Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
papah


__ADS_3

"Kalian bisa nggak sih jangan belanja dulu, perusahaan itu lagi dalam krisis, aku lagi mati-matian mempertahankan perusahaan itu agar tetap berdiri, kalian bisa ngerti nggak sih!" Zidan dengan wajah lelahnya mendudukkan diri di sofa yang ada diruang tamu rumahnya. Kepala yang berdenyut sejak di kantor semakin parah setelah melihat kelakukan anak dan istrinya yang terus saja sibuk berbelanja, padahal kondisi keuangan mereka sedang tidak baik-baik saja.


"jangan pelit dong pah, ini lebih sedikit dari pada biasanya tau" ucap gadis dengan rambut tergerai dan pakaian yang cukup terbuka terlihat tidak pantas untuknya yang berusia 10 tahun. Zidan berdecak dan memilih pergi dari sana.


Zidan buka dasi yang melilit lehernya, ia buka jas dan ia lempar ke atas tempat tidur, baru setelahnya ia mendudukkan diri di tepian tempat tidur.


Di rogoh nya saku celananya mencari benda pipih miliknya.


"kalian sudah besar nak" Zidan bergumam saat memandangi kedua wajah anak-anaknya.


"Papah pengen ketemu nak, papah kangen kalian sayang, tapi papah nggak mampu untuk bertemu dengan mamah kalian sayang, papah takut di usir"


"Kamu sekarang sudah menjadi wanita hebat Aya, Aya... maafkan aku, karena sampai sekarang pun aku belum bisa melupakan kamu, terimakasih karena kamu menggunakan nama itu untuk putri kita Aya, terima" pria itu mengenadah menatap langit-langit kamar, kedua matanya mulai memanas, ia sungguh merindukan kedua anaknya, juga perempuan sabar yang sudah ia sakiti perasaannya.


"anda waktu dapat di ulang.... aku ingin kembali di masa saat kita masih bersama. Aku laki-laki bodoh yang menyia-nyiakan perempuan setulus kamu, aku sakiti hati kamu, aku lukai perasaan kamu terus menerus, aku bodoh Aya, aku bodoh"


"Argghhgg, Aya" Zidan menjerit, sejadi-jadinya, bahkan teriakannya itu terdengar anak dan istrinya.


"Aya... Aku kangen kamu Aya... Aku pengen ketemu kalian Aya..." semuanya hanyalah penyesalan saja, tujuh tahun sudah berlalu dan semuanya hanya meninggalkan kenangannya saja.


"Mah, Aya itu siapi sih, kalau papah pulang kerja pasti ada nama Aya yang di sebutin papah"


"itu perempuan nggak tau diri nak, nggak penting juga, nggak usah di peduli Iin "


sementara di tempat yang berbeda


"Mamah"

__ADS_1


"Kesayangan mamah" Inayah berjongkok untuk lebih muda memeluk kedua anaknya yang begitu ia rindukan itu. Sudah satu Minggu mereka tidak bertemu karena Inayah di sibukkan dengan Perusahaan penerbitan nya yang berhasil berdiri tiga tahun lalu dan sedang berada di masa-masa jayanya. Inayah juga berhasil menjadi seorang penulis dengan puluhan buku yang sudah di cetak, beberapa novelnya pun ada yang di adaptasi menjadi series, bahkan film. Inayah dikenal menjadi seorang penulis lewat buku pertamanya yang berhasil mencuri perhatian banyak orang, Novel dengan judul 'cinta yang menghilang' novel yang diambil dari kisah dirinya sendiri. Dari situlah awal mula kehidupan Inayah berubah, Inayah bukan lagi perempuan lemah yang tunduk dan patuh pada suaminya, Inayah seorang wanita sukses, seorang pemimpin perusahaan sekaligus penulis.


"Mamah Ziya kangen mamah"


"Aska juga kangen mamah"


"Mamah juga kangen kalian sayang" Inayah cium pipi anak-anaknya secara bergantian. Ia berdiri dan menggendong Ziya yang sekarang berumur tujuh tahun, sedangkan Aska membantu membantu mamahnya membawa tas jinjingnya.


