Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
Tau


__ADS_3

"Ma--mamah" Ku rasakan tangan anak ku bergetar saat menyentuh wajah ku.


"mamah nggak papa sayang" Aska menggeleng, air matanya jatuh semakin deras, ia memelukku begitu erat.


"Mereka jahat, mereka pukul mamah, mereka jahat, Aska nggak suka..." anak ku menjerit hebat, pelukannya di leherku semakin kuat.


Dengan bertumpu pada sofa, aku berusaha berdiri dengan menggendong Aska. Aku sedikit tertatih-tatih saat melangkah.


"Aska tunggu mama disini sebentar, mamah mau ganti baju" Aska mengisap ingusnya dan mengelap air matanya dengan punggung tangan. Ku usap dulu ubun-ubun anak ku sebelum melangkah pergi.


Dada ku kembali sesak saat mengingat apa yang baru saja aku alami, kedua orang tua Zidan dengan teganya melayangkan tangan ke wajah ku. Aku mendudukkan diri di depan cermin hias ku, hijab instan berwarna merah muda sudah dihiasi dengan cairan merah dari rongga hidungku, sedangkan darah dari sudut bibirku sudah mulai mengering.


Aku ingin adukan kelakuan mereka pada suamiku, tapi berkali-kali ku hubungi selalu saja panggilan ku di putus secara sepihak.


"Angkat Zi, aku nggak sanggup lagi...." ku coba lagi mengubungi Zidan, tapi tetap hasilnya sama, selalu saja di putus secara sepihak. Hijab instan yang ku kenakan ku lepas, perlahan penglihatan ku mulai mengabur.


Autor POV


"Kamu bohongin aku Karina?" Zidan menatap tajam ke arah wanita yang duduk di sofa dengan kaki menyilang. Tidak ada sama sekali di wajah wanita itu perasaan bersalah setelah membuat satu keluarga panik. Nyatanya gadis kecil yang sekarang berada di gendongan Zidan tidak dalam keadaan sakit. Nesha sehat dan saat Zidan datang, anak kecil itu berlarian di dalam rumahnya.


Karina berdiri dan berjalan mendekati Zidan


"Kalau aku nggak bohong... kamu nggak akan datang menemui aku dan Nesha kan?" ucap Karina dengan senyum miring di wajahnya, Karina mengusap kepala sang anak.


"keterlaluan ya kamu" Karina mengangkat kepalanya menatap Zidan dengan berani.


"aku? aku keterlaluan kata kamu? kamu gila!" Nesha yang yang sejak tadi bergelendontan manja di dada sang papah sampai terkejut mendengar bentakan Karina.


"KAMU YANG GILA ZIDAN, KAMU YA KETERLALUAN. KAMU NGGAK ADA KASIH KABAR KE AKU SELAMA SATU MINGGU, DAN AKU TERPAKSA BOHONG TENTANG ANAK KITA AGAR KAMU PULANG" wajah Nesha kini sudah mulai terlihat masam, mata bening anak itu pun perlahan berkaca-kaca karena ketakutan.


"Apa yang kamu lakukan dengan wanita itu sampai lupa dengan ku dan anak kamu, Zidan!" Bentak karin dengan nada semakin tinggi.


"KARINA!" bantak Zidan juga tak kalah tinggi, sang putri digendongan pun semakin menangis kencang

__ADS_1


"APA! APA HAH!" Karina menantang.


"Kurang ajar kamu Karina!"


"BERHENTI" keduanya berpaling ke arah sumber suara, di belakang mereka sudah ada Narendra bersama istri dan anaknya.


Dewi dengan cepat mengambil alih Nesha yang sudah menangis histeris dari gendongan Zidan, Dewi tenangkan Nesha dengan mengusap-usap bagian belakang kepalanya.


"Cup cup cucu Nenek, sudah ya sayang ya, tenang ya nak" Dewi membawa Nesha pergi jauh dari mereka.


"Kalian apa-apaan sih, kalian bertengkar di hadapan anak kecil, dihadapan anak kali sendiri! kalian mikir nggak sih" Narendra menunjuk wajah Karina dan Zidan secara bergantian.


Zidan masih menatap Karina penuh kemarahan.


"Aku pulang!" Zidan berucap tegas, tapi dengan sigap Narenda menahan sang anak.


