Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
bersenang-senang


__ADS_3

Inayah POV


Aska senang sekali di ajak papa berkebun, memanen beberapa sayur untuk di jual ke pasar. Sedangkan aku dan mamah menyiapkan makan siang untuk di bawa ke kebun. Semuanya sudah siap, aku dan mamah tinggal berangkat saja, aku menggunakan motor metik untuk sampai ke kebun. Jarak rumah ke kebun papah tidak terlalu jauh, tapi mamah tidak terlalu kuat kalau di paksa berjalan kaki ke sana.


Hanya lima menit kurang aku dan mamah sudah sampai, ternyata papah dan Aska sudah selesai juga. Mereka menunggu di rumah kayu yang sengaja di buat papah untuk istirahat. oh iya, mamah sama papah ku juga punya supermarket yang letaknya di pasar, supermarket mereka cukup besar, dan bisa di bilang supermarket yang paling besar di desaku. Papah dan mamah juga pensiunan PNS, tapi orang tuaku tetap tidak sebanding dengan keluarga Zidan yang kaya raya itu, kekayaan Zidan mungkin tidak akan habis untuk tujuh turunan.


Ah, sudahlah, tidak usah membandingkan ke-dua orang tuaku dengan mertuaku, mau bagaimana pun orang tuaku, mereka tetap lah manusia yang mencintai aku setulus hatinya.


Aku dan mamah segera menuju rumah kayu kecil itu, Aska sedang di bacakan dongeng legenda sama papah. Aska itu senang sekali kalau di bacakan dongeng seperti itu.


"Assalamualaikum" ucapku bersamaan dengan mamah.


"Waalaikumsallam" jawab papah.


"maaf ya lama, pah"


"nggak ko nak, papah juga baru aja selesai sholat Dzuhur sama Aska" aku mengusap kepala anak ku bangga, rasa bahagia jelas terlihat di wajah putra ku itu, semakin besar, Aska semakin mirip dengan suami ku. Aku tersenyum menatap anak ku, aku jadi kangen Zidan, sudah hampir tiga minggu kami tidak bertemu, semoga saja makannya Zidan teratur, dan tidurnya nyenyak, lusa aku dan Aska sudah pulang ke jakarta. Waktu liburan ku bersama Aska sudah hampir selesai, jadi dua hari terakhir ini, aku sekeluarga memanfaatkan dengan baik. Mamah papah sengaja tidak membuka dulu sementara supermarket nya, biar waktunya lebih banyak di habiskan dengan kami kata mereka.

__ADS_1


Menu makan siang yang sangatlah menggugah selera, lalapan pucuk gumbuli, di tambah sambal terasi buatan mamah, ada ayam goreng tempe juga, masyaallah nikmatnya, ku jadi kangen bang ku. Abang Shaka tidak bisa pulang ke kampung karena ia baru saja ijin dari kantornya, aku memaklumi Abang Shaka, mungkin lain waktu aku yang akan berkunjung ke rumahnya yang terletak di pusat kota.


Lalapan pucuk gumbuli atau daun Singkong ini kesukaan Abang ku, jadi aku teringat dia saat memakannya. Dulu waktu kecil aku sering rebutan pucuk gumbuli yang terakhir, padahal kami sudah makan banyak, tapi masih saja berantem gara-gara pucuk gumbuli terakhir. Biasanya mamah akan langsung membutakan yang lain, tapi berakhir tidak di makan, karena aku dan Abang sudah kenyang, entah kenapa makanan terakhir atau yang sedikit itu lebih enak ketimbang yang banyak.


"makan yang banyak Inayah, kamu makin kurus mamah lihat" mamah berucap setelah menyendok dua centong nasi ke piringku, sangat jauh berbeda dari porsi makan ku yang biasanya.


