Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
Kedatangan tamu


__ADS_3

"Papah" Aska sebenarnya sudah sejak tadi menunggu papahnya pulang, aku sudah katakan papahnya akan makan siang bersama, Aska sebenarnya ingin menghampiri Zidan tapi ragu juga.


"Sini" Zidan membentangkan kedua tangannya meminta Aska mendekat, Aska menoleh ke arahku dan ku berikan isyarat iya dengan anggukan.


Aska berlari riang menghampiri Zidan, aku benar-benar terharu melihat anak dan suami ku. Ku bantu Zidan membawa tas kerjanya.


"gimana tadi sekolahnya?"


"Zidan dapat seratus, pah"


"masyaallah pintarnya anak papah" kami bertiga langsung menuju ruang makan, Aska... Zidan dudukkan ke kursinya. Aku sendokkan nasi dan lauk ke piring Zidan dan Aska, baru setelahnya aku duduk juga di samping Zidan.


"Makasih makanannya sayang" Aku tersenyum seraya mengusap kepala anak ku.


Makan siang yang tenang, tidak ada yang tersisa di atas piring semuanya habis, Aska ku makan banyak sekali hari ini, begitu juga dengan suami ku, Zidan bahkan berkali-kali menambah nasi. Selesai makan, aku membuatkan teh hangat untuk Zidan sebelum pergi lagi ke kantor.


"Kamu nggak ke kantor lagi, Zi?" ku letakkan teh hangat itu di atas meja, Zidan yang tadi bersandar di punggung kursi kini duduk tegak, rambutnya yang masih terlihat basah ia rapikan menggunakan jari-jari tangannya, sepertinya ia baru selesai mandi, pakainya juga sudah berganti dengan baju santai rumahan.


"nggak, malas aku kekantor, sudah nggak ada kerjaan juga" aku mengangguk dan ikut mendudukkan diri di samping Zidan, meskipun aneh mendengar zidan mengatakan malas ke kantor. Ku nyalakan tv untuk menonton drama Korea bertema komedi favoritku. Bantal sofa aku letakan ke atas pangkuan ku.


Aku sedikit kaget saat tiba-tiba Zidan menyingkirkan tangan ku yang ada di atas bantal dan ia letakkan kepalanya di pangkuan ku.


"Capek ya Zi?" Zidan mengangguk kecil, perlahan matanya tertutup, terlihat sekali wajah lelah suami ku, tangan ku tidak ku biarkan menganggur, ku pijat pelan kepala Zidan agar lebih rileks, sampai akhirnya ku dengar dengkuran halus dari Zidan, ku matikan tv takut suaranya menggangu tidur suamiku, aku jadi ikut mengantuk, pahaku juga mulai terasa kebas, ingin memindahkan kepada Zidan dari sana tapi Zidan bisa bangun, aku tidak setega itu mengganggu tidurnya.


Entah berapa lama aku tertidur dengan posisi duduk dengan kepala Zidan di atas pangkuan ku, aku tidak tau, tapi aku terbangun saat merasakan seseorang menggoyangkan lengan ku.


"Bangun, bangun Inayah" Astaga, kapan mereka masuk kedalam rumah. Orang tua Zidan dan ipar ku yang masih berkuliah bernama Birru ada didepan mataku sekarang. Aku menunduk menatap Zidan yang masih terbaring dengan pulas di pangkuan ku.


"Zidan, bangun Zidan" Zidan menarik tangan ku dan meringankan wajahnya ke arah perutku.


"Zidan, bangun Zidan"

__ADS_1


"aku masih ngantuk sayang" Zidan bergumam.


"Bang, bangun woy! jangan merasa dunia milik berdua" Zidan kaget apalagi aku. Biruu adik ipar ku memang tidak ada takut-takut nya, lengan Zidan di paksa nya berputar arah.


"Lo" Belo zidan yang akhirnya menyadari sang adik bungsunya ada di depan mata, tapi Zidan sepertinya belum sadar kalau orang tuanya juga ada di rumah kami.