"Selangkah kamu keluar dari rumah ini maka kamu akan lihat kemarahan papah Zidan" ucap Narenda tegas, Biruu yang sejak tadi diam akhirnya tidak tahan jiga, ia tarik sang kakak menjauh dari Narenda.


"Bang, mending Lo balik temuin ka inayah, Lo harus liat keadaan istri Lo sekarang sebelum terlambat" Zidan memicingkan mata, ia tanpa pikir panjang berlari dan mengabaikan panggilan panggilan Karina Narenda dan Dewi.


....


"Inayah"


"Papah... mamah pah" Aska berdiri didepan Zidan dengan air mata berderai. Zidan berlari masuk kedalam kamar dan menemukan Inayah tergelak tidak sadarkan diri.


"INAYAH!"


"Astaghfirullah Inayah" Zidan mengendong tubuh Inayah ala bridal style.


"Aska ambil kerudung mamah nak"


Setelah memasukkan Inayah kedalam mobil, Zidan juga mendudukkan Aska di bangku belakang, Zidan mengelap wajah Aska yang sudah tidak karuan karena air matanya.

__ADS_1


"sudah jangan nangis, mamah nggk akan kenapa kenapa, papah nggak suka anak laki-laki yang cengeng" Aska Usap air hidungnya dengan punggung tangan, Zidan berusaha terlihat tenang karena tidak ingin membuat putranya itu semakin ketakutan, perlahan Aska mengangguk dan Zidan mengusap kepalanya.


"Anak pintar, sekarang kita bawa mamah ke rumah sakit" Aska mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari Zidan.


Di dalam mobil, Zidan mengepalkan tangannya, ia lihat wajah sang istri yang sudah pucat pasih, terlihat jelas kemerahan dikedua pipi tirus itu, ke-dua sudut bibir Inayah mengeluarkan darah yang sudah kering, dan cairan merah mengotori area hidung dan pakaian yang Inayah kenakan.


"Kalian apakan istriku" ucap Zidan begitu geram.


Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, mereka tiba di salah satu rumah sakit terdekat, Zidan turunkan Aska dulu baru kemudian menurunkan Inayah. Melihat Zidan yang datang ke IGD dengan menggendong pasien, mereka yang ada di sana segera membuatu Zidan dengan memindahkan Inayah ke Brankar. Pintu ruangan di tutup, Zidan sudah kepalang kawatir dengan keadaan istrinya.


"pa--papah" Zidan menoleh, di belakang ada Aska. Zidan mengangkat tubuh Aska kedalam Gendongan.


"mamah nggak akan kenapa-kenapa"


"pah, mereka pukul mamah, mamah sakit dipukul mukanya, hidung mamah berdarah pah" Zidan rapikan rambut Aska yang berantakan dan mulai lepek karena keringat.


"Aska di pukul juga?" Aska menggeleng.


"tangan Aska sakit di tarik ibu-ibu rambut putih pah" adu Aska seraya mengusap lengannya. Zidan usap juga lengan yang Aska tunjukkan.


"nenek tarik tarik Aska?" Aska mengangguk


Dada Zidan Kini bergemuruh hebat, tidak menyangka dengan apa yang ke-dua orang tuanya lakukan pada Inayah dan anaknya


"Sudah, sekarang nggak papa ya nak, do'akan mamah sehat ya sayang " Aska Mengangguk.


....


"Kanker otak dok?" Zidan masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dokter itu katakan mengenai istrinya.


"itu barulah analisa saya, sebaiknya kita lakukan pengecekan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab sakit kepala yang ibu inayah alami beberapa bulan ini...." dokter itu menatap lekat Zidan yang masih terlihat tidak percaya dengan mulut terbuka.


"ibu Inayah pasien saya, sudah berkali-kali ibu inayah ke rumah sakit ini untuk memberiksan kondisinya, tapi ibu Inayah menolak untuk dilakukan pengecekan lebih lanjut" Zidan mengusap wajahnya prustasi, di kursi panjang milik Dokter... ada Aska yanga sudah terlelap di sana.

__ADS_1


"makasih dok saya permisi" Zidan tak sanggup jika terus mendengar apa yang dokter itu katakan, ia tak sanggup mendangar kondisi Inayah jika benar wanita itu mengidap penyakit mematikan.


__ADS_2