
Kepala ku sepertinya ingin pecah, sebenarnya rasa sakit ini sudah aku tahan sejak mengantar Aska tadi. Aku tidak tau ada apa dengan ku, akhir-akhir ini sering sekali sakit kepala, bahkan sampai pingsan. Aku belum sempat kerumah sakit untuk periksa, mungkin nanti kalau Aska libur sekolah
Sebentar lagi Aska pulang sekolah, aku terpaksa menghubungi Zidan untuk meminta tolong menjemput Aska hari ini, semoga Zidan ada waktu sebentar, kau tidak tahan, darah di hidungku juga terus mengalir tanpa henti.
Tangan ku bahkan kesulitan meraih ponsel yang ada di atas Nakas, layar ponsel terlihat mulai samar di pandangan mata ku, nomor Zidan pun kesulitan aku temukan di sana.
*"Assalamualaikum Zi"
"kenapa, aku mau meeting ini"
"Zi, aku boleh Minta tolong, hari ini kamu jemput Aska ya, kepala ku sakit sekali Zi" terdengar jelas decakan dari sebrang sana.
"aku nggak bisa, aku harus meeting, aku tutup panggilnya*" ku tatap layar ponsel ku, Zidan sudah memutuskan panggilan, aku benar-benar tidak sanggup walaupun untuk membuka mata.
Pandangan mata ku mulai berkabut, belum lagi perut ku yang rasanya di aduk di dalam sana. Aku segera berlari masuk ke dalam kamar mandi, jangan sampai aku mengotori Kasur.
Semua makanan yang aku makan tadi pagi keluar tanpa sisa. Badan ku lemas sekali, belum lagi rasa nyeri yang tidak tertolong, ku tarik kasar rambutku untuk mengurangi rasa nyerinya, tembok kamar mandi tiba-tiba berubah warna menjadi gelap, tapi terkadang juga aku melihatnya samar. Aku tidak bisa menahan rasa sakitnya lagi dan kehilangan kesadaran ku.
....
Suara tangisan anak kecil yang pertama kali aku dengar, aku berusaha membuka mata meskipun sulit sekali. Ku rasakan berat di bagian perut, seperti ada yang menindih, aku menyadari jika aku masih di kamar mandi.
"mamah" suara Aska menyadarkan aku.
"anak ku" aku bangun tergesa-gesa, ku dapati mata Aska yang sembab, baju sekolahnya masih terpasang, bahkan tas di punggungnya pun masih ada.
"pulang sama siapa nak?"
"sama ibu guru" aku mencari-cari keberadaan gurunya.
"terus ibu gurunya mana nak?"
"sudah pulang mah" Aska memeluk ku, tangisnya pecah lagi. Pasti Aska ketakutan melihat mamahnya yang tertidur dengan wajah di penuhi bercak darah untuk yang ke-dua kalinya.
__ADS_1
"mama kenapa berdarah lagi, Aska sudah nggak rewel kan mah, Aska sudah mau ke sekolah, tapi mama kenapa berdarah lagi" ya Allah, Aska ku ketakutan sekali, aku mengusap punggung Aska untuk di tenangkan.
"mamah pusing sayang, ini bukan salahnya Aska ko" Aska semakin mengeratkan pelukannya di leher ku.
"Yo kita bersih-bersih, Aska pasti capek " Aska mengangguk patuh.
....
Selesai makan, Aska langsung berlari masuk ke kamarnya, mungkin sudah sangat mengantuk juga, aku pun ingin istirahat sebentar.
Saat ingin menaiki tangga, bunyi tapak kaki dari arah depan menghentikan langkah ku, aku bergegas keluar untuk memastikan siapa itu.
"Zidan" aku sedikit kaget, karena tidak biasanya Zidan pulang secepat ini, belum lagi wajahnya yang di tekuk semakin membuat ku bingung. Aku mendekat membantu Zidan membawa tas kerjanya, Zidan juga melepas jasnya dan melempar jas itu ke sofa. Aku mengekori Zidan masuk kedalam kamar
Wajah Zidan Benar-benar kelelahan, Zidan langsung masuk kedalam Kamar mandi untuk bersih-bersi. Aku siapkan baju kaos juga celana rumahan untuk Zidan pakai.