"iya ini gue, bangun woy, masih pagi, kalian mesra-mesraan di luar kaya gini, kalau keponakan gue liat gimana" jangan tanya seberapa malu aku sekarang, ipar ku yang satu ini memang berbeda, mulutnya ceplas-ceplos sekali, dan Biruu juga tidak seperti ipar ku yang lain, Biruu menerima aku dan anak ku di kehidupan mereka.


Zidan dengan keadaan yang belum stabil bangun.


"Zidan, mamah papah sama adik mu nginap di sini dua hari" Zidan seketika mengangkat kepalanya, barulah ia sadar bukan hanya adik bungsunya saja yang ada di rumah kami, tapi kedua orang tuanya juga.


"mamah, papah" mertuaku berdiri dari duduknya, ia celengak celenguk mencari sesuatu entah apa.


"Mamah mau istirahat, di mana kamarnya" aku langsung berdiri berniat menunjukan kamar kosong.


"mah, biar Inayah beresin dulu kamarnya, biar mamah sama papah nyaman tidurnya" aku berucap dengan kepala menunduk takut.


"Emang tugas ka Inayah gitu akan mah, dia kan istri sah ni orang" Biruu menunduk suamiku.


"jadi wajarlah dia ingin yang terbaik untuk mertuanya" aku sedikit tersenyum mendengar ucapan adik ipar ku, dia akan selalu membela saat aku di rendahkan di bawah matanya.


"Ka, ponakan gue di mana"


"ada di atas, di kamarnya"


"gue ke atas ya, lo nggak perlu bersihin kamar untuk gue, gue mau tidur bareng Aska aja" aku mengangguk dan Biruu berlalu menunju lantai dua.


"Inayah ijin bersihkan kamar dulu"


Author POV

__ADS_1


"Apa sih Kalian berdua, masih pagi mesra-mesraan gitu" Zidan menutup mulutnya saat menguap, Zidan menatap ibunya yang sudah memasang wajah masam dengan tangan terlipat di depan dada.


"apa sih mah, orang kita cuman tidur, mau aku sama Inayah ngapain juga nggak ada masalah, aku sama dia suami istri"


"nggak ada masalah kamu bilang, mamah itu nggak suka sama dia, apa kamu mengerti!" Zidan berdiri dan sedikit merapikan bajunya yang berantakan.


"Zidan ke atas dulu, Inayah sedang membereskan kamar untuk kalian" Zidan malas meladeni mamahnya yang suka sekali mencari kesalahan sang istri, dari pada akan berujung permasalahan panjang, Zidan lebih memilih pergi.


"Zidan, mamah belum selesai ngomong!" Inayah mendengar suara tinggi mertuanya yang menggema di dalam rumah. Ia sudah selesai membersihkan tempat tidur. Walaupun kamar itu kosong, Inayah akan tetap dengan teratur membersihkannya setiap minggu sekali, jadi tidak terlalu kotor.


Saat ingin keluar, Inayah hampir saja bertabrakan dengan ibu mertuanya.


"ma--mah, I--inayah sudah bersihkan kamarnya, sekarang mamah sama papah bisa istirahat, Inayah mau buatkan makan malam dulu" ibu mertuanya itu tidak peduli sama sekali, ia melewati Inayah dengan sedikit menabrak bahu Inayah tanpa perasaan, Inayah mengusap bahunya dan hanya bisa menunduk. Pintu kamar di tutup dengan kuat, Inayah mengusap dadanya yang bergemuruh.


"Aya"


"Zidan" Zidan mendekat dan memeluk istrinya.


"jangan ambil hati ucapan mamah ya, kamu tau kan mamah gimana"


"iya, nggak ko"


"Eh Em" suara deheman membuat Zidan melepaskan pelukannya. Mereka berdua menoleh kearah sumber suara, di sana ada Biruu dengan Aska di gendongan nya.


"Kalian berdua ini benar-benar nggak tau tempat, ya. Bisa-bisanya peluk-pelukan di depan kamar mamah" Biruu menggelengkan kepalanya.


" mau lu bawa kemana anak gue"


"mau cari eskrim, enek gue lihat orang bucin di depan mata" Zidan merebut lap yang tadi Inayah gunakan untuk membersikan kamar ke wajah sang adik.


"tai lu " kesal zidan dan Biruu hanya tertawa saja.

__ADS_1


__ADS_2