
Apa yang sebenernya aku pikirkan, ini sudah sembilan bulan dan aku masih memikirkan pria itu, dasar Inayah... lupakan dia Inayah.
Karena tidak bisa tidur, aku lebih memilih melanjutkan tuliskan ku, iya... selama tinggal di rumah mama, aku menuangkan segala cerita hidupku di dalam tulisan. Aku berniat menerbitkan kisah hidupku yang malang ini, bukan kisah hidupku, tapi kisah cintaku yang mengenaskan. Semoga saja banyak perempuan yang bisa mengambil banyak pelajaran dari kisah ku nanti, tidak salah dalam jatuh cinta ke sembarang pria seperti aku.
"Tamat" Kisah dari cerita ku di akhiri dengan akhir yang tidak pernah aku inginkan, aku pernah bermimpi menulis buku tentang hidupku dengan akhir yang bahagia, akhir yang memang aku inginkan, tapi nyatanya buku ku di akhiri dengan kesedihan yang tidak pernah ku bayangkan sedikitpun.
"Alhamdulillah, tinggal di revisi dan aku akan menghubungi Resti secepatnya" Resti itu teman ku saat masih bekerja, aku lihat-lihat sosmed nya dia masih bekerja di tempat penerbitan yang sama, si Resti ini yang bertugas sebagai penyaring cerita-cerita yang masuk untuk di tinjau kelayakannya nanti, apakah bisa di terbitkan atau tidak.
"Semoga nomornya masih aktif" Aku menunduk menatap daster bagian bawahku, kenapa aku merasa ada sesuatu yang mengalir di bawah sana.
" Ya Allah!" aku terkejut? Jelas aku terkejut! aku tidak merasakan sakit apapun, aku hanya kesulitan tidur dan merasa gelisah, tapi ketuban ku main pecah saja, jujur aku tidak merasakan apapun, tapi setelah tau ketuban ku pecah, tiba-tiba aku merasakan nyeri.
Aku bergegas menutup laptopku dan memasang jaket serta Khimar instan ku. Dengan tertatih-tatih aku berjalan juga terus memegangi perutku. Aku tidak tidur di kamar ku yang ada di lantai dua, aku tidur di kamar tamu tepat di samping kamar orang tuaku, sedangkan Aska diatas di kamarku semasa gadis.
"Ma--mah, mah...buka pintu mah... Pah, Aya mau lahiran..." Ini sudah jam 11 malam, mereka sudah pasti tidur, aku sedikit memberikan dobrakan kecil semampai ku, keram di perutku semakin terasa menyakitkan.
"Pah..."
"mah..."
"Ya Allah, bantu ha--mba"
Di saat pasrah dan hanya mengharap pada sang maha kuasa, dan lihatlah kuasanya, orang tuaku kini keluar dengan wajah panik.
"Aya kenapa?" papah ku sepertinya baru saja tidur, terlihat dari matanya, sedangkan mama sudah memerah matanya.
"Ketuban Aya pecah mah" aku menjawab langsung saja ke intinya.
"Ayo ayo kita kerumah sakit sekarang, papa ambilkan tas perlengkapan bayi Aya di dalam kamar, sama anak Aya pah, jangan Sampai kelupaan" Aku harus mengingatkan papah, dia bisa saja meluapkan anak ku yang ganteng itu di rumah sendirian. Mamah membantuku berjalan, sedangkan papah ke lantai dua.
__ADS_1
...
"Sakit banget nak?" mamah ku mengusap punggung ku yang terus ku usap-usap sejak tadi.
"Nggak terlalu mah, sakitnya kadang terasa banget, kadang nggak kerasa apa apa"
"sabar ya nak, baru pembukaan 3 kata dokter tadi" aku mengangguk lemah. Aku menoleh ke arah papah ku duduk, di atas pangkuannya ada Aska, semoga saja papa tidak merasakan sakit lagi di punggungnya. Aska tadi sempat rewel karena di bangunkan, jadi anak tampan itu tidak mau tidur di bawah, dan mau di pangku terus.
"Pah, turunin aja Aska, pinggang papah bisa sakit lagi" papah yang tadi menatap ku kini menata Aska.