"Zi, mau makan?"
Aku menunggu Zidan di bawah, tidak lama Zidan turun dengan penampilan yang lebih segar, handuk di kepalanya masih menempel.
" maaf ya, aku nggak sempat masak yang lain, cuman ini aja yang ada, kamu pulangnya dadakan" aku berbicara sambil menuangkan air ke dalam gelas.
"banyak kerjaan ya Zi?"
"heum"
"Inayah" panggilnya.
"iya" ku alihkan atensi ku sepenuhnya pada Zidan, sepertinya Zidan ingin bicara hal penting.
"besok aku ada kerjaan, mungkin balik bulan depan" tunggu-tunggu, apa aku tidak salah dengar.
"kamu ngomong apa Zi, aku nggak ngerti"
__ADS_1
"aku ada kerjaan di luar kota, pulang bulan depan" ternyata aku tidak salah dengar, Zidan benar-benar bilang akan pergi lagi dan pulang bulan depan.
"kenapa lama banget? Zi, luar kota di mana?"
"ada pembangunan proyek yang harus aku pantau terus perkembangannya, aku nggak mungkin bolak balik" benar juga sih, masa aku tega meminta Zidan bolak Balik. Ini juga bukan kali pertama aku di tinggal pergi, dua minggu bukan waktu yang singkat, tapi mau gimana lagi, Zidan punya kewajibannya juga.
"kotanya di mana Zi?, siapa tau aku bisa nyusul kamu kesana"
"nggak usah aneh-aneh kamu, aku mau kerja, bukan mau tamasya" aku juga tidak bilang kan Zidan ingin tamasya, aku hanya bertanya saja, tapi kenapa dia menjawab harus ketus banget sih.
"Kenapa tiba-tiba kasih tau aku Zi"
"aku juga baru tau tadi, besok kamu bantuin aku beresin pakaian" aku Mengangguk saja.
"mau aku bawain apa?"
"nggak usah Zi, kamu pergi pulang dengan selamat aja sudah sangat aku syukuri" hanya itu saja obrolan yang terjadi di meja makan Aku jadi tidak selera makan mendengar Zidan ingin pergi selama kurang lebih dua Minggu.
Selesai makan, aku membuatkan teh hijau untuk Zidan yang sekarang sedang duduk bersantai di ruang keluarga, aku juga bawakan kue kering yang ku buat kemarin.
"hujan nya deras banget" aku duduk di samping Zidan, Zidan tidak menghiraukan ucapan ku, dia masih fokus dengan ponselnya, entah apa yang dia lihat sampai begitu betah.
"di minum Zi tehnya, mumpung masih anget, nanti nggak enak lagi loh kalau sudah dingin" Zidan masih acuh juga. Sesekali Zidan tertawa menatap ponselnya, aku merasa di abaikan berada di sana. Aku lebih memilih masuk kedalam kamar ketimbang terus ada di samping Zidan tapi di acuhkan.
Di dalam kamar, aku duduk termenung di depan meja rias ku, memikirkan lagi ucapan Zidan beberapa menit yang lalu.
"dua minggu?" aku bergumam sendiri
"kenapa dadakan banget sih" ku tumpukan tangan di atas meja, ku pandangi wajah ku dari pantulan cermin di depan.
"aku ngerasa ada yang Zidan sembunyikan dari aku, aku ngerasa Zidan berubah bukan karena masalah salah paham itu, tapi ada faktor lain" memikirkan hal itu membuat kepalaku kembali berdenyut hebat, darah kental kembali mengalir keluar. Aku mengenadah menatap langit-langit kamar. Ku dengar pintu kamar di buka, Zidan mematikan lampu kamar padahal aku masih duduk, tidak mungkin kan dia tidak melihat aku di sini.
Aku hanya menoleh dan memilih masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan wajah ku.
__ADS_1