Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
Cerai


__ADS_3

Inayah mengacak-acak rambutnya, ia pukuli dadanya yang semakin terasa sesak. Inayah menjerit meluapkan ras sakitnya, gedoran di pintu semakin terdengar keras, suara tangisan Aska yang terdengar inayah abaikan.


"JAHAT KAMU ZIDAN...INI BALASAN KAMU PADAKU... INI BALASAN ATAS KESABARAN KU MENANTI RESTU ORANG TAUA MU!!! ZIDAAAAN" Mata Inayah tertuju pada bingkai kecil yang masih utuh di atas lemari kecil di samping tempat tidur, dengan langkah tertatih-tatih, Inayah dekati bingkai kecil itu, ia duduk di pinggiran ranjang dan menatap dalam bingkai penuh kenangan. Bingkai kayu jati kecil berisikan foto yang mereka ambil saat pertama kali menjalin hubungan, di foto itu Inayah masih menggunakan seragam sekolahnya, sedangkan Zidan berpakaian santai dengan tas di punggungnya. Inayah masih terlihat malu-malu berdiri di samping Zidan saya itu.


Foto itu membawanya kembali teringat kejadian menyenangkan di hari itu.


"kamu haus?" Inayah menggeleng seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Zidan menyadari sikap aneh sang kekasih hati, mungkin Inayah masih merasa canggung juga dengan hubungan mereka yang baru saja resmi beberapa jam lalu.


"kelihatan loh kamu haus, kita jalan kaki dari sekolah kamu loh" Inayah mengangkat kepalanya menatap Zidan yang tersenyum padanya.


"Kaka ko senyum gitu?"


"kamu canggung sama aku?" Inayah mengangguk polos, Zidan mengacak rambut Inayah gemes.


"Iis, jangan ka, rusak rambut aku tau" kesal Inayah seraya memperbaiki rambutnya yang berantakan karena ulah Zidan.


"Ka" panggil Inayah Karena tiba-tiba Zidan berlari meninggalkannya, langkah Inayah terhenti saat Zidan kembali kearahnya dengan seorang pria yang Inayah sendiri tidak tau itu siapa.


"kita foto buat kenang-kenangan" langsung saja Zidan merangkul bahu Inayah yang lebih pendek darinya itu.


"makasih banyak ya mas" zidan sedikit menunduk ramah pada orang asing yang ia mintai tolong untuk memfoto kan nya dengan Inayah. Zidan tersenyum saat menatap hasil foto mereka.


"kenapa ka? Jelek ya akunya?" Zidan kembali mengacak pucuk kepala Inayah.


"kamu cantik sayang, cantik banget malahan"


Bluss


Inayah membuang pandangannya ke arah lain, tak sanggup ia menahan rasa malu saat Zidan memanggilnya sayang, mungkin sekarang pipinya sudah memerah. Zidan semakin menggoda gadis berumur lima belas tahun itu.


"cie ada yang malu"


"iiiyh apa sih ka" Zidan berpindah ke hadapan Inayah dengan memasang wajah teramat mengesalkan.


"calon istri aku malu" Inayah membolakan matanya, tidak habis pikir dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut pria di depannya ini. Zidan sedikit merendahkan dirinya agar lebih muda menatap Inayah.

__ADS_1


"calon istri zidan Narendra" dengan sigap Inayah menutup rapat mulut Zidan.


"iiyh KA Zidan apa sih, malu tau kalau ada yang denger" ucap Inayah kesal. Zidan menyingkirkan tangan Inayah dari mulutnya.


"emang bener kan... kamu akan menjadi istri aku suatu hari nanti. Kita akan hidup bahagia dengan anak cucu kita"


"masih lama" Inayah berucap ketus, ia berbalik melangkah pergi.


"SUATU HARI NANTI.... LO AKAN JADI ISTRI GUE INAYAH PERMATA SARI....." teriak Zidan, Inayah kembali dan ingin memberikan pukulan tepat di kepala pria itu, tapi Zidan lebih dulu berlari menjauhi Inayah.


"Awas kamu ka...."


"INAYAH PERMATA SARI HANYA MILIK GUE... GUE AKAN MENIKAHI INAYAH DAN MEMBUATNYA TERSENYUM SETIAP SAAT. GUE AKAN MENUA BERSAMANYA, INAYAH GUE SAYANG BANGET SMA LO INAYAH" teriak Zidan seraya menghindari Inayah yang terus mengejarnya.


Kenangan indah itu kembali menambah goresan luka di hati Inayah, Inayah menjerit lagi dan ia lempar bingkai foto itu bersama dengan terbukanya pintu kamar, Zidan segera melindungi Aska saat bingka foto Inayah melayang ke arah mereka, Zidan meringis menahan sakit karena punggungnya lah yang menjadi sasaran amukan Inayah.


