupa anak... saya tidak masalah, saya ikhlas dan Ridho. Saat saya dan Naila dekat dengan anak-anak kamu, di sanalah Naila kembali meminta saya untuk menikah lagi, dan ia meminta saya untuk menikahi kamu Inayah, dan jujur... Saya mulai menyimpan rasa padamu Inayah" Tama menoleh, membuat pandangan kami bertemu, tatapan pria ini begitu dalam, aku berdehem untuk mengalihkan perhatian.
"Ziya pelan-pelan nak" padahal Ziya tidak berlari, aku hanya ingin menghilang rasa debaran di dalam dadaku karena pengakuan dan tatapan Tama tadi.
"Ziya semakin aktif saja " aku bergumam sendiri.
"Kamu berusaha menghindari obrolan kita Inayah " aku seketika terdiam, ku telan saliva ku susah payah. Tau aja Tama kalau aku berusaha mengalihkan obrolan berat ini.
"kamu menolak pun hubungan kita akan tetap sama Inayah. Saya akan tetap dan akan selalu menyayangi anak-anak kamu seperti anak saya sendiri, tidak ada yang berubah nantinya, jangan merasa di bebani dengan ajakan saya itu" botol air mineral yang tersisa setengah ku habiskan isinya. Ku tarik nafas sebelum berucap lagi. Aku menoleh lagi ke arahnya.
"bapa serius dengan apa yang bapa katakan?"
__ADS_1
"apa saya terlihat sedang bermain-main Inayah?" Ku lihat tama mengangkat satu Alisnya.
"pak, saya bercerai karena penghianatan yang mantan suami saya lakukan dulu pada saya. Bertahun-tahun saya berusaha menata kembali hati saya yang hancur lebur karenanya, saya tidak pernah lagi yang namanya berhubungan dengan pria, saya trauma pak, saya takut di khianati lagi, saya takut di kecewakan lagi. Saya rasa bapak tau maksut saya. Saya pernah katakan pada diri saya sendiri... jika saya tidak akan pernah mencintai lagi, saya trauma dengan cinta dan pernikahan pak. Sampai detik ini pun saya masih menyimpan rasa ketakutan yang cukup besar di hati saya. Saya kira anak saya cukup memiliki saya saja sebagai orang tua tunggal untuk mereka, tapi nyatanya saya salah, anak saya membutuhkan sosok ayah untuk mereka, sosok ayah yang akan mencintai mereka, menyayangi mereka, menjaga mereka, dan itu tidak cukup dari saya sendiri. Bapak sudah dekat dengan anak-anak saya dari kecil, saya juga merasa senang, karena anak saya bisa punya sosok seperti bapak yang menyayangi mereka" ku jeda dulu kalimatku, aku menyunggingkan senyum ke arah Tama, dan pria itu juga melakukan hal yang sama.
Aku mengangguk "saya percaya dengan bapak, saya yakin bapak adalah ayah yang baik untuk anak-anak saya" ucap ku dengan tenang, tidak tau aja di dalam sana sudah bergemuruh hebat, rasanya jantungku ingin meloncat keluar.
"Bismillah, saya mau menikah dengan bapak"
"Saya janji akan menyayangi kalian, saya akan menjadi ayah dan suami yang baik. Saya tidak bisa menjadi pria yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah semata, tapi saya akan berusaha terus membahagiakan kalian"
"terimakasih pak, saya percaya itu"
"mamah haus " ku bukakan satu botol minum untuk Aska, dan Tama untuk Ziya, Tama dan Aska duduk bersila di depan ku.
"pah, ayo ikut main" Ziya berdiri menarik paksa tangan Tama.
"Inayah, saya main sama anak-anak " aku mengangguk.
"titip anak-anak pak" kali ini Tama yang mengangguk.
__ADS_1
Semoga saja keputusan ini benar, aku pasrahkan semua pada sang maha kuasa, aku sudah tidak memiliki alasan untuk menolaknya, saat memohon petunjuk pun aku selalu mendapatkan jawaban yang sama, menerima Tama di hidup ku. Semoga saja Tama tidak lagi membuka luka yang telah ku kubur dalam, semoga saja aku bisa menemukan bahagia bersamanya, semoga saja Tama yang kulihat selama ini, sungguh Tama yang sesungguhnya.
Aku tidak pernah menyimpan rasa pada Tama, tapi cinta itu akan tumbuh saat kami bersama nanti, aku percaya itu.
"mamah ayo main" Ziya melambaikan tangan ke arahku, di ikuti dengan Aska juga Tama. Aku berdiri dan berjalan ke arah mereka. Aku ingin ikut bermain sesuai dengan keinginan mereka.
"mamah tangkap" ku tangkap bola yang Aska lempar kan ke arahku, kemudian ku lempar lagi ke arah Tama.
"pak, tangkap"
...
"Besok cabang yang mana lagi yang harus di tutup Zidan!" Narenda melempar map berisikan berkas-berkas penting ke arah meja kerja anaknya.
"Kita miskin Zidan! perusahaan kita hancur! Nama besar Narendra hancur!" Narendra menyentuh dadanya yang tiba-tiba saja terasa sesak, Zidan berdiri untuk membantu sang papah duduk.
"tenangkan diri papah" ucap Zidan seraya membuka dasi yang mecekat leher Narendra, ia juga buka ikat pinggang Narendra.
"tenang pah, tenang"
__ADS_1
"Gimana papah bisa tenang Zidan... perusahaan kita satu persatu di tutup, apa yang harus kita lakukan sekarang nak..."