"Bi, minta tolong koper saya di mobil" perintah Inayah pada salah satu pekerja di rumahnya.


"iya Bu"


"mamah bawain banyak oleh-oleh buat kalian"


"yeeeee, asik, makasih mamah"


"mamah mandi dulu, kalian tunggu di kamar ok" kedua anak itu mengangguk. Inayah turunkan lagi Ziya, Aska menggandeng tangan sang adik untuk sama-sama masuk kedalam kamar.


Inayah POV


segar sekali rasanya sudah mandi seperti ini, Aku keringkan dulu rambutku sebelum menemui kedua bocah kesayangan ku yang satu minggu ini ku tinggalkan ke luar kota. Satu koper penuh berisikan oleh-oleh untuk keluarga ku. Koper itu aku bawa ke kamar anak-anak ku untuk di bongkar bersama.


"Aska, Ziya" keduanya menoleh, Aska turun lebih dulu dari atas tempat tidurnya, baru kemudian ia menuju tempat tidur adiknya untuk membantu Ziya turun.


"yeyeye bongkar oleh-oleh" Ziya memilih duduk di atas pangkuan ku, sebenarnya aku lelah sekali, tapi aku juga tidak tega memintanya untuk turun dari atas pangkuan ku,


"Aska bantu mamah buka kopernya nak"

__ADS_1


"iya mah"


"wahhh"


"Ayo cobain dulu bajunya, nanti kita foto terus kirim ke Bebe di kampung " Ku dirikan Ziya agar lebih mudah di pasangkan bajunya, sedangkan Aska memasang bajunya sendiri, saja Sudah berumur sebelas tahun, sedangkan Ziya tujuh tahun, aku tidak menyangka jika aku sudah berjalan sejauh ini bersama kedua anak ku.


"masyaallah Allah, anak-anak mamah" Ziya berputar-putar memperlihatkan gaun merah muda yang aku belikan, putri ku itu Tumbuh menjadi anak yang periang, super aktif dan banyak bicara, sedangkan Aska semakin tumbuh besar, anak ku itu semakin berubah sikapnya, Aska ku yang dulunya juga periang kini lebih banyak diam.


"mamah Ziya cantik nggak" aku mengangguk seraya tersenyum.


"anak-anak mamah cantik dan ganteng" Gelak tawa menggema dikamar lucu penuh hiasan ini, aku bahagia sekali melihat anak-anak tertawa riang seperti ini. terkadang aku sedih juga karena tidak bisa menemani mereka terus, memerhatikan secara maksimal tumbuh kembali mereka, aku terlalu di sibukkan dengan pekerjaan ku, tapi itupun kulakukan untuk mereka, aku tidak ingin anak-anak ku merasakan kesusahan, kesusahan yang sama seperti pernah aku alami.


Aku tidur bertiga dengan mereka di kamar ku, Ziya merengek minta tidur bersama, sedangkan Aska tidak, tapi aku juga mengajak Aska tidak bersamaan untuk melepaskan rasa rindu kami bertiga


"mamah"


"iya nak?" ku usap usap kedua kepala anak - anak ku yang tidur menggunakan lengan ku sebagai bantalnya.


"Ziya mau ketemu papah" tangan ku berhenti mengusap Kepala mereka, mata yang tadi tertutup seketika terbuka saat Ziya berucap.


"Ziya mau lihat wajahnya papah, mamah selalu bilang kalau Ziya punya papah, terus mana dong pahanya Ziya --"


"Ziya! Kamu ngomong apa sih! " aku menoleh ke arah Aska saat ia membentak adiknya


"Aska, nggak boleh kaya gitu, ngomongnya baik-baik sama adek, mamah Nggak pernah ngajarin kamu kasar kayak gini" Aska itu sensitif sekali setiap ada membahas tentang papahnya, sekalipun Aska tidak Pernah menanyakan tentang papahnya.


"maaf maaf" ucap Aska pelan dan beras bersalah

__ADS_1


"minta maaf sama adek" Aska duduk dan mengulurkan tangannya ke arah Ziya.


"ziya, Kaja minta maaf " Ziya mengangguk dengan bibir melengkung, sebenarnya Ziya sudah ingin menangis , tapi di tahannya.


__ADS_2