"nggak papa, kesian nanti tidurnya nggak nyenyak lagi" Aku masih di ruangan rawat, belum di pindahkan, nanti saat pembukaan hampir lengkap, barulah tenaga medis membawa ku.
"Waktu lahiran Aska kemarin... Aya kesakitan banget mah, nggak kaya ini, ini aya nggak terlalu merasakan sakitnya, tangan mamah mengurangi rasa sakit Aya, makasih ya mah"
Mamah mengusap peluh di wajahku, tangan kanan ku digenggamnya.
"Sekarang kamu nggak sendiri nak, ada mama sama papah sekarang, mama akan menjaga kamu nak" Aku mengangguk dengan keadaan lamah. Aku meremas tangan mamah saat nyeri di punggung ku kembali terasa begitu sakit.
"Sa--sakit mah"
"istighfar ya nak, shalawat sayang" mamah menenangkan dengan terus mengusap punggung dan Kepala ku.
'Ya Allah...."
....
Kepala ku kembali menyentuh bantal saat tubuh anak ku sudah keluar seluruhnya dari dalam rahimku. Suara tangisannya membuat air mataku kembali mengalir deras.
"Putriku..." dokter perempuan yang tadi membantu persalinan ku membawa anak ku yang masih berlumuran darah ke arah ku. Dengan lemah aku menyentuh bayi mungil yang beberapa detik lalu ku lahiran.
__ADS_1
"Masyaallah nak, putri mu sayang" ucap mamah.
"Ziya Melisa" aku mendongak menatap mamahku, mamah nampak tidak suka mendengar nama itu disebutkan.
"Nggak papa mah, Aya tidak menggunakan nama belakang Zidan, cukup Ziya Melisa saja" mamah ku terlihat pasrah. Iya... setelah menimang, aku putuskan untuk menggunakan nama yang Zidan berikan, Ziya Melisa, tapi aku tidak menggunakan nama belakang Zidan, tidak sudih aku menggunakan nama itu untuk anak ku, begitu juga dengan nama belakang keluarga Zidan "Narendra"
"Kami bersihkan dulu bayi nya ya bu..." aku mengangguk, mamah mengusap air mataku.
"Cantik nggak mah anak Aya?"
"Cantik banget sayang, cantik banget mirip kamu"
"semoga saja mirip aku, cukup Aska saja yang mirip papahnya" Ucap ku membatin, walaupun cuman matanya
....
"Jangan bercanda nak, kamu kembali lagi ke jakarta?" Ku letakkan dulu bayiku ke tempat tidurnya. Aku baru saja selesai memberikan Ziya ASI. Usia Ziya sekarang sudah berusia lima bulan. Aku tidak bisa terus merepotkan orang tuaku, aku sudah memasukkan lamaran ke kantor tempat ku bekerja dulu, dan Alhamdulillah aku di terima tanpa ada proses interview dan lainnya, karena aku sudah memiliki pengalaman di bidang yang sama, juga aku sudah pernah bekerja di sana sebelumnya.
Aku mendudukkan diri di samping mana, terlihat sekali wajah tidak suka mamaku.
"Iya mah, Aya sudah dapat kerjaan juga. Aska juga sudah harus sekolah"
"Di sini aja ya sayang, di rumah mama papa, ya nak" ku genggam jari jemari mamaku yang nampak keriput. Tangan lembut yang tidak pernah sekalipun memberikan pukulan pada anak-anaknya.
"Mamah... percaya deh sama Aya, Aya sama anak-anak nggak akan Kenapa-kenapa ko, Aya janji sama mamah. Aya ini juga seorang ibu mah, orang tua tunggal untuk anak-anak Aya, Aya nggak bisa terus di sini, Aya ingin mengejar cita-cita Aya yang sempat tertunda juga mah"
"kan bisa di sini sayang..." ucap mamaku lirih.
"Tapi jiwanya Aya ada di kota itu mah. Aya nggak mau mereka menganggap Aya perempuan lemah yang menghilang setelah putus hubungan dengan mereka, Aya ingin tunjukkan pada mereka... kalau Aya tidak pernah terpuruk dengan perceraian yang terjadi, juga dengan perselingkuhan yang Zidan lakukan" terdengar helaan nafas berat dari mamah, semoga saja mama memberikan ijin, kalau papa ku diam saja waktu ku sampaikan keinginan ku.
__ADS_1