"kamu nggak di kasih makan sana suami mu itu" ucap papah sedikit mengajak


"di kasih lah pah, Inayah aja yang nggak mau makan banyak, takut gendut" Aku berkata jujur, aku sebisa mungkin menjaga tubuh ku untuk tetap ideal di hadapan Zidan. Aku tidak ingin Zidan merasa tidak senang dengan perubahan tubuhku, padahal Zidan juga tidak pernah melarang ku untuk makan apapun.


"kenapa harus takut, kalau suami mu itu tulus, mau bagaimanapun bentuk kamu... dia akan tetap sayang dan nggak akan berselingkuh, dan akan tetap setia sama kamu, iya kan pah?" mamah menatap papah.


"iya mah " papah mengangguk tanpa ragu.


"mamah setelah ngelahirin kamu itu berubah drastis, waktu ngelahirin abang kamu belum terlalu berubah, tapi setelah ngelahirin kamu, berat badan mamah nggak bisa kembali ke normal. Mamah sampai nangis, kalau bukan papah kamu yang menenangkan mamah, mungkin mamah Nggak bisa pede sama bentuk badan mamah itu, dan sampai sekarang papah kamu masih setia sama mamah " aku hanya tersenyum, tidak terlalu menanggapi ucapan mamah, aku terlalu menikmati lalapan kesukaanku. Aku bisa makan dengan tenang, karena Aska makan di suapin mamah yang tidak terlalu bisa makan pedas di usianya yang sekarang.


"Nih, Aya sudah makan banyak, biasanya Aya itu makan satu sendok bahkan kurang" aku mengangkat piring ku, memperlihatkan pada mamah, tapi mamah malah tersenyum remeh.

__ADS_1


"itu aja nasi kamu belum habis, cepat habiskan, nanti mamah tambah lagi, pokonya kamu harus makan banyak selama di sini" aku tertawa singkat, lucu sekali mamah ku ini, aku kan bukan anak-anak lagi yang di paksa makan Seperti itu. Aku melirik anak ku yang makan dengan lahap juga. Betapa bahagianya aku jika Aska juga di terima dengan baik di keluarga Zidan. Aku masih ingat beberapa hari lalu aku memohon pada ibu mertuaku untuk di ijinkan berteduh sebentar, tapi mereka menolak dan sampai hati menutup pagar rumah mewah mereka tanpa memperdulikan teriakan ku.


"Inayah"


"Aya"


"hah, iyaa" aku terkejut saat mamah menepuk singkat pahaku.


"kenapa jadi tiba-tiba melamun, mikirin apa sih?"


"nggak ada mah, aya cuman seneng aja bisa makan bareng kalian lagi" alibi ku sebagai alasan, semoga mereka tidak menemukan kebohongan di mata ku. Aku terus menunduk agar mereka tidak melihat kedua mataku yang tiba-tiba saja berkaca-kaca, mereka akan memberondong aku dengan segala pertanyaan yang akhirnya membuat aku tersudutkan.


Ku habiskan makan dengan tenang, tanpa suara lagi. Selesai makan, kami istirahat sebentar, Aska saja sempat tidur siang di pondok kebun, papah mengajak pulang ke rumah setengah jam sebelum Adzan ashar berkumandang.


Aska Senang sekali menaiki sepeda motor, selama di Jakarta, Aska selalu saja menggunakan kendaraan roda empat, jadi Aska merasakan pengalaman yang begitu berharga saat pertama kali menaiki motor merah kesayangan papah ku.


Bahkan di sepanjang jalan aku mendengar Aska bernyanyi riang, rasanya aku tidak ingin pulang ke jakarta, aku ingin lebih lama di desa, tapi aku pun juga tidak bisa melupakan status ku sebagai seorang istri, pasti Zidan juga Sudah pulang, mungkin suatu hari nanti, aku akan kembali ke desa dengan Zidan sekalian, Berlibur bersama, melupakan sejenak lelahnya bekerja, Zidan juga belum pernah ke rumahku, saat meminta izin untuk menikah pun waktu itu, Zidan hanya sampaikan lewat saluran telepon, itu juga yang membuat papa kurang yakin, tapi aku yang berusaha membujuk.

__ADS_1


__ADS_2