"ma--maah" Zidan menggendong Aska masuk kedalam kamarnya.


"Aska di sini dulu ya nak, papah mau temui mamah" Aska menggeleng.


"Buka.... Buka..." Aska menjerit.


Saat melihat Zidan kembali kedalam kamar, langsung saja Inayah mengangkat meja kecil di samping dan melemparnya ke arah Zidan.


"PERGI!!!!" dada wanita malang itu turun naik, dadanya semakin terasa sesak.


"PERGIIIIIII!!!!!"


"sayang... dengerin dulu aku ngomong please..." mohon Zidan dengan tangan memberi isyarat pada Inayah untuk tenang. Tak sanggup ia melihat penampilan wanita itu yang sudah sangat berantakan.


"APA YANG KAMU MAU JELASKAN ZIDAN, SEMUANYA SUDAH JELAS, KAMU SELINGKUH HINGGA MEMPUNYAI ANAK, JAHAT KAMU ZIDAN!!!"


"KAMU MENGKHIANATI AKU!! KAMU MENIKAHI SAHABAT KAMU!!! APA YANG MAU KAMU JELASKAN HAH!! APA!!!" Inayah menunjuk wajah Zidan dengan sorot mata tajam penuh dengan duka.


"INI ALASAN KAMU BERUBAH, SETIAP HARI AKU SELALU MEYAKINKAN DIRI KALAU SUAMI KU TIDAK AKAN PERNAH MEMBAGI CINTANYA!!!" Inayah menjeda sebentar kalimatnya saat ini Zidan ingin melangkah mendekatinya, Inayah memungut serpihan beling dan menggunakan beling itu untuk mengancam Zidan.

__ADS_1


"Selangkah kamu maju Zidan. ku pastikan Aska akan kehilangan mamah nya" Zidan menggeleng, mata pria itu pun terlihat memerah.


"jangan Aya... jangan" Inayah sentuh perut bawahnya yang terasa keram.


"argghhgg" Inayah abaikan rasa sakitnya dan kembali menatap Zidan penuh dengan kekecewaan.


"TAPI TERNYATA AKU SALAH.... SUAMI KU TEGA MENGKHIANATI CINTA, CINTA YANG SELAMA DUA BELAS TAHUN AKU JAGA..."


"Inayah, ini nggak seperti apa yang kamu kira... aku ter---"


"DIAM!!!


"AKU NGGAK MAU MENDENGAR ALASAN ATAU PUN PEMBELAAN DARI MULUT SAMPAH MU ITU, ZIDAN!. Inayah semaki mengeratkan genggaman di pecahan kaca di tangannya, kini tangan lembut itu mulai tergores tajamnya pecahan kaca, Zidan dapat melihat darah tangan sang istri yang menetes mengotori lantai.


"Sayang!! tangan kamu berdarah" panik


Zidan tanpa sadar ia memajukan langkahnya. Inayah mengacungkan tangannya yang terluka di depan wajah Zidan.


"jangan berani melangkah Zidan , KAMU AKAN MELIHAT KUBURAN KU JIKA KAU BERANI MENDEKATI APALAGI MENYENTUH KU"


suara Inayah memelan terdengar pilu.


"Luka akibat sayatan kaca ini tidak sebanding dengan luka pengkhianatan yang kamu berikan Zidan" inayah menyentuh dadanya.


"kamu tau Zi, sakit Zi sakit..." Inayah terisak


"Aku selalu berusaha tetap berpikir baik tentang kamu yang tidak pernah memberikan kabar, tidak pernah ku taruh rasa curiga padamu, tidak pernah Zidan. Aku percaya dengan suami ku, aku percaya dengan cintanya... tapi nyatanya aku salah, suami ku menggenggam tangan wanita lain di belakang ku. Aku selalu sabar dengan semua perlakuan mu padaku, aku selalu sabar menunggu mu pulang kerumah, tanpa aku tau suami ku ternyata pulang kerumah selingkuhannya. Aku rela bersembunyi karena orang tua kamu yang tidak ingin ada seorangpun tau kalau kamu menikah dengan perempuan miskin seperti aku, aku tidak pernah menuntut pengakuan dunia, aku hanya ingin kamu Zidan... dan ini balas kamu ke aku, INI!!"


"Aya, maaf.. Aku salah aya aku minta maaf" pecahan beling di tangan sudah berlumuran darah Inayah, ia lempar beling itu di hadapan Zidan.


"AKU INGIN CERAI" Zidan menggeleng, seperti ada sambaran petir yang mengenai tepat di jantungnya.


"CERAIKAN AKU, AKU INGIN LEPAS DARI PRIA PENGKHIANAT SEPERTI KAMU, AKU TIDAK INGIN LAGI BERHUBUNGAN DENGAN PRIA MUNAFIK SEPERTI KAMU"


"TALAK AKU ZIDAN"

__ADS_1


__ADS_2