
"Mamah.... mau ketemu om Tama" Ziya menarik-narik bajuku, aku jadi kesulitan membuat sarapan untuk mereka. Hari ini itu biasanya mereka bertemu Tamam Setiap Minggu Tama akan datang kerumah untuk bermain dengan mereka, tapi satu minggu yang lalu Tama memberi kabar kalau dia tidak bisa datang dulu, atau sekedar mengajak mereka bermain, karena ada kerjaan di luar kota, aku sudah katakan pada mereka, Aska bisa mengerti tapi Ziya tidak, anak ku yang satu itu masih terlalu dini untuk mengontrol dan memposisikan keadaan. Tama sudah seperti ayah untuk anak-anak ku, mereka sangat dekat, bahkan Tama memberi ijin anak-anak ku memanggilnya dengan sebutan papa, aku yang melarang, tidak enak saja rasanya. Satu minggu tidak bertemu Tama membuat anak ku yang cantik ini rewel semalaman. Ku benarkan dulu letak kacamata ku dan ku matikan kompor, aku memutar tubuhku ke arah Ziya dan menyamakan tinggi dengannya. Ziya baru bangun tidur, tapi yang di cari sudah Tama, rambutnya masih berantakan sekali.
"Om Tama kerja sayang, minggu depan kalian ketemu ko" Ziya mengucek matanya, bibirnya mulai melengkung ke bawah, perlahan air matanya turun.
"Ziya mau main sama om Tama... mamah, Ziya mau om Tama" Ku peluk tubuh kecil ini untuk di tenangkan. Aku harus apa, aku tidak pernah yang namanya mengubungi Tama agar anak-anak ku bisa bertemu dengannya, tapi Tama sendiri yang datang atau menghubungi terlebih dahulu.
"Nanti ya sayang" ku rapikan rambut Ziya, aku menggendong Ziya. Anak ku menenggelamkan wajahnya di celuk leherku.
"Bu"
"iya bi kenapa?"
"Di depan ada Pak Tama Bu" aku hampir saja terhuyung kebelakang saat tiba-tiba Ziya berusaha turun dari gendongan ku.
"Ya Allah nak, jangan lari sayang"
"Bi, bikin kan minum untuk pak Tama, saya mau ke kamar sebentar"
"Iya Bu"
....
"Ziya duduk di bawah nak " ku letakkan satu toples kue coklat kering di atas meja, kemudian aku duduk di kursi depan.
"nggak papa Inayah, Ziya kangen katanya satu minggu nggak ada ketemu saya" aku tersenyum hangat, anak-anak ku sedekah itu dengan Tama. Aska yang sudah lebih mengerti dari Ziya hanya duduk anteng di samping Tama. Aku ingat waktu kecil Aska ku sulit dekat dengan pria asing, ia selalu menganggap laki-laki asing apalagi umurnya sama dengan papahnya akan melukai ku, sepertinya anak sulung ku memiliki trauma gara-gara papahnya. Butuh waktu lama untuk Tama dan istrinya waktu itu bisa mengait hati Aska, Aska terus saja menempel dengan ku saat tama datang bertamu, terlihat sekali ketakutan di raut wajah putra ku, dan sekarang anak ku sudah berusia 12 tahun, Aska ceria dan cerewet sepertinya tertinggal jauh dan tidak ikut tumbuh di tubuh anak ku, Aska menjadi pribadi yang banyak diam, aku sedih sebenarnya, tapi mau gimana lagi, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa, aku juga sudah berusaha membawa anak ku untuk di terapi, tapi aku jadi tidak tega, anak ku hanya jadi pendiam mungkin karena usianya juga yang semakin besar.
"Aska sudah Pr-nya?" Aska hanya mengangguk dan merapikan buku juga peralatan belajarnya.
"makasih om Tama"
"Iya nak" Tama mengusap kepala Aska
"Simpan bukunya dulu Aska, baru turun lagi makan pudingnya"
__ADS_1
"iya mah"
Ini lah rutinitas hari minggu ku dengan ke-dua anak ku. Aku biarkan anak-anak ku bermain dengan Tama, mereka akan bermain sampai lupa waktu, apa lagi Tama sudah tidak datang selama satu minggu, aku tinggalkan mereka masuk kedalam kamar.
"Tama, saya masuk dulu ya, nanti makan siang bareng aja di sini, jangan pulang"
"nggak usah Inayah, saya makan siang di luar saja" ku lihat bibir anak ku sudah melengkung ke bawah, Ziya mengapit lengan Tama sambil merengek.
"makan di sini ya om, sama Ziya sana ka Aska sama mamah" Tama mengusap pucuk kepala Ziya dan mengangguk kecil.
"makasih... Ziya sayang papah" mungkin sekarang bola mataku sudah nampak membesar, anak ku ini ada-ada saja, masa dia memanggil Tama papah, itu juga gara-gara Tama sih, dia yang pernah meminta anak-anak ku memanggilnya papah, kan aku yang merasa tidak enak, dia mah cuman senyum-senyum saja.
"Ziya..." Tama menatapku dan mengedipkan mata sambil memberikan isyarat.
"nggak papa" Baiklah, mereka memang sudah sangat dekat, benar-benar seperti anak dan orang tua.
"Tama, saya ke atas"
"iya"
....
"iya Bu" aku selalu berusaha untuk tetap memasak untuk anak-anak ku seperti sekarang. Walaupun aku juga di sibukkan dengan pekerjaan ku, tapi aku ingin anak-anak ku tidak merasakan kehilangan peran ku sebagai ibu mereka. Aku habiskan waktu senggang ku bersama mereka, bisa juga aku tidak bekerja dan memilih menemani anak ku belajar ke sekolah.
"Bu, buahnya di keluarin semua?"
"iya Bi, susun seperti biasa aja"
"kalau sudah minta tolong panggil Pak Tama sama anak-anak di taman belakang ya bi, kita makan siang bareng"
"iya Bu"
....
__ADS_1
"Om Tama, masakan mamah Ziya enak kan?" Tama mengangguk dan mengangkat satu jempolnya ke arah Ziya.
"enak banget"
"Mamah jago sekali masak om, Aska dan adik Ziya akan banyak makan kalau mamah yang masak" kali ini Aska yang bersuara Dengan riang. Aku mengusap lembut bagian belakang kepala anak ku.
"Iya, mamah kalian jago banget masaknya, om Tama saja sampai nambah berkali-kali" Tama menatap ku dan tersenyum, aku membalas senyuman Tama itu
"Enak dan pasti sehat" ucap Ziya lagi.
"sudah sudah, habiskan makan kalian, sudah siang, om Tama juga harus pulang"
"yayhhh, Ziya masih kangen sama om Tama mah"
"Nanti lagi mainan ya, minggu depan om tama ajakin kalian liburan ke lantai" Ziya sampai tidak sadar melempar sendok dan garpu nya karna kegirangan.
"iya nak, minggu depan om Tama ajakin kalian ke Pantai
"yeee" Aska dan Ziya benar-benar antusias.
....
"Maaf ya Tama, anda harus nidurin anak-anak dulu" aku merasa tidak enak dengan Tama, Ziya tiba-tiba saja tantrum, Ziya ingin di temani Tama tidur siang, jadilah tama pulang kesorean, Tama Nya sih santai aja, akunya yang nggak enak sama dia.
"santai aja, saya juga seneng kalo main sama mereka. anak-anak anda itu sudah saya anggap seperti anak saya sendiri, saya sayang Banget sama mereka.
"Makasih banyak Tam, makasi sudah menyayangi anak-anak setulus hati anda" Tama hanya mengangguk kecil, ia berhenti di depan pintu mobilnya dan mengarahkan posisinya ke arahku.
"Inayah, eum"
"iya kenapa Tam" Tama menunduk, apa yang ingin dia bicarakan, kenapa perasaan ku tiba-tiba aneh.
"Mungkin ini terlalu cepat dan buru-buru, maafkan jika saya lancang, aku hanya ingin beban bertahun-tahun di kepala dan hatiku lepas, sudah lama aku memendamnya Inayah, dan aku sudah tidak sanggup lagi menyimpannya sendiri.
__ADS_1
Ya Allah, ada apa ini, ada apa dengan Tama, tatapan Tama tidak seperti biasanya, ku tautkan jari-jari ku karena gugup.
"Mau kah kamu mau menikah dengan ku, Inayah"